Khotbah Pdm. Christin Jedidah : Murid Palsu
Banyaknya mujizat yang dilakukan Yesus membuat banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka yang mengaku murid Kristus, tetapi mereka bukanlah murid Kritus yang sejati; Mereka adalah murid-murid palsu.
Banyak dari murid palsu itu meninggalkan Yesus karena perkataan Yesus yang keras (Yoh. 6:60-65).
Mereka tidak percaya kepada Yesus meskipun sudah melihat dan mengalami mujizat Yesus, karena mereka tidak mengenal Yesus secara pribadi. Mereka hanya datang kepada Yesus karena mencari roti supaya mereka kenyang, tetapi Yesus dengan tegas mengatakan bahwa mereka harus percaya sungguh-sungguh kepada-Nya, sang roti hidup, yang memberikan mereka kekekalan lebih daripada roti fana yang mereka inginkan (Yoh. 6:22-59).
Menjadi seorang murid bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan.
Namun apakah kita adalah murid yang sejati atau murid yang palsu? Murid sejati adalah murid yang mau diajar dan tidak mudah mengundurkan diri; Mereka percaya kepada Kristus dan mengenal Yesus secara pribadi, bukan hanya dari apa kata orang lain saja. Murid sejati punya iman yang teguh di dalam Dia, sehingga ketika ada banyak badai hidup, ia tidak mudah digoncangkan. Kita jangan hanya mendengarkan dan membaca Firman Tuhan secara harfiah saja, tetapi juga biarkan kita menerima perkataan Yesus yang adalah roh yang berkuasa mengubahkan kehidupan kita.
Ciri-ciri murid palsu:
1. Tidak mau hidup di dalam terang (1 Yoh 5-8)
Murid palsu suka tinggal dalam dosa; Suka mengulangi dosa-dosanya. Murid Kristus yang sejati bukan berarti tidak bisa berbuat dosa, tetapi ketika mereka tersandung dalam dosa, mereka bangkit dan bertobat; mereka mau diubahkan dan ikut tuntunan Roh Kudus.
2. Tidak suka mengakui dosanya (1 Yoh 1 :8-9)
Mereka tidak mau mengakui dosanya sehingga hidupnya tidak dapat diubahkan dan dibenarkan. Orang yang seperti ini tidak mau bertobat.
3. Mengasihi dunia (1 Yoh 2:16-17)
Selalu mengutamakan perkara dunia untuk kesenangan dan keinginan pribadinya, tidak pernah puas akan pencapaiannya, dan lebih mengikuti apa yang dunia katakan daripada kebenaran. Dia dikuasai oleh kedagingan, bukan oleh Kristus.
4. Tidak suka akan Firman dan perintah Tuhan (1 Yoh 2:3)
Tidak mau belajar dan taat untuk mengikuti kebenaran Firman Tuhan.
5. Pikirannya mudah disesatkan oleh dunia (1 Yoh 2:26)
Karena tidak taat akan kebenaran Firman Tuhan, mereka tidak dapat membedakan ajaran yang benar dan yang salah. Sehingga mereka mudah disesatkan oleh pengajaran yang salah.
Tuhan Yesus akan segera datang. Mari kita menjadi murid-murid yang sejati di akhir zaman ini; Menjadi murid sejati yang punya iman yang tidak mudah digoncangkan dan tidak mengundurkan diri sampai akhirnya. Ketika kita percaya, Tuhan akan memberikan kehidupan kekal kepada kita. (Ibrani 10:37-39).
Pdm. Christin Jedidah
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Ketaatan dan Perjanjian dengan Tuhan
Tuhan punya perjanjian dengan Abraham untuk memberikan suatu tanah perjanjian bagi keturunan Abraham. Hingga beberapa generasi, akhirnya Tuhan mempersiapkan Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju ke tanah perjanjian, dan Yosua melanjutkan perjuangan Musa membawa bangsa Israel masuk dalam tanah perjanjian itu.
Yosua adalah seorang abdi; Dia tidak terkenal dan menonjol, tetapi dia dipilih Tuhan, karena dia memiliki kesetiaan dan respon yang benar terhadap perintah Tuhan dan dalam menerima janji Tuhan (Kisah 12 pengintai). Di dalam menggenapi janji Tuhan, Yosua juga mengalami ketakutan dan kegentaran, tetapi Tuhan tetap setia dan berjanji akan senantiasa menyertai serta tidak akan meninggalkan Yosua (Yosua 1:9,17-18).
Setiap kita rindu janji-Nya digenapi dalam hidup kita. Namun seringkali sebelum kita menerima penggenapan janji-Nya, ada banyak tantangan yang harus kita lalui.
Bagaimanakah respon kita? Marilah kita meresponi dengan benar setiap janji Tuhan. Ketaatan dan percaya saja adalah kunci dari penggenapan janji Tuhan. Adakah kita mengalami kemustahilan dalam melihat janji Tuhan? Mari belajar percaya dan terus maju seperti Yosua. Jika Tuhan sudah berjanji, Tuhan pasti akan menggenapinya.
Dengarkan dan lakukan kehendak Tuhan dengan penuh ketaatan.
Tuhan hendak memilih kita menjadi generasi jawaban doa yang menjawab doa generasi-generasi kita yang sebelumnya. Kuduskanlah kehidupan kita supaya senantiasa berkenan kepada Tuhan.
Tetap kuatkan dan teguhkanlah hatimu, Yesus akan berjalan di depan mu memberikan kemenangan demi kemenangan.
Ev. Christin Jedidah
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Sudut Pandang Kristus
Setiap orang memiliki keunikannya masing-masing, termasuk juga dalam bagaimana kita memandang suatu hal/ suatu peristiwa. Setiap manusia bisa memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat sebuah hal.
Ketika uang koin 500 rupiah dilihat dari satu sisi, orang akan melihat gambar Garuda. Sedangkan disisi yang lain orang akan melihat angka 500. Angka 9 jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda akan menjadi angka 6. Sama halnya ketika kita mendengar / membaca Firman Tuhan, kita bisa memiliki persepsi yang berbeda. Namun kadang manusia melihat dari satu sisi saja. Namun untuk memahami kehendak Tuhan, kita perlu mempelajarinya dari berbagai sudut pandang.
Melihat dari Sudut Pandang Kristus
Manusia melihat apa yang tampak, tetapi Tuhan melihat jauh di kedalaman hati (1 Sam 16:7). Manusia seringkali melihat sesuatu dari apa yang tampak, tetapi apa yang tampak baik diluar belum tentu baik. Manusia duniawi memandang segala sesuatu dengan hikmat duniawi, tetapi ketika kita menggunakan hikmat Tuhan, kita dapat melihat dari apa yang Tuhan lihat (1 Kor 2:6-9). Karena itu, milikilah pikiran dan cara pandang Kristus.
Sudut pandang kita menentukan reaksi atau tindakan yang kita lakukan.
Ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, bagaimanakah respon kita? Seringkali kita menjadi marah dan menganggap Tuhan tidak mengasihi kita; Sebab kita memandangnya dari sudut pandang pribadi, bukan sudut pandang Kristus.
Tuhan selalu merancangkan yang terbaik bagi kita. Namun karena kita fokus kepada masalah yang kita hadapi, kita tidak melihat ada rencana terbaik dibalik semuanya. Belajar bersyukur dengan apapun yang Tuhan ijinkan terjadi, sebab Tuhan memberikan porsi yang pas untuk kita (Ams 30:8-9).
Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Kor 1:26-29)
Kita mungkin lemah bagi dunia, tetapi Tuhan sanggup memakai hidup kita yang rindu menjadi berkat dan mau menyerahkan hati kita kepadaNya.
Seorang Misionaris, David Levingston, dipakai Tuhan untuk menginjil di Afrika. Sebuah kecelakaan membuatnya kehilangan kakinya dan harus membuatnya harus memakai kaki palsu. Namun kaki palsu itu dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil di sebuah suku yang kanibal (makan daging manusia).
Ada maksud Tuhan di balik setiap kejadian dalam hidup kita. Ada rancangan terbaik yang Tuhan sediakan dalam setiap masalah. Kita tidak bisa hidup tanpa masalah, tetapi kita Akan diberikan kekuatan untuk mengatasi masalah, asal kita bergantung penuh kepada Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Ketaatan
Di dalam Alkitab, banyak kisah tentang orang-orang yang taat kepada Tuhan. Abraham, Nuh, dan Musa adalah orang-orang yang taat kepada Tuhan. Puncak ketaatan di dalam Firman Tuhan dilakukan oleh Yesus, dimana Dia turun ke dunia, menjadi manusia dan pengorbanan-Nya menyelamatkan seluruh umat manusia dari dosa (Roma 5:9).
Ketaatan artinya percaya penuh kepada orang yang kita taati
Ketika kita percaya, kita akan melakukan tanpa banyak bertanya, tanpa banyak alasan. Untuk taat kepada Tuhan, kita perlu percaya penuh kepada-Nya, kita menyerahkan kehidupan kita di tangan-Nya. Kita menghambakan diri kepada Kristus (Roma 6:16). Seorang hamba Akan melakukan perintah dari tuannya.
Ketaatan membutuhkan sebuah tindakan
Seperti perumpaan 2 anak di Matius 21:28-32, salah seorang anak berkata “iya” tetapi tidak melakukan, sedang yang lainnya melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Demikian juga dengan hubungan kita dengan Tuhan; Kita perlu bukan hanya mendengar dan mengerti Firman Tuhan, tetapi kita juga harus melakukannya.
Ketaatan kepada Tuhan haruslah ketaatan 100% (Yak. 2:10)
Kita taat kepada perintah Tuhan tidak setengah-setengah. Tuhan memang menerima kita apa adanya tetapi Tuhan mau setiap kita makin disempurnakan serupa dengan Kristus. Ketaatan penuh juga berarti kita tidak kompromi akan dosa, tetapi Kita sungguh-sungguh melakukan perintah Tuhan.
Kepada siapa kita harus taat?
Tuhan
Ketaatan yang pertama dan terutama adalah kepada Tuhan. Jika Kita mengatakan kita mengasihi Tuhan, kita mau belajar taat akan segala perintah dan kehendak Tuhan.
Orang Tua (Efesus 6:1-9)
Mari kita belajar taat akan orang tua kita. Jika orangtua kita belum di dalam Tuhan, kita patut tetap menghormati mereka, kita doakan mereka. Tentunya tindakan ketaatan kita kepada orangtua tetaplah fokusnya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
Otoritas di atas kita (Efesus 6:5-9)
Melakukan ketaatan kita kepada otoritas di atas kita dengan tulus hati, bukan karena takut. Kita taat dan melakukan dengan sukacita, bukan karena terpaksa. Mari melakukannya bukan untuk menyenangkan manusia, tetapi kita lakukan seperti untuk Tuhan.
Pemimpin (Ibrani 13:17)
Kita perlu taat pada pemimpin-pemimpin kita di dalam Tuhan, sebab mereka berjaga-jaga atas hidup kita. Ketaatan kita kepada pemimpin tentunya harus sesuai dengan koridor Firman Tuhan.
Pemerintah (Roma 13:1-3)
Belajar taat pada hal-hal kecil, misalnya taat akan lalu lintas, membuang sampah, dsb. Dan juga di saat masa pandemi ini, kita belajar taat akan peraturan pemerintah untuk mengikuti protokol yang ada.
Ketaatan kita adalah bukti kita mengasihi Tuhan (Yoh 14:15,21). Sebab itu, mari kita taat sepenuhnya kepada Tuhan.
Biarlah ketaatan menjadi gaya hidup Kita. Kita melakukan dengan sungguh-sungguh, dengan sukacita Karena Kita mengasihi Tuhan. Jangan menjadi seperti Saul; Saul tidak taat kepada Tuhan, sehingga Tuhan tidak lagi berkenan kepada-Nya (1 Sam 13 ; 1 Sam 15).
Ketaatan adalah kunci kehidupan kita hidup dalam kebenaran, Ketaatan adalah bukti kita mengasihi Tuhan. Mari senantiasa belajar taat, sehingga kehidupan kita berkenan di hadapan Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Jangan Kuatir
Mengapa kita tidak perlu kuatir?
Tuhan Pemelihara kita
Luk 12 : 22-29
Tidak kuatir bukan berarti berdiam diri dan menyerah dengan keadaan, tetapi kita tetap berdoa, berserah, meminta hikmat dari Tuhan, kerjakan bagian kita yang terbaik maka Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya.
Tuhan Menetapkan Langkah Hidup kita
Mazmur 37:23-26
Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu (Lukas 12:31)
Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. (Lukas 12 : 33)
Fokus kepada Yesus, maka mujizat akan Tuhan nyatakan dalam hidup kita. Justru mujizat terjadi ketika ada masalah. Mari terus berharap pada Yesus. Dalam kesesakan kita, mari tetap berseru kepada-Nya, Tuhan akan memberikan kita kekuatan yang baru dalam menghadapi setiap masa dalam hidup kita. Amin.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Kemurnian
Gereja berdiri adalah untuk melayani Tuhan dan sesama. Tetapi hari-hari ini banyak yang berpikir bahwa gereja adalah sebuah bisnis. Gereja didirikan hanya untuk memperkaya diri dan memperhitungkan untung ruginya.
Demikian juga ketika kita terpanggil menjadi Hamba Tuhan dan pelayan Tuhan. Apakah yang menjadi motivasi kita? Untuk memperkaya diri atau untuk melayani Tuhan dan sesama kita?Melayani Tuhan tidak memperhitungkan untung ruginya, karena Tuhan yang menjamin hidup kita, Tuhan yang akan memelihara kita.
Mari berikan yang terbaik kepada Tuhan dalam setiap pekerjaan dan pelayanan kita.
Di akhir jaman ini, Tuhan merindukan suatu pemurnian bagi gereja-Nya.
Murni artinya tidak bercampur dengan unsur lainnya (KBBI).Tuhan rindu kita hidup dalam kemurnian; tidak bercampur dengan unsur-unsur lain dan tidak terpengaruh dengan dunia. Tuhan mau kita mengalami pertobatan yang sejati, yang artinya hidup, sikap hati, dan karakter kita diubahkan semakin serupa dengan Kristus; tidak lagi serupa dengan dunia.
Bagaimana kita dimurnikan oleh Tuhan?
Seperti emas, dia dimurnikan melalui suatu proses yang panjang. Demikian juga ketika hidup kita dimurnikan oleh Tuhan memerlukan sebuah proses, bukan suatu hal yang instan. Untuk diproses oleh Tuhan, kita harus memiliki ketaatan dan penundukan diri.
Amsal 1:22-28 berbicara mengenai orang yang bebal. Orang yang bebal adalah orang yang tidak mau dibentuk, semaunya sendiri, dan tidak mau menerima teguran. Janganlah kita menjadi orang bebal. Karena orang yang bebal tidak mau mengalami perubahan dalam hidup nya.
Jadilah seperti emas murni, yg lembut, yang mau di ubahkan dan di bentuk oleh Tuhan.
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak daat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada akhir zaman. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. (1 Petrus 1:3-6)
Tuhan merindukan kemurnian di akhir zaman ini. Mari kita memiliki sikap hati yang mau dimurnikan oleh Tuhan. Miliki pertobatan sejati yang mengubahkan kehidupan kita, sehingga kita siap menyambut kedatangan Yesus yang kedua kali menjadi mempelai Kristus yang sempurna.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Kasih Tak Bersyarat
Ada 4 kata kasih dalam bahasa Yunani, yaitu Agape, Phileo, Eros dan Storge, tetapi ternyata hanya ada 2 kata kasih dalam bahasa Yunani yang muncul dalam Alkitab Perjanjian Baru, yaitu Agape yang muncul sebanyak 116 kali dan Phileo sebanyak 26 kali.
Kasih agape adalah kasih yang tidak bersyarat, kasih yang memiliki pengorbanan dan tidak mengharapkan imbalan. Sedangkan Philia adalah kasih dalam persahabatan, yang tidak ada hubungan atau ikatan darah.
Di dalam Matius 22:37-49, hukum yang terutama, kasih yang terdapat pada ayat ini adalah kasih Agape. Tidak hanya Tuhan yang memberikan kasih agape kepada kita, tetapi kita juga harus memiliki kasi Agape, yaitu kasih tanpa syarat kepada Tuhan, sesama dan diri sendiri.
1. Kasih Agape kepada Tuhan (1 Yoh. 4:7-8,10,19)
Pada dasarnya manusia tidak bisa mengasihi. Tetapi jika kita bisa mengasihi, semua karena Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita. Mengasihi Tuhan artinya memberikan seluruh hidup kita di tangan Tuhan dan mau didewasakan oleh Tuhan. Kita mau mengasihi Dia bukan karena berkat dan imbalan yang kita harapkan kita terima, tapi kita mencintai Tuhan tanpa syarat, walaupun apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita akan tetap mengasihi Tuhan.
2. Kasih Agape kepada sesama manusia (1 Yoh 4:20-21)
Jika seorang berkata aku mengasihi Tuhan, tetapi ia membenci saudara nya, maka ia adalah, seorang pendusta. Apa bukti kita mengasihi Tuhan? Apakah kita sudah mengasihi sesama kita dengan kasih agape, yaitu kasih tanpa syarat? Mudah untuk mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi Tuhan mengajar kita mengasihi orang yang membenci kita (Luk. 6:27-29)
Mengasihi Tuhan dan sesama kita dapat di lihat dari perbuatan kita, apa yang kita lakukan untuk orang lain, seperti kita melakukan nya untuk Tuhan (Mat. 25:31-40).
3. Mengasihi Diri Sendiri
Untuk dapat mengasihi diri sendiri, kita perlu mengenal kasih Tuhan. Dan kita tidak dapat mengasihi orang lain sebelum kita mengasihi diri kita sendiri. Karena itu, kita harus bisa menerima diri kita sebagai ciptaanNya yang mulia dan yang dikasihiNya.
Yoh 15:13-17 – Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang rela memberikan nyawaNya untuk sahabatNya. Tuhan memanggil kita dengan sebutan sahabat.
Kata kasih yang tertulis di sini adalah Phileo. Ini menunjukkan bahwa Tuhan mau kita punya hubungan yang dekat denganNya.
Milikilah Kasih Agape dalam hidup Kita, yaitu kasih yang tak bersyarat, dan milikilah kasih Phileo yang membuat kita selalu melekat dengan Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Lepaskan Berhalamu!
Maksudku ialah : hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga kamu setiap kali melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. (Galatia 5:16-18)
Rasul Paulus berbicara tentang hidup menurut Roh atau daging. Keduanya saling bertentangan, dan sebagai anak Tuhan, kita harus belajar menyalibkan kedagingan kita yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Hari-hari ini banyak orang Kristen yang ngakunya anak Tuhan, tetapi ternyata ada berhala-berhala dalam hidupnya.
Di perjanjian lama, berhala-berhala digambarkan dengan patung-patung atau dewa-dewa. Di masa sekarang, berhala bisa berbicara banyak hal yang lebih kita utamakan dibandingkan Tuhan dalam hidup kita, dan itu sangat menghambat pertumbuhan rohani kita.
Apa saja hal yang bisa menjadi berhala kita?
Penerimaan
Kita sangat mengutamakan penerimaan dan persetujuan orang lain akan apa yang kita putuskan, dan tidak bertanya kepada Tuhan. Kita hidup dari apa kata orang lain tentang kita dibandingkan apa kata Tuhan tentang kita. Tujuan hidup kita tidak lagi diselaraskan dengan tujuan Tuhan, melainkan apa yang orang lain katakan. Seringkali tidak dapat menolak orang lain, atau kondisi hati yang sangat buruk jika menolak orang lain. Ini membuat kita tidak bisa mengikuti jalan-jalan Tuhan.
Posisi/Jabatan/Kekuasaan
Kita menjadi berambisi untuk mendapatkan posisi tertentu. Berebut mencari kekuasan dengan menghalalkan segala macam cara. Hidupnya digerakkan dengan mencari pengakuan melalui jabatan dan kekuasaan. Ini juga menjadi salah satu alasan kejatuhan Lucifer; karena dia berambisi dengan jabatan dan kekuatan, dia ingin menjadi sama seperti Tuhan (Yesaya 14:12-14).
Promosi itu datangnya dari Tuhan. Jangan ambisius untuk mendapatkan jabatan, karena Tuhan tahu waktu yang terbaik untuk mengangkat kita.
Tuhan mau kita memiliki kerendahan hati (Matius 23:11). Tidak perlu mencari pengakuan dari dunia ini. Kita harus sadari bahwa posisi kita sebagai Ahli Waris Kerajaan Surga adalah posisi yang luar biasa.
Pekerjaan / Pelayanan / Studi
Menjadi orang sibuk dengan perkerjaan/ pelayanan/ studi kita tanpa berfokus kepada Tuhan, pekerjaan/ pelayanan/ studi kita telah menjadi berhala bagi kita. Kita berfokus kepada pekerjaannya, bukan kepada Tuhan lagi, atau menjadi seorang yang melayani di banyak bidang, sehingga tidak fokus beribadah menemukan Tuhan. Kita suka pelayanan sana sini, tetapi justru itu membuat kita lupa bersekutu dan berdoa dengan Tuhan. Jangan seperti Martha yang sibuk melakukan ini dan itu, tapi jadilah Maria yang mengerti bahwa bagian terbaik adalah mendengarkan Tuhan.
Oleh karena itu, kita harus bisa seimbang dalam pelayanan dan pekerjaan dengan Tuhan. Jangan kita lupa siapa yang lebih penting dari semua pelayanan kita.
Keluarga
Keluarga juga bisa menjadi berhala bagi kita. Kita lebih mencintai kelurga kita daripada Yesus. Banyak anak-anak Tuhan yang lebih mementingkan kata-kata keluarganya daripada mendengarkan kata Tuhan terhadapnya. Baik dalam melayani Tuhan, mengikuti panggilan Tuhan, ataupun mengambil keputusan untuk sungguh-sungguh sama Tuhan. Berhala ini membuat kita tidak bisa memenuhi kerinduan Tuhan buat hidup kita, karena seringkali kita tidak mendengarkan Tuhan dan lebih mendengarkan apa kata keluarga kita.
Kekayaan / Materi
Orang dengan berhala ini adalah penganut Teologi kemakmuran. Harta dan kekayaannya menjadi berhala dan lebih diutamakan daripada Tuhan. Tidak suka memberikan persembahan buat Tuhan, karena sayang dengan uangnya. Lebih baik mencari banyak uang dan terus bekerja cari uang daripada pergi beribadah.
Gereja / Denominasi
Gereja juga bisa menjadi berhala, ketika kita terlalu mengkhususkan nama gereja, denominasi, aliran, atau kita terlalu mengagungkan hamba Tuhan daripada Tuhan. Bahkan ada yang sampai selalu menyetujui semua pengajarannya dan tidak menyaring hal-hal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.
Hobi dan Me Time
Hobi-hobi kita bisa menjadi berhala juga dalam hidup kita, misalnya mengidolakan Bintang Film berlebihan, main handphone, intenet, atau games terus menerus, dan tidak punya waktu untuk Tuhan. menghabiskan semua waktu untuk kepuasan diri sendiri, dan tidak memiliki tujuan ke arah Tuhan.
Mari kita sungguh-sungguh hidup untuk Tuhan. Jangan kita memiliki berhala dan bersahabat dengan dunia ini. Sebab Firman Tuhan katakan, Persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yakobus 4:4). Tuhan mau kita hidup dan hati kita utuh diberikan untuk Tuhan.
Jangan kuatir dengan segala sesuatu, karena Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Mungkin kita tidak sadar memiliki berhala-berhala dalam hidup kita, hari ini mari kita sadari dan lepaskan semua berhala kita, dan Tuhan yang akan memegang hidup kita.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Mengenal Yesus
Bacaan : Matius 16 : 5 – 12 (Tentang ragi Orang Farisi dan Saduki)
Dalam Matius 16 : 5 -12, Yesus menjelaskan kepada murid-muridNya untuk tidak mengikuti cara-cara Orang Farisi dan Saduki. Yesus berbicara kepada murid-muridNya melalui perumpamaan ragi. Tetapi rupanya murid-muridnya salah menangkap apa yang Yesus katakan; Murid-muridNya tidak sungguh-sungguh memahai Yesus sebagai orang yang selama ini dekat dengan mereka. Bahkan dalam Matius 16:5-12 Yesus kembali mengingatkan mereka tentang kejadian dan mujizat-mujizat yang mereka lihat dan rasakan bersama dengan Yesus. Mereka bersama dengan Yesus, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mengenal Yesus.
Sudahkah kita sungguh-sungguh mengenal pribadi Yesus dan mengenal rencanaNya dalam hidup kita?
Dalam Markus 8:14-21, yang juga bercerita tentang Yesus yang memperingatkan murid-muridNya tentang ragi Orang Farisi dan Saduki, Yesus mengatakan “kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidak ingat lagi,..” (ayat 18). Terkadang kita seperti murid-murid Yesus. Kita mungkin mengaku anak Tuhan, tetapi seringkali kita tidak bisa melihat perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib, kita juga tidak mendengarkan Tuhan dengan baik.
Yesus mengecam pada Ahli Taurat dan Orang Farisi karena mereka begitu mengikuti tradisi keagamaan, tetapi tidak sungguh-sungguh mengenal pribadi Yesus.
Mereka selalu protes kepada Yesus karena merasa Yesus tidak mematuhi hukum taurat: ketika Yesus makan bersama dengan pemungut cukai (Matius 9:11), ketika murid-muridNya memetik gandum pada hari Sabat (Matius 12:2), Ketika Yesus tidak membasuh tangan ketika makan (Markus 7:3). Mereka terlalu berpegang kepada tradisi, dan mengira Yesus telah melanggar dan mengacaukan hukum taurat yang selama ini mereka pegang.
Hati-hati dengan kebiasaan Orang Farisi ini! Mereka rajin beribadah, bahkan hafal semua isi kitab, tetapi tidak hidup dibawah pimpinan Tuhan. Mereka suka menceritakan isi Taurat, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya (Matius 23:1); semua dilakukannya supaya dilihat oleh orang lain dan dipandang hebat. Jangan menjadi orang Kristen Farisi! Yang hidupnya hanya penuh dengan pencitraan dan penghormatan diri sendiri. Jika kita diberi kesempatan untuk melayani, biarlah semua penghormatan hanya milik Tuhan.
Kita seringkali berpikir apa yang orang lain pikirkan tentang kita, tetapi kita yang perlu kita pikirkan adalah “Apa yang Tuhan pikirkan tentang Saya”.
Bergantung dengan apa opini orang lain, tetapi tidak mengindahkan apa yang Tuhan katakan. Seperti itulah sifat orang Farisi dan ahli taurat. Ketika kita selalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, kita hanya akan berfokus pada diri sendiri dan akan mengusahakan diri terlihat baik (pencitraan). Hati-hati terhadap jebakan sombong rohani! Bahkan hal rohani pun bisa menjadi sebuah kedok bagi kita meninggikan diri. Karena itu, kita harus senantiasa menjaga hati kita tetap murni di hadapan Tuhan.
Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak, Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan (Matius 3:7-8)
Mari kita menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Hasilkanlah buah-buah yang baik di hadapan Tuhan supaya jangan kita “ditebang” saat kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Jangan biarkan hal-hal kecil yang bersifat buruk dalam hidup kita. Karena ketika kita biarkan, itu bisa menjadi dosa yang semakin berkembang dan berbuah-buah dalam hidup kita.
Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita hidup di dunia ini. Karena itu, mari kita berikan yang terbaik buat Tuhan. Kita sungguh-sungguh mengenal Tuhan dan mengasihiNya dengan segenap hati kita. Dengan kita sungguh-sungguh mengenalNya, maka kita mengerti kerinduan dan hatiNya bagi setiap kita.
- Published in Sermons









