Khotbah Pdm. Christin Jedidah : Murid Palsu
Banyaknya mujizat yang dilakukan Yesus membuat banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka yang mengaku murid Kristus, tetapi mereka bukanlah murid Kritus yang sejati; Mereka adalah murid-murid palsu.
Banyak dari murid palsu itu meninggalkan Yesus karena perkataan Yesus yang keras (Yoh. 6:60-65).
Mereka tidak percaya kepada Yesus meskipun sudah melihat dan mengalami mujizat Yesus, karena mereka tidak mengenal Yesus secara pribadi. Mereka hanya datang kepada Yesus karena mencari roti supaya mereka kenyang, tetapi Yesus dengan tegas mengatakan bahwa mereka harus percaya sungguh-sungguh kepada-Nya, sang roti hidup, yang memberikan mereka kekekalan lebih daripada roti fana yang mereka inginkan (Yoh. 6:22-59).
Menjadi seorang murid bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan.
Namun apakah kita adalah murid yang sejati atau murid yang palsu? Murid sejati adalah murid yang mau diajar dan tidak mudah mengundurkan diri; Mereka percaya kepada Kristus dan mengenal Yesus secara pribadi, bukan hanya dari apa kata orang lain saja. Murid sejati punya iman yang teguh di dalam Dia, sehingga ketika ada banyak badai hidup, ia tidak mudah digoncangkan. Kita jangan hanya mendengarkan dan membaca Firman Tuhan secara harfiah saja, tetapi juga biarkan kita menerima perkataan Yesus yang adalah roh yang berkuasa mengubahkan kehidupan kita.
Ciri-ciri murid palsu:
1. Tidak mau hidup di dalam terang (1 Yoh 5-8)
Murid palsu suka tinggal dalam dosa; Suka mengulangi dosa-dosanya. Murid Kristus yang sejati bukan berarti tidak bisa berbuat dosa, tetapi ketika mereka tersandung dalam dosa, mereka bangkit dan bertobat; mereka mau diubahkan dan ikut tuntunan Roh Kudus.
2. Tidak suka mengakui dosanya (1 Yoh 1 :8-9)
Mereka tidak mau mengakui dosanya sehingga hidupnya tidak dapat diubahkan dan dibenarkan. Orang yang seperti ini tidak mau bertobat.
3. Mengasihi dunia (1 Yoh 2:16-17)
Selalu mengutamakan perkara dunia untuk kesenangan dan keinginan pribadinya, tidak pernah puas akan pencapaiannya, dan lebih mengikuti apa yang dunia katakan daripada kebenaran. Dia dikuasai oleh kedagingan, bukan oleh Kristus.
4. Tidak suka akan Firman dan perintah Tuhan (1 Yoh 2:3)
Tidak mau belajar dan taat untuk mengikuti kebenaran Firman Tuhan.
5. Pikirannya mudah disesatkan oleh dunia (1 Yoh 2:26)
Karena tidak taat akan kebenaran Firman Tuhan, mereka tidak dapat membedakan ajaran yang benar dan yang salah. Sehingga mereka mudah disesatkan oleh pengajaran yang salah.
Tuhan Yesus akan segera datang. Mari kita menjadi murid-murid yang sejati di akhir zaman ini; Menjadi murid sejati yang punya iman yang tidak mudah digoncangkan dan tidak mengundurkan diri sampai akhirnya. Ketika kita percaya, Tuhan akan memberikan kehidupan kekal kepada kita. (Ibrani 10:37-39).
Pdm. Christin Jedidah
- Published in Sermons
Khotbah Pdm. Evie Mehita : Pelayanan Yesus
Kisah Yesus memberi makan 5000 orang adalah kisah mujizat Yesus yang sangat terkenal; Kisah ini tercatat di semua kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Yesus dan murid-Nya hendak menyepi dan beristirahat, tetapi banyak orang yang mengikuti Yesus. Yesus tergerak oleh kasih dan melayani mereka (Matius 14:13-14, Markus 6:30-31).
Apa yang dapat kita pelajari dari pelayanan Yesus?
1. Pelayanan Yesus tidak egois
Pelayanan Yesus bukan pelayanan yang egois, tetapi ada kasih di dalam pelayanan-Nya. Sekalipun Yesus dan murid-Nya lelah dan belum makan, tetapi Yesus tetap menerima orang-orang itu dengan kasih.
2. Yesus menerima, mengajar, dan menyembuhkan
Yesus menerima mereka, mengajar mereka, dan menyembuhkan mereka yang sakit. Betapa di akhir jaman ini banyak orang mengalami “sakit”, mereka mengalami krisis kasih. Kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Karena itu Yesus datang ke dunia ini untuk memberikan pemulihan akan kasih; semua ini dilakukan-Nya karena Dia sangat mengasihi kita.
3. Menjadi pemberi roti
Yesus memberikan teladan bagi kita untuk memberi “makan” kepada orang-orang yang membutuhkan, bukan hanya secara jasmani, tetapi juga secara rohani.
Anak kecil itu tahu cara memberikan yang terbaik (Yoh. 6:9).
Dia memberikan apa yang ada padanya: 5 roti jelai dan 2 ikan kecil. Banyak orang mencibir dia, “Bagaimana makanan yang sangat sedikit itu bisa memberi makan 5000 orang?”. Tetapi dia memberikan semuanya di tangan Tuhan, dan Tuhan sanggup melakukan perkara besar. Belajar dari anak kecil ini, mari kita menjadi pemberi roti, bukan karena kita kaya dan punya segalanya. Tetapi ketika kita menyerahkannya di tangan Tuhan, itu sanggup memberkati banyak orang.
Apa yang ada di tanganmu saat ini? Mari belajar menjadi pemberi roti; melalui talenta, kemampuan, dan apapun yang kamu miliki. Taruh semua di tangan Tuhan, dan biarkan Tuhan yang bekerja dan menjadikannya berkat bagi banyak orang. Percayalah bahwa Tuhan tahu dengan tepat apa yang akan dikerjakan-Nya.
Terkadang Tuhan menjawab pergumulan kita dengan cara yang unik.
Tuhan bertanya kepada Filipus dimana mereka dapat membeli roti (Yoh. 6:5); bukan berarti Tuhan tidak tahu jawabannya, tetapi karena Tuhan tahu Filipus orang yang mudah ragu, sekalipun dia melihat banyak mujizat Yesus. Terkadang kita bertanya kepada Tuhan dalam pergumulan kita, Tuhan tidak langsung menjawab; Tuhan mungkin diam, atau bahkan balik bertanya. Tetapi bukan berarti Tuhan tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya; Dia tahu dengan tepat apa yang akan dikerjakan-Nya.
Tuhan memberikan 5000 orang itu makan sampai mereka kenyang (Yoh. 6:11). Ini berbicara Tuhan memenuhi kebutuhan kita. Tetapi banyak orang mencari-Nya karena tujuan yang lain. Mereka mencari Yesus supaya mereka kenyang, bukan karena pribadi-Nya (Yoh. 6:25-26).
Bagaimana dengan kita? Mari kita berfokus kepada pribadi Yesus, bukan hanya kepada berkat-Nya (Yoh 6:27-29).
Yesus adalah Roti Hidup sejati, roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia (Yoh 6:33). Barangsiapa datang kepada-Nya, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan haus lagi (Yoh 6:35).
Pdm. Evie Mehita
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Ular Tembaga yang menjadi Berhala
Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bilangan 21:9)
Tuhan mendatangkan ular tedung kepada bangsa Israel yang bersungut-sungut, namun mereka memohon ampun kepada Tuhan. Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga, dan ular tembaga itu menyelamatkan bangsa itu dari ular-ular tedung. Ular tembaga yang dibuat Musa adalah lambang penyertaan dan perlindungan Tuhan atas bangsa Israel (Bil. 21:4-9). Tetapi ular itu justru menjadi berhala bagi mereka (2 Raj. 18:1-4). Bangsa Israel mengalami penyertaan Tuhan, tetapi karakter mereka belum diubahkan. Mereka berbalik kepada Tuhan sebentar, lalu kembali menyembah kepada allah lain.
Bangsa Israel keluar dari Mesir bukan karena mengasihi Tuhan, tetapi karena ingin kehidupan yang lebih baik. Tuhan menyebut bangsa Israel sebagai “pelacur”. Mereka hidup di dalam Tuhan, tetapi mereka tidak memberikan hati mereka total untuk Tuhan.
Berapa banyak kita mengikut Tuhan hanya karena berkat? Kita mengikut Tuhan karena ada hal yang baik yang kita terima.
Tuhan memberikan mujizat untuk menolong setiap kita, tetapi seringkali banyak yang akhirnya hanya tertuju pada mujizatnya, bukan kepada sang pemberi mujizat. Kita tak jauh berbeda dengan “pelacur”, yang mau dengan seseorang untuk mendapat keuntungan, namun tidak pernah memberikan hati dan cinta kepadanya. Dan ketika tidak ada lagi berkat, dengan mudahnya meninggalkannya.
Maukah Anda mengasihi Tuhan dengan segenap hati?
Dalam hidup ini Tuhan tidak hanya memberikan yang baik-baik saja, tetapi terkadang Tuhan ijinkan kita untuk mengalami masa-masa tergelap. Sekalipun demikian, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam masa tergelap kita; penyertaan dan pertolongan-Nya sempurna. Manusia seringkali salah sangka dengan Tuhan; kita sering menganggap Tuhan terlambat. Tetapi Tuhan tidak pernah terlambat. Wanita Samaria yang berjumpa dengan Yesus di sumur Yakub datang pada siang hari; dia datang pada saat sumber air sudah kotor (Yoh. 4:1-42). Dia malu bertemu dengan orang karena sudah berzinah dengan banyak laki-laki; dia menganggap hidupnya sudah terlambat, tidak dapat diperbaiki lagi. Tetapi perjumpaannya dengan Yesus mengubahkan kehidupannya.
Di kisah Lazarus (Yoh. 11:1-44), semua orang menganggap Yesus terlambat karena Lazarus sudah mati. Tetapi Yesus tidak terlambat, melainkan Dia mau menyatakan kuasa-Nya dengan membangkitkan Lazarus di waktu yang tepat.
Tuhan tidak pernah terlambat, sekalipun manusia sering memandangnya sebagai sebuah keterlambatan.
Waktu menurut cara pikir kita berbeda dengan waktu Tuhan; Waktu-Nya selalu yang terbaik bagi kita. Jangan paksa Tuhan untuk membuat segalanya sesuai pemikiran kita. Mari belajar memahami dan mengenal hati Tuhan. Jangan menggunakan pikiran pribadi, memotong standar kebenaran untuk memuaskan kedagingan kita. Tetapi biarkan Tuhan berdaulat penuh atas kehidupan kita.
Jangan mengikut Tuhan hanya karena mengejar berkat-Nya saja, tetapi mari kita mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, mari belajar mengenal Dia dan percaya kepada-Nya; Dia Tuhan yang tidak pernah terlambat dalam hidup kita.
Ps. Daniel Hadi Shane
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Ketaatan dan Perjanjian dengan Tuhan
Tuhan punya perjanjian dengan Abraham untuk memberikan suatu tanah perjanjian bagi keturunan Abraham. Hingga beberapa generasi, akhirnya Tuhan mempersiapkan Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju ke tanah perjanjian, dan Yosua melanjutkan perjuangan Musa membawa bangsa Israel masuk dalam tanah perjanjian itu.
Yosua adalah seorang abdi; Dia tidak terkenal dan menonjol, tetapi dia dipilih Tuhan, karena dia memiliki kesetiaan dan respon yang benar terhadap perintah Tuhan dan dalam menerima janji Tuhan (Kisah 12 pengintai). Di dalam menggenapi janji Tuhan, Yosua juga mengalami ketakutan dan kegentaran, tetapi Tuhan tetap setia dan berjanji akan senantiasa menyertai serta tidak akan meninggalkan Yosua (Yosua 1:9,17-18).
Setiap kita rindu janji-Nya digenapi dalam hidup kita. Namun seringkali sebelum kita menerima penggenapan janji-Nya, ada banyak tantangan yang harus kita lalui.
Bagaimanakah respon kita? Marilah kita meresponi dengan benar setiap janji Tuhan. Ketaatan dan percaya saja adalah kunci dari penggenapan janji Tuhan. Adakah kita mengalami kemustahilan dalam melihat janji Tuhan? Mari belajar percaya dan terus maju seperti Yosua. Jika Tuhan sudah berjanji, Tuhan pasti akan menggenapinya.
Dengarkan dan lakukan kehendak Tuhan dengan penuh ketaatan.
Tuhan hendak memilih kita menjadi generasi jawaban doa yang menjawab doa generasi-generasi kita yang sebelumnya. Kuduskanlah kehidupan kita supaya senantiasa berkenan kepada Tuhan.
Tetap kuatkan dan teguhkanlah hatimu, Yesus akan berjalan di depan mu memberikan kemenangan demi kemenangan.
Ev. Christin Jedidah
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Bahaya Menunda-Nunda
Bacaan : 1 Raja-Raja 17:1-24
Elia adalah seorang yang hidupnya dipakai Tuhan luar biasa untuk menyatakan kemuliaan Tuhan pada masanya. Apa yang bisa kita pelajari dari kisah Elia supaya hidup kita bisa dipakai Tuhan?
Untuk menjadi orang yang bisa dipakai olehNya, kita perlu punya :
Ketaatan
Ketaatan Elia dilatih Tuhan ketika berada di tepi sungai Kerit. Dia berhadapan dengan sungai yang kering, tetapi ada penyertaan Tuhan ketika dia mengikuti apa yang Tuhan katakan. Mungkin saat ini kita mengalami “kekeringan” dalam usaha atau pelayanan kita, tetapi kita tetap belajar percaya dan melakukan apa yang Tuhan mau. Ketaatan juga dalam hal tidak menunda-nunda pekerjaan dan melewatkan kesempatan untuk dipakai Tuhan.
Iman
Tuhan tidak pakai orang kaya untuk memberkati Elia. Sebaliknya, Tuhan memakai janda miskin untuk memberi Elia makan. Butuh iman untuk melihat cara Tuhan menolong kita. Demikian juga dengan Janda Sarfat itu. Dia mulanya tidak punya iman bahwa makanannya akan cukup untuk mereka semua, tetapi ketika dia belajar menyerahkan apa yang dimilikinya untuk dikelola oleh Tuhan, perkara ajaib terjadi atas hidupnya. Tuhan mencukupkan kebutuhan Janda itu dan anaknya.
Tuhan rindu setiap kita taat dalam segala kondisi; kita belajar mengikuti kerinduan Tuhan tanpa menunda-nunda, tanpa berbantah, dan mau dikoreksi. Taat bukan hanya dalam perkataan, namun juga dalam tindakan yang kita lakukan.
Ketika anak Janda Sarfat itu sakit dan meninggal, dia kembali berperkara dengan Elia. Seringkali mungkin kita merasa kita sungguh-sungguh taat dan melakukan kerinduan Tuhan, tetapi kita melihat banyak hal buruk yang terjadi dalam hidup kita. Maka saatnya bagi kita untuk mengembalikan segalanya ke dalam kedaulatan Tuhan yang sempurna.
Dia tidak pernah merancangkan yang buruk, Dia selalu memberikan yang terbaik. Sekalipun badai terjadi dalam hidup kita, tetapi marilah kita bermegah dalan Kristus yang memberikan kekuatan kepada kita. Kita tetap dapat menari dalam badai.
Mari kita melakukan setiap perintah Tuhan dengan penuh ketaatan. Jerih payah kita dalam Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Mari kita menyenangkan Tuhan dengan seluruh kehidupan kita.
- Published in The Shepherd's Voice




