Khotbah Ps. Daniel Shane – Kembali Pada Panggilan Yang Semula
KEMBALI PADA PANGGILAN YANG SEMULA
Mazmur 50:1-15
(Oktober 2010)
“Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” (Mzm 50:14-15)
Ayat-ayat ini mengungkapkan isi hati Tuhan kepada umatNya yang berfokus pada perkara-perkara rohani yang lahiriah. Hal pertama yang Tuhan ingatkan yaitu; “Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah”. Ini bukan hanya berbicara tentang pemberian atau keaktifan kita di gereja, persembahan atau persepuluhan kita. Banyak umat Tuhan berpikir bahwa dengan hanya mengikuti ibadah rutin setiap hari minggu, memberikan persembahan dan sesekali terlibat dalam persekutuan kelompok kecil, sudah memenuhi semua tuntutan rohani atau syarat untuk menjadi “orang baik” yang berkenan di mata Tuhan. Atau mungkin terlibat dalam pelayanan yang disibukan oleh berbagai kegiatan rohani tanpa memiliki hubungan pribadi yang berkualitas dengan Tuhan. Namun merasa memiliki hak penuh untuk menuntut Tuhan memenuhi semua keinginan dan doa-doa egois mereka.
Ada hal yang jauh lebih penting dari semua itu, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, bagaimana kita menempatkan Tuhan dalam hidup kita? Apakah sebagai penguasa tunggal yang kehendak dan keinginanNya selalu kita tempatkan di atas keinginan, rencana dan keputusan kita atau sebagai pribadi asing yang sama sekali tidak kita libatkan dalam hidup kita? Bagaimana kita memaknai hubungan pribadi dengan Tuhan? Apakah kita terus berusaha mencari dan dapat menikmati persekutuan pribadi dengan Tuhan dalam ungkapan syukur? Hubungan pribadi yang membawa kita untuk tetap menyembahNya meski berada dalam pergumulan atau keadaan dimana sangat sulit untuk mengucap syukur. Itulah korban syukur kita sebagai persembahan kepada Tuhan. Pasti ada rasa sakit dalam setiap korban, namun apakah kita mau tetap melakukannya dalam ucapan syukur? Hanya dalam hubungan pribadi yang berkualitas, seseorang dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan dapat memberikan korban syukur sebagai persembahan.
Hal yang kedua yaitu; “bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!”. Ini berbicara tentang janji mula-mula saat lahir baru, komitmen-komitmen yang kita buat pada masa pertobatan. Karena banyak umat Tuhan yang mulai melupakannya seiring dengan berjalannya waktu. Nazar juga berbicara tentang panggilan mula-mula atau bagian yang sejak semula sudah Tuhan tetapkan untuk kita selesaikan selama masa hidup. Setiap manusia ciptaanNya memiliki bagian dan peranan masing-masing yang spesifik dalam rencana Tuhan. Dalam pekerjaan, pelayanan, langkah-langkah hidup kita bahkan dalam kehidupan berpasangan dan berkeluarga, Tuhan telah merencanakan kehidupan kita dengan sempurna. Hidup kita memiliki tujuan ilahi bagi kemuliaanNya, tetapi banyak umat Tuhan yang kehilangan panggilannya dan rencana Tuhan yang sempurna karena berjalan/hidup untuk rencana-rencananya sendiri. Sehingga banyak yang berjalan menuju jalan buntu, terikat dengan dunia dan rasa bahagia/kedamaian palsu, tidak menyelesaikan bagiannya di dunia dan berakhir dalam kebinasaan.
Tuhan memanggil kita untuk kembali dan hidup dalam rencanaNya yang sempurna dan mempertahankannya dalam hubungan pribadi yang berkualitas dengan Tuhan.
Khotbah Pdt. Daniel Shane


