Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Percaya Buta
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.
Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.
Kejadian 12:1-5
Ketika Tuhan memanggil Abraham, Tuhan tidak memberikan sebuah perintah yang spesifik, seperti apa negerinya, bagaimana memasukinya. Sangat sukar sekali bagi orang percaya diberikan perintah oleh Tuhan. Generasi ini adalah generasi yang seringkal meminta segala sesuatu dengan spesifik.
Abraham adalah seorang yang sangat percaya, imannya luar biasa. Dikatakan bahwa ia adalah bapa segala orang percaya. Ia memiliki totalitas untuk melakukan perintah yang diberikan Tuhan kepadaNya. Jika kita diberi perintah untuk pergi menetap di sebuah kota yang asing, bisakah kita tidak bertanya dalam hati kita, mengapa begini dan begitu, bagaimana kondisi di sana dan lain sebagainya. Kita selalu ingin tahu perintah dengan sangat jelas. Bagaimana visi misinya. Kita perlu belajar dari Abraham. Abraham memulai dengan ketaatan dan iman pada Tuhan.
Hanya orang-orang yang intim dan dekat dengan Tuhan yang dapat melakukan totalitas menaati Tuhan.
Tidak salah kita mengkritisi suatu perintah, tetapi jika kita hanya sibuk mengkritisi tanpa bergerak, hanya mengkritisi, merasa dirinya benar dan orang lain berbuat salah, itulah yang salah. Menaruh curiga terus menerus.
Abraham juga mempunyai kelemahan-kelemahan. Ia adalah seorang pezinah juga. Ia sangat takut melewati negeri Mesir, ia berdusta mengatakan Sarah adalah adiknya. Kemudian timbul kesalahpahaman dan Raja Mesir menjadikan Sarah sebagai istrinya. Abraham menjual istrinya untuk mendapatkan keamanannya.
Tuhan memproses Abraham dengan proses-proses yang indah. Kepercayaannya pada Tuhan dihitung sebagai kebenaran dan seakan menguburkan dosa-dosanya yang lain. Abraham pernah meragukan janji Tuhan dan menertawakannya, kemudian menikahi Hagar, hamba Sarah. Tentunya dengan permintaan Sarah. Sarah pun salah dengan melakukan demikian. Tetapi Tuhan tetap memperhitungkan kepercayaannya yang semula. Karena itu jangan menyerah.
Iblis punya seribu cara untuk menaklukan anak-anak Tuhan dan Tuhan punya sejuta cara untuk membangkitkan anak-anakNya kembali.
Saya menemukan buku khotbah saya pada tahun 1999. Saya membaca catatan khotbah yang saat itu saya tulis untuk khotbah KKR pertama saya. KKR waktu itu di lapangan parkir Ubaya. Dengan sound seadanya, lampu-lampu yang sederhana. Saat itu yang datang tidak sesuai dengan ekspektasi, satpam Ubaya, pegawai Ubaya dan mahasiswa yang seharusnya menjadi target hanya berjumlah 30 orang saja. Tetapi satpam dan pegawai itu menemui saya dan mengatakan bahwa mereka bertobat dan menerima Yesus.
Iman adalah iman, percaya dan tidak bisa didefinisikan. Iman adalah suatu kepercayaan pada penciptanya bahwa ia akan menerima apa yang dijanjikanNya.
Seringkali kita terjebak dalam euforia-euforia kebanyakan. Menggeneralisasi bahwa kalau Tuhan menyertai, hasilnya harus seperti ini dan itu. Tuhan juga menyertai Abraham ketika melewati Mesir, tetapi mengapa harus terjadi pernikahan Sarah dan Raja Mesir.

