Khotbah Pdt. Budi Utomo – Menang Atas Diri Sendiri
Yang penting untuk kita sadari dan pahami adalah; manusia itu terdiri dari 3 dimensi yaitu roh, jiwa dan tubuh. Manusia itu esensinya adalah roh yang diberi jiwa dan tinggal di dalam tubuh. Jiwa berada di antara roh dan tubuh. Tubuh sangat erat kaitannya dengan daging/kedagingan, jadi selama kita tinggal dalam tubuh maka roh kita akan terus berperang melawan kedagingan. Sedangkan jiwa yang berada di tengahnya akan mengikuti mana yang lebih dominan/kuat, jika roh kita kuat maka jiwa kita akan melekat pada roh begitupun sebaliknya jika daging kita yang mendominasi maka jiwa kita akan melekat pada daging. Jiwa terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak itulah mengapa Rom 8:5 mengatakan; “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” jadi jiwa ini sangat fleksibel. Dari pemikiran-pemikiran kita, keinginan/ambisi, cara kita menghabiskan waktu dan merespon atau mengungkapkan perasaan kita itu dapat menunjukkan sebenarnya kita hidup di dalam roh atau daging.
Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita bisa mematikan kedagingan kita? Bagaimana kita bisa menang atas diri sendiri? Ada 4 hal radikal yang selama ini selalu menjadi area kegagalan kita, namun yang sangat perlu untuk kita lakukan agar kita menang atas diri kita:
1. Disiplin (seni menjadwalkan rasa sakit dan kesenangan dalam hidup sedemikian rupa agar kita bisa menghadapi rasa sakit terlebih dahuluuntuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik kemudian).
Orang yang gagal untuk disiplin pasti takut “sakit”, mereka lebih memilih untuk memelihara kenyamanan dagingnya. Saudaraku, kita tidak perlu disiplin untuk apa yang kita sukai atau sesuatu yang sudah menjadi hobi kita. Kita tidak perlu disiplin untuk membaca komik, memasak, fitness atau kegiatan-kegiatan lainnya yang kita sukai dan memang rutin kita lakukan. Saudara, seberapa kita bisa disiplin dalam hidup kita, termasuk dalam kerohanian kita? Disiplin dalam membaca firman, berdoa atau berpuasa. Jika kehidupan keagamaanmu tidak lebih baik dari ahli-ahli Taurat, maka sesungguhnya engkau tidak layak masuk kerajaan Allah. Alkitab mencatat ahli Taurat mempunyai kehidupan keagamaan yang luar biasa saudara. Mengalahkan daging adalah cara yang paling berkuasa dan gampang jika dibandingkan dengan kehidupan keagamaan yang dijalani ahli Taurat. Percayalah jika kita tidak bisa mendisiplin daging/diri kita, maka kita akan terus kalah.
2. Komitmen (suatu janji pada diri kita sendiri ataupun pada orang lain yang tercermin dalam tindakan).
Komitmen akan menjadi kekuatan dan dibutuhkan (untuk memaksa kita) ketika kita tidak ingin melakukan apa yang sudah kita janjikan. Komitmen sedikit berbeda dengan disiplin. Komitmen dilakukan karena kita sudah berjanji dan berusaha untuk menepatinya. Ini sesuatu yang sangat serius dan tidak sembarangan. Ada banyak orang atau pun keluarga yang gagal yang gagal dalam hal komitmen dan itu sangat mempengaruhi banyak aspek.
3. Bayar Harga (dituntut lebihi dari yang seharusnya, melebihi yang daging harapkan)
Orang yang punya mental bayar harga akan selalu mengalami peningkatan hari demi hari. Orang ini akan terus diperbesar/diperluas kapasitasnya karena dia selalu berusaha melakuakan sesuatu lebih dari yang umumnya dilakukan, sehingga akan terus meningkat. Saya selalu suka melihat keberhasilan seseorang bukan dari semua yang sudah dicapainya saat ini, tetapi dari setiap proses yang dia lewati untuk memcapai keberhasilannya. Jangan berharap kita bisa bertumbuh tanpa ada bayar harga, dalam hal apa pun. Yesus pun mengajarkan supaya kita bayar harga, Mat 5:40-41 “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” bukankah itu prinsip bayar harga?? Dalam segala aspek, lakukan sesuatu yang lebih dari yang diharapkan, lebih dari yang umumnya dilakukan.
4. Pengorbanan
Pengorbanan selalu berhubungan dengan rasa sakit, dan saat kita berbicara tetang kasih itu tak mungkin lepas dari pengorbanan. Saudara, orang yang dalam hidupnya dalam kedagingan pasti gagal mengasihi. Mengapa? Karena dia gagal berkorban. Kasih bukanlah sebuah kasih jika tanpa pengorbanan. Dalam 1 Yoh 3:10 Yohanes menyebutkan perbedaan mendasar antara anak-anak Allah dan anak-anak ibils yaitu dari hidupnya yang mengasihi; “Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” Bagaimana kita mengetahui kasih Kristus? Bagaimana kita mengetahui Yesus mengasihi kita? Salah satunya, dan merupakan yang terbesar, yaitu dari pengorbananNya. Bisakah kita merasakan kasih Yesus jika Ia datang dalam keallahanNya, membinasakan semua lawanNya dan menjalani penyaliban tanpa penderitaan dan kematian? Yesus dapat melakukan semua itu tetapi Ia memilih untuk datang dalam kemanusiaan dan menjalani semua penyiksaan dalam keterbatasan manusia. Tidak ada pahlawan tanpa pengorbanan.
Dalam 1 Pet 4:1 Petrus mengatakan “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, –karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa–” Saudaraku, karena Kristus telah menderita penderitaan badani maka kita pun harus menata pikiran kita sedemikian, bahwa kita sebagai pengikut Kristus pun harus berkorban dan bayar harga. Orang yang benci dengan penderitaan selalu akan akrab dengan dosa, sedangkan orang yang membuka diri dan rela dengan “penderitaan” yang Tuhan ijinkan, alkitab berkata; mereka telah berhenti berbuat dosa. Mulai tanamkan dalam diri kita mental yang mengasihi Tuhan, mau melakukan apapun dan bayar harga untuk Tuhan, tidak takut menderita. Itulah kekristenan. Saudaraku, marilah kita berhenti berfokus pada diri sendiri, kepentingan diri sendiri merupakan salah satu bagian dari kedagingan. Kesenangan kita adalah ketika nama Tuhan dipermuliakan, kesenangan yang berbeda dengan yang dunia katakan. Bukan berarti kita tidak boleh merasakan kebahagiaan/ kesenangan tetapi kesenangan kita bukan terletak pada kenyamanan tubuh dan daging seperti yang dunia katakan, kesenangan kita adalah ketika Tuhan tersenyum dengan apa yang kita lakukan, ketika orang lain bersukacita.
Khotbah Pdt. Budi Utomo

