Khotbah Ev. Evie Mehita : Rahasia Kekuatan
Kita beberapa kali sering merasa tidak kuat, lemah iman, bosan dan lain sebagainya. Kalau KKR, iman kita kuat, kalau bukan saat KKR, kita merasa lemah iman. Kita perlu untuk mengalami rahasia kekuatan.
Rahasia kekuatan kita adalah tinggal di dalam Yesus.
Ada seorang wanita berusia 28 tahun dan telah menikah selama 10 tahun. Kedua anaknya gugur dalam kandungan, mertuanya setengah lumpuh dan parahnya, ia berada di dalam ambang perceraian ketika ayahnya baru saja meninggal. Suatu ketika dalam sebuah perjalanan di pesawat, ia bertemu dengan seorang pria yang berasal dari Jepang. Mereka mengobrol dan hingga akhirnya pria Jepang itu bertanya “apakah kamu sudah mengenal Yesusku?”.
Wanita ini begitu terusik dengan pertanyaan pria Jepang itu. Ia adalah seorang Kristen dan pelayan Tuhan, ia sudah mengenal Yesus, tetapi pertanyaan itu sangat mengganggunya.
Begitu ia sampai, ia mengunjungi bapak gembala gerejanya dan meminta agar bapak gembala ini mendoakannya untuk bisa mengenal Yesus, menghancurkan kepahitan hatinya dan pemulihan akan hidupnya. Ia juga bercerita mengenai segala permasalahannya dan membuat bapak gembalanya terkejut. Wanita ini adalah ketua pemuda wanita dan seorang guru sekolah minggu yang aktif. Seluruh gereja telah menganggap pasangan suami istri ini adalah keluarga yang patut diteladani, tidak bermasalah dan aktif melayani Tuhan.
Setelah wanita ini keluar dan pulang, ia mengalami sukacita yang luar biasa.
Jadi, apakah kita sudah mengenal Yesus yang sejati?
Kalau kita sudah mengenal Yesus, mungkin kita sudah lupa bahwa kita telah mengenal Yesus.
Bukan berarti kita melayani, kita benar-benar hidup untuk Tuhan dan telah mengenal Yesus.
Hati wanita ini telah mati. Kekecewaan yang diberikan dunia ini membuat hatinya perlahan-lahan mati. Kerohanian kita dikatakan hidup bukan karena perkataan-perkataan kita yang baik dan rohani, recom yang ramai dan meriah atau khotbah-khotbah yang bagus, tetapi kehidupan kerohanian kita adalah pengalaman kita bersama Tuhan. Kita hidup bukan hanya melalui firman yang disampaikan oleh pengkhotbah saja.
Bagaimana pengalaman pribadi kita dengan Tuhan?
Apakah pengalaman kita bertumbuh atau stagnan?
Banyak orang mati rohani sekarang. Dimulai dari patah semangat menghadapi kehidupan, dunia kerja, kuliah, dalam menantikan janji Tuhan dan lain sebagainya. Patah semangat terus menerus, hingga akhirnya bingung akan jati dirinya. Tidak percaya akan Firman Tuhan dan panah-panah masuk.
“Firman itu bukan untuk aku…” “Janji Tuhan itu bukan untuk aku…” “Aku nggak bisa dipulihkan…“
Kemudian menjadi sinisme dan hati menjadi mati.
Seseorang dapat dimenangkan jika mau mengubah pola pikirnya. Pikiran kita tidak sama dengan pikiran Tuhan.
Kalau Tuhan mau ada gereja, meskipun gereja sudah banyak, maka dirikanlah gereja.
Meskipun sudah banyak orang berjualan makanan, kalau Tuhan kehendaki, juallah makanan.
Jangan hanya menjadi orang rata-rata, tetapi bergeraklah menembus ke atas, selaras dengan Tuhan.
Gunung Sinai atau Gunung Horeb adalah tempat Musa menggembalakan kambing dombanya. Horeb memiliki arti tandus, kering, mandul, padang pasir, padang gurun. Ketika itu Musa mengalami titik rendah dalam hidupnya, dari seorang raja menjadi pengasingan menggembalakan kambing domba. Sebenarnya apakah arti tempat Horeb itu?
Tempat padang gurun
Seperti tidak dikasihi, dibiarkan dan ditinggalkan oleh Tuhan. Tetapi saat kita mengalami hal ini, inilah saatnya kita mengalami Tuhan. Yang terpenting adalah penantian. Tuhan mau membentuk ketahanan dalam kerohanian kita untuk bertahan di tempat ini.
Tempat di mana visi Tuhan diperbarui
Di Gunung Horeb ini juga Elia bersembunyi dalam pelariannya, juga tempat Israel membuat lembu emas.
Kita perlu mengecek kembali visi yang kita miliki dari Tuhan atau tidak dengan cara :
- Mimpi itu baik
- Mimpi itu berdampak
- Berserah dan doakan
- Menjadi penyelesai visi Tuhan
Tempat Kemuliaan Tuhan
Tuhan menjumpai Musa untuk pertama kali melalui semak yang terbakar. Tuhan tahu, jika Musa dihadapkan langsung dengan kemuliaanNya yang besar, Musa akan kaget. Ketika Tuhan menampakkan diri dengan kemuliaan yang kecil, Musa masih dapat berdebat dengan Tuhan. Musa masih memakai luka dan kekecewaan dan belum dipulihkan, karena itu Tuhan hadir dengan semak yang terbakar.
Tapi saat kedua kalinya Tuhan menjumpai Musa, kemuliaan Tuhan menyelimuti gunung dan Musa naik ke atas gunung dan berjumpa muka dengan muka dengan Tuhan. Tak ada lagi tawar menawar dengan Tuhan dan mempercayai Tuhan sepenuhnya.
Kita lihat cara Tuhan bekerja. Kita mau kemuliaan Tuhan datang dalam hidup kita seperti apa. Bangsa Israel menolak untuk dekat dengan Bapa karena takut mati. Bangsa Israel menolak anugerah terbesar untuk berjumpa muka dengan muka dengan Bapa.
Perjumpaan kita dengan Bapa juga seharusnya semakin besar, tidak semak terbakar terus menerus.

