Khotbah Ev. Evie Mehita : Setia
Bacaan : 2 Tawarikh 14:2-6
Tuhan akan menjadikan kita pemimpin, tetapi apakah kita bisa menjadi orang yang bisa dipercaya oleh Tuhan. Raja Asa, pada jamannya adalah raja yang radikal.
Pada ayat ke 7, kita sedang membangun benteng-benteng pertahanan untuk keluarga kita, untuk diri kita. Sudahkah kita memiliki benteng rohani, tembok yang kuat? Iblis mungkin bisa memanah kita, tapi jika memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Bagaimana kita memiliki benteng yang kuat, jika kita tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan.
Setiap peperangan selalu ada resiko (ayat 9). Apa yang menjadi peperangan dalam diri kita? Takut tertolak, sukar merasakan kasih Tuhan dan lain sebagainya. Setiap peperangan ada berkat, jika kita berada dekat Tuhan.
Kemenangan yang dialami oleh Asa melawan satu juta orang dan tiga ratus kereta, terjadi revival yang besar.
Jangan berharap pada manusia (2 Tawarikh 15:1-3).
Tuhan memiliki banyak cara untuk membuat kita tersenyum, untuk membuat kita kuat kembali. Tuhan bisa menguatkan kita dengan cara apapun. Kadang penghiburan dari Tuhan, bisa melalui anak kecil, orang-orang yang tidak kita kenal.
Asa memecat neneknya Maakha (ayat 8). Perintah raja Aja yaitu, setiap orang, baik anak-anak atau orang dewasa, baik itu laki-laki maupun perempuan, harus mencari Tuhan, yang tidak melakukannya, harus dihukum mati.
Raja Asa begitu radikal. Terjadi restorasi besar-besaran di jaman ini.
Apakah kita pernah tidak bisa berdoa? Mengapa?
Hal itu karena kt mengeraskan hati kita. Kita telah membangun tembok yang salah. Kita senang dengan Tuhan, tapi bukan berarti kita punya hubungan pribadi dengan Tuhan.
Ketika kita diceritai tentang Tuhan, apakah kita lebih kangen dengan Tuhan?
2 Tawarikh 16:2-9
Raja Asa bersandar pada raja Aram. Selama 36 tahun dia mengalami revival dan selama 3 tahun selanjutnya, ia mengalami kemerosotan rohani. Asa mengambil apa yang menjadi hak Tuhan. Tuhan punya hak menentukan jalan hidup kita. Tembok yang benar akan runtuh dan tembok yang salah akan kita bangun.
Saat ditegur atau mendengar peringatan dari Tuhan, jangan kita keraskan hati kita. Pada kisah Daud dalam 2 Samuel 24:14, ia lebih memilih jatuh di tangan Tuhan saat keadaan “distress” (tertekan). Ia tetap mengandalkan Tuhan dalam segala hal.
