Khotbah Ev.Evie Mehita – Berapakah Nilai dari Yesus?
(Juli 2010)
Pada ayat di atas, Tuhan mengumpamakan hal kerajaan surga seperti mutiara. Mengapa Tuhan mengupamakannya seperti itu? Kita akan belajar tentang latar belakang yang terjadi saat itu sampai Yesus menggunakan mutiara untuk mengumpamakan Kerajaan Surga. Pada zaman dahulu mutiara tidak dibudidayakan sepert saat ini. Saat ini, orang dapat dengan cukup mudah menggunakan suatu teknik pembudidayaan mutiara, misalnya dengan memasukkan pasir ke dalam kerang sampai akhirnya menjadi mutiara. Pada zaman Yesus, sangat sulit untuk mendapatkan sebuah mutiara sehingga mutiara merupakan sesuatu yang sangat mahal dan berharga. Untuk mendapatkan sebuah mutiara, mereka harus mencarinya di laut lepas, seperti di Laut Merah dan mereka harus menyelam ke kedalaman lautan. Sedangkan pada zaman Yesus belum ada peralatan selam seperti sekarang. Bisa kita bayangkan betapa sulitnya dan berbahayanya untuk mendapatkan sebuah mutiara. Bisa dikatakan mereka mempertaruhkan nyawanya untuk dapat memperoleh mutiara yang bagus. Mutiara yang mereka cari adalah yang sempurna dan yang sempurna itu bentuknya bulat, mulus, dan besar. Inilah suatu gambaran yang ingin Yesus sampaikan tentang hal kerajaan surga yang sangat berharga buat anak-anakNya. Kita akan melihat di ayat yang lainnya yang berbicara tentang ‘mutiara’.
Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu (Matius 7:6)
Matius adalah seorang pemungut cukai, bendahara yang tahu tentang uang dan dia mengerti berapa mahalnya harga mutiara. Dia tau apa yang Yesus maksudkan tentang berharganya sebuah mutiara, sehingga Tuhan katakan bahwa jangan kita membuang mutiara itu kepada “anjing/babi”. Dari ayat ini kita bisa belajar sesuatu yang penting. Bayangkan ketika kita memberikan mutiara kepada anjing/babi, pasti mereka menganggap bahwa itu sesuatu yang tidak berharga sama sekali, karena itu tidak bisa mereka makan. Berbeda halnya ketika kita memberi mereka nasi, maka mereka akan menganggap itu berharga bagi mereka karena dapat mengenyangkan mereka. Dari ilustrasi ini kita bisa merenungkan satu hal, “Jangan-jangan kita sudah menjadi seperti “anjing/babi”?” Maaf suadaraku jika perkataan ini cukup keras, tetapi inilah yang bisa terjadi ketika kita tidak mengerti berharganya mutiara itu. Ketika Tuhan memberikan sesuatu yang berharga, yang ilahi dan kudus namun kita tidak bisa menangkap itu dan menganggap itu biasa saja.
Selanjutnya kita akan belajar apa sebenarnya yang dimaksudkan Tuhan Yesus tentang mutiara. Mutiara berbicara tentang hal rohani yang berharga yang Tuhan berikan bagi umat manusia. Namun hanya manusia rohani yang bisa melihat harga mutiara tersebut. Manusia duniawi menganggap sesuatu yang dari Roh merupakan suatu kebodohan. Berapa banyak orang yang menganggap bahwa visi atau panggilan hidup itu tidak perlu dipertahankan maupun diperjuangkan. Jangan sampai kita membuang sesuatu yang sangat berharga.
Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (IKor 2:14)
Mutiara berbicara tentang sesuatu yang sangat berharga. Firman Tuhan dalam Amsal menyatakan bahwa HIKMAT merupakan hal yang berharga dan hikmat berarti FIRMAN TUHAN dan firman Tuhan sama dengan Yesus (Yoh 1:1). Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa
MUTIARA = HIKMAT = FIRMAN TUHAN = YESUS
Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian,karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya (Amsal 3:13-15).
Kepandaian yang dimaksudkan pada ayat diatas adalah kepandaian secara rohani.Seringkali manusia tidak paham bahwa sesuatu yang rohani itu sangat berharga.
Sekarang kita tahu bahwa mutiara yang berharga adalah pribadi Yesus sendiri. Selanjutnya kita akan belajar tentang bagaimana cara kita memperoleh mutiara tersebut. Kembali lagi kita lihat di Matius 13:45-46 untuk mengetahui bagaimana kita bisa mendapatkan mutiara tersebut. Di ayat tersebut dikatakan bahwa pedagang yang mencari mutiara tersebut menjual seluruh miliknya hanya untuk mendapatkan satu mutiara. Saudaraku mungkin kita akan berpikir bahwa pedagang tersebut terlihat bodoh. Namun seorang pedagang mutiara pasti tahu berapa nilai mutiara tersebut sehingga dia berani mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan mutiara. Berapakah nilai Yesus bagi anda? Beranikah kita menjual semua milik kita untuk mendapatkan satu mutiara ini (Yesus)? Yang dimaksud dengan menjual segala sesuatu yaitu menyerahkan semua kehidupan kita untuk Tuhan. Bagaimana kita bisa menjual segala sesuatu? Saudaraku, kita harus paham tentang apa yang digambarkan tentang “babi/anjing” yang tidak mengerti harga sebuah mutiara. Hal tersebut merupakan gambaran tentang Firman Tuhan yang kita terima tetapi kita tidak mau menerima dan memahami firman tersebut. Contohnya Tuhan sudah panggil kita untuk jadi sesuatu tetapi ketika firman Tuhan menyinggung itu kita selalu buat benteng-benteng (defense) sampai firman Tuhan tidak bisa masuk.
Kita harus berani memberikan semua kepada Tuhan. Renungkan apa yang sampai hari ini belum bisa kita berikan ke Tuhan. Hal itu sama artinya kita belum menjual segala sesuatu. Apa yang tidak bisa kita bayar? Apakah itu cita-cita dan ambisi pribadi kita atau keluarga atau pasangan hidup atau apapun yang sangat berharga dalam hidup kita lebih dari Tuhan.
Selanjutnya kita akan belajar lagi tentang apa yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Lukas 10:41-42
Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk 10:41-42)
Yang perlu digarisbawahi dan kita perhatikan adalah kata “hanya satu saja yang perlu”. Kata-kata ini berbicara tentang jika kita ingin mendaptkan yang berharga kita harus berfokus pada satu hal, itulah panggilan kita. Ada seorang hamba Tuhan yang dahulu sebelum dia bertobat pernah berlatih judo. Dia ingin mengalahkan musuhnya dengan mempelajari banyak jurus namun dia gagal mengalahkan musuhnya. Sampai akhirnya dia mencari satu jurus yang sesuai dengan kemampuannya, dia pelajari jurus tersebut secara mendetail,dan dia mampu mengalahkan musuhnya. Dari kisah ini kita belajar bahwa kita harus excelent dalam satu hal untuk bisa maksimal. Temukan “jurus” andalan kita, jangan ngambang. Satu hal saja yg perlu, untuk mengambil bagian yang terbaik. Agar kita tidak mudah diombang ambingkan oleh iblis. Mari kita renungkan sudahkan kita mengambil bagian yang terbaik, baik di dalam pelayanan, pekerjaan, keluarga, dan segala aspek kehidupan kita. Terkadang orang-orang menukar sesuatu yg sempurna dengan sesuatu yang imitasi.

