Khotbah Ev. Christin Jedidah : Kesalehan yang Sejati
Bacaan : Yesaya 58:1-12
Yesaya mengatakan tentang kesalehan yang palsu dan sejati. Bangsa Israel berkata kepada Tuhan, bahwa mereka sudah melakukan banyak hal. Mereka tiap hari datang kepada Tuhan; mengikuti semua kegiatan keagamaan dan rajin saat teduh setiap hari. Mereka aktif mengikuti acara-acara rohani. Mereka ingin dan suka mengenal jalan-jalan Tuhan. Sepertinya bangsa ini melakukan hal yang benar, dan tidak meninggalkan hukum Allah.
Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?. (Yesaya 58:3a)
Mereka sepertinya dekat dengan Tuhan, tetapi mereka merasa Tuhan tidak pernah memperhatikan mereka. Ada banyak motivasi orang berpuasa, dan juga ada macam-macam jenis puasa. Ternyata bangsa Israel yang berpuasa tidak mendapatkan jawaban dari puasa mereka kepada Tuhan. Mengapa demikian?
Yang menghalangi kita mendapatkan janji Tuhan dan kesalehan yang sejati:
Ketika kita masih mengurus urusan kita sendiri
Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. (Yesaya 58:3b)
Seringkali ketika hidup kita hanya berfokus pada “aku”, kita tidak akan mendapatkan perkenanan dari Tuhan. Hukum kasih yang terutama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.” Dan hukum yang kedua adalah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39). Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita harus mengasihi diri kita sendiri. Kita belajar, bahwa kita hidup janganlah berfokus pada diri sendiri.
Kita mau dipakai Tuhan untuk membangun Kerajaan Allah, bukan kerajaan kita sendiri.
Dalam Hagai 1 : 4 – 11, berbicara tentang membangun kembali rumah Allah. Jangan kita berfokus untuk membangun rumah kita sendiri; jangan berfokus membangun kehidupan kita sendiri, padahal rumah Tuhan menjadi reruntuhan. Mereka menabur banyak, tetapi hasilnya sedikit. Ini bukan berbicara tentang materi, tetapi tentang kepuasan mereka dalam menikmati apa yang mereka usahakan. Mungkin ada orang-orang tertentu yang bisa menghasilkan 50 juta atau 100 juta dalam 1 bulan, tetapi tidak pernah bisa menikmatinya karena sakit-sakitan. Mereka tidak dapat menikamtinya karena mereka masih mengurus urusan mereka sendiri.
Mereka berpuasa, tetapi mereka tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat.
Sesungguhnya kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan di tempat maha tinggi (Yesaya 58:4)
Mereka masih suka berbantah dan berkelahi. Ini mewakili perbuatan dosa. Mereka masih suka melakukan dosa, walaupun mereka kelihatannya rohani. Ini yang membuat mereka jauh dari Tuhan; mereka tidak mendapatkan perkenanan dari Tuhan. Orang yang memiliki kesalehan yang sejati, kita mengalami sebuah pemulihan yang sejati dari Tuhan. Yang Tuhan inginkan bukan sekedar rutinitas berpuasa. Berpuasa bukan sekedar aktifitas. Ibadah yang sesungguhnya bukan sekedar acara. Lalu apa yang Tuhan inginkan sebenarnya?
Dalam Yesaya 58:6-7, Tuhan menghendaki kehidupan kita “membuka belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk”. Tuhan ingin kita berfokus untuk mengasihi sesama kita. Apa yang menjadi belenggu dalam hidup kita? Apa yang menjadi beban yang begitu merintangi hidup kita untuk berlari kepada Tuhan? kita berdoa dan minta hikmat dari Tuhan supaya Tuhan melepaskan setiap belenggu-belenggu. Orang yang terbelenggu tidak akan bisa melakukan sesuatu.
Selama kita masih diijinkan hidup di dunia ini, kita mau hidup untuk orang lain. Kita memperhatikan kebutuhan orang lain.
Seperti halnya dalam peperangan rohani, ketika Iblis membelenggu hidup kita, itu membuat kita tidak dapat bergerak. Kita tidak bisa mengalami kehidupan yang berbuah. Tuhan mau kita memiliki kesalehan yang sejati; kita melepaskan semua yang menghalangi kita berlari bersama Tuhan. Sehingga kita bisa memerdekakan orang lain.
Sudahkah anda memiliki tujuan Tuhan dalam hidup anda?
Untuk memilikinya, kita perlu peka dengan kebutuhan orang lain. Selalu visi Tuhan adalah untuk membangun Kerajaan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang lain. Berapa banyak yang mau dipanggil Tuhan untuk dipakai jadi berkat untuk orang lain?
Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari (Yesaya 58:10)
Kita harus seimbang dalam kehidupan ini, antara pelayanan, keluarga, teman-teman, dan diri kita sendiri. Mungkin ada kalanya kita bisa lelah melayani. Tetapi ada masa juga dalam hidup kita, ketika kita belajar untuk melayani, memperhatikan kebutuhan orang lain, membagi hidup kita, disitu kita akan mendapatkan kekuatan dari Tuhan. (Ayat 11-12). Ketika kita belajar melayani orang lain disaat kita terluka, di saat itulah luka-luka kita akan disembuhkan. (ayat 8)
Di dalam kita menjawab kebutuhan orang lain, ada rahasia yang luar biasa yang Tuhan janjikan. Tuhan yang akan memperbaharui kekuatan kita. Siapkah kita, jika Tuhan ingin pakai kita menjadi perintis-perintis? Dimana kita akan menjadi batu-batu awal dari kerajaan Allah. Maukah kita sama-sama membangun visi Tuhan yang Tuhan berikan dalam hidup kita? Ketika kita melakukan Firman Tuhan, Tuhan yang akan buka jalan demi jalan.

