Khotbah Ps. Daniel Shane – Road To Revival Part 4 (Rahasia Di Balik Hati Seorang Bapa)
Yesaya 43 :1-7
Ada banyak hal yang mungkin kita ketahui dan pelajari dalam kehidupan kekristenan, tentang betapa besar dan dahsyat Allah yang kita sembah. Ia sebagai Tuhan dan Juruselamat yang yang penuh kasih, Raja di atas segala raja yang patut dihormati dan ditaati dan bahkan Panglima perang yang akan membawa kita memenangkan peperangan dan menduduki tanah perjanjian. Namun ada sisi penting lainnya dari Allah kita yang perlu kita kenal dan alami, Ia adalah Bapa sorgawi kita.
Dalam Yesaya 43 :1-7, firman Tuhan menggambarkan figur Bapa sorgawi kita sebagai:
- Bapa yang mengenal kita secara pribadi (Yes 43:1). Bapa mengenal kita secara pribadi bahkan Dia menyebut nama anaknya satu persatu, kita adalah ciptaanNya milik kepunyaan yang dikasihiNya, dan ini adalah suatu kehormatan bagi kita.
- Bapa yang menyertai dan menjaga anak-anakNya (Yes 43:2).Tidak ada ayah yang membiarkan anaknya dalam bahaya, tiap ayah pasti ingin menjaga anaknya.
- Bapa yang mengasihi kita sebagai hartaNya, anak-anakNya yang berharga (Yes 43 :3-4). Seperti halnya bapa di dunia yang mengkhawatirkan anaknya disaat sakit misalnya, sejahat-jahatnya ayah kita di mata anak-anaknya, seorang ayah pasti tak mungkin membiarkan anaknya sakit tanpa diberi obat. Uang atau hartanya tentulah tidak lebih berharga dari keselamatan dan kesembuhan anaknya. Meskipun tak jarang ada juga ayah yang lebih mementingkan uang atau hartanya dibandingkan anaknya sendiri, karena sebagian besar gambaran ayah di bumi telah dirusak iblis agar membuat kita tidak mengenali atau memiliki gambaran yang salah tentang Bapa di sorga.
- Bapa yang selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anakNya (Yes 43 :5-6).
Ada bagian yang perlu kita ketahui juga sebagai bentuk kasih dari Bapa sorgawi kita. Pada ayat yang ke-7 dikatakan “semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” (Yes 43:7). Yah, selain mengasihi, menjaga dan memberikan yang terbaik bagi anak-anakNya, Ia juga membentuk dan mempersiapkan anak-anakNya dengan disiplin dan didikan yang kadang menyakitkan dan tak sedikit yang salah mengartikan kasihNya dibalik didikan tegasNya. Bapa sorgawi kita adalah:
1. Bapa yang menghendaki pertumbuhan anak-Nya
Bapa menerima kita apa adanya tetapi Dia juga tidak menghendaki kita terus menjadi anak-anak yang “seadanya”. Seorang ayah tentulah menghendaki anaknya bertumbuh normal dan maksimal sesuai dengan usianya. Demikian pula Bapa sorgawi kita, adalah suatu yang tak normal jika dengan usia kerohanian yang sudah cukup lama namun kita masih seperti soerang bayi rohani yang tidak bisa apa-apa bahkan justru menjadi beban bagi orang lain. Bapa memang akan tetap menerima dan mengasihi anakNya dalam kondisi apapun, namun “kekerdilan rohani” anak-anakNya tentu saja membuat hati seorang Bapa bersedih. Bahkan tak jarang, Bapa kita didukakan dan disakiti oleh tindakan anak-anakNya yang tak pernah bertumbuh secara rohani.
Betapa bangganya ayah dari seorang anak yang terhambat pertumbuhannya, ketika ia menceritakan perkembangan anaknya yang sudah bisa merangkak setelah beberapa tahun mereka sebagai orang tua mendampingi. Dia bangga dengan perkembangan ankaknya, meskipun dia baru bisa merangkak di usia 7 tahun. Bapa mana yang tidak menghednaki kemajuan dalam diri anak-anaknya? Saat usia 12 tahun ketika anaknya sudah bisa menyebut kata “papa-mama” orang tuanya sangat bahagia dan mengadakan perayaan, meskipun dengan sadar mereka tahu bahwa perkembangan anak meraka tergolong lambat jika dibandingkan dengan anak-anak lain.
Inilah sisi lain dari hati seorang Bapa, Ia menghendaki pertumbuhan dan kemajuan anakNya, meskipun mungkin tak semua anak memiliki pertumbuhan yang sama cepatnya. Apakah Bapa akan bangga jika anaknya sejak dulu sampai bertahun-tahun kita tetap dalam keadaannya yang sama dan tanpa perubahan sedikitpun, tetap tempramental, karakter yang tak bisa dipercaya, respon hati yang tak berubah dan tak bertambah kuat?
Kisah nyata yang sudah lama saya dengan, tentang seorang anak yang menderita kanker tulang. Anak terakhir dari tiga bersaudara, mereka bukan dari keluarga kaya raya dan orang tua terutama ayahnya belum sungguh-sungguh percaya kepada Yesus. Namun yang membuat ayahnya bertobat, adalah pengalaman-pengalamannya saat mendampingi anak ketiganya yang menderita kanker. Sang ayahnya bekerja untuk membiayai pengobatan, bahkan menjual semua yang bisa dijual. Satu hal yang membuatnya kuat dan bangga adalah karena anaknya tak pernah menyerah pada penyakitnya. Di usianya yang ke-7, saat ayahnya menangis berdoa kepada Tuhan, sang anak memegang pundak ayahnya dan berkata “papa jangan menangis, kita harus bersyukur untuk apa yang diberikan Tuhan dan saya tidak akan pernah berhenti berjuang melawan penyakit ini. Asal papa senyum, saya akan melawan penyakit ini”. Setelah menjalani proses pengobatan dan kemoterapi bahkan sampai rambutnya harus dicukur habis, dokter memberitahukan bahwa umur sang anak tak akan lebih dari tahun depan. Namun kata-kata anaknya “Papa, bersyukur kepada Tuhan dan jangan pernah menyerah” selalu menguatkan dan membuat sang ayah tidak pernah menyerah untuk mencukupi semua yang dibutuhkan. Sebelum hari terakhir hidupnya sang anak memberikan sebuah kotak dengan pesan ” Papa, jangan pernah menyerah dengan kehidupan karena aku pun tak pernah menyerah, satu yang kurindu papa mengenal Tuhan Yesus yang memberikanku hidup. Semenjak aku divonis akan meninggal, aku membuat ukiran pada sebatang pohon dan itu ada dalam kotak ini. Papa boleh membuka kotak ini saat saya sudah dipanggil Bapa”. Dan saat hari penuh kesedihan untuk membuka kotak itu tiba, sang ayah mendapati ukiran berbantuk wajah ayahnya. Sang ayah menangis, ia tahu, anaknya pasti mengukir itu dengan ketulusan dan cinta namun pasti dalam kesakitan karena anaknya menderita kanker tulang sangat menyakitkan, apalagi untuk membuat sebuah ukiran. Dia pasti mengukir dengan segenap kekuatan dan tenaga yang ia miliki. Saat kematian anaknya, sang ayah berkata “Ukiran ini sangat bernilai, walaupun mungkin tak bernilai bagi orang lain. Saya memiliki 3 orang anak dan saya mencintai semuanya, tetapi anak saya yang terus berjuang dengan kehidupan membuat saya bangga”.
2. Bapa yang menghargai kesakitan dan perjuangan kita dalam mengasihi dan menyenangkan-Nya.
Pernahkah kita hasilkan karya yang berharga bagi Bapa seumur hidup kita? Mungkin tidak banyak dari kita yang bisa memberi atau melakukan banyak seperti orang lain, tetapi jika itu dilakukan dengan tulus, kesungguhan dan cinta maka Bapa akan sangat menghargai dan disenangkan.
3. Bapa yang mendidik dengan disiplin
Ada seorang anak yang frustasi dan tertekan, selalu gagal dan diremehkan, dianggap pecundang. Sudah berkali-kali ayahnya memaafkan kebodohannya dan ia sendiri menyadari betapa ayahnya menerima dan tetap mengasihi, namun ia tetap jatuh lagi dalam kebodohan dan ketidakteraturannya berkali-kali. Suatu saat ayahnya datang ke kamarnya, mungkin kita mendambakan lanjutan cerita dimana sang ayah akan memeluknya dan berkata “tidak apa-apa anakku..” seperti yang sudah-sudah. Namun ini adalah kegagalan yang sama untuk yang ke-6 kalinya, ayahnya datang ke kamar dan menampar anak itu. Dengan kesal si anak berkata “aku pencundang” sungguh mengejutkan ayahnya pun berkata “memang kamu bodoh! Papa menyesal punya anak seperti kamu! Kamu tidak pernah bangkit dari kegagalanmu! Tidak berjuang untuk lepas kebiasaan dan kemalasanmu!
Sejak malam itu sang anak tidak bisa tidur, ia tahu ayahnya seorang yang baik, dan saat itu ia berharap ayahnya akan memahami kondisinya. Namun dia harus mengerti, menerima kenyataaan bahwa dia melakukan kesalahan dan gagal karena kebodohannya. Dan satu hal yang dikatakan ayahnya “yang paling kubanggakan dalam hidupku ialah memiliki anak yang bodoh, idiot bahkan cacat mental sekalipun namun tak pernah berhenti berjuang untuk maju, menginginkan perubahan dan pertumbuhan”. Pernyataan yang membangkitkan semangatnya bahkan membawanya pada perubahan luar biasa.
BERHENTILAH berpikir bahwa Bapa tidak mengasihi kita!! Tetapi bangkitlah dari kegagalanmu dan bertumbuhlah dengan benar!!
Khotbah Ps. Daniel Shane
