Khotbah Ev. Evie Mehita : Sekalipun Yesus Hadir
Ada harga yang harus dibayar dalam panggilan Tuhan dan kita belajar untuk tetap memilih kehendak Tuhan.
“Aku tidak bisa mendengar suara Tuhan”
Seringkah kita berkata demikian? Kalau iya, berarti kita bukan anak Tuhan. Atau mungkin kitalah yang menutup telinga terhadap suaraNya. Kita adalah anak Tuhan, sudah pasti kita dapat mendengar apa yang menjadi kehendak dan kerinduanNya.
Alasan akan selalu ada untuk pergi dari panggilanNya. Untuk itu dibutuhkan hati yang kaut dan teguh. Tidak banyak orang yang benar-benar membulatkan hatinya untuk tetap berjalan dalam panggilanNya.
Ketika Lot diperintahkan Tuhan untuk keluar dari Sodom dan Gomora, mereka begitu berlambat-lambat, sehingga malaikat Tuhan menarik tangan mereka untuk segera keluar. Mereka tidak tega meninggalkan Sodom Gomora.
Hartanya… Kenangannya… Segala yang telah ia capai ada di sana. Mereka tidak dapat meninggalkannya meskipun mereka tahu betul bahwa tempat itu tidak baik. Mereka terikat dengan zona nyamannya dan tidak dapat meninggalkannya, sehingga harus dipaksa Tuhan untuk pergi. Walaupun kota itu telah dihukum, istri Lot tetap tidak rela meninggalkannya sehingga ia menoleh janji Tuhan. Ia tidak percaya bahwa ia harus meninggalkan kota tersebut.
“Benar tidak ya aku ditempatkan di sini? Apa ini benar-benar panggilan Tuhan?”
Kita sering mempertanyakan janji Tuhan. Kita terus mempertanyakannya hingga kita TIDAK SADAR, iblis mencuri sedikit demi sedikit panggilanNya atas setiap kita. Kita menunda-nunda untuk mengerjakan panggilan Tuhan. Kta menanti Tuhan untuk meneguhkan kita, baru kita akan melangkah. Kita salah! Ketika kita melangkah, Tuhan akan teguhkan. Kalau kita menunggu yakin, baru melangkah, keyakinan itu akan goyah dicuri oleh iblis. Tuhan tidak pernah menunjukkan sebuah gambar secara keseluruhan, tetapi ia menunjukkan sedikit demi sedikit panggilanNya, seperti potongan puzzle yang menghasilkan gambar utuh.
Markus 6:3
Kita bisa kecewa dan menolak Tuhan. Mereka percaya bahwa Yesus adalah orang yang luar biasa, seorang pembebas, Mesias yang dijanjikan. Tapi setelah mereka melihat bahwa Yesus adalah orang biasa, menggunakan pakaian biasa, hanyalah anak tukang kayu, bukan dari kalangan bangsawan, mereka kecewa. Mereka kecewa karena Yesus tidak seperti yang diharapkan.
Kita juga sering berpikir bahwa Tuhan akan memberikan dan melakukan apa yang kita inginkan menurut cara kita. Kita menolak rencana Tuhan dan kebenaranNya. Ketika kita sangat menginginkan sesuatu dan tidak diberi oleh Tuhan, bisakah kita tetap berkata “Terimakasih Tuhan”? Atau ketika kita sudah mendapatkannya, kita yakin kita akan bahagia dan tetap memuji Tuhan? Atau justru kita meninggalkanNya?
Lukas 24:13-25 menceritakan kisah 2 orang murid Yesus yang berjalan dari Yerusalem menuju kota Emaus. Saat itu keadaan kota Yerusalem sedang tidak baik dan kacau dikarenakan kebangkitan Yesus. Banyak rumor yang beredar mengenai tubuh Yesus yang tidak ada dalam kuburNya. Banyak yang tidak percaya akan kebangkitan Yesus. Orang-orang di Yerusalem, termasuk murid-muridNya bingung dan penuh dengan keraguan. Mereka masih berharap bahwa Yesus membebaskan mereka dari penjajahan dengan cara mereka sendiri.
Pada saat itu juga, seharusnya seluruh murid berkumpul di Yerusalem, tetapi kedua orang ini pergi ke kota Emaus berjalan kaki yang 11 kilometer jauhnya. Mungkin kedua orang ini menghindari kericuhan yang terjadi di Yerusalem, mereka melarikan diri dari keadaan tersebut. Seringkali dalam kesesakan, kita sering menghindar dan kabur. Misalnya dalam komunitas, karena suasana tidak enak, khotbahnya “itu-itu” saja, membosankan, khotbah terlalu keras, musiknya tidak enak dan lain sebagainya, kita memutuskan untuk pergi. Kita keluar dan menghindar. Kemudian kita membicarakan keadaan di luar.
Demikian juga dengan kedua murid Yesus ini dan Yesus memilih mereka untuk menampakkan diri, tetapi mereka tidak mengenal Yesus. Ketika Yesus berbicara kepada mereka, wajah mereka muram dan sedih. Ayat 16 mengatakan bahwa mata mereka terhalang.Mereka tidak fokus kepada tamu yang saat itu datang. Mereka fokus kepada kegalauan dan kebingungan mereka hingga mereka tidak melihat Yesus. Demikian juga kita, kita seringkali tidak sadar akan kehadiran Tuhan karena fokus kita ada pada masalah kita pribadi, keadaan kita pribadi.
Pada ayat 28, dituliskan kata “seolah-olah”. Tuhan pun bisa berpura-pura untuk memancing anak-anakNya. Kita tidak tahu cara Tuhan untuk menemui anak-anakNya. Tuhan bisa memilih seorang pendosa paling berdosa sekalipun untuk ditemui.
Pernah ada suatu cerita, ketika itu di sebuah gereja sedang mempersiapkan sebuah acara. Mereka berlatih melayani Tuhan, memberikan yang terbaik. Tapi suatu waktu, sang koordinator pelayanan musik, merasa bahwa pemain keyboardnya sebaiknya tidak melayani dulu karena dia sedang dalam kondisi rohani yang tidak baik. Sehingga akhirnya pelayanan pemain keyboard ini digantikan dengan orang lain. Namun, pada hari H, koordinator ini seperti melihat Yesus dan Ia bersedih. Ia sedih karena Ia ingin pemain keyboard yang tidak diijinkan untuk bermain ini, tetap bermain dan melayani. Ketika acara itu berlangsung, pemain keyboard ini dijumpai oleh Tuhan sehingga ia menangis dengan keras. Kita tidak bisa menyelami cara Tuhan untuk menjumpai anak-anakNya.
Dan setelah mereka sadar bahwa orang asing yang menegur mereka, yang memberi pengajaran kepada mereka, adalah Yesus, mereka kembali lagi ke Yerusalem. Berjalan lagi 11 kilometer, tanpa berlambat-lambat lagi. 2 orang ini memiliki respon yang tepat. Mereka memiliki hati yang humble. Mereka telah dikatakan bodoh saat itu, tetapi mereka tetap mendengar pengajaran dari Yesus.
Mazmur 25:8-10
Dia menunjukkan jalanNya pada orang yang sesat, tetapi memiliki kerendahan hati. Ketika kita takut melakukan sesatu karena takut salah, sehingga tidak pernah melangkah, itu juga dosa. Kedua orang murid itu seharusnya berada di Yerusalem. Mereka tersesat, mereka menghindar dan pergi ke Emaus. Tetapi Tuhan tetap menunjukkan jalan kebenaran bagi mereka untuk mereka kembali ke Yerusalem.
Roma 11:29
Panggilan (kaleo) memanggil nama demi nama dengan suara yang keras. Tuhan tidak memanggil dengan berbisik untuk membawa kita dari kegelapan kepada terang. Ia sudah memanggil kita, masihkan kita tidak mendengar suaraNya?
Kita seringkali sibuk untuk mempersiapkan pelayanan kita. Kita membiarkan Tuhan menjadi sutradara. Apa yang Tuhan mau, seperti apa acara yang Tuhan inginkan.
