Khotbah Ev. Evie Mehita : Menghadapi Kejatuhan
Sebelum menentukan pilihan, kita sering melakukan “pengintaian” terlebih dahulu. Mengamati dan mengobservasi, entah itu untuk masuk universitas, bekerja di perusahaan, bahkan untuk tempat liburan.
Bilangan 13:25
Sebelum masuk ke tanah Kanaan, bangsa Israel memilih 12 orang untuk mengintai tanah Kanaan. Dalam kitabh Ulangan dijelaskan bahwa pengintaian tersebut bukanlah usul Musa. Usul tersebut adalah usul tua-tua Israel dan hal itu dipandang baik. 12 orang yang terpilih tersebut adalah pemimpin-pemimpin, merupakan orang-orang terbaik di bangsa Israel. Mereka adalah orang-orang yang dianggap telah dewasa. Mereka sudah bersama dengan Musa sejak lama, tapi 10 orang dari 12 orang yang dipilih menyampaikan kabar buruk kepada bangsa Israel. Pikiran mereka belum sampai dengan pikiran Tuhan. Mereka meragukan Tuhan dan mulai memikirkan cara-cara mereka sendiri untuk mencapai janji-janji Tuhan.
Bangsa Israel ingin mengintip “janji Tuhan” seperti apa terlebih dahulu. Tapi orang yang belum siap masuk ke tanah perjanjian, akan menjadi suatu bahaya yang besar. 10 orang ini adalah orang-orang yang belum siap masuk ke tanah tanah perjanjian. Mereka dianggap mereka sudah dewasa, sudah melepaskan roh perbudakan yang mereka bawa dari tanah Mesir, tapi ternyata mereka masih belum melepaskannya. Bukan raksasa tanah Kanaan yang menghancurkan mereka, tetapi raksasa dalam hati merekalah yang menghancurkan mereka.
12 orang pengintai sama-sama lahir dalam perbudakan, sama-sama kecewa dengan Tuhan. Tapi perbedaan 10 orang ini dengan Kaleb dan Yosua adalah sampai menjadi pemimpin, 10 orang ini belum membereskannya. Masih kepahitan, masih memiliki roh perbudakan. Mereka bawa itu semua dan akhirnya mereka tersingkirkan dari rencana Tuhan. Musuh lama mereka itu belum dikalahkan, hanya tidur. Bukan mati!
Dalam cerita 3 triwira, ada seorang bernama Isybaal atau Yasobam yang memiliki arti “sitting on the seat”. Ia adalah seorang penyelesai, 1 batalyon sebanyak 800 orang dihabiskanya. Dia tidak menyisakan satupun musuh-musuhnya.
Yosua adalah seorang pelayan, abdi Musa, seorang yang sangat dekat dengan Musa. Ketika Musa bertemu dengan Tuhan di atas gunung, Yosua dengan setia menunggu Musa dan ia begitu setia menunggu Musa. Yosua tidak mengikuti bangsa Israel ketika memuja lembu emas. Ia tetap setia di samping Musa dan menunggu Musa untuk kembali.
Yosua adalah pemimpin yang luar biasa. Dia bisa bergerak sendiri. Tapi karena kesalahan 10 orang lainnya, ia hampir dibunuh, ia disudutkan karena usahanya menguatkan hati teman-teman sebangsanya. Tapi tangan Tuhan ada atas Yosua dan ia dibela oleh Tuhan. Ia sampai harus tertunda untuk masuk ke tanah perjanjian 38 tahun. Kalau ia mau, ia bisa dan mampu untuk masuk ke tanah Kanaan sendirian. Tapi ia memilih untuk tinggal dan tetap bersama bangsa Israel, mendampingi Musa. Ia tahu tentang kesatuan. Ia tidak egois dan meninggalkan bangsa Israel, ia tetap setia menunggu 38 tahun ke tanah perjanjian Kanaan, yang seharusnya dapat ditempuh selama 11 hari dari temat perkemahan saat itu.
Ketika kita menghadapi kegagalan orang lain, apakah kita meninggalkannya atau kita berdoa untuk menguatkannya? Tidak egois bahkan membicarakan kejatuhannya, mendukung untuk dia bangkit kembali.
Di padang gurun, Tuhan mengajarkan tentang pemeliharaan Tuhan, menumbuhkan iman mereka, mengajarkan tentang penundukkan diri, memurnikan dan mendisiplinkan bangsa Israel. Saat bangsa Israel jatuh, Yosua tidak ikut jatuh. Ia tetap bangkit. Seringkali kita melihat manusia sebagai acuan kita, sebagai standart. Seharusnya dasar kita adalah Firman Tuhan. Dasar dari bangsa Israel adalah luka-luka masa lalu mereka.
Ada 3 hal kesabaran :
1. Sabar pada diri sendiri
2. Sabar pada orang lain
3. Sabar pada janji Tuhan
Bilangan 14 menceritakan bahwa ketika kejatuhan bangsa Israel, Yosua dan Musa tidak ikut mengata-ngatai mereka, tetapi mereka membujuk Tuhan dan bersyafaat bagi mereka. Tuhan tidak menyesali panggilanNya, tapi Tuhan ingin dan harus mendisiplinkan bangsa Israel agar mereka siap menerima janji Tuhan.
Bilangan 14:39
Bangsa Israel sadar akan kesalahannya setelah ditegur Tuhan dan kemudian langsung meminta berperang, meminta janji Tuhan. Tapi Tuhan sedang mendisiplinkan bangsa Israel dan mereka tidak sabar akan itu. Bagaimana reaksi kita ketika kita ditegur? Seharusnya ada waktu penyadaran, waktu untuk merenung dan menunggu mengapa Tuhan menegur. Waktu untuk bertobat.
Bangsa Israel tidak benar-benar bertobat. Mereka memiliki harga diri yang tinggi. Ketika diperingatkan oleh Musa, pemimpin mereka, mereka tidak mau mendengar.
Ada 2 tipe manusia setelah ditegur:
1. Mengasihani diri
2. Semakin memberontak
Ketika kita ditegur Tuhan, seharusnya kita mengambil waktu untuk berdoa, agar Tuhan meremukkan hati kita. Tuhan mau kita memiliki sikap hati untuk bertobat. Kegerakan dan janji Tuhan itu mudah di tangan Tuhan. Tapi sikap kita yang tidak siap untuk memasuki rencana Tuhan.

