Khotbah Pdm. Evie Mehita : Pelayanan Yesus
Kisah Yesus memberi makan 5000 orang adalah kisah mujizat Yesus yang sangat terkenal; Kisah ini tercatat di semua kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Yesus dan murid-Nya hendak menyepi dan beristirahat, tetapi banyak orang yang mengikuti Yesus. Yesus tergerak oleh kasih dan melayani mereka (Matius 14:13-14, Markus 6:30-31).
Apa yang dapat kita pelajari dari pelayanan Yesus?
1. Pelayanan Yesus tidak egois
Pelayanan Yesus bukan pelayanan yang egois, tetapi ada kasih di dalam pelayanan-Nya. Sekalipun Yesus dan murid-Nya lelah dan belum makan, tetapi Yesus tetap menerima orang-orang itu dengan kasih.
2. Yesus menerima, mengajar, dan menyembuhkan
Yesus menerima mereka, mengajar mereka, dan menyembuhkan mereka yang sakit. Betapa di akhir jaman ini banyak orang mengalami “sakit”, mereka mengalami krisis kasih. Kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Karena itu Yesus datang ke dunia ini untuk memberikan pemulihan akan kasih; semua ini dilakukan-Nya karena Dia sangat mengasihi kita.
3. Menjadi pemberi roti
Yesus memberikan teladan bagi kita untuk memberi “makan” kepada orang-orang yang membutuhkan, bukan hanya secara jasmani, tetapi juga secara rohani.
Anak kecil itu tahu cara memberikan yang terbaik (Yoh. 6:9).
Dia memberikan apa yang ada padanya: 5 roti jelai dan 2 ikan kecil. Banyak orang mencibir dia, “Bagaimana makanan yang sangat sedikit itu bisa memberi makan 5000 orang?”. Tetapi dia memberikan semuanya di tangan Tuhan, dan Tuhan sanggup melakukan perkara besar. Belajar dari anak kecil ini, mari kita menjadi pemberi roti, bukan karena kita kaya dan punya segalanya. Tetapi ketika kita menyerahkannya di tangan Tuhan, itu sanggup memberkati banyak orang.
Apa yang ada di tanganmu saat ini? Mari belajar menjadi pemberi roti; melalui talenta, kemampuan, dan apapun yang kamu miliki. Taruh semua di tangan Tuhan, dan biarkan Tuhan yang bekerja dan menjadikannya berkat bagi banyak orang. Percayalah bahwa Tuhan tahu dengan tepat apa yang akan dikerjakan-Nya.
Terkadang Tuhan menjawab pergumulan kita dengan cara yang unik.
Tuhan bertanya kepada Filipus dimana mereka dapat membeli roti (Yoh. 6:5); bukan berarti Tuhan tidak tahu jawabannya, tetapi karena Tuhan tahu Filipus orang yang mudah ragu, sekalipun dia melihat banyak mujizat Yesus. Terkadang kita bertanya kepada Tuhan dalam pergumulan kita, Tuhan tidak langsung menjawab; Tuhan mungkin diam, atau bahkan balik bertanya. Tetapi bukan berarti Tuhan tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya; Dia tahu dengan tepat apa yang akan dikerjakan-Nya.
Tuhan memberikan 5000 orang itu makan sampai mereka kenyang (Yoh. 6:11). Ini berbicara Tuhan memenuhi kebutuhan kita. Tetapi banyak orang mencari-Nya karena tujuan yang lain. Mereka mencari Yesus supaya mereka kenyang, bukan karena pribadi-Nya (Yoh. 6:25-26).
Bagaimana dengan kita? Mari kita berfokus kepada pribadi Yesus, bukan hanya kepada berkat-Nya (Yoh 6:27-29).
Yesus adalah Roti Hidup sejati, roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia (Yoh 6:33). Barangsiapa datang kepada-Nya, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan haus lagi (Yoh 6:35).
Pdm. Evie Mehita
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Semuanya Habel
Pengkhotbah adalah salah satu Kitab Syair dalam Perjanjian Lama yang penuh dengan misteri. Kitab Pengkhotbah berbicara tentang kesia-siaan (Pengk. 1:1-2). Kata sia-sia disini bukan berarti tidak ada gunanya, tetapi merujuk kepada kata Habel (baca: hefel) yang artinya uap, kabut, asap. Uap/asap kelihatannya padat, tetapi tidak bisa ditangkap; Sesuatu yang kelihatan sebentar saja, lalu hilang. Artinya segala sesuatu di bumi ini hanya fana, hanya sementara, yang sebentar saja lalu hilang.
Manusia berusaha mencari apa arti kehidupannya; Mereka membangun kehidupan mereka melalui kekayaan, status, dan pencapaian, namun semuanya itu fana (habel).
Dalam kehidupan ini, kita akan mengalami banyak masa, baik itu masa yang baik maupun masa yang sulit; Itu pun juga sia- habel. Kebahagiaan yang sejati hanya ada di surga, kebahagiaan yang kita rasakan di bumi hanya habel.
Jika semuanya habel, apa kunci yang harus kita miliki untuk menjalani hidup kita?
Menerima dan Menikmati Habel
Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang , karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu. Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu. Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari. Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. (Pengk. 9:7-10)
Banyak orang berusaha merumuskan pemikiran Tuhan tentang hidupnya. Sehingga banyak dari kita yang sering mempertanyakan keadilan Tuhan: “Kenapa aku? Kenapa aku harus mengalami ini?” Kita merasa bahwa orang baik tidak seharusnya mengalami kemalangan, tetapi tidak ada satupun yang dapat menyelami pikiran Tuhan (Pengk. 8:17). Manusia berusaha melawan habel, tetapi habel bukan untuk dilawan, tetapi untuk dijalani, disyukuri, dan dinikmati.
Apapun yang ada padamu saat ini, terima habelmu dan kerjakan dengan sebaik-baiknya. Semua pekerjaan kita dinilai oleh Tuhan.
Hidup Takut akan Tuhan
Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. (Pengk.12:13)
Menjalani kehidupan yang penuh dengan habel ini, kita harus hidup takut akan Tuhan. Dia sedang menilai kehidupan kita dan mempersiapkan kehidupan kekal bagi kita.
Hidup berdamai dengan jalan Tuhan adalah kunci memiliki sukacita, ucapan syukur, dan kemerdekaan dalam hidup ini. Semua habel, tetapi mari menjalani kehidupan kita dengan sebaik-baiknya untuk kemuliaan nama Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Peperangan Rohani
Di dalam sebuah film, pasti ada tokoh utama di dalamnya. Demikian pula setiap kita adalah tokoh utama dalam cerita kehidupan kita. Kita semua memegang peranan penting dalam cerita yang Tuhan buat. Tidak ada bagian yang tidak penting, karena kita-lah tokoh utamanya. Ketika Kita menonton film, kita mengharapkan akhir yang bahagia. Sama halnya manusia mencari kebahagiaan dalam hidup mereka. Tetapi tujuan kekristenan bukanlah mencari kebahagiaan duniawi semata, tetapi kebahagiaan kekal. Karena itu mari kita mengejar perkenanan Tuhan, mengejar kebahagiaan surga.
Manusia Rohani & Manusia Duniawi
Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos, ” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?
(1 Korintus 3:1-4)
Manusia duniawi buka hanya orang yang belum percaya atau belum mengenal Tuhan. Tetapi orang yang belum dewasa rohani bisa disebut manusia duniawi.
Orang yang belum dewasa tidak bisa makan makanan yang keras, tidak bisa menerima kebenaran. Mereka suka hidup dengan sifat duniawinya, sehingga mereka tidak bisa dipercayakan hal besar oleh Tuhan. Selama kita masih dunia, kita masih punya sifat-sifat duniawi, tetapi ketika hidup kita dipenuhi oleh Roh Kudus, kita harusnya tidak tahan lagi untuk tinggal dalam hal duniawi; Kita berjuang memeranginya.
Setiap kita sedang berada dalam pertandingan kita masing-masing yang harus kita selesaikan secara pribadi. Kita tidak bisa menyeret orang lain untuk menyelesaikan pertandingan kita; Kita harus menyelesaikannya sendiri (1 Korintus 9:24). Setiap kita harus sadar kalau kita penting dalam pekerjaan Tuhan, sebab itu bertandinglah sebaik mungkin.
Hidup kita tidak pernah lepas dari peperangan. Ada 2 peperangan yang kita hadapi dalam hidup kita :
1. Peperangan Pribadi (Raksasa), bisa muncul dari :
– Warisan Nenek Moyang (sifat, dosa, kecenderungan/Avon)
– Pengalaman pribadi / masa lalu yang terjadi atau yang dilakukan terus menerus
– Ketakutan (Karena intimidasi & tawaran Iblis) yang melemahkan mental.
Iblis selalu berusaha menjerat dan menjatuhkan anak-anak Tuhan dengan ketakutan. Dia akan melemahkan mental kita dan membuat kita mengiyakan setiap perkataannya.
2. Peperangan Secara Korporat
Sebagai gereja kita perlu bergerak secara tim. Di akhir zaman ini, Tuhan rindu mengembalikan hati anak-anakNya kepada hati Bapa. Gereja menaklukkan prinsip dunia dan dosa, sehingga dapat merebut jiwa-jiwa dari jerat kebinasaan dan setiap mereka dimenangkan oleh karena Tuhan.
Tuhan rindu setiap kita menjadi pahlawan Tuhan yang tidak terus berkutat dalam peperangan kita pribadi, tetapi berkarya untuk jadi berkat bagi orang lain. Kita tidak hidup bagi diri kita sendiri, tetapi hidup kita dipersembahkan seluruhnya untuk kerajaan Tuhan; Kita hidup untuk kepentingan orang lain.
Kalahkah peperanganmu!
Jika tidak, kita menjadi orang yang lumpuh; Kita menjadi orang yang tidak maksimal dalam Tuhan. Sekalipun kita berada dalam peperangan, jangan pernah menyerah, Jangan berhenti melayani. Jika tidak, Iblis akan semakin menghancurkanmu. Dia akan menghancurkan mental kita sampai kita percaya padanya bahwa kita tidak bisa bangkit lagi.
“Jika engkau telah berlari dengan orang berjalan kaki, dan engkau telah dilelahkan, bagaimanakah engkau hendak berpacu melawan kuda? Dan jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan? (Yeremia 12:5)
Jangan mudah menyerah dalam pertandingan hidupmu. Janganlah ketika menghadapi sedikit tantangan, kita sedikit-sedikit lelah, sedikit-sedikit menyerah, sedikit-sedikit tidak mau melayani Tuhan; Itu bukan mental seorang prajurit. Milikilah mental prajurit yang kuat, sehingga kita mampu memenangkan setiap peperangan kita.
Belajar dari Maria ibu Yesus, di dalam pergumulannya, dia menyimpan dalam hatinya, dia membereskan dan menyelesaikan peperangan dalam dirinya (Lukas 2:19). Kita perlu berlatih untuk dapat memenangkan pikiran kita sendiri kepada Tuhan; tidak menyeret orang lain dan memintanya menyelesaikannya. Kita boleh bercerita dan meminta nasehat untuk setiap masalah kita, tetapi kita harus belajar menyelesaikan masalah kita sendiri.
Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, (Zefanya 3:16-17)
Tuhan adalah pahlawan kita. Jika Tuhan ada bersama kita dalam setiap peperangan, kita tidak akan pernah kalah. Dia yang akan memegang hidup kita dan tangan kananNya memberikan kita kemenangan. Hadapi setiap peperangan bersama dengan Tuhan, dan kemenangan ada di tanganmu.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Berubah
Di akhir pada kesudahannya, Yesus akan datang kedua kalinya sebagai hakim yang adil. Dia datang untuk memeriksa dan menilai hidup kita. Banyak orang ingin dinilai sempurna oleh manusia, tetapi penilaian Tuhan tidak pernah salah, penilaian Tuhan adalah yang terpenting dari semuanya.
Ada banyak orang punya rasa berharga dari apa yang mereka miliki, tetapi Tuhan tidak menilai kita dari seberapa hebat diri kita, atau apa yang kita bisa berikan, tetapi Dia menilai setiap hal kecil dalam hidup kita. Dia menilai kita dengan cinta. Tidak melihat seberapa buruk diri kita, Dia memandang kita berharga.
Tuhan mengingat semua yang kita lakukan, bahkan dosa-dosa kita. Tetapi Tuhan tidak mau lagi mengingat dosa kita, jika kita mau mengakui dan sungguh-sungguh minta ampun di hadapanNya
Amsal 19:17
Tuhan tidak pernah berhutang.Jika kita melakukan semuanya untuk Tuhan, Tuhan pasti akan membalaskannya, bahkan memberikan lebih. Oleh sebab itu, mari kita melakukan yang terbaik bagi Tuhan.
Seperti kata Daud dalam Mazmur 17:3-5, Kita bukan tidak bisa berdosa, tetapi kita harus menjaga diri; kita bukan tidak bisa, tetapi tidak mau lagi berbuat dosa. Tuhan sedang menguji hidup kita.
Di akhir zaman ini akan semakin nampak pemisahan antara orang yang berakar dan tidak berakar dalam Kristus. Akan terjadi pemisahan antara orang benar dan orang fasik (Maleakhi 3:18). Mari perhatikan saudara-saudara kita, kita perhatikan kawanan domba yang ada, sebab hari penghakiman sudah tiba.
Satu point penting bagi kita sebagai anak Tuhan : BERUBAH.
Berubah bukan hal yang mudah. Ada orang yang memiliki sifat karena bawaan dari lahir, ada juga yang memiliki sifat karena kebiasaan.
Kita perlu hati-hati, karena kita semua bisa mengalami kemunduran rohani karena kebiasaan yang buruk (Yeremia 2:21, Ratapan 4:1). Karena itu, setiap kita butuh alat kontrol, untuk menilai dan menegur kita, baik dari Tuhan maupun pemimpin kita. Mari memeriksa diri, jika ada yang salah dari dalam diri kita, mari belajar untuk berubah.
Ketika Yesus datang ke dunia, Dia tidak datang untuk mencari murid saja, tetapi mengajar mereka untuk menjadi pemimpin dan pemurid jiwa. Tuhan menghendaki kita menjadi pemimpin, minimal memimpin diri sendiri dan orang terdekat kita.
Kriteria pemimpin ( 1 Tim 3:1-7) :
1. Setia
2. Bisa menguasai diri (Punya wibawa Kristus, tahu menempatkan diri)
3. Bijaksana, sopan (Dalam perkataan dan tindakan)
4. Murah hati, cakap mengajar orang lain
5. Bukan peminum
6. Bukan pemarah, tetapi peramah
7. Pendamai, bukan hamba uang
Yusuf adalah seorang pemimpin yang dibentuk Tuhan. Dia dulunya tertolak, kesepian, disingkirkan, tetapi dia disertai dan dikenan oleh Tuhan (Kejadian 39: 1-6). Sehingga orang disekitarnya pun diberkati. Dia pemimpin yang bertanggungjawab, bisa dipercaya, dan punya loyalitas.
Orang yang masa lalunya hancur bukan berarti dia tidak bisa dicintai dan dipakai Tuhan. Demikian juga dengan kita, jika kita dikenan oleh Tuhan, maka dimanapun kita berada, sekitar kita pun juga akan diberkati; hidup kita dipakai Tuhan luar biasa.
Jika hari ini kita belum melihat hasilnya, tetaplah setia. Jadilah pemimpin yang bertanggungjawab dan bisa dipercaya seperti Yusuf. Miliki loyalitas dalam pekerjaan/pelayananmu, maka pekerjaan yang baik akan dipercayakan kepadamu. Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh dan selesaikan dengan baik.
Jika kamu mau jadi dipercaya lebih, milikilah mental yang teruji dan mau berubah. Lepaskan semua ego, pemberontakan dan dosa kita di hadapan Tuhan. Biarlah Tuhan membentuk kita menjadi seorang pemimpin yang berkenan bagiNya.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Menjaga Hati
Yesus menjadi dampak dalam keluarganya. Adik-adik Yesus, Yakobus dan Yudas, melihat Yesus sebagai Tuhan. Mereka melihat Yesus menjadi terang di tengah mereka, sehingga mereka menjadi penulis kitab yang luar biasa (kitab Yakobus dan Kitab Yudas).
Sudahkah kita menjadi dampak dalam keluarga? Orang yang tinggal serumah dengan kita tahu kehidupan kita yang sesungguhnya. Jikalau masih ada hal tidak baik yang kita miliki, mari belajar berubah.Perubahan tidak menuntut orang lain, perubahan menuntut diri sendiri.
Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu (Yakobus 1:21)
Diterima dengan hati yang lembut
Tertanam
Berkuasa
Mari menjaga hati kita. Hati kita bagaikan taman, yang perlu dijaga dan dirawat dengan baik. Biarlah Tuhan tinggal di dalamnya dan hati kita menjadi sebuah taman yang indah, yang berkenan kepada Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Gereja Harus Berdampak
Sesuai himbauan pemerintah, hari-hari ini gereja-gereja di Indonesia, bahkan di seluruh dunia melakukan ibadah secara online. Sudahkah kita mengikuti ibadah online dengan sungguh-sungguh?
Ibadah bisa dilakukan jarak jauh, tetapi kehadiran Kristus dalam hidup kita tidak bisa secara online/jarak jauh. Hubungan dengan Tuhan adalah sebuah hubungan yang merasakan, mengalami, dan mendengar kehadiran Tuhan sendiri secara pribadi. Hubungan dengan Kristus adalah hubungan pribadi yang tidak bisa diwakilkan.
2 Petrus 3:10-16
Matius 25 :1-13
Mari siapkan minyak dan pelita kita dengan bijak. Kita harus menyalakan Pelita dan membawa minyak bagi Tuhan.
Pakai waktu-waktu yang ada dengan bijaksana
Yehezkiel 13:5,17
Pemurnian dan pemisahan sedang terjadi. Karena itu, mari kita saling menguatkan satu sama lain. Mari nyalakan pelita kita; layani Tuhan. Waktu-Nya sudah dekat, mari kita sama-sama berlari mengejar panggilan Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Ketetapan Hati
Hari-hari ini dunia sedang digemparkan dengan munculnya virus Corona yang menyebabkan ribuan kematian di berbagai negara. Hal ini adalah salah satu pertanda bahwa kita telah berada pada akhir zaman.
Sebuah situs dunia mencatat, ada 10 pertanda kiamat:
1. Malapetaka / Bencana alam
2. Tanda Kelaparan, Kemiskinan, & Penyakit
3. Kekerasan dan Sex bebas
4. Perang
5. Kemerosotan Moral
6. Banyak Orang Depresi
7. Penyebaran Ajaran Palsu
8. Krisis Lingkungan Global
9. Fenomena Alam
10.Kebangunan besar-besaran
Di akhir zaman, akan banyak orang mengalami stres dan kecemasan; mereka hidup dalam tekanan yang luar biasa. Sehingga akan banyak orang murtad kepada Tuhan, dan atau sebaliknya, akan banyak orang yang menyadari bahwa mereka membutuhkan Tuhan.
Di hari-hari terakhir ini, Tuhan sedang mencari orang-orang yang menyembah Tuhan dalam Roh dan Kebenaran. Mari kita Belajar menjadi penyembah yang benar dari seorang Pribadi Daniel (Daniel 1).
1. Memiliki Ketetapan Hati
Ketika Daniel diminta untuk menyantap makanan raja yang enak, dia memilih untuk tidak memakannya. Kemungkinan besar makanan-makanan itu sebelumnya dipersembahkan kepada dewa-dewa mereka. Daniel memiliki ketetapan hati untuk tidak menajiskan dirinya dengan meminum anggur dan menyantap makanan-makanan itu.
Sebaliknya, Daniel berketetapan hati untuk tetap menyembah Tuhan di tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Bahkan ia dengan tekun berdoa 3x sehari kepada Tuhan.
2. Berani Diuji
Daniel tidak takut menyatakan kuasa Tuhan, sekalipun dia di tengah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Daniel berani diuji, walau tidak makan santapan raja, dia tetap segar dan sehat setelah melewati 10 Hari.
Daniel berketetapan hati untuk tetap menyembah Tuhan, sekalipun sekelilingnya tidak mendukung dia. Mari kita miliki ketetapan hati dalam Tuhan; berketetapan hati untuk menyembah Tuhan, berketetapan hati untuk tetap setia hidup dalam kebenaran.
Daniel belajar setia dari hal kecil. Dari masalah makanan, kemudian ia teruji dan menjadi kesayangan raja. Ia menjadi orang bijaksana melebihi orang-orang yang ada di negeri itu; Ia dipromosikan oleh Tuhan.
Mau dipromosi oleh Tuhan? Belajarlah setia seperti Daniel. Lakukan kebenaran dengan ketetapan hati dan beranilah untuk diuji. Biarkan Tuhan berkuasa penuh dalam hidupmu.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Perintis Gereja-Nya
Bacaan : Filipi 16:13-40
Dalam Filipi 16:13-40, adalah cerita bagaimana Paulus merintis Jemaat di Filipi dengan cara yang luar biasa. Mulai dari bertemu dengan seorang pedagang bernama Lidia, mengusir roh tenung dari perempuan tukang sihir, pujian dan penyembahan Paulus yang membuka pintu penjara, hingga bertobatnya kepala penjara beserta keluarganya. Tuhan memakai banyak orang dengan berbagai macam latar belakang untuk merintis jemaat di Filipi. Demikian juga dalam hidup ini, Tuhan sanggup memakai orang dengan segala macam latar belakang untuk membangun gerejaNya, kerinduanNya.
Semua Bisa Dipakai Tuhan
Kita semua bisa dipakai Tuhan; dimanapun kita dan bekerja sebagai apapun. Kita bisa dipakai Tuhan untuk merintis gerejaNya. Tuhan akan melakukan perkara-perkara yang ajaib ketika kita mau meletakkan hidup kita untuk dipakai Tuhan. Kita harus jadi anak Tuhan yang UUY (Ujung- Ujungnya Yesus): dalam kita bekerja, dalam kita melakukan segala hal, biarlah segalanya selalu tujuan akhirnya adalah untuk Yesus.
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus — itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. (Filipi 1:21-24)
Paulus bergumul dalam 2 pilihan – Hidup atau Mati. Dia lebih bersukacita kalau dia mati, karena dia akan bertemu dan tinggal dengan Yesus, pribadi yang paling dikasihinya. Tetapi jika Dia hidup, artinya dia bekerja untuk memberikan buah-buah yang manis untuk Tuhan. Dia INGIN mati – Tinggal bersama Yesus, tetapi bagi dia, dia PERLU hidup supaya dia dapat memberi buah dan memberitakan injil – untuk membawa semua orang mengenal Yesus.
Paulus meneladani Yesus dimana Yesus lebih memilih “hidup” diantara manusia, sekalipun menderita, karena dengan Dia “hidup” maka Yesus dapat menyelamatkan semua orang dan menebus dosa-dosa kita.
Maukah kita ambil bagian untuk merintis gerejaNya? Maukah kita ambil bagian untuk memberikan diri, hidup kita, pekerjaan kita untuk mengabarkan Injil Kristus ? Sama seperti Yesus yang memberikan diriNya, mengambil rupa seorang hamba dan menebus dosa-dosa kita dengan darahNya yang mahal.
Mari kita miliki pikiran dan perasaan Kristus (Fil 2:5). Jadilah bagian dari rencana Tuhan untuk membangun jemaatNya, membangun gerejaNya.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Minyak Terbaik untuk Tuhan
Ketika Yesus masuk ke Rumah orang Farisi, seorang wanita berdosa menangis di kakiNya, menyekanya dengan rambutnya, dan mengurapi kakiNya dengan minyak yang mahal. Banyak orang yang tidak mengindahkan tindakan wanita ini; karena dia seorang pendosa, dan minyak mahal seharga 300 dinar yang dipakainya itu dianggap terlalu boros untuk mengurapi kaki Yesus (300 dinar pada waktu itu senilai gaji 1 Tahun).
Tetapi Yesus terkesan dengan tindakan wanita ini. Disaat orang Farisi pemilik rumah itu tidak membasuh kaki Yesus, tetapi wanita ini memberikan minyak wangi terbaik untuk diberikan kepada Yesus. Bahkan Yesus berkata, perbuatan wanita ini akan dikenang sepanjang masa.
Seberapa besar rasa syukur kita, menentukan apa yang kita lakukan buat Tuhan.
Wanita itu mengerti arti mengucap syukur atas anugerah Tuhan. Sehingga dia memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Berbeda dengan Yudas yang suka hitung-hitungan, bahkan untuk sesuatu yang diberikan untuk Tuhan.
Sudahkah kita memberikan minyak yang terbaik buat Tuhan?
Minyak berbicara tentang sesuatu yang mahal, sesuatu yang berharga, sesuatu yang kita korbankan untuk Tuhan. Jadilah seperti wanita itu, yang mencurahkan semua yang berharga di kaki Tuhan. Sesuatu yang berharga bagi kita mungkin berbicara tentang keluarga, uang, dosa kita, sifat / kebiasaan-kebiasaan buruk atau bahkan diri kita sndiri, mari kita belajar serahkan semuanya kepada Tuhan.
Minyak berbicara pengorbanan kita. Ketika dalam hidup ini kita memilih kehendakNya di atas kehendak kita sndiri, ketika kita rela daging kita dihabiskan supaya Tuhan disenangkan, dan ketika kita belajar taat akan stiap apa yang Tuhan mau dalam hidup kita.
Yohanes 21:18-23
Seorang Petrus yang suka kepo (ingin tahu) dengan urusan orang lain yang bukan urusannya. Petrus menggunakan pikirannya sendiri menafsirkan apa yang Yesus katakan dan menyebarkannya. Sehingga menjadi gosip di antara murid-murid. Mari kita jangan berpegang dengan pemikiran diri sendiri. Mari kita berhati-hati dengan pemikiran kita, karena belum tentu yang kita pikirkan benar. Serahkan semua pemikiran kita kepada Tuhan, sebab itu juga bagian dari kita memberi yang terbaik untuk Tuhan.
Minyak yang terbaik bukan berbicara tentang berdoa & baca Firman Tuhan, tetapi Minyak kita yang terbaik adalah ketika kita berkorban untuk Tuhan, dan lewat pengorbanan kita, Tuhan disenangkan.
- Published in Sermons









