Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Lukas 6:47-49)
Dalam membangun sebuah bangunan ada 2 macam dasar, yaitu bangunan tanpa dasar atau bangunan dengan dasar yang kuat. Seorang yang ingin rumahnya bertahan lama, tentu harus membangun rumah itu dengan dasar yang kokoh. Sama halnya dengan sebuah bangunan yang kuat karena dasar yang kuat, demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Fondasi manakah yang kamu pilih untuk menjadi dasar hubunganmu dengan Tuhan? Tentu saja kita mau memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan. Untuk itu, kita perlu memiliki dasar yang benar. Bagaimana membangun hidup kita dengan dasar yang kuat?
Datang kepada Tuhan
Sudahkah hidup kita dipenuhi oleh Tuhan? Sudahkah kita sungguh-sungguh menjadikan Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dalam hidup kita? Kita mungkin sering mendengarkan pengajaran tentang keselamatan, tetapi sudahkah kita sungguh-sungguh mengerjakan keselamatan itu? Dalam bahasa aslinya, Tuhan artinya tuan / orang yang berkuasa dalam hidup kita. Apakah kita sudah mempercayakan seluruh hidup dan masa depan kita kepada yang seharusnya berkuasa dalam hidup kita?
Mempercayakan hidup kita artinya mengosongkan diri, yaitu “Hidupku bukannya aku lagi, tapi Yesus yang ada dalamku.”
Apakah masih ada berhala-berhala dalam hidup kita? Apakah persembahan kita sudah benar-benar dari hati kita? Tuhan melihat hati! Persembahan yang menyenangkan Tuhan adalah yang berasal dari hati yang benar. Mari kita berikan yang terbaik untuk Tuhan. Terbaik bukan berbicara tentang nominal, tapi yang terbaik berasal dari hati yang bersukacita
Bedakan rutinitas dengan passion yang rindu kita kerjakan. Jika Tuhan adalah passion kita, maka kita akan menjadikan Tuhan yang terutama dalam hidup kita. Kasih Tuhan kepada kita kekal dan tak bersyarat (kasih agape). Mari kita belajar untuk seperti Tuhan yang mengasihi orang lain dengan tanpa syarat.
Mendengar dan Melakukan Firman Tuhan
Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. (Yakobus 1:22-25)
Mari kita belajar bukan saja mendengarkan Firman, tetapi menjadi pelaku Firman Tuhan itu. Mungkin kita mengikuti banyak ibadah, atau bahkan pelayanan. Tetapi apakah kita sudah melakukan Firman Tuhan? Bahkan dalam Yakobus 2:14 dikatakan bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Kita adalah orang-orang yang “hidup”, maka biarlah Firman yang sudah kita dengar kita imani dan kita lakukan. Sebab Iman bekerjasama dengan perbuatan kita untuk menjalankan sebuah komitmen kita dihadapan Tuhan.
Komitmen itu adalah bukti dari sebuah perjanjian dan proses mengikut Tuhan
Jika kita pelajari lebih lagi, janji adalah sesuatu yang membutuhkan satu pihak saja. Tetapi dalam sebuah perjanjian dibutuhkan 2 pihak. Dan ketika kita memiliki sebuah perjanjian, dibutuhkan sebuah komitmen, bahwa kedua pihak akan menepati janjinya. Sama halnya sepasang kekasih yang mengucapkan janji di hari pernikahan mereka, keduanya mengikat sebuah perjanjian di hadapan Tuhan. Perjanjian tersebut bukan hanya tentang 1 orang, tetapi dua orang. Tuhan punya janji juga dengan kita.. dan itu membentuk sebuah perjanjian yang kekal antara kita dengan Bapa.
Kasih Tuhan tidak bersyarat, tetapi Janji Tuhan bersyarat
Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi (Keluaran 19 : 5).
Tuhan mengasihi kita tanpa syarat, tetapi janji Tuhan kepada kita mengandung sebuah syarat. Seperti ayat diatas katakan, bahwa untuk mendapatkan perjanjian berkat dari Tuhan, kita harus taat mendengarkan Firman Tuhan dan terus berpegang pada perjanjianNya untuk setiap kita. Dikatakan juga dalam Imamat 26:3-4, bahwa “Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.” Itulah syarat yang harus kita penuhi untuk mendapatkan berkat dari Tuhan.
Kita harus menjadi pelaku Firman Tuhan, sehingga kita bisa memiliki perjanjian yang indah dengan Tuhan. Dan kita harus sungguh-sungguh kepada Tuhan, sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu; Dia tidak suka kalau kita memiliki berhala lainnya. Kalau kita sudah memilki perjanjian dengan Tuhan, sudahkah kita melakukan apa yang menjadi komitmen kita di hadapan Tuhan?
Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud. (Yesaya 55:3)
Tuhan kita adalah Tuhan yang setia pada janji-janjiNya. Maukah kita benar-benar mengikat perjanjian yang kudus dengan Tuhan? Miliki komitmen untuk menepati janji-janjimu. Menjadi pelaku Firman dibutuhkan sebuah komitmen, dan itu adalah proses seumur hidup kita. Mari kita belajar setia, belajar sungguh-sungguh mengerjakan segala sesuatu dengan rela hati untuk Tuhan, bukan karena terpaksa semata. Mari kita mengerjakan segalanya dengan sukacita untuk kemuliaan nama Tuhan.


