Khotbah Ev. Elita Chandra : Pagar TUHAN
Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?
Roma 6:15-16
Di dalam kehidupan kita ada dua pilihan; menjadi hamba dosa atau hamba kebenaran. Persamaan dari keduanya adalah kita sama-sama menjadi hamba. Tetapi, yang menjadi perbedaan adalah pengabdian. Jika kita menjadi hamba dosa, kita mengabdikan diri pada perbuatan-perbuatan jahat, omongan sia-sia, terikat dengan dosa. Tuhan memindahkan kita ke terang ajaib menjadi hamba kebenaran. Status kita masih ‘hamba’ tetapi menjadi hamba kebenaran. Kita sudah tidak lagi diikat dengan dosa. Kita bebas dan merdeka dari dosa.
Pengertian hamba atau biasa disebut budak adalah orang yang tidak lagi mempunyai hak atas hidupnya. Lalu, sudahkah kita menjadi budak kebenaran?
Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
Roma 6:18
Ketika berbicara soal kemerdekaan, banyak orang yang mengartikan itu sebagai sebuah kebebasan yang hakiki. “Kita bisa berbuat bebas. Tanpa aturan seharusnya kita bisa lebih merasakan hidup yang sejati dan merdeka,” ujar kebanyakan hati manusia. Naluri manusia cenderung tidak taat pada aturan. Manusia merasa aturan adalah sebuah batasan yang menjengkelkan dan mengekang. Tuhan berkata bahwa kita masih hamba. Masih ada batasan-batasan yang Tuhan tetapkan bagi kita sebagai hamba. Tuhan mau dikemerdekaan kita ada batasan. Bila di rumah ada peraturan, pun di Kerajaan Sorga. Kemerdekaan versi dunia tidak sama dengan kemerdekaan versi Kerajaan Sorga.
Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
1 Petrus 2:16
Pertanyaannya, sudahkah kita meresponi setiap batasan yang Tuhan tetapkan dengan sukacita? Atau justru menganggap batasan tersebut sebagai sesuatu yang menghalangi kita dalam menjalani hidup yang merdeka? Bila kita menganggap itu semua adalah hal yang menghalangi kita, bertobatlah. Mengapa? Karena sesungguhnya status kita sekarang adalah hamba Tuhan. Batasan dan aturan yang Tuhan buat itu baik.
Seringkali anak-anak Tuhan gagal menyikapi aturan Tuhan. Kita sering mencari celah, supaya ketika kita melanggar kita tidak merasa berbuat dosa. Hal itu yang sering menjadi kesalahpahaman. Ada beberapa area yang Tuhan pagari. Sebagai contoh, anak balita yang baru belajar merangkak di ruang bermain akan diberi kebebasan untuk merangkak kemana saja. Tetapi pasti ada pagar yang membatasi ruang gerak balita tersebut supaya ia tidak jatuh. Sama seperti kita dijagaiNya dalam pagar Tuhan.
Apa fungsi dari pagar yang dibuat Tuhan?
- Pagar yang dibuat Tuhan membuat kita merasakan kemerdekaan dan rasa aman yang sejati. Ketika kita keluar dari pagar Tuhan, sesungguhnya kita menjadi terikat, terikat dengan dosa. Namun dunia menganggap bahwa itu adalah sebuah kebebasan yang benar. Mengapa kita harus tertanam di gereja lokal? Karena itu adalah pagar kita. Seperti anak bungsu yang memilih untuk keluar dari rumah ayahnya, pagar yang dibuat ayahnya. Ia ingin merasakan kehidupan di luar sehingga ia memberontak dan keluar. Ketika ia keluar, ia merasakan kebahagiaan yang semua, setelah itu ia mengalami kejatuhan demi kejatuhan sampai menjadi penjaga babi. Seringkali kita tertarik pada sesuatu yang semu yang ada diluar pagar batasan Tuhan sehingga kita memilih memberontak dan keluar dari pagar yang Tuhan berikan.
- Pagar melindungi kita dari hal-hal luar yang membahayakan. Semua yang terbaik telah disediakan Tuhan di area yang sudah dipagariNya. Ketika kita lahir baru, Tuhan memberikan kita kebebasan yang dibatasi oleh pagar Tuhan. Kita bebas di dalam area tersebut dan belajar untuk bertanggung jawab. Tetapi, seringkali manusia mencari jalan keluar. Saat sudah berhasil keluar, manusia bingung bagaimana cara masuk lagi ke area yang sudah Tuhan pagari. Baru di saat itulah manusia merasa bahwa kehidupan di luar pagar lebih mengecam dan jahat.
- Pagar Tuhan sebenarnya membawa berkat jika kita taat. Di dalam pagar Tuhan sudah ada berkat-berkat yang telah Ia sediakan. Kita diberi kuasa untuk menikmati berkat yang telah Tuhan sediakan. Mengapa penting menjaga kekudusan dalam hubungan berpasangan? Karena setelah kita taat, kita akan mendapat berkat dalam pernikahan. Ketaatan kita akan dianggap kebodohan bagi dunia.
Tuhan membuat pagar karena Ia menganggap kita berharga dan bernilai. Ketika kita memiliki sesuatu yang sangat berharga dan bernilai, pasti akan kita jaga dan lindungi. Demikian juga kita di mata Tuhan, kita adalah kepunyaanNya yang berharga dan karena itu kita dijaga dan dilindungi dalam pagarNya.
Cara menyikapi setiap pagar Tuhan adalah bertumbuh dewasa dalam pengenalan akan Tuhan karena itu akan mengubah cara pandang dan percaya dalam Tuhan. Ketika kita masih kecil, kita bingung dengan aturan-aturan yang orang tua kita berikan, tapi ketika sudah dewasa, kita mulai mengerti apa fungsi dari aturan tersebut. Kedewasaan kita dan pengenalan akan Dia menentukan cara pandang kita terhadap aturan-aturan yang telah Ia tetapkan. Sudahkah cara pandang kita berubah?