Khotbah Ev. Evie Mehita : Kehidupan yang Sia-sia
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat”
1 Petrus 1:18-19
Firman Tuhan mengajarkan setiap kita tentang cara hidup. Cara hidup berbicara bagaimana di dalam kehidupan kita, orang dapat melihat Kristus di dalam diri kita. Apakah cara hidup kita sudah menunjukkan cara hidup anak Tuhan? Sebagai anak Tuhan, kita haruslah memiliki cara hidup yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, bukan menjadi sama dengan dunia ini dan melakukan hal yang sia-sia.
Seringkali anak Tuhan salah mengerti tentang arti kata “proses” dengan “cara hidup yang sia-sia”. Keduanya adalah hal yang berbeda. Cara hidup yang sia-sia berbicara soal waktu, tenaga, uang, dan banyak hal lain yang kita habiskan tanpa tepat sasaran, tidak sesuai tujuan. Cara hidup yang sia-sia terjadi karena kita sendiri yang membuatnya, sedangkan proses Tuhan adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Cara hidup yang sia-sia hanya menyusahkan diri tanpa menghasilkan apa-apa, sedangkan proses Tuhan mendewasakan kita di dalam Tuhan. Bagaimana supaya cara hidup kita tidak menjadi sia-sia? Kita harus mematikan semua kedangingan kita dan melatih diri kita untuk terus hidup seturut dengan kehendak Tuhan.
Mahatma Gandhi, adalah seorang tokoh yang seringkali menyampaikan nasehat-nasehat dengan mengutip Matius 5-7, tetapi beliau adalah orang yang tidak menyukai orang Kristen. Beliau memiliki pengalaman buruk ketika berhadapan dengan orang Kristen ketika mencoba pergi ke gereja. Penerima tamu gereja menolak dia karena dia berkulit hitam. Hal ini yang membuat beliau tidak menyukai orang Kristen, sekalipun beliau sangat menyukai dan menghargai ajaran Kristen. Dari kisah ini, mengajarkan kita bahwa kita harus menjaga hidup kita. Menjadi orang Kristen bukan di gereja saja, tetapi juga keseharian kita. Menjadi anak Tuhan, kita harus menjadi berkat bagi orang lain. Supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain.
KEKRISTENAN ADALAH SEBUAH PERJALANAN.
Kekristenan kita bukan hanya sebuah agama, melainkan merupakan sebuah perjalanan rohani bersama Tuhan. Ketika kita berjalan bersama Tuhan, semakin lama seharusnya kita semakin mendekat kepada Tuhan dan kita menjadi semakin kuat. Kita akan diproses untuk menjadi dewasa dan semakin kuat.
Di dalam perjalanan mengikut Tuhan, kita akan banyak mengalami masa. Akan ada masa kita mendapatkan berkat, ada masa pembongkaran, juga ada masa kita diproses dan dibentuk Tuhan. Pembongkaran adalah satu fase yang harus kita lalui di dalam perjalanan kita bersama Tuhan. Masa ini akan sangat menyakitkan bagi kita, tetapi dalam proses pembongkaran, kita akan dibawa untuk menang dari dosa, avon, atau keterikatan kita, sehingga kita akan naik ke level yang lebih tinggi.
KERENDAHAN HATI MENDAHULUI KEHORMATAN.
Mengikut Tuhan tidak berarti kita hanya akan melalui taman yang indah, tetapi kita juga akan menghadapi “lembah baka”. Lembah baka menggambarkan sebuah kondisi yang kering, mati, dan gersang. Di sanalah, kita akan merasa kering. Namun jangan kita mengikuti arus kekeringan, tetapi kita harus bangkit dan justru semakin giat mencari Tuhan. Dan ketika kita berusaha semakin giat mencari Tuhan, lembah baka itu akan diubahkan menjadi sebuah mata air yang tidak pernah habis, yang dapat memberkati banyak orang.
Ada masa di mana Tuhan memberikan proses pembentukan dan kerendahan hati adalah kunci dalam menghadapi proses pembentukan Tuhan. Karena dengan kerendahan hati, semua proses yang harus kita lalui menjadi lebih mudah dijalani dan proses kita pun akan menjadi lebih cepat selesai. Ada hati yang mau dibentuk, hati yang mau dikoreksi, ada hati yang diserahkan kepada Tuhan dan itu menjadi kesukaan bagi Tuhan.
TUHAN MENGAJARKAN KITA UNTUK PUNYA BELAS KASIHAN.
Pada kisah Yesus memberi makan 5000 orang (Matius 14:13-14), Yesus sedang berada dalam kondisi di mana ia ingin menyendiri. Namun yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya, banyak orang mengikuti Dia dan hatinya tersentuh oleh rasa belas kasihan kepada mereka, sehingga Ia berkhotbah kepada mereka semua. Hingga saat malam tiba, Yesus menyuruh kepada para muridNya untuk memberikan makan kepada orang banyak itu. Para murid meminta Yesus menyuruh orang banyak itu untuk pulang dan makan di desa-desa terdekat, namun Yesus tetap menyuruh muridNya untuk memberikan mereka makan.
Di sisi lain, ada seorang anak yang rela memberikan 5 roti dan 2 ikan yang ada padanya untuk memberikan makan untuk orang-orang yang kelaparan itu. Anak tersebut sebenarnya bisa memilih untuk egois dan makan makanan itu sendiri, atau dia bisa saja berpikir untuk membagikan makanan yang dia punya kepada keluarga terlebih dahulu. Respon anak ini sangat baik, dia punya hati yang berbelas kasihan dan mau memberi kepada orang yang membutuhkan. Hati yang seperti inilah yang Tuhan inginkan untuk kita punyai, yakni hati yang berbelas kasihan untuk banyak orang. Seperti yang Yohanes katakan, bahwa di dalam kita akan ada aliran hidup. Artinya hidup kita punya rasa belas kasihan, dan punya kerelaan untuk memberkati orang lain lewat hidup kita.
Tuhan memberikan kita aliran air hidup. Tapi seringkali kita-lah yang menghentikan aliran itu, sehingga hidup kita tidak bisa menjadi berkat buat orang lain. Karena itu, jangan biarkan aliran air itu berhenti di tangan kita, tapi biarlah air itu terus mengalir. Dan dari hidup kita, kita akan dapat menjadi saluran berkat bagi orang-orang di sekeliling kita.

