Pikiran Medan Pikiran
1 Samuel 27:1-7, ayat 1:” Tetapi Daud berpikir dalam hatinya;”bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin;”
Dikisahkan tiba-tiba Daud berpikir bahwa ia akan binasa di tangan Saul, padahal sudah 2 kali Daud memiliki kesempatan untuk membunuh Saul, sehingga ia memutuskan untuk keluar dari tanah Israel. Ini bisa disamakan dengan kita Anak Tuhan yang sedang jauh dari Tuhan. 2 raja-raja 5:14-17;20-27, ayat 20: Berpikirlah Gehazi, bujang Elisa, Abdi Allah:”Sesungguhnya tuanku menyegani Naaman, orang Aram ini, dengan tidak menerima persembahan yang dibawanya, demi Tuhan yang hidup, sesungguhnya aku akan berlari mengejar dia dan akan menerima sesuatu dari padanya”. Kita lihat persamaan dari 2 ayat diatas adalah BERPIKIR. Bagaimana Daud yang sebelumnya sudah mengalami pembelaan dari Tuhan sebanyak 2 kali (Daud berkesempatan untuk membunuh Saul) tiba-tiba hendak pindah ke negeri orang Filistin? Gehazi seorang hamba dari Elisa bisa tiba-tiba hendak menyusul Naaman dan menerima persembahan Naaman? Jawabannya adalah PIKIRAN. Lalu dari mana asal pikiran itu?
Ternyata dalam pikiran kita ini adalah MEDAN PEPERANGAN. Iblis dapat berusaha untuk menghancurkan anak-anak Tuhan melalui pikiran. Seperti pada kisah Daud dan Gehazi. Karena pikirannya Daud keluar dari tanah Israel menuju Filistimn, bisa diartikan bahwa Daud kemudian akhirnya menjauh dari Tuhan sehingga Daud harus mengalami keluarganya dirampas, dsb. Demikian pula dengan Gehazi, karena pikirannya akhirnya Gehazi dan keturunannya menderita kusta. Jika demikian apakah pikiran kita selalu berasal dari si Jahat?
Yohanes 14:25-26, ayat 26: Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Ternyata Roh Kudus juga dapat berbicara kepada kita melalui pikiran kita, Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan mengingatkan kita akan semua yang telah Tuhan katankan kepada kita. Lewat pikiran pula Roh Kudus dapat mengingatkan kita, misal ketika kita marah, Roh Kudus dapat mengingatkan kita akan ayat-ayat firman Tuhan tentang kesabaran. 1 raja-raja 5:1-5, ayat 5: Dan ketahuilah, aku berpikir-pikir hendak mendirikan sebuah rumah bagi nama Tuhan, Allahku, seperti yang dijanjikan Tuhan kepada Daud, ayahku, demikian: Anakmu yang hendak kududukan nanti diatas tahtamu menggantikan engkau, dialah yang akan mendirikan rumah itu bagi namaku. Tuhan juga dapat ingatkan kita melalui pikiran kita. Dalam kisah Salomo, dia memang telah diberitahu untuk membangun rumah Tuhan pada saat kecil oleh Daud, tetapi Salomo baru membangun bait Allah setelah 4 tahun ia menjadi raja. Kenapa demikian? Melalui pikirannya Tuhanlah yang mengingatkan Salomo untuk membangun bait Allah
Dalam kehidupan kita sehari-hari, coba kita renungkan bersama, berapa banyak Tuhan berbicara dengan kita lewat pikiran kita dan kita mengacuhkannya? Jangan pernah menjadi anak yang egois sebagai anak Tuhan. Salomo dapat menjadi sedemikian besar, karena dia bukanlah orang yang egois, ketika Tuhan bertanya kepada Salomo apa yang dia inginkan, Salomo tidak meminta untuk kepentingannya sendiri, tetapi ia meminta hikmat, hati yang paham menimbang perkara untuk memimpin rakyat Israel. Setiap pikiran kita harus seleksi dengan baik, darimanakah asal pikiran tersebut. Supaya kita bisa tahu bahwa pikiran itu memang benar, kita harus punya kedekatan dengan Tuhan.
BENIH-BENIH DALAM HATI KITA Yakobus 1:14-15
Kita harus tahu benih-benih apa saja yang ditanam oleh iblis dalam hati kita. Jika kita tidak tahu benih apa yang ditanam, ketika iblis memunculkan sesuatu, maka dengan cepat benih itu dapat tumbuh. Misal: si A sudah punya benih kepahitan kepada si B, kemudian si B dengan tidak sengaja melakukan sesuatu yang menurut si A tidak baik, maka dengan cepat benih itu akan tumbuh. Benih ini ibarat bensin yang disiram api. Yang perlu diperhatikan lagi adalah apa yang meluap dari hari itu keluar dari mulut. Seperti raja Babel yang dihukum Tuhan karena kesombongan
PENGAMPUNAN
Kolose 3:12-13, ayat 13: Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah juga demikian
Matius 5:23-24, ayat 24: Tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak dipungkiri bahwa kita akan dihadapkan pada situasi dimana kita harus mengampuni atau meminta maaf kepada saudara seiman kita. Jelas dikatakan pada ayat firman Tuhan, apabila ada saudaramu menyesal dan meminta maaf kepadamu, apapun kesalahannya kita harus belajar untuk mengampuni. Dan apabila kita tahu kita diingatkan akan pertentangan dengan saudara kita maka kita harus berdamai dengan saudara kita. Saudara yang dimaksud disini adalah orang yang benar yang takut akan Tuhan, bukan orang fasik yang sering datang ke gereja tetapi tidak mau bertobat. Bagaimana dengan orang yang tidak tahu kesalahannya dan tidak datang meminta maaf? Kita harus tetap mengampuni orang itu meskipun diperlukan kebesaran hati yang yang lebih besar.
