Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Sang Pengoreksi & Penolong
Kejadian 24 menceritakan Abraham mengutus hambanya untuk mencarikan jodoh bagi anakNya. Di sana hamba itu bertemu dengan Ribka. Abraham adalah gambaran Bapa di Surga yang mengutus hambaNya, yaitu Roh Kudus untuk menolong kita yang digambarkan sebagai Ribka, berjumpa dengan Ishak, sebagai mempelai Kristus kita. Kita sedang dalam perjalanan dipinang oleh Tuhan. Hamba Abraham itu mengetuk pintu hati untuk ditunangkan dengan anak Abraham. Ia sedang mencari hati yang murni untuk dipinang.
Mengapa Ribka? Mengapa bukan gadis-gadis lainnya?
Karena Ribka MENGIJINKAN Roh Kudus menguasai hidupnya, membuka pintu hatinya untuk Roh Kudus yang digambarkan sebagai hamba itu masuk.
Siapapun yang mengijinkan Roh Kudus untuk memenuhi hatinya, tidak akan merasakan kesepian, tidak akan merasakan jenuh. Roh Kudus adalah air hidup yang tidak pernah habis, sehingga hidup kita tidak akan pernah kering, tidak takut untuk merasa gagal. Tuhan mencari hati-hati yang murni untuk dipinang. Yesus adalah seorang pengantin yang mencari pengantinNya. Kalau kita tidak mengijinkan hati kita untuk dikuasai oleh Kristus, kita akan kering, kita tidak akan dipinang. Tidak ada kemurnian dalam hati kita karena kita tidak mengijinkan Tuhan untuk masuk dalam hati kita dan memurnikannya. Tanpa pengorbanan, kuasa Tuhan tidak bekerja. Tanpa mezbah, tidak mungkin Tuhan berkarya dalam hidup kita.
Kita tidak mau mempersembahkan hidup kita sepenuhnya karena kita curiga dengan Tuhan. Atau ketika kita mempersembahkan hidup kita, kita merasa hidup kita selalu dikorbankan. Orang lain bisa senang sedangkan kita tidak bisa senang. Berbahagialah kita yang hidupnya sudah dikorbankan.
Ishak yang sebelum dikorbankan menjadi orang yang berbeda dengan Ishak yang sudah dikorbankan. Masih banyak pemberontakan, masih banyak kecurigaan, tetapi Ishak memiliki momentum yang bernama penyerahan. Ishak bisa memberontak, tetapi ia tidak melakukannya dan menyerahkan diri untuk dikorbankan. Peperangan pikiran pasti akan terjadi ketika Roh Kudus meminta ijin untuk masuk dalam hati kita. Roh Kudus akan meminta ijin untuk mengoreksi hidup kita.
Hidup kita penuh dengan pemberontakan. Kenapa aku terus, nanti aku yang disalahkan, nanti jangan-jangan orang itu memanfaatkan aku. Pikiran-pikiran seperti itu adalah pikiran-pikiran yang belum berdamai dengan Tuhan. Kita belum menyerahkan diri kita. Tidak ada mezbah, tidak ada kemuliaan. Tahun ini adalah tahun kemuliaan, tidak hanya di negara Indonesia saja, tetapi hingga ujung-ujung bumi.
Ada titik momentum dalam hidup kita. Roh Kudus akan mengetuk pintu hati kita berulang kali. Tetapi ketika kita mengijinkan, Roh Kudus akan mengalir memenuhi hidup kita. Kita akan penuh dengan Roh Kudus, kita akan berubah, bertobat. Kita akan dihanyutkan dalam rencana Tuhan yang sempurna. Kita akan masuk ke tingkat kemuliaan yang berbeda. Ketika Ishak dipersembahkan di mezbah, pikirannya adalah pikiran penyerahan dan percaya kepada Tuhan. Ishak memang tidak jadi dipersembahkan, tetapi karena momentum itu, Ishak diubahkan menjadi seorang yang baru.
Berapa dari kita, yang dididik oleh Tuhan, ditegur oleh Tuhan, didisiplinkan oleh Tuhan, kita mulai marah. Kita berkata “selalu aku yang salah, tidak ada teman yang mengerti aku”, pemberontakan yang muncul. Kita tidak akan dipakai Tuhan, tetapi oleh dunia. Atau kita mengatakan “daripada aku tidak boleh pelayanan, OK, aku akan mengoreksi diri”. Kita tidak dengan sepenuh hati untuk mengoreksi diri, kita telah memberontak. Pertobatan kita hanya didasari pada keadaan.
Kita harus mau dipersembahkan, masuk dalam altar Tuhan. Membiarkan Roh Kudus untuk bertahta dan bekerja dalam hati kita. Tidak ada kata-kata politik, tidak ada kata pembenaran diri.
Ketika awal dikoreksi Tuhan, memang menyakitkan, tetapi Tuhan adalah pengoreksi, sekaligus PENOLONG kita. Ia yang memampukan kita untuk dikoreksiNya sehingga orang-orang dapat melihat Kristus dari dalam hati kita. Kita tidak pernah berserah dalam Tuhan. Berkata bahwa penyembahannya dibawa ke altar Tuhan, disentuh oleh Tuhan, tapi pada kenyataannya, hal itu tidak pernah terjadi.
Sudahkah Tuhan Yesus benar-benar bertahta dalam hati kita?
Ribka tidak mengenal Ishak sebelumnya. Ia tidak tahu apakah Ishak sesuai dengan kriterianya atau tidak, tetapi dia yakin dan percaya bahwa hamba Abraham yang datang kepadanya tidak akan mencelakakannya. Ketika Ribka mau, penggenapan kedatangan sang Juruselamat telah dimulai.
Ada perbedaan, datang dengan air mata penyesalan dan pertobatan dengan air mata karena ketakutan. Setiap orang harus menyadari kesalahannya sendiri, bukan karena orang lain mengatakan ia salah, tetapi dari dalam hati tidak mengakui bahwa ia salah.
Beberapa anak merasa takut datang ke gereja, karena khotbahnya keras dan lain sebagainya. Beberapa anak hanya suka khotbah-khotbah yang lunak seperti bubur. Tidak mau dibentuk. Tidak ada khotbah yang tidak memperbaiki kesalahan. Khotbah yang tidak memperbaiki kesalahan, tidak bisa disebut khotbah. Hanya membawa penghiburan saja. Setiap anak harus dilatih menjadi prajurit, yang layak untuk menyambut kedatangan Tuhan.
Proses disempurnakan ada perbaikan-perbaikan. Memang menyakitkan. Tetapi Roh Kudus akan membawa kita semakin tinggi dan lebih tinggi dan tidak pernah dijatuhkan lagi. Di dalam kemuliaan, hidup kita menjadi saluran misi bagi Tuhan. Dengan kita membawa kemuliaan Tuhan dalam hidup kita, kita akan diangkat Tuhan lebih tinggi lagi. Dunia mungkin tidak akan memuliakan engkau, tetapi seluruh surga memuliakan engkau.
Tipe-tipe pemimpin sanguin, sulit menyadari kesalahan. Anak-anak memang salah, pemimpin menjadi contoh. Kebangunan rohani dimulai dari pemimpin dan seluruh jemaat mengatakan bahwa kami butuh Tuhan, kami butuh Yesus. Ketika kita mengijinkan Yesus memenuhi kita, Tuhan meninggikan kita.
Bapa tahu cara menggenggam dan melepaskan. Ia tahu yang terbaik. Sampai titik darah penghabisan, Tuhan akan mengejar kita.
Proses kemuliaan seiring dengan proses pengetahuan. Rahasia pengetahuan ada dalam kasih Kristus Yesus. Karena kasih lebih dari segala pengetahuan. Kita bisa melayani Tuhan berpuluh-puluh tahun. Tetapi tiba-tiba ada orang yang baru diangkat sama dengan kita. Tidak adil memang, tetapi itu adalah kasih karunia. Kasih karunia Tuhan melampaui segala akal manusia.
Ketika pohon kekurangan air, ia tidak akan berjalan dan lari-lari mencari sumber air. Ia tidak akan berbuah karena sibuk mencari sumber air dengan cara yang salah. Pohon yang tidak berakar kuat, terkena badai sedikit akan tumbang. Kalau kita berakar dengan kuat, badai sekeras apapun tidak akan menumbangkan kita.
Tuhan akan mengangkat gereja Tuhan. Gereja Tuhan adalah organisme, yaitu kita. Kalau kita keluar, kita akan mati. Kalau kita bosan dengan khotbah, cari lebih dalam. Tanamkan akar lebih dalam lagi. Bukan kita berpindah-pindah gereja, kita justru akan mati.


