Khotbah Ev. Evie Mehita : Seorang Anak – Teknon vs Huios?
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Yohanes 3:6
Setiap kita dilahirkan oleh ibu kita, dari keturunan ayah dan ibu kita dengan segala kelebihan dan kekurangan. Kita berasal dari daging, kita sudah pasti memiliki sifat-sifat daging. Tapi daging kita ini hanya bungkus saja, sebab kita adalah anak-anak Tuhan. Kita memiliki DNA roh, yakni ada sifat-sifat rohani.
Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
Matius 5:48
Tuhan menghendaki kita mencapai kesempurnaan. Cara mencapai kesempurnaan itu adalah ketika kita mau dipimpin oleh roh. Dengan mengijinkan roh Tuhan memimpin kita, DNA roh akan bekerja penuh dalam diri kita. Seberapa jauh kita pergi, kita tetap akan memiliki kerinduan untuk kembali pada roh.
Gereja harus membangkitkan para anak, bukan pelayan.
Jika kita melihat handphone kita diservice, kita akan melihat handphone kita dibuka, dilepaskan bagian-bagiannya satu per satu, seolah seperti rusak. Ketika kita melihatnya, kita tentu akan merasa khawatir dan takut, kalau-kalau handphone kita rusak. Kita seperti tidak tega melihat handphone kita diperbaiki. Demikian juga ketika kita dibongkar oleh Bapa, kita tidak tega pada diri sendiri. Kita tidak tega hidup kita dibongkar, diperbaiki oleh Tuhan.
Seorang anak punya hati hamba, tetapi seorang hamba belum tentu memiliki hati anak. Untuk mencetak anak-anak Tuhan diperlukan pemuridan dan pembimbingan, itu adalah salah satu cara memenangkan dan memulihkan jiwa.
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,
Ibrani 5:8-9
Dia adalah Yesus, disebutkan Dia taat sampai mati. Yesus adalah teladan seorang Anak yang sempurna, di mana kita belajar bagaimana seorang anak seharusnya. Kita harus belajar menjadi seorang anak agar kita mengerti hati Bapa. Untuk menjadi seorang anak yang sejati, kita tidak boleh lepas dari tudung rohani kita, yaitu gereja.
Anak pasti menerima warisan. Seorang ayah tidak akan memberi warisan kepada orang lain. Anak pasti menerima tongkat otoritas orang tuanya dan memiliki DNA orang tua. Hamba tidak akan mendapat warisan, ia di luar garis keturunan.
Menurut kisah tentang “Anak yang Hilang” dalam Lukas 15:11-32, hati anak ada 3, yaitu :
- Hati yang mengerti dan memahami hati Bapanya.
Anak sulung tidak mengerti hati Bapanya padahal bertahun-tahun ia tinggal bersama Bapa. Ia tidak merasa aman dengan Bapanya.
Sudahkah kita memahami hati Bapa di surga? Orang tua adalah wakil dari figur Bapa, pemimpin dan pembimbing adalah wakil dari figur Bapa. Dan sudahkah kita memahami hati Bapa atas kita di gereja, tempat kita ditempatkan Tuhan?
Ketika kita masih kecil, kita tidak mengerti akan hati Bapa dan tidak puas. Kita belum menjadi seorang anak yang sesungguhnya.
- Hati anak adalah hati yang menundukkan diri
Anak bungsu meminta warisan sebelum waktunya. Baginya, ayahnya adalah penghalang kebebasannya. Ia merasa tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri, merasa tahu tujuan hidupnya. Ia tidak mau menundukkan diri terhadap Bapanya.
Banyak orang Kristen datang gereja tapi bukan sebagai anak, hanya sekadar datang, pengunjung gereja. Yakub, walaupun dengan cara curang, ia mendapat berkat Bapa. Ia mengejar berkat Bapa. Esau merasa berkat Bapa tidak penting, hanya sebuah sup karcang merah yang tidak terlalu berharga.
jangan jadi teknon, menundukkan diri karena terpaksa.
- Hati yang tulus, bukan karena upah.
Melakukan segala sesuatu karena hitung untung dan rugi, itu karena upah. Daud dipilih karena Tuhan tahu ketulusan Daud. Eliab, kakak Daud, memarahi Daud ketika ia datang ke tempat pertempuran atas suruhan ayahnya. Eliab menuduh Daud mencari muka. Pikirannya begitu negatif, padahal Daud tidak berpikir untuk menjadi raja ketika menantang Goliat. Ia melakukannya karena tidak terima Tuhannya dihina, walaupun saat itu ia sudah diurapi menjadi raja.
Ketika si bungsu pergi, Ayahnya tahu si bungsu salah, tetapi Bapanya melepaskannya. Dan ketika ia kembali, ooa menerima jubah, cincin dan kasut dari Bapanya. Jika seorang anak hanya datang di gereja, tidak mau dibimbing dan dididik, selama-lamanya hanya akan menjadi pengunjung gereja, tidak akan menerima warisan. Ketika si bungsu sadar, ia dikembalikan menjadi anak.
Seorang anak bisa nakal dan belum dewasa, pernah jauh dari gembala rohani, tetapi ia pasti akan kembali juga pada Bapanya.
Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya.
Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.
Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?
Galatia 4:1-9Kata “anak” memiliki 2 kata berbeda dalam bahasa aslinya, yaitu :
- Teknon : yang belum dewasa (akil balig)
- Huios : yang sudah dewasa (akil balig)
Kedewasaan bukan umur, kedewasaan adalah ketika kita sudah mengenal hati Bapa. Ketika diberi perintah oleh Bapa, merasa bahwa perintah dan larangan membatasi dan menekannya, berarti kita masih seorang teknon. Jika tetap tidak mengerti dan memahami hati Bapa, kita tidak akan pernah menjadi seorang anak, kita adalah kambing-kambing rohani. Domba akan menjadi anak, tetapi kambing tidak. Seorang huios sudah dapat dipercaya, diberi tanggung jawab. Hatinya menyatu dengan Bapanya, tidak ada lagi pemberontakan atau pertanyaan-pertanyaan.
