Khotbah Ev. Christin Jedidah : Mati dan Bangkit Bersama Kristus
Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita juga akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.
Roma 6 : 5,8-9
Paskah mengingatkan kita untuk mengenang peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Ini adalah peristiwa yang penting, karena untuk inilah Kristus datang ke dunia, yaitu menebus dosa manusia. Tidak ada penebusan manusia tanpa peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya. Di dalam Roma dikatakan bahwa, “… kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya”. Tetapi apakah kita sudah hidup dalam kematian dan kebangkitan Yesus?
Sebagai pengikut Kristus yang sejati, kita harus mengalami peristiwa kematian dan kebangkitan bersama dengan Kristus. Artinya kita mati dari manusia lama kita yang tunduk kepada dosa (Roma 6:10-11), dan bangkit menjadi manusia baru dalam Tuhan (Roma 6:4). Jika kita ikut mati dan bangkit bersama dengan Kristus, artinya kita tidak lagi menyerahkan tubuh kita yang fana kepada dosa. Kita memang tidak bisa lepas dari dosa, tetapi Tuhan rindu kita menjadi pribadi yang mau senantiasa disempurnakan.
Kita belajar instrospeksi diri kita, hal apa yang harus kita perbaiki dalam hidup kita. Tuhan rindu kita ada progress; kita mengalami kemenangan demi kemenangan yang mengubahkan hidup kita. Perubahan yang kita alami akan membawa dampak untuk orang-orang yang ada di sekeliling kita. Inilah tujuan kita dilahirkan di dunia: berdampak dan membawa kemuliaan Tuhan di muka bumi.
Tugas utama kita menginjil kepada banyak orang, supaya mereka mengenal Kristus. Menginjil bukan hanya berkhotbah atau berupa perkataan, tetapi lewat hidup kita. Karena itu, kita disebut sebagai garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16). Garam adalah bumbu yang berfungsi untuk memberi rasa pada makanan. Jika garam itu menjadi tawar, dia akan kehilangan fungsinya. Demikian juga terang kita. Janganlah kita menyembunyikannya, tetapi meletakkannya di atas kaki dian, supaya orang bisa merasakan terangnya. Ketika hidup kita sungguh-sungguh menjadi garam dan terang dunia, orang akan terberkati lewat hidup kita dan nama Tuhan dipermuliakan.
Bagaimana menjadi Garam dan Terang? Ada 3P yang harus kita perhatikan, yaitu:
- Perkataan
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Efesus 4:29
Perkataan kotor yang dimaksudkan adalah perkataan umpatan dan perkataan sia-sia. Janganlah keluar kata sia-sia dari mulut kita; kita harus menjadi terang dalam perkataan kita. Kita harus bijak dalam berkata-kata, tidak semua hal dapat kita perkatakan sembarangan. Kita perlu menyaring setiap perkataan kita. Perkataan yang tidak kita jaga dengan baik, akan bisa menjadi gosip dan fitnahan yang dapat merugikan orang lain. Ada banyak orang yang memiliki gambar diri yang rusak akibat dari perkataan orang tua mereka yang salah. Bahkan perkataan yang merujuk kepada bullying juga dapat membunuh karakter orang lain.
Dalam Yakobus 3:1-12, dijelaskan bahwa lidah kita mengambil peranan yang penting. Jika lidah kita cemar, maka cemarlah seluruh tubuh kita. Untuk menjinakkan lidah dan perkataan kita memang membutuhkan proses, karena itu kita harus belajar untuk mematikan setiap perkataan-perkataan kita yang jahat. Sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu memiliki perkataan-perkataan Kristus dalam hidup kita, yakni kata-kata yang membangun (Kolose 3:16).
- Pikiran
Pikiran adalah pusat dari peperangan rohani. Pikiran berpengaruh terhadap perkataan dan perbuatan kita. Pikiran muncul dari apa yang kita lihat dan kita dengar. Karena tidak semua yang kita lihat dan dengar baik, maka kita perlu memilah-milah. Sebab dari pikiran, akan timbul keinginan. Hati-hati dengan dosa keinginan/ dosa pikiran. Jika pada zaman dahulu, orang yang berzinah itu dikatakan berdosa, tetapi Yesus berkata bahwa ketika pikirannya mengingininya saja sudah dikatakan berdosa.
Pikiran kita juga mempengaruhi perasaan dan respon kita terhadap sesuatu. Ketika respon dan perasaan mengikuti pikiran kita yang jahat, maka perkataan dan perbuatan kita pun juga akan condong kepada hal yang jahat. Pikiran yang iri hati, akan mempengaruhi hati kita untuk menjadi iri dan terluka. Karena itu, kita harus menaklukkan pikiran kita kepada Tuhan (2 Kor 10:5). Kita harus sadar bahwa peperangan rohani sungguh nyata. Iblis akan selalu berusaha menjatuhkan kita sebagai anak Tuhan. Jangan sampai kita dikuasai oleh pikiran jahat dan berpengaruh kepada perbuatan kita.
Karena itu, mari kita memikirkan apa yang berkenan kepada Tuhan (Filipi 4:8).
- Perbuatan
Perbuatan kita adalah output dari pikiran kita. Jika pikiran kita baik, maka perbuatan yang dilakukan pun menjadi baik. Namun, ketika pikiran kita dikuasai dengan kejahatan, maka output yang dikeluarkan pun demikian. Karena itu, mengendalikan dan menguasai pikiran itu penting. Supaya apa yang kita lakukan dapat memancarkan terang untuk orang-orang di sekeliling kita.
Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
1 Petrus 1:14-15,18-19
Hidup kita yang lama sudah mati. Mari kita bangkit dan menjalani hidup kita yang baru. Belajarlah hidup kudus d hadapan Tuhan, karena Yesus adalah Kudus. Jangan kita hidup seperti manusia lama kita, karena kita sudah di tebus oleh Yesus Kristus. Sekalipun ada dosa-dosa keturunan yang membuat kita sangat sulit untuk bangkit, tetapi Tuhan-lah yang terlebih sanggup. Dia sanggup mengubahkan setiap kita.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Tuhan Sudah Membayar Lunas
Ketika kita membayar sesuatu dengan mahal, kita akan menganggap itu sangat berharga bagi kita. Demikian pula jika kita merasa memiliki sesuatu, kita akan merasa hal itu berharga untuk kita. Kita bisa dengan mudah mengkritik banyak hal ketika memasuki rumah orang lain, tetapi di dalam rumah kita sendiri, kita akan membersihkan dan menghargai apa yang ada di dalamnya. Demikian juga dengan kita, jemaat perlu belajar untuk memiliki gereja dan menghargai apa yang ada di dalamnya. Sehingga kita merasa bahwa itu adalah sesuatu yang berharga.
“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
1 Korintus 6:20
Seringkali kita kurang menghargai apa yang Tuhan berikan dalam hidup kita karena kita menganggap diri kita tidak berharga. Bagaimana kamu memandang dirimu? Kita bisa merasa bahwa diri kita buruk, penuh dengan dosa dan kegagalan, sehingga kita dihantui rasa bersalah dan membuat diri kita merasa tidak berharga lagi. Tetapi dalam Firman Tuhan dikatakan bahwa kita telah dibeli dan lunas dibayar dari dosa. Tuhan telah membayar lunas kita dengan darahNya yang tercurah di kayu salib. Di mata Tuhan kita sangat berharga. Karena itu, Yesus relakan hidupnya untuk menebus setiap kita.
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah.- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab, kamu telah ditebus dengan harga lunas. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
1 Korintus 6:19
Diri kita adalah bait Roh Kudus, sehingga diri kita bukanlah milik kita sendiri. Sama halnya dengan suami dan istri. Ketika mereka sudah terikat dalam sebuah pernikahan, hidup mereka bukan milik mereka sendiri; mereka terikat satu dengan yang lainnya. Sama halnya dengan kita; kita adalah milik Kristus, artinya kita perlu bertanya kepada Tuhan tentang segala yang terkait dengan hidup kita. Kita tidak bisa memutuskan sendiri dengan sesuka hati kita.
Orang yang sadar dirinya milik Tuhan dan terikat dengan-Nya akan selalu melibatkan Tuhan di dalam keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Ketika kita melakukan hal ini, kita akan sungguh-sungguh mengalami tuntunan dari Tuhan.
Dikatakan di ayat 20, “… Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” Jika kita sudah terikat dengan Tuhan, artinya tubuh kita juga milik Tuhan. Apapun kondisi tubuh kita, kita memerlukan tubuh ini untuk melakukan karya-karya bagi Kerajaan Allah. Kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk orang lain hanya jiwa dan roh tanpa tubuh. Kita memerlukan bibir kita untuk memperkatakan berkat; kita memerlukan kaki kita untuk melangkah kepada orang yang membutuhkan, kita memerlukan tangan kita untuk melayani sesama. Tubuh kita seharusnya digunakan kemuliaan nama Tuhan. Sudahkah tubuh kita menjadi berkat untuk orang lain? Tubuh kita sangat penting. Dengan kita menjaga kehormatan tubuh kita, kita juga menjaga kehormatan Bapa di Sorga. Karena itu, mari kita belajar untuk menghargai tubuh kita.
Paulus mengulang perkataannya dalam 1 Korintus 7:23, “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” Arti menjadi “hamba manusia” disini adalah berbicara menjadi budak dari pemikiran, kedagingan, dan jiwani manusia. Tubuh, jiwa dan roh kita perlu kita serahkan dalam tangan Tuhan, karena di dalam Tuhan kita bukan lagi hamba dosa, tetapi kita adalah hamba kebenaran.
“Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota- anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.”
Roma 6:19
Kita adalah orang-orang yang penuh dengan kelemahan. Karena itu mari kita belajar menyerahkan segalanya dalam tangan Tuhan untuk masuk dalam proses pengudusan. Proses pengudusan artinya tubuh, jiwa dan roh kita menjadi hamba kebenaran. Semua masalah dan dosa-dosa kita sudah dibayar lunas oleh Tuhan, tetapi seringkali banyak anak Tuhan masuk dalam ikatan dan pergumulan. Mereka bisa merasa bahwa diri mereka berada di dalam penjara dan tidak bisa keluar, padahal kunci itu sudah mereka miliki. Kita perlu ambil langkah iman untuk berlari ke pintu dan membukanya dengan kunci yang sudah kita miliki.
Ada cawan dari Tuhan yang harus kita minum. Kita meminumnya supaya kehendak Tuhan terjadi dalam hidup kita. Sekalipun cawan itu terasa tidak enak, tetapi cawan itu adalah obat terbaik untuk setiap kita. Kalau kita meminum cawan itu, kita akan diberi kekuatan sampai akhir. Saat dihadapkan dengan cawan kita, mungkin kita merasa tidak aman, tertolak, dan ingin lari dari Tuhan. Tetapi sebenarnya perasaan kita tidak bisa dipercaya; perasaan kita mudah berubah. Jika hidup kita dikendalikan oleh perasaan, kita hanya akan melakukan hal yang menyenangkan bagi kita. Kita akan dengan mudahnya melarikan diri dari cawan-cawan yang harus kita hadapi. Saat ini kita sedang dibentuk untuk menjadi tentara-tentara yang kuat di akhir zaman. Orang yang kuat adalah orang yang bertahan di dalam proses Tuhan. Karena itu, marilah kita senantiasa bertahan di dalam proses-proses pembentukan Tuhan.
Paulus menyampaikan kerinduannya untuk setiap jemaat Tuhan agar memiliki cara hidup seorang hamba (1 Kor 1:9-17). Hari-hari ini banyak hamba-hamba Tuhan yang tidak melayani Tuhan, tetapi menjadi hamba yang materialistis. Menjadi hamba bukan berarti tidak mengikui tren yang ada, tetapi yang kita pancarkan bukanlah kekayaan kita, melainkan spirit kita yang sungguh-sungguh melayani Tuhan.
Mari kita belajar melayani dengan hati, bukan karena upah yang kita dapat dengan melayani Tuhan, tetapi bagaimana pelayanan kita membawa kemuliaan nama Tuhan. Hidup kita haruslah jadi teladan, supaya hidup kita memancarkan Kristus. Paulus juga menyampaikan dalam 1 Korintus 6:1-7, bahwa Tuhan rindu ada penasehat-penasehat rohani yang bijaksana. Karena ketika kita menjadi pemimpin dan memberikan nasehat-nasehat yang berhikmat, kita akan memberi damai sejahtera untuk orang-orang yang kita pimpin. Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak mencampuri peperangan orang lain.
Di dalam Korintus 2 kali disebutkan bahwa kita hidup kita sudah lunas dibayar oleh Tuhan. Karena itu mari kita jangan lagi menjadi hamba kedagingan kita. Yesus sudah membayar dosa-dosa kita, tapi kita perlu belajar untuk menggunakan kunci yang telah diberikan supaya kita tampil sebagai pemenang. Jadilah orang merdeka yang memuliakan nama Tuhan!
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : First Love
Siapa yang pernah mengalami jatuh cinta untuk pertama kalinya? Mungkin untuk orang yang sudah dewasa, mereka mengalami cinta kedua, ketiga, dan seterusnya. Tetapi adakah seorang manusia yang tidak pernah mengalami jatuh cinta?
Cinta pertama dialami oleh seorang anak. Ketika baru lahir, manusia merasakan cinta kasih dari orangtuanya dalam wujud peluk dan cium seorang ibu. Bagi mereka yang tidak mengenal orangtua sejak kecil, setidaknya mereka merasakan sebuah cinta dari orang yang menemukan mereka. Semua orang pasti pernah mengalami cinta pertama. Kita mengalami cinta pertama ketika masih anak-anak. Kita mengerti kata ‘cinta’ dari orangtua atau orang-orang yang berada di sekeliling kita. Ada dua jenis cinta yang dialami oleh manusia ketika masih hidup di dunia.
- Cinta anak
Seorang anak kecil suka berharap untuk memiliki pasangan yang mempunyai figur sama dengan ayah atau ibunya. Mengapa hal ini sering terjadi? Karena cinta pertama seorang anak didapatnya melalui kasih orangtua. Ketika kita tidak mau memiliki pasangan seperti ayah atau ibu, artinya cinta pertama kita sudah rusak. Ketika cinta pertama kita rusak, itu akan menimbulkan sakit hati yang teramat dalam. Kalau tidak segera dibereskan hingga dewasa, hati kita akan menjadi keras. Akibatnya, kita tidak bisa mengecap kasih seorang bapa yang sesungguhnya. Mudah curiga dengan kasih Tuhan yang tak bersyarat.
Hati yang penuh luka harus dipulihkan!
Belajar untuk terbuka dengan Tuhan yang senantiasa memahami keadaan kita. Mungkin kita sering menyamakan perlakuan ayah yang di bumi dengan Bapa di sorga. Sehingga hal tersebut membuat kita mudah curiga dengan Tuhan dan selalu berpikiran negatif tentang-Nya. Mari kita belajar untuk percaya pada setiap rencana-Nya. Karena, setiap kali kita curiga dan mengutuki Tuhan, hati Bapa sakit.
- Cinta persahabatan/kekasih/suami-isteri
Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.
Wahyu 19 : 7
Sebagai gereja Tuhan, kita bukan hanya menjadi anak, tetapi pengantin Tuhan. Cinta kita harus mengalami pertumbuhan hari demi hari. Kita seringkali berpikir bahwa kadar cinta Tuhan kepada kita diukur dari pelayanan dan kegiatan rohani yang lain. Tetapi sesungguhnya, cinta Tuhan dari dulu, sekarang, dan sampai selamanya tetap sama. CintaNya untuk kita, tetap dan sempurna 100%. Tetapi cinta kita sebagai manusia harus mengalami perubahan. Ada keintiman dengan Tuhan yang harus kita bangun. Kita harus menjadi anak, tetapi juga harus mempunyai cinta kepada Tuhan sebagai kekasih.
Dalam ayat Hosea 2:6 tertulis “Dia akan mengejar para kekasihnya, tetapi tidak akan mencapai mereka; dia akan mencari mereka, tetapi tidak bertemu dengan mereka. Maka dia akan berkata: Aku akan pulang kembali kepada suamiku yang pertama, sebab waktu itu aku lebih berbahagia dari pada sekarang.” menggambarkan kasih Tuhan sebagai ‘suami’ kepada umat Israel.
Kita mudah sekali mencintai banyak kekasih. Cinta kita tidak stabil. Semua yang menyenangkan hati kita bisa menjadi kekasih, entah pekerjaan, persahabatan yang selalu menjadi orang ketiga antara kita dengan Tuhan. Tetapi jangan letakkan Tuhan di urutan ke-2 atau ke-3 dalam hidup kita. Belajar mencintai itu diperbolehkan, tetapi jangan sampai membuat Tuhan cemburu karena lebih mementingkan hal itu lebih dari Dia.
Tuhan mau menjadi yang pertama dan utama dalam hidup kita.
Terkadang kita juga egois. Kita ingin menjadi yang pertama untuk pasangan kita atau orang-orang yang kita sayangi. Tuhan taruh cinta di antara manusia supaya kita belajar untuk mengenal cinta-Nya Tuhan—hasrat dan kerinduan Tuhan sebagai mempelai. Tuhan mempunyai kecemburuan yang kudus. Hidup di dalam Yesus akan menemukan sukacita dan kepuasan yang kekal.
Keintiman harus kita miliki setiap hari. Keintiman berbicara tentang kedekatan hubungan pribadi dengan Tuhan. Kita memiliki komunikasi dan kepercayaan pada Tuhan.
“Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.”
2 Korintus 11:2
Arti cinta dalam Firman Tuhan; Hes = kemurahan atau mercy, kesetiaan dan kemuliaan. Ahab = aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, cinta yang penuh dengan passion dan hasrat seperti suami-isteri, sahabat, orangtua, dan anak.
TUHAN MENCINTAI KITA DENGAN SANGAT BERGAIRAH. OLEH KARENA ITU, MARILAH KITA HDUP DALAM KASIH TUHAN
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Raksasa
“Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israel; dari setiap suku nenek moyang mereka haruslah kausuruh seorang, semuanya pemimpin-pemimpin di antara mereka.”
Bilangan 13 : 2
Ingatkah kita dengan kisah dua belas pengintai tanah Kanaan? Dua belas orang pengintai tersebut adalah orang-orang pilihan dari setiap sukunya. Tetapi apa yang mereka lihat? Mereka setuju bahwa tanah Kanaan adalah tanah yang perfect—berlimpah susu dan madunya. Namun, sepuluh pengintai diantaranya memberikan informasi yang tidak menyenangkan. Ternyata ada raksasa yang diam di sana.
Seringkali ketika kita melihat janji Tuhan, kita akan mengintai hal itu lebih dahulu. Janji Tuhan memberikan kebangunan rohani bagi kita. Apa yang sering menjadi reaksi kita ketika mengintai janji yang sudah diberikan Tuhan?
- Alasan yang menghambat kegerakan Tuhan [Ay.28]. “Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.”
Ada beberapa orang yang ketika melihat janji Tuhan mereka akan berkata “tetapi…,” kata “tetapi” adalah alasan untuk tidak mengikuti kegerakan Tuhan. “Kristen tetapi,” istilahnya. “Tetapi” melunturkan keberanian iman untuk meyakini janji Tuhan. Tidak heran bila alasan “tetapi…” menjadi salah satu raksasa yang sulit dikendalikan. Apa yang menjadi alasan kita untuk tidak percaya akan janji Tuhan? - Menyebarkan kabar busuk [Ay.32a] “Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka,”
Suatu pernyataan yang dirasa buruk bagi beberapa pengintai yang tidak percaya lagi akan janji Tuhan disebarkan oleh mereka melalui kabar busuk. Seseorang yang memandang segala sesuatunya buruk memiliki ketidakberesan di area gambar diri. Secara tidak sadar, ia tidak percaya bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatunya baik bagi dirinya. Parahnya, kabar busuk yang disebarkan dapat memengaruhi orang lain. Pada Bilangan 14:1 bangsa Israel menjadi bersungut-sungut dan sedih pada Tuhan. Padahal yang mereka dengar hanyalah pendapat dari beberapa pengintai yang penakut dan tidak percaya pada Allah yang menyertai mereka. Belajarlah untuk tidak terpicu menyebarkan kabar buruk. Pandang saja Tuhan dan percaya!
- Merasa bahwa orang lain memikirkan hal yang buruk tentangnya [Ay.33] “dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.”
Merasa minder, tidak percaya diri, dan berprasangka buruk adalah ciri-ciri orang yang harus dipulihkan di area gambar diri. Bagaimana kita dapat melawan ‘raksasa’ kalau kita masih saja terus menganggap diri sendiri adalah ‘belalang’? Seharusnya kita mengalahkannya dengan Firman Tuhan.
Bagaimana seharusnya yang menjadi respon kita ketika melihat ‘raksasa’ dalam perjalanan mendapatkan janji Tuhan? [1 Samuel 17:45] Respon Daud luar biasa ketika menghadapi musuh dari Filistin. Tidak lari dan putus asa, tetapi ia menyertakan Tuhan. Respon seperti ini sama seperti dua pengintai yang menantang kemustahilan, yaitu Yosua dan Kaleb.
Percaya akan kuasa Tuhan. Iman percaya Yosua dan Kaleb membawa mereka menerima tanah yang dijanjikan oleh Tuhan. Percaya juga mendatangkan mukjizat [Matius 13:58]. Janji Allah memperkuat iman. [Roma 4:19-22]
PERCAYALAH BAHWA ALLAH SANGGUP MELAKUKAN PERKARA-PERKARA YANG BESAR! KALAHKAN RAKSASAMU!
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Menanyakan Dia
“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.” Sela
Mazmur 24:3-6
Sebagai manusia yang diciptakan Allah, kita semua rindu mengalami kemuliaan Tuhan. Rindu dekat dengan-Nya. Tetapi siapa yang diperbolehkan menerima kemuliaan Tuhan? Generasi yang menanyakan Tuhan!
Menanyakan Tuhan sama seperti mengizinkanNya untuk bekerja dalam seluruh aspek kehidupan kita sesuai rencana yang telah Ia buat. Contoh, ketika kita ingin melamar pekerjaan di suatu perusahaan, sudahkah kita bertanya pada Tuhan? Contoh konkret lainnya adalah ketika kita menyukai seseorang dan ingin melanjutkan ke hubungan yang lebih serius, sudahkah kita menjadikan-Nya sebagai Yang Berdaulat atas hubungan kita?
Dituliskan oleh Daud bahwa generasi yang mencari Tuhan akan menerima berkat dan keadilan yang menyelamatkan. Generasi seperti ini akan mengalami kebangunan rohani yang luar biasa. Pemulihan akan terjadi ketika kita mau menanyakan dan mencari Tuhan.
Mencari Tuhan dapat diilustrasikan sebagai berikut; seorang anak kecil yang berusia 1-2 tahun tentunya belum mengenal bagaimana sosok orang tua yang sesungguhnya. Ketika digendong, anak kecil tersebut akan merasa biasa saja. Tetapi ketika ia sudah mulai mengenal ayah dan ibunya, barulah ia menyadari bahwa dirinya bergantung pada mereka. Ketika berjauhan dari orang tuanya, ia merasa tidak nyaman. Ia akan protes ketika dibawa jauh oleh orang asing. Seperti halnya kita. Seharusnya kita tidak merasa biasa saja ketika iblis mulai mengintimidasi hidup kita. Justru ketika kita merasa jauh dari Tuhan, kita akan memanggil nama-Nya, mencari Dia, dan menanyakan Dia. Itulah generasi yang dimaksudkan oleh Daud.
Rindu dengan Tuhan akan lebih berharga ketika kita memiliki hati yang haus dan lapar akan kebenaran. Berbeda dengan orang yang belum mengenal Kristus. Mereka tidak pernah merasakan kehancuran hati, sehingga haus dan lapar akan kebenaran tidak akan dirasakannya. Namun, seringkali kita merasa malu bertemu Tuhan karena merasa berdosa.
Daud pernah bergumul dengan dosanya [Mazmur 51]. Apa yang menjadi respon Daud?
- “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaruilah batinku dengan roh yang teguh!” [Ay.12]. Tahir artinya bersih, sudah dikuduskan. Hati yang tahir tidak bisa terlihat dari apa yang kita lakukan, pencapaian-pencapaian yang sudah dicapai, atau apa yang menjadi rutinitas kita sekalipun itu kelihatannya rohani. Hati yang tahir hanya bisa dinilai oleh Allah sendiri. Kita harus memiliki hati yang mau menjadi tahir dan mengalami pembaruan batin dengan roh yang teguh.
- Mempersembahkan korban yang benar [Ay. 19-21]. Korban adalah hati kita yang disembelih. Korban bakaran berbicara tentang hati kita yang dibakar oleh kerinduan Tuhan. Orang yang hatinya sudah dibakar otomatis akan menjauhi dosa. Tidak cukup hanya dengan membaca Firman Tuhan dan buku-buku rohani. Mungkin kita merasa kagum dengan kesaksian orang-orang yang dipulihkan. Kita harus mengalami pembakaran hati itu sendiri. Pembakaran hati bukan hanya sebagian, tetapi seluruhnya [Ay.21].
Sudahkah kita menanyakan Dia atas segala pilihan hidup kita? Yang terpenting, sudahkah kita menyerahkan hati dan hidup kita untuk ‘terbakar’ seluruhnya?
KITA BUTUH URAPAN.
HARGA SEBUAH URAPAN ADALAH KORBAN.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Menjadi Tentara Kristus
Tahun 2018 adalah tahun bangkitnya pahlawan-pahlawan Tuhan. Menjelang kedatangan Tuhan yang semakin dekat, Tuhan menantikan anak-anakNya menjadi tentara-tentara Kristus yang bangkit bagiNya. Tentunya menjadi seorang tentara Kristus bukan perkara yang mudah. Ada kriteria-kriteria khusus yang harus dimiliki oleh seorang tentara Kristus. Tanpa memenuhi kriteria-kriteria tersebut, seseorang tidak akan bisa tentara Tuhan yang menang di akhir jaman.
Seorang tentara Kristus berfokus pada Kristus.
Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.
2 Timotius 2:3-4
Para pengatur pasukan haruslah berbicara kepada tentara, demikian: Siapakah orang yang telah mendirikan rumah baru, tetapi belum menempatinya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang menempatinya. Dan siapa telah membuat kebun anggur, tetapi belum mengecap hasilnya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengecap hasilnya. Dan siapa telah bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengawininya.
Lagi para pengatur pasukan itu harus berbicara kepada tentara demikian: Siapa takut dan lemah hati? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya hati saudara-saudaranya jangan tawar seperti hatinya. Apabila para pengatur pasukan selesai berbicara kepada tentara, maka haruslah ditunjuk kepala-kepala pasukan untuk mengepalai tentara.
Ulangan 20:5-9
Seorang tentara Kristus tidak memusingkan dirinya dengan masalah penghidupannya, tetapi hidupnya hanya berfokus pada Kristus. Seorang yang berfokus pada Tuhan semua aspek hidupnya akan dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan. Kitab Ulangan menjelaskan bahwa untuk menjadi tentara harus merelakan segalanya dan berfokus pada peperangannya.
Untuk menjadi seorang tentara Kristus, kita haruslah mengosongkan diri. Proses mengosongkan diri akan dapat kita kita lakukan ketika kita sudah mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Seperti seorang Paulus yang mengatakan bahwa, bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21), dia telah mengosongkan dirinya untuk hidup bagi Kristus. Bagi seorang Paulus, mati adalah sebuah keuntungan karena bertemu dengan Tuhan, tetapi jikalau ia harus hidup, maka hidupnya haruslah berbuah. Seperti itulah hidup yang berpusat pada Tuhan: Hidup yang berbuah. Apa yang menjadi kebanggaan kita? Semua kebanggaan kita tidaklah berarti ketika kita semakin mengenal Kristus. Ketika Kristus adalah yang terutama dalam hidup kita, kita akan selalu memberikan segala yang terbaik untuk kemuliaan nama Tuhan.
Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
Filipi 3:7-8
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Filipi 1:21
Seorang tentara Kristus memiliki Kesetiaan dan Loyalitas
Tuhan menyukai anak-anakNya yang dengan setia mengikut Dia. Tuhan tidak berkenan dengan orang yang juga “bersahabat” dengan dunia. Firman Tuhan dalam Yakobus 4:4-5 mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia berarti permusuhan dengan Allah. Kita harus sadar akan identitas kita. Kita berasal dari Kristus, bukan dari dunia ini. Jadi jangan sampai kita terikat pada dunia yang fana, tetapi terus setia mengikut Tuhan.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah yang kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Roma 12:2
Firman Tuhan katakan, bahwa janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi kita harus mencari apa yang Tuhan mau; yang sempurna dan berkenan bagi Tuhan. Karena itu, kita juga perlu menjaga pergaulan kita. Karena pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan yang baik. Menjadi pelayan Tuhan bukan hanya sekedar melakukan pelayanan di gereja saja, tetapi kita juga harus menjaga sikap dan perilaku kita sehingga orang dapat melihat Kristus dalam kehidupan anak Tuhan.
Dunia mengajarkan kita untuk punya keinginan daging dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:15-17). Kita akan diajak untuk mengejar kesenangan yang sifatnya hanya sementara. Selanjutnya kita akan dengan mudah menjadi sombong. Padahal untuk menjadi seorang tentara Kristus haruslah memiliki hati hamba: rendah hati. Tentara Kristus harus memiliki sikap yang rela untuk dibentuk dan dilatih supaya menjadi pribadi yang kuat. Seorang tentara Tuhan yang sejati akan rela berkorban untuk Kristus. Justru pengorbanan yang dia lakukan akan membuatnya bersukacita (1 Pet 4:12). Tentara Kristus yang sejati akan rela diutus kemanapun Tuhan mau utus. Karena itu mari kita relakan hati kita untuk dibimbing kemanapun Tuhan mau tuntun kita. Kerelaan hati kita yang seperti ini yang berkenan bagi Tuhan.
Banyak dari antara pahlawan-pahlawan Tuhan yang tidak dapat berperang karena mereka tertawan musuh. Iblis menawan pahlawan-pahlawan Tuhan dengan ikatan dosa, luka masa lalu, kebiasaan-kebiasaan buruk, dan bahkan kutuk. Tetapi Roh Tuhan yang ada dalam diri kita lebih besar dari semuanya. Bahkan Tuhan sudah melepaskan belenggu-belenggu kita, tetapi untuk menjadi seorang yang benar-benar bebas butuh respon dari kita untuk segera lari dari penjara-penjara kita.
Marilah kita rindu Tuhan memakai hidup kita. Hidup kita biarlah menjadi alat untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Jangan tertidur! Mari kita jadi tentara Tuhan yang bangkit di akhir jaman. Berfokus pada Kristus, dan latihlah dirimu untuk menjadi tentara-tentara yang kuat. Latih senjata-senjata kita dan menangkan banyak jiwa bagi Kristus!
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Pelita yang Padam
“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup. ”
Yohanes 8:12
Yesus mengatakan bahwa siapa yang berjalan bersamaNya tidak akan berjalan dalam kegelapan, karena Yesus adalah terang itu sendiri. Maka, semua orang yang percaya kepada Yesus seharusnya memiliki terang dalam kehidupan mereka. Sebuah kaki dian, tidak akan bercahaya jika tidak ada pelita yang diletakkan di atasnya; seperti itu juga setiap kita. Setiap anak Tuhan punya pelita. Tetapi banyak juga dari anak Tuhan yang tidak sadar bahwa pelita mereka menjadi padam. Tanpa sadar mereka menjadi sangat lelah untuk telibat dalam pelayanan. Apakah pelitamu sudah mulai padam? Ada 3 hal terbesar yang membuat pelita kita menjadi padam:
- Diletakkan di bawah gantang
“Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu
Matius 5:15
Gantang adalah sebuah wadah yang sering digunakan untuk menakar biji-bijian. Gantang berbicara tentang pekerjaan. Pekerjaan kita bisa juga membuat kita api kita kepada Tuhan menjadi padam. Seringkali tanpa sadar fokus kita bekerja bukan lagi melayani Tuhan, tetapi pencapaian-pencapaian dunia. Banyak anak Tuhan yang pada akhirnya mengejar kesuksesan dan kekayaan, sehingga api mereka di dalam Tuhan menjadi redup.
- Ditutup dengan tempayan
Tempayan berbicara tentang sifat kedagingan kita yang lama. Dalam hidup kita, kita memiliki peperangan dalam diri kita. Ada raksasa-raksasa dalam diri kita yang perlu kita menangkan. Ketika kita belum mengalahkan raksasa itu, kita akan selalu bermasalah pada area tersebut. Api kita kepada Tuhan akan dengan sangat mudah padam ketika kita terus berfokus pada masalah-masalah dalam diri kita.
- Diletakkan dibawah tempat tidur
Tempat tidur berbicara tentang percintaan atau pernikahan. Salah dalam memilih pasangan dapat membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Di saat itulah api kita kepada Tuhan menjadi redup. Karena itu penting untuk setiap kita mendoakan sebelum berpasangan, karena pasangan yang tidak sesuai kehendak Tuhan dapat menjauhkan kita dari Tuhan.
Tahun ini menjadi tahun dimana Pahlawan-Pahlawan Tuhan dibangkitkan. Karena itu, api yang senantiasa berkobar untuk Tuhan harus kita miliki. Jangan sampai api kita kepada Tuhan menjadi padam. Belajar dari kisah seorang Daud, dia menjadi pahlawan Tuhan yang berapi-api dan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Di gua adulam, Daud berhasil muncul sebagai seorang pahlawan di tengah 400 orang yang bermasalah. Kisah ini dapat kita baca di 1 Sam 22 : 1-5. Daud juga muncul sebagai pahlawan di Kehila (1 Sam 23 : 1 – 13). Daud menyelamatkan kota Kehila dari orang-orang Filistin di dalam keadaannya yang juga mengalami ketakutan. Banyak dari pasukannya yang melarang dia untuk maju berperang, tetapi Daud maju melawan Filistin karena Tuhan yang memerintahkannya. Daud pun mengalami kemenangan dalam perang itu. Kisah kepahlawanan juga muncul dari Yonatan. Yonatan berani menantang musuh Israel dari seberang dengan mengikuti kehendak Tuhan. Yonatan berhasil mengalahkan 20 orang saja, tetapi seluruh musuhnya menjadi gemetar karena mereka tahu Tuhan menyertai peperangan itu (1 Sam 14 : 1 – 15).
Untuk menjadi pahlawan Tuhan yang bangkit, kita harus menang dalam peperangan-peperangan kita. Kunci mengalami kemenangan Tuhan adalah dengan kita percaya bahwa kita memiliki urapan yang dari Tuhan. Ketika kita tidak percaya hidup kita diurapi Tuhan, maka kekalahan demi kekalahan akan kita rasakan. Seorang Daud mampu menjadi pahlawan dimanapun dan dalam keadaan apapun karena dia percaya hidupnya di urapi Tuhan. Maka, marilah kita menjadi pemenang dan terus kobarkan apimu untuk Tuhan! (EN).
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Persiapkan Dirimu!
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
2 Timotius 3:16
Firman Tuhan itu Ya dan AMIN. Walaupun telah berulang kali kita membacanya, pasti ada hal baru yang Tuhan sampaikan kepada setiap kita, sebab Firman Tuhan itu hidup. Firman Tuhan tidak akan pernah habis. Kita harus belajar dari Firman Tuhan yang tidak pernah berubah.
Perubahan yang dari Tuhan akan mengubah semua gaya hidup kita secara otomatis. Dari sikap, cara berpakaian, dan lain-lain.
Terkadang banyak orang berubah karena situasional. Pada saat kita berada di lingkungan yang rohani, gaya hidup kita juga menjadi rohani. Tetapi pada saat ini berada di luar lingkungan rohani, kita mulai keluar dari hal-hal yang rohani. Misalnya seorang yang menyukai pakaian mini kurang bahan, ketika berada di lingkungan gereja yang cara berpakaiannya sopan dan tertutup, dia mengikutinya. Tetapi pada saat dia jalan-jalan ke mall dan di luar lingkungan yang rohani, dia kembali memakai pakaian mini kesukaannya. Tidak ada integritas dalam dirinya.
Begitu juga dengan musik-musik dunia. Tidak ada larangan untuk mendengar musik dunia dan lain sebagainya, tetapi ketika itu semua dijadikan pelarian kita, itu akan menjadi kesalahan. Saat bosan dan lelah dengan banyak masalah, jangan jadikan hal-hal duniawi menjadi pelarian kita. Pergi ke tempat karaoke dan bernyanyi sampai pagi. Kita belajar, ketika kita mendapat masalah, kita datang kepada Tuhan, berdoa dan membaca Firman Tuhan. Sebab perubahan yang sempurna berasal dari Tuhan.
Jawab malaikat itu kepadanya: “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.
Lukas 1:19
Terkadang kita susah untuk mendengarkan firman Tuhan karena pahit dan mengaduk-aduk hati. Tetapi, kebenaran yang dari Tuhan adalah obat pahit yang menyembuhkan.
Kita sebagai manusia menginginkan sesuatu yang spektakuler, seperti pesta rohani, menjadi ratu, menjadi pangeran, terlihat rohani di depan semua orang dengan pelayanan kita dan gaya hidup kita. Tetapi semua ini belum tentu membuat kita siap untuk memasuki pertandingan yang sesungguhnya.
dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”
Lukas 1:17
Kita harus menjadi generasi Yohanes yang membuka jalan dan mempersiapkan jalan untuk Tuhan. Kita semua butuh dipersiapkan untuk menjadi orang-orang yang layak dihadapan Tuhan, memiliki hati yang berbalik kepada Tuhan. Sudakah hati kita sendiri berbalik kepada Tuhan? Kalau hati kita belum berbalik pada Tuhan, maka kita tidak bisa membuat hati orang lain berbalik pada Tuhan. Hati yang berbalik berbicara tentang cinta dua arah, dimana Tuhan mencintai kita dan kita juga mencintai Tuhan. Tuhan sudah mencintai kita, sudahkah kita mencintai Tuhan? Ada 3 panah iblis yang selalu ditembakkan kepada anak-anak Tuhan :
- Panah tidakaman dengan cinta Tuhan
Panah ini membuat anak-anak Tuhan selalu curiga dengan Tuhan, curiga dengan orang-orang disekitar kita, curiga dengan penerimaan-penerimaan yang ada, dan gambar diri.
- Panah damai sejahtera yang palsu
Panah ini selalu membuat anak-anak Tuhan merasa baik-baik saja dan damai apabila diluar Tuhan maupun melakukan dosa.
- Panah tujuan hidup
Tujuan hidup bukan berbicara tentang Tuhan panggil aku di suatu tempat atau menjadi apa. Tetapi kita harus melepaskan semua mimpi kita dan biarkan Tuhan mengambil alih penuh hidup kita. Belajar dari kisah Saulus yang buta selama 3 hari. Ia tidak bisa lagi melihat mimpi-mimpi besar yang sudah saulus rencanakan dan inginkan.
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Ibrani 12:7-8
Anak gampangan pada firman yang di atas jika diartikan dengan bahasa lain adalah penjahat, orang-orang yang terkutuk, dan lain sebagainya. Begitu jelek arti dari anak gampangan. Oleh karena itu, jangan mau menjadi anak-anak gampangan yang tidak memiliki tujuan. Tetapi marilah kita belajar menanggung setiap proses yang Tuhan berikan.
- Published in Sermons








