Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Selubung Kepandaian
Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.
Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
Lukas 14 : 25-35
Mengikut Yesus terdengar sudah tidak asing lagi bagi hidup kekristenan. Mengikut Yesus menjadi satu paket dengan memikul salib. Tentunya kita harus memikul salib kita sendiri, karena tidak ada satupun manusia yang bisa memikul salib Yesus. Sayangnya, hal ini dianggap terlalu rumit bagi sebagian orang Kristen yang belum lahir baru. Lebih parahnya lagi, banyak gereja di akhir zaman ini yang menanamkan doktrin-doktrin yang melenceng dari Firman Tuhan. Tidak jarang jika pendeta memberikan khotbah yang enak didengar telinga dan memuaskan daging. Padahal, syarat mengikut Yesus adalah memikul salib. Bagaimana kita dapat mengerti cara mengikut Yesus kalau pemberitaan tentang salib semakin lama semakin dilupakan?
Sama seperti orang Yahudi yang sampai sekarang tidak percaya akan hadirnya Mesias, yaitu Tuhan Yesus. Mereka masih ditutupi oleh ‘selubung kepandaian’. Orang-orang Yahudi memaknai Firman Tuhan berdasarkan akal budi manusia sehingga menjadikan perintah Tuhan yang sebenarnya simple menjadi rumit. Sadarkah kita kalau sebenarnya kita selalu menggunakan logika yang terbatas untuk membaca Firman Tuhan? Bahkan terkadang kita tidak lagi menggunakan Firman Tuhan sebagai kebenaran yang memerdekakan hidup orang percaya. Saat sakit, putus asa, ingin diet, mencari kekayaan, sumber pertama yang kita cari adalah google. Firman Tuhan dirasa sudah tidak bisa memenuhi permintaan manusia lagi, sehingga muncullah anak-anak Tuhan yang selfish.
Tuhan mau kita menjadi murid-Nya yang taat dan setia. Kalau kita mau mengikuti kerinduan-Nya, akan ada Roh Kudus yang membakar semangat kita. Jangan kalah dengan pengajaran sesat yang lebih berapi-api. Kita harus lebih berapi-api dalam memberitakan kebenaran, apalagi kebenaran Firman Tuhan. Hari-hari ini adalah hari terakhir panggilan Tuhan untuk kita. Lakukan sisa hidup yang sangat singkat ini untuk memuliakan nama-Nya.
Bagaimana menjadi murid Kristus yang terus diperlengkapi dengan kebenaran?
- Jangan pakai pengetahuan manusia kita untuk mengenal Firman Tuhan.
Hanya Firman Tuhan yang menjadi dasar kebenaran. Firman Tuhan memampukan kita melawan panah-panah pikiran iblis dan memerdekakan hidup kita.
- Terus belajar untuk menjadi murid Kristus yang mau bayar harga.
Jika kita selalu menginginkan usaha yang tidak menyakitkan daging, tidak ada nilai pengorbanan. Serahkan semua yang menjadi poros hidup kita untuk Tuhan. Menaruh segala pengharapan dalam Yesus yang tidak pernah mengecewakan.
SERAHKAN SEMUA DALAM TUHAN, MAKA AKAN ADA KEMERDEKAAN!
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Berhala Terkuat
Ada begitu banyak dewa-dewa yang disembah oleh manusia di muka bumi ini. Di dalam Alkitab, kita mengenal beberapa dewa yang disembah oleh bangsa-bangsa bukan Israel. Ada dewa dagon, dewa kamon, dewa molokh dan lain-lain. Semua dewa-dewa itu telah berhasil dihancurkan dan ditundukkan oleh Tuhan. Tetapi, ada satu jenis berhala yang begitu kuat dan bahkan kita menyembahnya sampai saat ini. Berhala itu bernama “saya“.
Mengapa “saya” menjadi sebuah berhala? Karena seringkali, segala sesuatunya haruslah berpusat kepada saya dan saya, pada diri sendiri. Semua orang harus mencintai saya, semua orang harus menerima pendapat saya. Inilah berhala yang sangat kuat dan paling sulit untuk dihancurkan.
Kita rindu dicintai, dihargai dan dikasihi. Tetapi sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mencintai kita sesuai dengan cara kita. Kita tidak bisa mengatur orang lain untuk mengasihi kita, tetapi kita bisa mengatur diri kita sendiri untuk memberikan cinta pada orang lain, untuk memberikan pengampunan kepada orang lain. Itu adalah prinsip yang Tuhan berikan kepada kita melalui hukumnya yang terutama dan utama.
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Matius 22: 37-39
Alkitab tidak menyatakan “kasihilah dirimu“, melainkan “kasihilah sesamamu manusia“. Tetapi manusia masih memakai prinsip “kasihilah dirimu“. Kalau kita tidak berhasil mengalahkan berhala bernama “saya” atau diri sendiri ini, kita tidak akan dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam diri kita.
Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
2 Korintus 4:16
Apakah hari-hari ini kita tawar hati dengan Tuhan? Kita tawar dengan pengajaran, dengan Firman Tuhan, dengan doa dan kegiatan kerohanian. Bagaimana kita tidak tawar hati, jika kita tidak berhenti memuja diri sendiri. Kita harus stop memuja diri sendiri! Kasih tidaklah egois. Yesus telah menunjukkan diriNya yang tidak menjadikan diriNya manusia menjadi berhala. Ketika akan disalibkan, Yesus berkuasa untuk menyelamatkan diriNya sendiri. Tetapi jika Ia melakukan itu, tentu kita manusia tidak dapat diselamatkan.
Ketika kita pelayanan, tetapi kita mengharapkan suatu kembalian, sebagai upah atas pelayanan kita, kita hanya akan menjadi letih dan capek. Upaya kasih yang kita lakukan melalui pelayanan hanya akan membuat kita tawar hati. Hati yang sedang tawar akan selalu letih dan capek. Para rasul tidak pernah tawar hati. Sebagai contoh, Rasul Paulus diutus untuk pergi ke kota-kota dan bangsa-bangsa lain untuk memperkenalkan Yesus. Rasul Paulus tidak menolak atau bertanya “mengapa harus aku? Yang lain saja“. Ia menerima dan pergi dengan percaya, karena ia tahu, mungkin tanpa pelayanannya, bangsa-bangsa lain tidak dapat mengenal kebenaran. Ia telah menghancurkan berhala “saya” dalam dirinya. Bahkan ia menyatakan bahwa “aku ini adalah tawanan roh“. Hidupnya bukanlah untuk dirinya sendiri lagi.
Terkadang perintah Tuhan bukan untuk mempertahankan mimpi-mimpi kita, tetapi untuk melepaskan dan menyerahkannya dalam tangan Tuhan.
Seperti dewa dagon yang pada kisahnya, ia bersujud menyembah Tabut Perjanjian ketika tabut itu satu ruangan dengannya. Bahkan ia memenggal kepalanya di hari kedua.
Ketika kita “memenggal” keakuan kita, kemuliaan Tuhan akan dinyatakan.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Hidup oleh Roh
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.
Roma 8:1-8
Terkadang kita berpikir, hidup di dalam roh itu sangat sulit dan sangat susah untuk dijalani. Sebab, selama kita hidup di dalam daging, kita selalu terus bergumul dengan dosa-dosa kita. Oleh karena itu kita harus memahami dan mengenali sifat-sifat dari dosa, misalnya avon.
Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7-26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.
Roma 7:20-21, 24, 27
Ayat di atas bukanlah alasan untuk membuka jalan kalau kita bisa bebas berbuat dosa. Tubuh kita ini adalah tubuh celaka. Selama kita hidup kita akan terus bergumul dalam dosa. Tetapi orang-orang yang didalam kristus tidak lagi mengalami penghukuman karena Kristus telah mati untuk menebus semua dosa-dosa kita. Kita hidup didalam roh, maka kita memikirkan hal-hal dari roh dan fokus. Hidup kita, gairah, cinta kita adalah hal-hal yang rohani.
Memikirkan hal-hal yang rohani bukan saja tugas seorang lewi atau seorang pendeta. Tetapi, berlaku untuk semua orang baik yang bekerja di hal-hal rohani maupun yang bekerja di dunia sekuler.
Fokus hidup kita adalah Tuhan, di manapun dan apapun yang kita kita kerjakan. Contoh yang sederhana ketika kita jatuh cinta, kita tentu akan fokus kita ke orang yang kita cintai. Tetapi, walaupun fokus kita ke orang yang kita cintai, pasti ada hal-hal yang bisa kita lakukan diluar yang berhubungan dengan orang yang kita cintai. Memikirkan hal-hal yang rohani adalah fokus hidupnya, aktivitasnya selalu ditunjukan untuk hal-hal yang rohani. Dimana, semua fokus kita untuk kemuliaan Tuhan walaupun kita bekerja di dunia sekuler.
Sudahkah kita berpikir atau bertanya apa yang kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan? Keinginan roh adalah damai sejahtera, tetapi keinginan daging berujung pada maut adalah keinginan yang memuaskan nafsu dan keinginan kita. Ciri-ciri orang rohani tidak dilihat dari seberapa sering pelayanan, rajin datang recom, rajin ke gereja dan lain-lain. Tetapi dilihat dari gaya hidupnya, semuanya di serahkan kepada Tuhan. Sudahkah kita melakukan penyerahan total? Maukah kita melakukan penyerahan total kepada Tuhan?
Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
Roma 8:9
Orang yang tidak memiliki Roh Kudus, bukanlah milik kristus. Jika kita menyerahkan hidup kita seutuhnya kepada Tuhan, seharusnya kita tidak akan protes kepada Tuhan dan selalu berkata “aku milik Kristus dan kepunyaan Kristus”. Kita adalah pengikut Kristus jadi harus berani berbeda. Jangan sampai kita memiliki pikiran-pikiran jahat. Sebab pikiran jahat berasal dari iri hati, kepahitan dan lain sebagainya. Orang yang hidupnya belum pulih akan hidup didalam perbudakan.
Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.
Roma 8:10-13
Oleh roh kita akan mematikan perbuatan daging. Pengikut Kristus bukanlah sebuah agama saja, melainkan sebuah gaya hidup. Memikirkan apa yang Tuhan pikirkan (what would jesus do). Gaya hidup kita harus menjadi gaya hidup kristus yang membawa damai sejahtera. Sebab, kita adalah buku terbuka. Bagaimana kita mau bersaksi sedangkan gaya hidup kita jauh dari mencerminkan pribadi Yesus Kristus. Bagaimana hidup bisa berbuah dan membangun kalau gaya hidup kita jauh dari cara hidup Kristus. Oleh karena itu, gaya hidup kita harus seperti gaya hidup kristus agar orang yang melihat menjadi percaya dan melihat Kristus.
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
2 Timotius 3:1-5
Ketika kita hidup didalam Roh, semua hidup kita hanya untuk Tuhan. Sebab semua orang yang di pimpin Roh Tuhan adalah anak-anak Tuhan. Dan sebagai anak-anak Tuhan, kita akan menerima janji-janji dan warisan dari Tuhan, sebab kita adalah ahli waris Kerajaan Sorga.
Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
Roma 8 : 17
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Pohon yang Berbuah
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Mazmur 1:3
Ada 4 kata “yang” yang merupakan janji Tuhan kepada anak-anakNya. “Yang ditanam di tepi aliran air, menghasilkan buah pada musimnya, tidak layu daunnya dan apa saja yang mereka perbuat berhasil.” Sungguh luar biasa bukan janji Tuhan? Tapi, janji ini tidak bisa serta merta kita dapatkan. Ada syarat yang harus dipenuhi. Syarat tersebut ada pada ayat yang kedua.
Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,
dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Mazmur 1:2
Sudakah kita melakukannya? Sudahkah firman Tuhan menyatu dengan kita? Ketika kita menyatu dengan Firman Tuhan, kita akan tertanam didalam Tuhan dan keempat “yang” akan Tuhan berikan kepada kita. Banyak hal yang akan di dapatkan anak-anak Tuhan apabila mereka bergantung penuh pada Tuhan, mengandalkan Tuhan, bergaul dengan Tuhan dan hidup penuh didalam Tuhan meraka akan mendapatkan janji Tuhan.
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Yeremia 17:7-8
Setiap pohon memiliki karakteristik tersendiri, begitu juga dengan setiap anak Tuhan memiliki karakteristik tersendiri. Tapi terkadang anak-anak Tuhan selalu mencari jati diri. Apa panggilan Tuhan, apa rencana Tuhan di dalam hidupku? Panggilan Tuhan tidak seperti apa yang kita pikirkan, Tuhan memberikan panggilan kepada setiap kita tidak jauh dari apa yang kita sukai. Belajar berdoa belajarlah mengenal Tuhan dan rencanaNya di dalam hidup kita. Biarkan kehendak Tuhan yang sempurna terlaksana atas hidup kita. Jangan kita mengambil jalan sendiri, dan mengerjakan semua rencana-rencana kita sendiri tanpa bertanya pada Tuhan.
Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.
Amsal 19 : 21
Untuk sampai ke tanah perjanjian Tuhan pasti ada raksasa atau tantangan. Kenapa anak-anak Tuhan yang berada dalam rumah Tuhan tidak bisa masuk dalam tanah perjanjian itu? Karena anak-anak Tuhan sendiri belum pulih, dalam arti cepat marah, tidak bisa bekerja sama dan lain-lain. Padahal raksasa sebenarnya bisa dihancurkan dengan mengandalkan kuasaNya. Tetapi, berapa sering kita tidak mengandalkan Tuhan dan hanya mengandalkan kekuatan pribadi? Pribadi kita sendirilah raksasa yang harus dikalahkan. Apabila kita tidak merindukan kehendak Tuhan, kita tidak akan tahu apa kehendak Tuhan dalam hidup kita.
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Yohanes 15 : 16
Sebelum terbentuknya buah pada pohon, pertama-tama yang tumbuh dari pohon tersebut adalah daun. Daun berbicara tentang aktifitas rohani. Ayat di atas berbicara tentang buah yang tetap. Buah tetap berarti berkelanjutan, tidak berubah dan tidak berakhir berbuah. Terkadang anak-anak Tuhan yang sudah pelayanan 5 tahun, 10 tahun kita merasa sudah cukup dan mau pensiun untuk pelayanan. Tetapi Firman Tuhan berkata hendaklah buahmu tetap, jadi tidak ada kata pensiun dalam pelayanan dalam melayani Tuhan. Untuk menghasilkan buah yang tetap serta matang kita harus tertanam.
Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;
Mazmur 92 : 13
- Pohon korma
Mengapa orang benar diumpamakan dengan pohon korma? Pohon korma adalah pohon yang tumbuh di daerah timur tengah. Seperti yang kita tahu, timur tengah memiliki suhu yang cukup tinggi dan pohon korma adalah pohon yang tumbuh di tengah padang gurun. Akar pohon korma dapat menembus ketebalan pasir di padang gurun untuk mencari sumber air di dalam tanah. Pohon korma memiliki akar tunggal yang masuk jauh kedalam tanah dan sangat kuat apabila terjadi badai di padang gurun. Ciri khas dari pohon korma sendiri adalah pohon korma tumbuh terus ke atas bukan kesamping. Buah pohon korma sangat bermanfaat. Jika kita tersesat di padang gurun, kita ambil 5 buah kurma, kita akan hidup untuk 1 hari. Daun dari pohon korma sendiri dapat di pakai untuk membuat alat-alat rumah tangga seperti tikar, keranjang, kipas dan lain-lain. Lalu apa hubungan pohon korma dengan orang benar?
Orang benar harus tumbuh terus ke atas, yaitu ke Tuhan, bukan kesamping ke teman-teman, bahkan dengan teman-teman satu komsel. Dan buah orang benar pasti akan produktif dan bermanfaat buat orang-orang di sekitar mereka.
- Pohon aras
Ada apa dengan pohon aras di Lebanon? Mengapa harus di Lebanon? Ternyata pohon aras di Lebanon sangat spesial. Pohon aras adalah pohon yang sangat besar dan terus tumbuh selama ratusan tahun. Pohon ini melambangkan kekuatan dan daya tahan, serta terkenal karena ketabahannya. Pohon aras menghasilkan buah yang panjangnya 20 cm dan memerlukan tiga tahun untuk menjadi matang. Ada getah yang wangi menetes dari batang dan buahnya.
Pohon aras berbicara tentang kemegahan dan kekuasaan. Tetapi sebelum tumbuh menjadi pohon yang besar dan memiliki buah yang sangat bermanfaat bagi semua orang, pohon aras harus menunggu dalam waktu yang sangat lama untuk menghasilkan semuanya itu. Jadi untuk menghasilkan buah yang baik kita harus tekun dan taat dalam mengikuti setiap proses pertumbnuhan dalam diri kita.
Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya.
Mazmur 52:8
- Pohon zaitun
Buahnya seperti buah kismis. Selalu mengghijau disegala musim, dahan dan daunnya melambangkan perdamaian semesta. Pohon zaitun ketika ditebang maka akan banyak muncul tunas-tunas baru yang lebih dari satu tunas. Dan buah dari pohon zaitun digunakan untuk mengurapi raja-raja serta melambangkan kekuasaan. Seluruh bagian dari pohon zaitun dapat digunakan untuk kepentingan semua orang. Begitu pula dengan kita sebagai anak-anak Tuhan, apabila hidup kita seluruhnya di berikan untuk Tuhan maka hidup kita akan menjadi maksimal bagi semua orang.
“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Yohanes 15:1-8
Apabila kita tidak tinggal dalam Tuhan, tidak bergantung pada firman Tuhan kita tidak akan pernah berbuah yang baik. Sebab pengetahuan yang kita tahu secara umum tentang Tuhan tidak lebih berharga dari perjumpaan kita sendiri dengan Tuhan. Orang yang belum lahir baru pikirannya berorientasi pada dirinya sendiri bukan untuk kepentingan semua orang.
Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat.Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?”Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.
1 Korintus 10:21-24
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Elita Chandra : Pagar TUHAN
Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?
Roma 6:15-16
Di dalam kehidupan kita ada dua pilihan; menjadi hamba dosa atau hamba kebenaran. Persamaan dari keduanya adalah kita sama-sama menjadi hamba. Tetapi, yang menjadi perbedaan adalah pengabdian. Jika kita menjadi hamba dosa, kita mengabdikan diri pada perbuatan-perbuatan jahat, omongan sia-sia, terikat dengan dosa. Tuhan memindahkan kita ke terang ajaib menjadi hamba kebenaran. Status kita masih ‘hamba’ tetapi menjadi hamba kebenaran. Kita sudah tidak lagi diikat dengan dosa. Kita bebas dan merdeka dari dosa.
Pengertian hamba atau biasa disebut budak adalah orang yang tidak lagi mempunyai hak atas hidupnya. Lalu, sudahkah kita menjadi budak kebenaran?
Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
Roma 6:18
Ketika berbicara soal kemerdekaan, banyak orang yang mengartikan itu sebagai sebuah kebebasan yang hakiki. “Kita bisa berbuat bebas. Tanpa aturan seharusnya kita bisa lebih merasakan hidup yang sejati dan merdeka,” ujar kebanyakan hati manusia. Naluri manusia cenderung tidak taat pada aturan. Manusia merasa aturan adalah sebuah batasan yang menjengkelkan dan mengekang. Tuhan berkata bahwa kita masih hamba. Masih ada batasan-batasan yang Tuhan tetapkan bagi kita sebagai hamba. Tuhan mau dikemerdekaan kita ada batasan. Bila di rumah ada peraturan, pun di Kerajaan Sorga. Kemerdekaan versi dunia tidak sama dengan kemerdekaan versi Kerajaan Sorga.
Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
1 Petrus 2:16
Pertanyaannya, sudahkah kita meresponi setiap batasan yang Tuhan tetapkan dengan sukacita? Atau justru menganggap batasan tersebut sebagai sesuatu yang menghalangi kita dalam menjalani hidup yang merdeka? Bila kita menganggap itu semua adalah hal yang menghalangi kita, bertobatlah. Mengapa? Karena sesungguhnya status kita sekarang adalah hamba Tuhan. Batasan dan aturan yang Tuhan buat itu baik.
Seringkali anak-anak Tuhan gagal menyikapi aturan Tuhan. Kita sering mencari celah, supaya ketika kita melanggar kita tidak merasa berbuat dosa. Hal itu yang sering menjadi kesalahpahaman. Ada beberapa area yang Tuhan pagari. Sebagai contoh, anak balita yang baru belajar merangkak di ruang bermain akan diberi kebebasan untuk merangkak kemana saja. Tetapi pasti ada pagar yang membatasi ruang gerak balita tersebut supaya ia tidak jatuh. Sama seperti kita dijagaiNya dalam pagar Tuhan.
Apa fungsi dari pagar yang dibuat Tuhan?
- Pagar yang dibuat Tuhan membuat kita merasakan kemerdekaan dan rasa aman yang sejati. Ketika kita keluar dari pagar Tuhan, sesungguhnya kita menjadi terikat, terikat dengan dosa. Namun dunia menganggap bahwa itu adalah sebuah kebebasan yang benar. Mengapa kita harus tertanam di gereja lokal? Karena itu adalah pagar kita. Seperti anak bungsu yang memilih untuk keluar dari rumah ayahnya, pagar yang dibuat ayahnya. Ia ingin merasakan kehidupan di luar sehingga ia memberontak dan keluar. Ketika ia keluar, ia merasakan kebahagiaan yang semua, setelah itu ia mengalami kejatuhan demi kejatuhan sampai menjadi penjaga babi. Seringkali kita tertarik pada sesuatu yang semu yang ada diluar pagar batasan Tuhan sehingga kita memilih memberontak dan keluar dari pagar yang Tuhan berikan.
- Pagar melindungi kita dari hal-hal luar yang membahayakan. Semua yang terbaik telah disediakan Tuhan di area yang sudah dipagariNya. Ketika kita lahir baru, Tuhan memberikan kita kebebasan yang dibatasi oleh pagar Tuhan. Kita bebas di dalam area tersebut dan belajar untuk bertanggung jawab. Tetapi, seringkali manusia mencari jalan keluar. Saat sudah berhasil keluar, manusia bingung bagaimana cara masuk lagi ke area yang sudah Tuhan pagari. Baru di saat itulah manusia merasa bahwa kehidupan di luar pagar lebih mengecam dan jahat.
- Pagar Tuhan sebenarnya membawa berkat jika kita taat. Di dalam pagar Tuhan sudah ada berkat-berkat yang telah Ia sediakan. Kita diberi kuasa untuk menikmati berkat yang telah Tuhan sediakan. Mengapa penting menjaga kekudusan dalam hubungan berpasangan? Karena setelah kita taat, kita akan mendapat berkat dalam pernikahan. Ketaatan kita akan dianggap kebodohan bagi dunia.
Tuhan membuat pagar karena Ia menganggap kita berharga dan bernilai. Ketika kita memiliki sesuatu yang sangat berharga dan bernilai, pasti akan kita jaga dan lindungi. Demikian juga kita di mata Tuhan, kita adalah kepunyaanNya yang berharga dan karena itu kita dijaga dan dilindungi dalam pagarNya.
Cara menyikapi setiap pagar Tuhan adalah bertumbuh dewasa dalam pengenalan akan Tuhan karena itu akan mengubah cara pandang dan percaya dalam Tuhan. Ketika kita masih kecil, kita bingung dengan aturan-aturan yang orang tua kita berikan, tapi ketika sudah dewasa, kita mulai mengerti apa fungsi dari aturan tersebut. Kedewasaan kita dan pengenalan akan Dia menentukan cara pandang kita terhadap aturan-aturan yang telah Ia tetapkan. Sudahkah cara pandang kita berubah?
Di dalam pagar Tuhan ada keamanan dan perlindungan yang sejati dan sukacita yang kekal.
Mazmur 19:8-11
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Kendalikan Emosimu
Musa dan Harun adalah salah satu contoh pemimpin dalam Alkitab yang berkenan di mata Tuhan. Mereka memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju ke tanah perjanjian. Akan tetapi, Musa dan Harun pada akhirnya tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam tanah Kanaan. Mengapa demikian?
Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?” Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.
TUHAN berfirman kepada Musa: “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.” Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka.
Bilangan 20:2-13
Kisah di atas menjelaskan mengapa Musa dan Harun tidak dapat masuk ke tanah Kanaan. Pada waktu itu bangsa Israel mengeluh dan marah kepada Musa dan Harun karena kekeringan di padang gurun. Tuhan memerintahkan mereka berdua untuk berkata pada gunung batu supaya mengeluarkan air. Tetapi karena emosi mereka terhadap bangsa Israel yang marah, mereka mengambil sebuah tindakan yang fatal. Mereka memukulkan tongkat Musa pada batu itu sebanyak 2 kali, di mana itu bukan perintah Tuhan kepada mereka; mereka mengambil tindakan ceroboh karena emosi sesaat. Karena tindakan ceroboh itulah, Tuhan berkata pada Musa, “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”
Itu adalah salah satu contoh bagaimana emosi sesaat yang dapat berdampak sangat besar. Seringkali hidup manusia dikendalikan oleh emosi. Lebih gawatnya lagi, ketika emosi yang mengendalikannya adalah emosi yang sesaat. Gambar diri yang rusak adalah salah satu penyebab kita sering dikendalikan oleh emosi seseorang. Gambar diri membuat mereka merasa tidak diterima, merasa tidak dicintai. Sehingga banyak orang yang akhirnya memaksakan kehendaknya untuk dicintai seperti yang dia mau, seperti yang dia pikir. Ketika orang tidak melakukan seperti yang dia mau, maka dia akan mudah sekali kecewa, marah, sedih dan terluka. Inilah yang disebut emosi mengendalikan hidup. Ada banyak anak Tuhan yang akhirnya menjadi batu sandungan bagi orang lain karena hidupnya dikendalikan oleh emosi. Karena gambar dirinya yang rusak, dia menuntut orang lain menjadi seperti yang dia mau, dan pada akhirnya hidupnya hanya melukai orang lain.
Ketika kita mengharapkan sesuatu dan ternyata Tuhan memilih orang lain, bagaimana respon hati kita? Jangan kita menjadi marah dan emosi, tapi belajar untuk introspeksi diri. Apakah kita sudah memiliki motivasi yang benar dalam mengharapkan sesuatu itu? Apakah kita mengharapkan hal itu untuk kemuliaan kita sendiri atau kemuliaan Tuhan? Belajar introspeksi, belajar menyelidiki. Karena jangan sampai kita mengambil wewenang Tuhan hanya karena emosi sesaat kita. Seperti Musa dan Harun, yang mengambil wewenang Tuhan untuk menyatakan mujizatnya kepada bangsa Israel. Hingga akhirnya Tuhan tidak lagi berkenan atas mereka.
Ketika hidup kita sudah di dalam Tuhan, seharusnya kita yang mengendalikan emosi, bukan sebaliknya. Kita harus belajar meredam emosi dan miliki gambar diri yang benar. Untuk memiliki gambar diri yang benar adalah sebuah proses, proses untuk dilahirkan kembali. Proses pembentukan karakter yang benar di dalam Tuhan akan mendewasakan setiap kita. Seorang yang dewasa adalah seorang yang mampu mengendalikan perasaan dan emosinya dengan baik. Oleh karena itu, karakter kita perlu diubahkan semakin lama semakin serupa dengan Kristus. Kita harus jadi terang, menjadi dampak untuk orang-orang disekeliling kita. Menjadi pribadi yang bukan hanya “meminta”, tetapi pribadi yang “memberi”. Menjadi pribadi yang bukan hanya maunya “didengarkan”, tapi pribadi yang mau “mendengarkan” orang lain. Sebab di mata Tuhan, pelayanan yang terbaik adalah mendengarkan.
Kunci untuk masuk dalam tanah perjanjian bukan hanya iman, tetapi juga kesabaran. Ketika kita mampu mengendalikan emosi kita dan menjadi sabar, saat itulah kita dapat memasuki tanah perjanjian Tuhan. Seandainya Musa dan Harun bersabar dan mengikuti semua perintah Tuhan, mungkin pada waktu itu mereka dapat masuk ke tanah yang dijanjikan oleh Tuhan. Karena itu kita perlu miliki kesabaran dalam menghadapi segala sesuatu, sehingga janji-janji Tuhan ada dalam tangan kita.
Baiklah kita mengerjakan kerinduan Tuhan tidak dengan emosi. Mari kita belajar dari banyak tokoh Alkitab yang jatuh. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan mereka. Saat kita percaya dan hidup di dalam Dia, biarkan Yesus yang menguasai hidup kita sepenuhnya. Kendalikan emosi kita, miliki gambar diri yang benar, bersabar, dan pegang Yesus dalam segala perkara.. maka hidup kita akan menjadi terang bagi banyak orang. God Bless You.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Evie Mehita : Mulutmu Harimaumu
Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Yakobus 1:19-21
Siapa sih, yang tidak suka berkata-kata? Semakin ramai, semakin asyik!
Firman Tuhan berkata kita tidak bisa menghalangi apa yang akan kita dengar, bisa berita buruk, berita negatif, prasangka orang, gosip dan lain sebagainya. Namun kita belajar untuk tidak langsung memberikan reaksi atas apa yang kita dengar. Lambat berkata-kata dan lambat untuk marah. Sebelum kita bereaksi, cobalah kita memikirkan dahulu apa yang kita dengar dengan kepala dingin, sehingga kita akan dihindarkan dari dosa amarah.
Semakin banyak berkata-kata, semakin banyak hal negatif yang kita terima. Semakin kita mengungkapkan isi hati dan ingin membereskan sesuatu kepada seseorang, justru semakin membuat sesuatu menjadi tidak beres dan akan membuat kedua pihak semakin menjauh.
Amarah manusia tidak pernah menghasilkan kebenaran. Lalu bagaimana dengan amarah Tuhan? Kita semua tahu bahwa Tuhan pun pernah marah. Tetapi amarah Tuhan berbeda, amarah Tuhan berdasarkan kebenaran, kebijaksanaan hati Tuhan dan memiliki tujuan kepada sesuatu yang baik. Namun amarah manusia seringkali hanya berdasarkan pada kedagingan semata sehingga tidak benar di hadapan Tuhan.
Tetapi pada hari sesudah bulan baru itu, pada hari yang kedua, ketika tempat Daud masih tinggal kosong, bertanyalah Saul kepada Yonatan, anaknya: “Mengapa anak Isai tidak datang makan, baik kemarin maupun hari ini?”Jawab Yonatan kepada Saul: “Daud telah meminta dengan sangat kepadaku untuk pergi ke Betlehem, katanya: Biarkanlah aku pergi, sebab ada upacara pengorbanan bagi kaum kami di kota, dan saudara-saudaraku sendirilah yang memanggil aku. Oleh sebab itu, jika engkau mengasihi aku, berilah izin kepadaku untuk menengok saudara-saudaraku. Itulah sebabnya ia tidak datang ke perjamuan raja.”
Lalu bangkitlah amarah Saul kepada Yonatan, katanya kepadanya: “Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu? Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh. Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati.”
Tetapi Yonatan menjawab Saul, ayahnya itu, katanya kepadanya: “Mengapa ia harus dibunuh? Apa yang dilakukannya?” Lalu Saul melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Maka tahulah Yonatan, bahwa ayahnya telah mengambil keputusan untuk membunuh Daud.
1 Samuel 20:27-33
Amarah Saul tidak dapat dibendung lagi dan ketika Yonatan, anak Saul sendiri yang begitu mengasihi Daud, tidak menerima amarah Saul tersebut, sehingga Saul menjadi begitu marah dan melempar tombak kepadanya. Saul mengalami amarah yang tidak terkendali.
Setiap emosi negatif kita memiliki magnet untuk berhubungan dengan emosi-emosi dan dosa-dosa lainnya.
Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.“
1 Samuel 18:6-7
Saul begitu membenci Daud. Pada awalnya, ia tidak membenci Daud, bahkan ia menyukainya. Saul memberikan peralatan perangnya ketika melawan Goliat, ia senang mendengar permainan kecapi Daud. Tapi ketika Daud semakin diangkat Tuhan dan dipuji-puji oleh bangsa Israel, Saul menjadi sangat iri kepada Daud. Saul merasa tidak aman dan tidak yakin akan panggilan Tuhan. Saul memiliki permasalahan dalam dirinya yang belum dibereskan, dan ketika area ini tersentuh, ia menjadi begitu marah. Area tersebut adalah dibandingkan. Setiap kita mungkin tanpa sadar, sejak kecil, kita dibandingkan. Hal inilah yang membaut emosi kita menjadi berantakan. Ada emosi yang tidak terlihat, ada emosi yang terlihat dari sikap dan kata-kata. Mengapa kita marah?
- Ketidakadilan
Ada ketidakadilan yang memang benar-benar merupakan ketidakadilan, ada ketidakadilan yang hanya merupakan versi ktia sendiri. Ketidakadilan membuat hati kita terluka dan kita menjadi marah. - Frustasi
Frustasi karena tidak mendapatkan sesuatu yang kita harap-harapkan. - Tersakiti
Orang yang tersakiti cenderung melindungi diri dengan amarah. - Avon
Banyak orang berkata bahwa sifat pemarah adalah turunan, tetapi kita memiliki Roh Kudus yang menuntun kita untuk berubah. - Perlakuan yang diterima waktu kecil
Perlakuan yang kita terima saat kecil akan membentuk kepribadian dan karakter kita.
Amarah yang sesuai dengan Firman Tuhan bukan merupakan seuatu dosa, tapi amarah yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan adalah dosa. Marah berdasar tujuan, amarah berdasarkan kebenaran adalah amarah sesuai Firman Tuhan, tapi amarah berdasarkan situasional, amarah dari daging adalah dosa.
Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
Yakobus 4:2
Manusia menjadi iri hati karena menginginkan apa yang bukan atau belum menjadi haknya. Orang tua, sahabat, anak-anak kita membandingkan mana yang lebih baik dan lain-lain. Ini sangat merusak. Manusia menjadi iri hati karena menginginkan apa yang belum atau bukan menjadi haknya.
Hal penyebab iri hati dalam diri manusia yang kedua adalah gambar diri yang rusak. Kita ingin dikasihi seperti orang lain, kita merasa tidak dikasihi dan dihargai kalau cara mengasihinya tidak seperti yang kita bayangkan. Kalau kita tidak menerima seperti apa yang kita pikirkan, kita merasa tidak dicintai.
Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Yakobus 3:16
Orang egois adalah orang yang melihat kebahagiaan diri sendiri. Karena itulah kita belajar untuk melayani, melayani Tuhan dan sesama. Dengan kita melayani, kita akan melihat pada Tuhan dan sesama. Kalau kita hanya melihat diri sendiri, kita akan hancur. Ketika kita sudah lemah dan lelah untuk pelayanan, apa yang mempertahankan kita kalau bukan Tuhan dan sesama. Kalau kita melihat diri kita sendiri, kita tidak akan pernah bisa bertahan dan kita akan hancur. Bahkan dalam dosa sekalipun, jangan kita terus menerus melihat pada dosa, tetapi kita belajar untuk melihat Yesus dan tidak melihat diri sendiri.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Kehidupan yang Sia-sia
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat”
1 Petrus 1:18-19
Firman Tuhan mengajarkan setiap kita tentang cara hidup. Cara hidup berbicara bagaimana di dalam kehidupan kita, orang dapat melihat Kristus di dalam diri kita. Apakah cara hidup kita sudah menunjukkan cara hidup anak Tuhan? Sebagai anak Tuhan, kita haruslah memiliki cara hidup yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, bukan menjadi sama dengan dunia ini dan melakukan hal yang sia-sia.
Seringkali anak Tuhan salah mengerti tentang arti kata “proses” dengan “cara hidup yang sia-sia”. Keduanya adalah hal yang berbeda. Cara hidup yang sia-sia berbicara soal waktu, tenaga, uang, dan banyak hal lain yang kita habiskan tanpa tepat sasaran, tidak sesuai tujuan. Cara hidup yang sia-sia terjadi karena kita sendiri yang membuatnya, sedangkan proses Tuhan adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Cara hidup yang sia-sia hanya menyusahkan diri tanpa menghasilkan apa-apa, sedangkan proses Tuhan mendewasakan kita di dalam Tuhan. Bagaimana supaya cara hidup kita tidak menjadi sia-sia? Kita harus mematikan semua kedangingan kita dan melatih diri kita untuk terus hidup seturut dengan kehendak Tuhan.
Mahatma Gandhi, adalah seorang tokoh yang seringkali menyampaikan nasehat-nasehat dengan mengutip Matius 5-7, tetapi beliau adalah orang yang tidak menyukai orang Kristen. Beliau memiliki pengalaman buruk ketika berhadapan dengan orang Kristen ketika mencoba pergi ke gereja. Penerima tamu gereja menolak dia karena dia berkulit hitam. Hal ini yang membuat beliau tidak menyukai orang Kristen, sekalipun beliau sangat menyukai dan menghargai ajaran Kristen. Dari kisah ini, mengajarkan kita bahwa kita harus menjaga hidup kita. Menjadi orang Kristen bukan di gereja saja, tetapi juga keseharian kita. Menjadi anak Tuhan, kita harus menjadi berkat bagi orang lain. Supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain.
KEKRISTENAN ADALAH SEBUAH PERJALANAN.
Kekristenan kita bukan hanya sebuah agama, melainkan merupakan sebuah perjalanan rohani bersama Tuhan. Ketika kita berjalan bersama Tuhan, semakin lama seharusnya kita semakin mendekat kepada Tuhan dan kita menjadi semakin kuat. Kita akan diproses untuk menjadi dewasa dan semakin kuat.
Di dalam perjalanan mengikut Tuhan, kita akan banyak mengalami masa. Akan ada masa kita mendapatkan berkat, ada masa pembongkaran, juga ada masa kita diproses dan dibentuk Tuhan. Pembongkaran adalah satu fase yang harus kita lalui di dalam perjalanan kita bersama Tuhan. Masa ini akan sangat menyakitkan bagi kita, tetapi dalam proses pembongkaran, kita akan dibawa untuk menang dari dosa, avon, atau keterikatan kita, sehingga kita akan naik ke level yang lebih tinggi.
KERENDAHAN HATI MENDAHULUI KEHORMATAN.
Mengikut Tuhan tidak berarti kita hanya akan melalui taman yang indah, tetapi kita juga akan menghadapi “lembah baka”. Lembah baka menggambarkan sebuah kondisi yang kering, mati, dan gersang. Di sanalah, kita akan merasa kering. Namun jangan kita mengikuti arus kekeringan, tetapi kita harus bangkit dan justru semakin giat mencari Tuhan. Dan ketika kita berusaha semakin giat mencari Tuhan, lembah baka itu akan diubahkan menjadi sebuah mata air yang tidak pernah habis, yang dapat memberkati banyak orang.
Ada masa di mana Tuhan memberikan proses pembentukan dan kerendahan hati adalah kunci dalam menghadapi proses pembentukan Tuhan. Karena dengan kerendahan hati, semua proses yang harus kita lalui menjadi lebih mudah dijalani dan proses kita pun akan menjadi lebih cepat selesai. Ada hati yang mau dibentuk, hati yang mau dikoreksi, ada hati yang diserahkan kepada Tuhan dan itu menjadi kesukaan bagi Tuhan.
TUHAN MENGAJARKAN KITA UNTUK PUNYA BELAS KASIHAN.
Pada kisah Yesus memberi makan 5000 orang (Matius 14:13-14), Yesus sedang berada dalam kondisi di mana ia ingin menyendiri. Namun yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya, banyak orang mengikuti Dia dan hatinya tersentuh oleh rasa belas kasihan kepada mereka, sehingga Ia berkhotbah kepada mereka semua. Hingga saat malam tiba, Yesus menyuruh kepada para muridNya untuk memberikan makan kepada orang banyak itu. Para murid meminta Yesus menyuruh orang banyak itu untuk pulang dan makan di desa-desa terdekat, namun Yesus tetap menyuruh muridNya untuk memberikan mereka makan.
Di sisi lain, ada seorang anak yang rela memberikan 5 roti dan 2 ikan yang ada padanya untuk memberikan makan untuk orang-orang yang kelaparan itu. Anak tersebut sebenarnya bisa memilih untuk egois dan makan makanan itu sendiri, atau dia bisa saja berpikir untuk membagikan makanan yang dia punya kepada keluarga terlebih dahulu. Respon anak ini sangat baik, dia punya hati yang berbelas kasihan dan mau memberi kepada orang yang membutuhkan. Hati yang seperti inilah yang Tuhan inginkan untuk kita punyai, yakni hati yang berbelas kasihan untuk banyak orang. Seperti yang Yohanes katakan, bahwa di dalam kita akan ada aliran hidup. Artinya hidup kita punya rasa belas kasihan, dan punya kerelaan untuk memberkati orang lain lewat hidup kita.
Tuhan memberikan kita aliran air hidup. Tapi seringkali kita-lah yang menghentikan aliran itu, sehingga hidup kita tidak bisa menjadi berkat buat orang lain. Karena itu, jangan biarkan aliran air itu berhenti di tangan kita, tapi biarlah air itu terus mengalir. Dan dari hidup kita, kita akan dapat menjadi saluran berkat bagi orang-orang di sekeliling kita.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Keselamatan yang Terjamin
Saya berusaha untuk hidup benar di hadapan Tuhan, namun saya tidak bisa. Dosa selalu ada menghampiri. Contohnya, ketika saya bertobat tidak lagi mencontek ataupun memberikan contekan, teman saya memohon agar saya memberikan contekan dengan memberikan alasan-alasan mengapa ia membutuhkan bantuan. Saya menolaknya dan membuatnya sedih… Saya sudah berbuat dosa… Saya tidak mau menolong teman saya dan membuatnya terluka.
Kita tidak mungkin dapat berhenti berbuat dosa jikalau kita tidak pernah menerima kemurahan dari Tuhan. Yang membuat manusia bebas dari dosa bukanlah segala perbuatan baik kita. Tidak ada seorangpun di dunia, bahkan nabi sekalipun sanggup menjalankan taurat Tuhan 100% sempurna. Yesus datang ke dunia untuk menyelesaikan tugas, yakni menggenapi hukum Taurat dan mematahkan kutuk. Karena itulah, keselamatan kita tergantung kepada Yesus Kristus, hasil usaha kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk mendapatkannya. Tanpa kita sadar, kita sering mengingkari kuasa Yesus. Kita menjadi seorang yang sangat rohani, tapi kita sendiri meragukan keselamatan kita. Ketika kita diberi pertanyaan “jika engkau mati hari ini, apakah engkau akan masuk surga?”, 99% akan ragu menjawabnya. Ini adalah contoh kita mengingkari kuasaNya.
Kita sering diombang-ambingkan oleh pengajaran hukum taurat, bukan injil. Misalnya, suatu pengajaran mengatakan “kalau tidak berbahasa roh, tidak bisa masuk surga“. Tentu saja ini salah! Bahasa roh membuat kita dekat dengan Tuhan, tapi tidak membuat kita kehilangan keselamatan. Begitu banyak injil-injil palsu yang tidak pernah ada dalam Firman Tuhan, tapi disampaikan dan ditanamkan.
Keselamatan tidak tergantung pada perbuatan kita, tetapi dari kasih karunia.
Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.
Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”
Yohanes 5:2-7
Orang ini percaya akan adanya kesembuhan, namun tidak pernah mengalaminya sendiri. Ia mempercayai sesuatu yang salah, ia percaya kepada mitos-mitos, kepercayaan dan roh-roh agamawi yang ada. Ketika Yesus datang dan menjumpai dia, Yesus bertanya suatu pertanyaan yang konyol kepadanya “maukah engkau sembuh?“. Seharusnya, Yesus sudah tahu bahwa ia ingin sembuh. Bahkan tidak hanya Yesus, pasti semua orang tahu bahwa ia ingin sembuh. Tetapi jawaban dari orang lumpuh ini justru berbeda. Ia tidak marah, ia bahkan tidak menjawab dengan benar. Ia justru mengalihkan pembicaraan pada situasi-situasi yang ada, seolah-olah ia meminta Yesus untuk menolongnya sampai ke kolam. Sesuatu yang baik dari orang lumpuh ini adalah ia tidak kehilangan harapannya untuk sembuh selama 38 tahun.
Betesda artinya rumah kemurahan. House of Mercy, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk sembuh. Lalu mengapa orang ini tidak menerima kemurahan di rumah kemurahan? Karena ia memiliki pola pikir yang salah, pikiran-pikiran yang berkubu. Berpikir bahwa Yesus akan menolong saya ketika saya melakukan perbuatan yang wah, ketika saya melayani Dia dengan sempurna. Kita sering lupa akan hukum kasih karunia. Kesembuhan yang kita dapatkan tidak tergantung pada situasi dan kondisi, karena itu jangan salahkan situasi dan kondisi ketika kita tidak sembuh.
Ketika Yesus mati di kayu salib, dosa dan kutuk kita sudah ditanggung olehNya, karena itu Ia berkata “sudah selesai“
Barang siapa percaya Yesus sungguh-sungguh, dosanya telah diampuni dan kita diselamatkan. Ada proses pengudusan yang membuat kita semakin lama, semakin serupa dengan Yesus.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Hidup dalam Kasih Karunia
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!”
Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati.
Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup,
sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.
Roma 7:7-12
Kita percaya bahwa Tuhan datang bukan untuk membatalkan hukum taurat tetapi justru menggenapinya. Dahulu pada perjanjian lama, orang-orang yang ingin datang kepada Allah harus lewat perantara nabi. Setelah zaman perjanjian baru, kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan kapan saja. Itu semua karena kemurahan-Nya. Tanpa kemurahan Tuhan, upaya kita mengerjakan kebenaran di dunia ini adalah sia-sia.
- Published in The Shepherd's Voice









