Khotbah Ev. Evie Mehita : Anak yang Sah
Kisah para tokoh di Alkitab memang menarik. Salah satunya tokoh yang satu ini: Titus. Dikatakan bahwa Titus merupakan anak rohani dari rasul Paulus. “Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama:” [1 Titus 1:4a]. Singkat cerita mengenai Titus, ia adalah orang Yunani yang diberi pelayanan oleh Paulus untuk melayani orang Kreta. Mengapa Paulus memilih Titus untuk melayani orang Kreta? Karena Paulus melihat bahwa Titus ada seorang anak muda yang memiliki semangat yang militan.
Bila Titus dikatakan sebagai anak yang sah, pasti juga ada anak yang tidak sah di dalam iman. Bagaimana seseorang bisa dikatakan sebagai anak Tuhan yang sah dalam iman? Mari kita simak Ibrani 12:5-6.
Tidak Menganggap Remeh Didikan Tuhan
“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya” [Ibrani 12:5b].
Ketaatan itu penting! Anak yang sah tidak akan menganggap remeh didikan Bapa.
Nasihat yang diberikan Tuhan itu baik adanya. Mungkin Ia menegur kita lewat pembimbing rohani, para pelayan, dan orang-orang yang berada dalam lingkup rohani kita. Namun, tidak semua orang ingin menjadi anak.
Menjadi anak berarti hidupnya diatur dan hal itu yang membuat banyak orang menghindari didikan Tuhan.
Padahal masa anak-anak adalah masa dimana kita tidak mengerti banyak hal. Maka dari itu, kita perlu untuk dididik. Kalau kita ingin menjadi dewasa secara rohani, kita harus menjadi anak terlebih dahulu. Dididik berarti juga ada rasa rendah hati untuk senantiasa mengoreksi diri. Jadi, jangan pernah menyerah untuk terus ditegur.
‘Disesah’ oleh Tuhan
“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
Jika kita mencari gambar di google dengan keyword ‘sesah’, kita akan menemukan sebuah gambar cambukan. Ini sangat kontroversi dengan pernyataan sebelumnya yaitu anak yang dikasihi-Nya.
Tuhan memiliki tujuan untuk ‘menyesah’ kita. Pertama, Tuhan tidak mau kita dihukum bersama dunia. Ia mendidik kita untuk tidak sama seperti dunia. Kedua, ia mau kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.
Orang pilihan pasti akan dilatih lebih keras daripada yang lainnya. Itu bertujuan untuk membentuk pribadi kita sehingga kita berbeda dengan orang-orang biasa. Begitu juga dengan Tuhan. Ia melatih kita dengan kasih. Ia menekan kedagingan kita, sehingga kita menjadi berbeda dengan orang dunia. Cara inilah yang menunjukkan bahwa Allah mengasihi kita. Dan itu dilakukannya kepada anak-Nya yang sah. Mungkin manusia bisa salah mendidik kita, tetapi Tuhan akan mendidik kita secara luar biasa bila kita mengijinkan-Nya untuk ‘menyesah’ kedagingan kita.
Titus mengambil peran untuk menegur orang-orang di Kreta [Titus 3:9-11]. Ini membuktikan bahwa banyak bidat-bidat yang sulit ditegur di sana. Memang ada orang-orang yang sudah diajar berkali-kali, namun tidak kunjung berubah. Kita harus bisa membedakan mana orang yang mau berubah dan mana yang tidak memiliki niat untuk berubah. Walaupun begitu, kita harus tetap mendoakan orang-orang yang tidak mau diajar agar mereka mengenal didikan Kristus.
Paulus juga menasihati Titus untuk menciptakan budaya Kristus di antara orang-orang Kreta [Titus 2]. Ada sebuah kehidupan jemaat yang dibangun. Membangun budaya kristus berarti menjadi teladan bagi orang-orang sekitar. Itulah yang seharusnya menjadi poin utama dalam kehidupan Kristen.
Kita harus menjadi teladan dan bisa mempertanggungjawabkan hidup ini di hadapan Tuhan. Menjadi anak yang sah dalam Kristus artinya kita harus mempraktekkan budaya Kristus, sehingga dunia bisa melihat cerminan Kristus di setiap perilaku kita.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Proses
Hari-hari ini banyak produk yang instan, dan begitu banyak orang menyukai hal yang instan. Tetapi sesuatu yang instan belum tentu baik untuk kita. Bukan hanya berbicara tentang sesuatu yang jasmani, tetapi juga dalam kerohanian kita. Tidak semua yang instan itu menyehatkan untuk jiwa kita. Hidup kita butuh yang namanya Proses.
Proses yang membuat kita dewasa
Proses yang membuat kita belajar dan membuat kita menjadi lebih besar. Tapi banyak orang yang tidak suka dengan proses. Orang yang tidak mengalami proses tidak akan bertahan lama. Sayangnya seringkali dalam menggapai mimpi dan ambisi kita, kita berusaha menggapainya dengan cara yang instan. Banyak orang yang ingin kaya dengan cara-cara yang instan, tetapi melanggar kebenaran Firman Tuhan. Setiap kita punya tujuan dan mimpi. Maukah kamu menyerahkan mimpi dan tujuan hidupmu supaya selaras dengan mimpi Tuhan?
Kita tidak akan pernah bisa mencapai mimpi kita tanpa penyertaan Tuhan. Kita bisa mencapai apa yang menjadi mimpi-mimpi kita, tetapi tanpa penyertaan dari Tuhan, semuanya hanya akan sia-sia. Karena itu belajar untuk diproses dan serahkan mimpimu dalam tangan Tuhan.
Mimpi apa yang sedang kau perjuangkan? Kita butuh proses untuk mencapainya. Proses itu bisa menyakitkan dan membutuhkan ketahanan mental. Banyak orang yang tidak sadar dengan proses. Sebenarnya apa yang kita kerjakan dan lalui saat ini adalah bagian dari proses. Kalau kita tidak sadar, kita akan melalui “proses” tanpa sebuah proses.
Seperti sekolah, setiap jenjang adalah proses untuk pertumbuhan kita dari kecil hingga dewasa. Kalau kita berhasil melalui proses itu, maka kita akan dapat melanjutkan ke stage yang selanjutnya. Ketika kita berhasil melalui proses dalam hidup kita, maka kita akan menjadi lebih dewasa dan matang secara rohani, kita akan memperoleh hal-hal yang sesuai dengan kerinduan Tuhan.
Tanpa proses, kita tidak akan pernah mendapatkan mimpi dari Tuhan
Tidak ada yang menyangka kalau seorang gembala bertubuh kecil seperti Daud akan diangkat menjadi raja. Tetapi Daud adalah orang pilihan Tuhan, dia adalah pribadi yang sudah diproses Tuhan. Hati Daud sangat lembut, mau dibentuk, dan menghargai Roh Tuhan dalam dirinya. Daud begitu takut kalau Roh Tuhan pergi darinya. Dia begitu intim dengan Tuhan. Inilah yang membuat hati Tuhan tertarik memandang hati Daud. Sudahkah Tuhan tertarik dengan hatimu?
Tuhan tidak butuh orang yang sempurna untuk mengerjakan mimpi-mimpiNya
Belajar dari Daud, Tuhan tidak melihat rupa, tapi Tuhan memandang hati. Daud punya kelemahan, tapi dia adalah seorang mau menyerahkan dirinya di hadapan Tuhan. Tetapi ketika dia melakukan dosa, dia segera bertobat dan berkabung dengan dosa-dosa yang dibuatnya. Ini yang disebut dengan proses. Karena itu dia memiliki tempat yang spesial di mata Tuhan. Mari kita memikat dan mencuri hati Tuhan dengan hati kita yang lembut dan mau diproses. Ketika Daud hendak diangkat menjadi raja membutuhkan proses yang panjang. Dia mengikuti semua proses Tuhan dengan setia.
Dalam kehidupan kita, kita juga akan menjalani sebuah proses untuk mengalahkan raksasa-raksasa kita. Kita harus berani seperti Daud yang maju mengalahkan Goliat. Apa raksasamu? Mungkin raksasa kita adalah zona nyaman kita. Kita tidak mau meninggalkan zona nyaman kita dan mengikuti panggilan Tuhan. Ayo kita belajar koyakkan kenyamanan kita untuk meraih apa yang menjadi visi Tuhan.
Maka berkumpullah segenap umat Israel di Silo, lalu mereka menempatkan Kemah Pertemuan di sana, karena negeri itu telah takluk kepada mereka. Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel yang belum mendapat bagian milik pusaka. Sebab itu berkatalah Yosua kepada semua orang Israel: “Berapa lama lagi kamu bermalas-malasan, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu? (Yosua 18:1-3)
Mereka sudah sangat mendekati tanah perjanjian Tuhan, tetapi mereka bermalas-malasan. Tanah perjanjian atau mimpi Tuhan itu mungkin ada di mata kita. Tetapi kemalasan kita bisa menghalangi kita untuk mencapainya. Jangan lewatkan waktu-waktu kita dengan sia-sia, tapi kita kerjakan semuanya untuk kemuliaan Tuhan.
Proses yang kita lalui dimulai dengan setia dari hal yang kecil
Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang besar kalau kita belum siap menerimanya. Perbesar kapasitas kita supaya kita bisa menampung sesuatu yang lebih besar. Untuk itu, kita harus siap diproses oleh Tuhan.Sesuatu yang baru membutuhkan kapasitas hati yang baru. Kantong yang lama; pemikiran-pemikiran kita yang yang lama, itu harus dibuang. Siapkan kantong hatimu yang baru jika kamu mau menerima sesuatu yang baru dari Tuhan. Jika kamu mau diproses, siapkan hatimu yang terbaik bagi Tuhan.
Dalam proses mungkin kita akan melalui kesengsaraan. Tetapi proses itu yang menghasilkan ketekunan dan tahan uji. Orang yang yang tahan uji adalah orang yang berpengharapan, dan pengharapan kita di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan.
Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita. Karena kita tahu, kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan. Dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:3-5)
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Live in Passion
Pernahkah kita merasa bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan? Rasanya tidak mau berhenti dan ingin terus melakukannya. Orang-orang biasa menghubungkan hal ini dengan passion.
Banyak orang bijak berkata, “Bekerjalah sesuai passion.” Orang yang memiliki passion menulis, akan selalu menulis tanpa kenal waktu. Orang yang tidak memiliki gairah dalam menulis pasti akan mengalami kesulitan ketika harus membuat esai. Itulah pengertian orang tentang passion. Padahal, passion tidak harus berupa sebuah kesenangan atau yang paling baik yang dapat kita lakukan.
Passion diambil dari kata ‘pass’ yang artinya mampu menderita. Demi melakukan passion, seseorang berani menderita. Berani membayar harga dan mau memberikan seluruh harta, waktu, dan tenaga demi mendapat kepuasan akan passion tersebut. Passion atau gairah itu akan terpancar hingga orang-orang dapat melihatnya.
Passion juga terbentuk dari kata ‘En’ dan ‘Theos’ yang artinya memiliki energi atau gairah dalam Tuhan. Energi ini tidak akan pernah ada habisnya. Suatu gairah yang berapi-api untuk melaksanakan kerinduan Tuhan di dalam hidup manusia.
“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Roma 12:11
Passion yang benar dalam Tuhan akan menghasilkan ‘buah-buah’ yang nyata. Dia memiliki gairah yang berapi-api akan melakukannya berulang-ulang. Menceritakannya dengan mata berbinar-binar agar orang lain turut merasakan rasa antusias yang ia alami.
Passion juga identik dengan rasa antusias kita terhadap suatu hal. Memiliki passion tanpa dibarengi dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan, sama saja nol. Sudahkah kita antusias dalam memuliakan nama Tuhan? Begitulah seharusnya ketika kita memiliki passion dalam Kristus. Tidak malu untuk menceritakan kasih-Nya kepada setiap orang. Kalau kita tidak memiliki gairah dalam hal ini, ada yang salah dengan api roh kita. Setiap dari kita pasti diberikan sebuah passion dari Tuhan untuk membawa jiwa-jiwa mengenal Dia. Sudahkah kita melakukan passion itu?
Tidak ada seorangpun yang bisa membayar passion atau panggilan kita di dalam Tuhan.
“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”
Matius 9:36
Passion akan membawa kita pada compassion (belas kasihan). Yesus tergerak oleh rasa belas kasihan. Belas kasihan bukan hanya tentang memberi, tetapi ada aksi lebih. Kata belas kasihan tidak ada di perjanjian lama. Barulah pada zaman perjanjian baru, orang-orang mengenal belas kasihan karena tidak bisa menggambarkan passion yang dimiliki Yesus ketika Ia menolong orang lain. Apa yang Yesus lakukan adalah hal baru bagi mereka. Itulah bukti nyata dari sebuah gairah yang membuahkan rasa belas kasihan.
Passion tidak terbatas oleh kelemahan fisik. Seseorang yang memiliki passion akan mencoba banyak hal untuk menekan kelemahannya agar tidak membatasi ruang geraknya.
Dari sebuah gairah yang berapi-api akan melahirkan sesuatu yang besar. Para rasul di perjanjian baru menghasilkan jemaat mula-mula karena passion mereka dalam menjaring jiwa kepada Kristus. Passion itu berjalan selaras dengan compassion yang akhirnya membuat banyak orang mengenal Yesus. Mereka tidak mau dibayar, tetapi mau bayar harga. Itulah passion yang sejati dalam Kristus.
HIDUPILAH PASSION KRISTUS
RASAKAN APA YANG YESUS RASAKAN
LAKUKAN APA YANG YESUS LAKUKAN
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Membangun Dasar
Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Lukas 6:47-49)
Dalam membangun sebuah bangunan ada 2 macam dasar, yaitu bangunan tanpa dasar atau bangunan dengan dasar yang kuat. Seorang yang ingin rumahnya bertahan lama, tentu harus membangun rumah itu dengan dasar yang kokoh. Sama halnya dengan sebuah bangunan yang kuat karena dasar yang kuat, demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Fondasi manakah yang kamu pilih untuk menjadi dasar hubunganmu dengan Tuhan? Tentu saja kita mau memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan. Untuk itu, kita perlu memiliki dasar yang benar. Bagaimana membangun hidup kita dengan dasar yang kuat?
Datang kepada Tuhan
Sudahkah hidup kita dipenuhi oleh Tuhan? Sudahkah kita sungguh-sungguh menjadikan Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dalam hidup kita? Kita mungkin sering mendengarkan pengajaran tentang keselamatan, tetapi sudahkah kita sungguh-sungguh mengerjakan keselamatan itu? Dalam bahasa aslinya, Tuhan artinya tuan / orang yang berkuasa dalam hidup kita. Apakah kita sudah mempercayakan seluruh hidup dan masa depan kita kepada yang seharusnya berkuasa dalam hidup kita?
Mempercayakan hidup kita artinya mengosongkan diri, yaitu “Hidupku bukannya aku lagi, tapi Yesus yang ada dalamku.”
Apakah masih ada berhala-berhala dalam hidup kita? Apakah persembahan kita sudah benar-benar dari hati kita? Tuhan melihat hati! Persembahan yang menyenangkan Tuhan adalah yang berasal dari hati yang benar. Mari kita berikan yang terbaik untuk Tuhan. Terbaik bukan berbicara tentang nominal, tapi yang terbaik berasal dari hati yang bersukacita
Bedakan rutinitas dengan passion yang rindu kita kerjakan. Jika Tuhan adalah passion kita, maka kita akan menjadikan Tuhan yang terutama dalam hidup kita. Kasih Tuhan kepada kita kekal dan tak bersyarat (kasih agape). Mari kita belajar untuk seperti Tuhan yang mengasihi orang lain dengan tanpa syarat.
Mendengar dan Melakukan Firman Tuhan
Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. (Yakobus 1:22-25)
Mari kita belajar bukan saja mendengarkan Firman, tetapi menjadi pelaku Firman Tuhan itu. Mungkin kita mengikuti banyak ibadah, atau bahkan pelayanan. Tetapi apakah kita sudah melakukan Firman Tuhan? Bahkan dalam Yakobus 2:14 dikatakan bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Kita adalah orang-orang yang “hidup”, maka biarlah Firman yang sudah kita dengar kita imani dan kita lakukan. Sebab Iman bekerjasama dengan perbuatan kita untuk menjalankan sebuah komitmen kita dihadapan Tuhan.
Komitmen itu adalah bukti dari sebuah perjanjian dan proses mengikut Tuhan
Jika kita pelajari lebih lagi, janji adalah sesuatu yang membutuhkan satu pihak saja. Tetapi dalam sebuah perjanjian dibutuhkan 2 pihak. Dan ketika kita memiliki sebuah perjanjian, dibutuhkan sebuah komitmen, bahwa kedua pihak akan menepati janjinya. Sama halnya sepasang kekasih yang mengucapkan janji di hari pernikahan mereka, keduanya mengikat sebuah perjanjian di hadapan Tuhan. Perjanjian tersebut bukan hanya tentang 1 orang, tetapi dua orang. Tuhan punya janji juga dengan kita.. dan itu membentuk sebuah perjanjian yang kekal antara kita dengan Bapa.
Kasih Tuhan tidak bersyarat, tetapi Janji Tuhan bersyarat
Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi (Keluaran 19 : 5).
Tuhan mengasihi kita tanpa syarat, tetapi janji Tuhan kepada kita mengandung sebuah syarat. Seperti ayat diatas katakan, bahwa untuk mendapatkan perjanjian berkat dari Tuhan, kita harus taat mendengarkan Firman Tuhan dan terus berpegang pada perjanjianNya untuk setiap kita. Dikatakan juga dalam Imamat 26:3-4, bahwa “Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.” Itulah syarat yang harus kita penuhi untuk mendapatkan berkat dari Tuhan.
Kita harus menjadi pelaku Firman Tuhan, sehingga kita bisa memiliki perjanjian yang indah dengan Tuhan. Dan kita harus sungguh-sungguh kepada Tuhan, sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu; Dia tidak suka kalau kita memiliki berhala lainnya. Kalau kita sudah memilki perjanjian dengan Tuhan, sudahkah kita melakukan apa yang menjadi komitmen kita di hadapan Tuhan?
Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud. (Yesaya 55:3)
Tuhan kita adalah Tuhan yang setia pada janji-janjiNya. Maukah kita benar-benar mengikat perjanjian yang kudus dengan Tuhan? Miliki komitmen untuk menepati janji-janjimu. Menjadi pelaku Firman dibutuhkan sebuah komitmen, dan itu adalah proses seumur hidup kita. Mari kita belajar setia, belajar sungguh-sungguh mengerjakan segala sesuatu dengan rela hati untuk Tuhan, bukan karena terpaksa semata. Mari kita mengerjakan segalanya dengan sukacita untuk kemuliaan nama Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Panggilan Menjala Manusia
Bacaan : Lukas 5:1-11
Hidup di dunia, pastinya kita tidak terlepas dari proses seleksi. Masuk universitas, melamar pekerjaan, bahkan masuk ke tim sepakbola selalu ada proses ini. Seleksi bertujuan untuk mendapatkan yang terbaik, sehingga orang yang tidak memenuhi kualifikasi tertentu akan gagal pada tahap ini. Ia memilih kita dengan tidak sembarangan. Sesungguhnya manusia adalah ciptaan yang gagal memenuhi kualifikasi masuk surga; hidup kudus. Betapa ajaibnya kasih karunia yang Yesus berikan sehingga melayakkan setiap kita untuk memiliki hidup yang kekal dan penuh arti. Tinggal dalam kasih karunia artinya ada gaya hidup yang tidak sama lagi. Ketika mengikuti ketetapan Tuhan dan kebenaran firman-Nya, kita akan dipandang ‘abnormal’ oleh dunia. Tetapi, pernahkah kita merasa ingin memiliki kehidupan yang ‘normal’ dan mencoba menjalani panggilan dari dunia?
Ia memilih kita dengan tidak sembarangan. Sesungguhnya manusia adalah ciptaan yang gagal memenuhi kualifikasi masuk surga; hidup kudus. Betapa ajaibnya kasih karunia yang Yesus berikan sehingga melayakkan setiap kita untuk memiliki hidup yang kekal dan penuh arti.
“Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai.” [Lukas 5:3]
Mengapa Yesus memilih kapal Simon?
Simon memiliki latar belakang sebagai nelayan. Menjala ikan adalah pekerjaan yang ia lakukan selama bertahun-tahun. Sungguh aneh bila Yesus menyuruh Simon Petrus untuk menjala ikan di tengah laut. Padahal, saat itu para nelayan hampir menyerah karena tak kunjung mendapat ikan. Yesus tidak punya pengalaman di bidang perikanan, tetapi Ia dengan yakin menyuruh Petrus ke tengah laut dan ia taat. Hasil dari ketaatannya adalah mukjizat yang terjadi, yaitu banyak ikan yang terperangkap dalam jala. Di momen itulah, Yesus mengajak Petrus untuk menjadi penjala manusia. Petrus pun menerima tawaran itu dan meninggalkan kehidupannya sebagai nelayan [Lukas 5:11].
Sama seperti Simon, Yesus bisa memanggil kita dari apapun latar belakang yang ada. Tuhan dapat berbicara dengan banyak cara yang ajaib dan kreatif. Namun, terkadang manusia memiliki pride yang membuatnya cenderung untuk ragu akan rencana-Nya. Pride adalah ketika kita mempertahankan apa yang paling benar menurut versi kita.
Mengapa Tuhan memakai kata ‘penjala’ manusia?
Karena menjala adalah kegiatan yang membutuhkan proses dan kesabaran. Kita harus mengetahui ‘ikan’ apa yang harus ditangkap, dimana lokasinya, dan mengerti bagaimana cara melempar ‘jala’. Apa yang merupakan ‘jala’ kita? Bisa pekerjaan, hobi, tempat dimana kita belajar, dll. Yang menjadi ‘ikan’ adalah orang-orang yang belum mengenal Yesus dan hidup di dalam kasih karunia. Ikan memiliki sifat tidak suka ditangkap. Kita pun dahulu menjadi ‘ikan-ikan’ yang lari dari panggilan Tuhan. Tetapi ketika Tuhan memanggil kita sebagai penjala manusia, ada suatu makna hidup sejati yang kita temukan.
Petrus pun setelah kematian Yesus kembali lagi menjadi penjala ikan. Namun, pada akhirnya Yesus mengingatkannya pada tujuan hidupnya yang sebenarnya [Yohanes 21:15]. Pada momen itulah, Petrus mendapatkan kembali gairah hidupnya sebagai penjala manusia. Sudahkah kita taat akan panggilan-Nya menjadi penjala manusia? Kita sama seperti ‘ikan’ yang terperangkap. Terperangkap dalam rencana-Nya yang besar dan ajaib.
JARINGLAH ‘IKAN’ SEBANYAK-BANYAKNYA UNTUK MENJADI PERSEMBAHAN YANG HARUM BAGI TUHAN.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Jangan Menganggur!
“Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. (Matius 20:1-7)
Tuhan tidak menginginkan kita menganggur. Sama seperti pemilik tanah yang mencari pekerja di kebun anggur, seperti itulah Tuhan. Kita digambarkan seperti pekerja-pekerja di kebun anggur Tuhan. Ladang Tuhan begitu besar dan luas, dan Tuhan mau kita tidak menganggur. Ketika pemilik kebun anggur berkata, “Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?”, seorang pekerja berkata, “Karena tidak ada orang mengupah kami.” Inilah kadang reaksi anak-anak Tuhan. “Aku tidak pelayanan karena tidak ada yang mengajakku… Tidak ada yang menawariku pelayanan..” dan akhirnya mereka tidak berbuah, tidak berdampak, dan tidak melakukan apa-apa; ini yang disebut dengan menganggur.
Tuhan rindukan kita semua dipanggil masuk dalam kebun anggurNya
Gereja harus bekerja, jangan menganggur di ladang Tuhan! Bekerja bukan berarti memperbanyak kegiatan pelayanan kita, tapi sebenarnya di ladang Tuhan kita tidak mengerjakan apa-apa. Bekerja di ladang Tuhan maksudnya melakukan sesuatu yang diinginkan oleh Tuan kita. Tuhan rindu kita memetik buah-buah kita di ladangNya.
Dalam Matius 21:33, dijelaskan sebuah perumpaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Pada masa itu, pemilik kebun anggur akan membuat pagar disekeliling kebun anggurnya menggali lubang-lubang sebagai tempat untuk memeras anggur. Dia juga akan mendirikan pos di tengah-tengahnya untuk menjaga kebun tersebut, kemudian menyewakan kebun tersebut kepada penggarap-penggarap kebun anggur. Sebagai pemilik tanah, tentunya dia berharap kebunnya menghasilkan buah. Sama halnya dengan Tuhan; Dia rindu menemukan kita menghasilkan buah bagiNya.
Dalam kisah selanjutnya, para penggarap-penggarap kebun anggur itu membunuh hamba-hamba utusan pemilik tanah, bahkan mereka juga membunuh anak pemilik kebun anggur yang diutus untuk mengambil bagian dari tuan tanah tersebut (Matius 21:34-39). Ini adalah gambaran orang yang tidak tahu diri. Mereka bukan pemilik, tapi bertindak seperti pemilik dari kebun itu. Kita dipercayakan Tuhan untuk mengelola kebun anggurnya Tuhan. Apa yang kita miliki di dunia bukanlah milik kita, itu adalah milik Tuhan yang dititipkan kepada kita. Tuhan rindu mendapati buah-buah itu dalam hidup kita.
Apa kita sudah dipercaya oleh Tuhan dari apa yang Tuhan berikan?
Jangan kita serakah seperti penggarap-penggarap kebun anggur itu. Kita mau seenaknya sendiri, dan bahkan “membunuh” siapapun yang sebenarnya memiliki hak atas kebun anggur itu. Serakah artinya menginginkan semuanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Seringkali manusia itu egois, dan tidak mau mengikuti aturan-aturan Tuhan. Kadang kita tidak mau mengikuti aturan Tuhan, karena kita tidak mau terikat. Kita tidak bisa hidup dalam aturan, karena kita serakah dan maunya sendiri. Marilah kita belajar menjadi orang yang dipercaya di kebun anggur Tuhan.
Tuhan rindu memanggil kita bekerja di ladang Tuhan. Tuhan rindu ada banyak karya yang Tuhan untuk kita semua kerjakan. Tetapi banyak yang melirik ladang lain ketika tuan tanah di depan mata kita memanggil kita untuk bekerja di ladangnya.
Marilah masuk ke ladangNya! Jangan takut masuk dalam ladang-ladang Tuhan, ladang Tuhan begitu besar dan luas. Bapa rindu memakai kita semua untuk bekerja di ladangNya, menghasilkan buah, dan menyenangkan hatiNya.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Mengasihi Yesus
Kita semua memiliki orang kita kasihi. Mungkin itu orang tua, sahabat, anak-anak, atau pasangan kita. Dan setiap orang punya cara yang berbeda-beda untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang yang mereka kasihi. Demikian juga dengan Yesus. Apakah kamu juga mengasihi Yesus?
Kita tidak dapat mencintai Yesus yang tidak kelihatan jikalau kita tidak pernah menunjukkan kasih kepada orang yang kelihatan.
Yesus pun bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihiKu?” dan Dia berkata, “Jikalau engkau mengasihiKu, gembalakanlah domba-dombaKu.” Yesus sendiri meminta bukti kepada Petrus, bahwa jika dia sungguh-sungguh mengasihi Yesus, dia akan menunjukkan cintanya kepada kehendak dan kerinduan Tuhan.
Sudahkah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan?
Yesus sudah mengasihi kita. Dia merelakan dirinya untuk menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib. Dia melakukannya dengan cinta yang total untuk setiap kita. Tuhan mau kita mencintai Dia sepenuhnya, dan Dia bisa cemburu ketika melihat kita mencintai yang lain.
Bagaimana cara kita mencintai Tuhan?
Memberikan Pujian Penyembahan yang Terbaik
Cinta identik dengan memberikan yang terbaik. Ketika kita mencntai seseorang, kita pasti ingin memberikan yang terbaik. Seperti orang tua kepada anaknya, pasti rindu memberikan makanan dengan gizi yang terbaik, pendidikan yang terbaik, dan barang-barang yang terbaik. Mari kita berikan yang terbaik untuk Tuhan. Saat kita datang ke gereja, kita memuji dan menyembah Tuhan dengan totalitas. Mari dalam setiap ibadah kita, kita memuji Tuhan dengan semarak dan penuh keagungan kepada Tuhan.
Tuhan rindu ada pemulihan pondok Daud, karena itu kita harus belajar sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan memberikan yang terbaik lewat pujian dan penyembahan kita. Pujilah Tuhan dengan segenap hati, dengan semangat. Kita memuji Tuhan bukan dengan mulut kita, tetapi dengan hati kita. Maka Tuhan akan disenangkan dengan pujian yang keluar dari hati kita.
Memberikan Waktu yang Terbaik
Waktu itu sangat berharga, karena itu berikanlah waktumu yang terbaik untuk Tuhan. Berikan quality time-mu bersama Tuhan. Banyak sekali hubungan di dunia ini mulai rusak karena tidak ada quality time. Quality time sangat diperlukan untuk membangun sebuah hubungan, karena tidak ada kedekatan tanpa quality time. Demikian juga dengan hubungan kita dengan Tuhan. Hidup kita bukan hanya ke gereja sebagai orang Kristen, tetapi juga membangun hubungan dengan Tuhan. Yesus bisa sebagai sahabat, kadang sebagai kekasih, kadang sebagai Bapa. Kita perlu komunikasi dengan Tuhan. Seringkali kita salah paham, kita curiga kepada Tuhan karena kita jarang bergaul dengan Tuhan.
Kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus, dia akan mencari tahu apa yang menjadi kesukaanNya. Untuk mengetahui apa yang Tuhan sukai, kita perlu berkomunikasi dan bergaul dengan Dia. Seperti kisah Maria dan Marta (Lukas 10:38-42), kita seringkali sibuk seperti Marta. Kita bahkan sibuk melayani, tetapi Yesus lebih menghargai orang yang dekat dengan Dia.
Melayani belum tentu mencintai, tetapi ketika kita mencintai seseorang, pasti kita melayani orang itu
Apakah kita memberikan waktu-waktu sisa untuk Tuhan? Ataukah waktu terbaik yang kita berikan untuk Tuhan? Tuhan menghargai dan menyukai ketika kita memberikan waktu terbaik kita buat Tuhan. Kita akan memberikan waktu-waktu kita jika menganggap hal itu berharga bagi kita. Apa yang kita anggap itu penting, kita akan meluangkan banyak waktu untuk itu.
Jika Yesus adalah pribadi yang berharga untuk kita, kita pasti akan selalu sediakan waktu untuk Dia.
Memberikan Korban yang Terbaik
Pada jaman dulu, korban yang dipersembahkan kepada Tuhan memiliki syarat-syarat tertentu. Orang pada jaman itu mengikuti segala peraturan karena mereka ingin memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan. Bagaimana dengan kita? Mari kita berikan tubuh kita sebagai korban persembahan yang hidup, yang kudus, dan berkenan kepada Tuhan.
Korban yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan adalah hati kita dan hidup kita
Korban adalah ketika diri kita berkata “Apapun yang Tuhan mau, aku mau berikan untuk Tuhan. Berapapun harga yang harus aku bayar untuk Tuhan, akan aku berikan.” Inilah tujuan hidup kita, yaitu menyenangkan hati Tuhan. Mari kita maksimalkan potensi yang kita punya untuk memiliki dan dimiliki visi Tuhan. Mari kita mengerjakan mimpi-mimpi Tuhan.
Dalam pelayanan ada 3D yang harus dimiliki, yaitu Doa, Daya, dan Dana. Mari kita ambil bagian berdoa untuk gereja kita. Daya berbicara tentang sumber daya manusia. Kita memberikan diri untuk melayani Tuhan di ladang-ladangNya. Dan sudahkah kita memberikan dana yang terbaik untuk Tuhan? Seperti seorang Janda yang memberikan persembahannya yang terbaik. Dia memberikan persembahan dari kekurangannya, bukan dari apa yang menjadi kelimpahannya.
Sudahkah kita mengasihi Tuhan? Berikanlah yang terbaik bagi Tuhan. Ketika kita mengasihiNya dengan tulus, apapun yang harus kita berikan tidak menjadi berat. Mengasihi Tuhan jangan hanya di bibir saja, tapi buktikan itu dengan seluruh hidup kita.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Penjaga Jiwa (Soul Keeper)
Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?”
Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”
Kejadian 4: 9
Dosa mengintip kepada Kain. Setelah pertama kali kejatuhan manusia yang pertama, terjadilah kejatuhan yang selanjutnya yang dilakukan oleh Kain. Kain menjadi iri hati dan memiliki pikiran yang buruk terhadap adiknya. Dia merasa: “Adikku kok lebih disayang dan diperhatikan oleh Tuhan, ya.. Sedangkan aku tidak..” Dia tidak mengoreksi dirinya, tapi melihat kepada orang lain. Ketika dia sudah membunuh, Tuhan bertanya: “Di mana Habel, adikmu itu?” Dia menjawab dengan membantah, “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Seringkali kita pandai beralasan. Kita tidak mau menerima kesalahan kita; kita susah ditegur dan tidak mau disalahkan.
“Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku.”
Yehezkiel 3:17
Tuhan rindu kita semua menjadi penjaga jiwa. Jangan seperti Kain yang banyak berdalih. Sebagai kakak, tentu saja dia adalah penjaga adiknya. Sebenarnya kita semua adalah penjaga buat orang lain. Kita ditetapkan Tuhan untuk menjadi penjaga bagi orang lain, jadi janganlah kita menjadi cuek dengan keadaan orang lain. Kalau kita adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan kita percaya hidup kita sudah diselamatkan oleh-Nya, maka salah satu tandanya adalah: Hidupmu akan mengalirkan sebuah aliran kehidupan. Orang yang sudah percaya hidupnya sudah diselamatkan, dia tidak akan berdiam diri dan seenaknya. Orang yang sudah diselamatkan, pastilah dia rindu orang lain juga diselamatkan. Sudahkah dalam hati kita mengalir aliran anugerah Tuhan? Apakah hati kita masih berdetak ketika melihat keluarga, teman, dan sahabat kita jatuh dalam dosa atau mengalami kemunduran di dalam Tuhan?
“Jati diri yang rusak”
Dalam kisah Musa, Tuhan beberapa kali memanggil Musa untuk memimpin bangsa Israel. Tetapi Musa beberapa kali menolak dengan banyak alasan. Dia tidak yakin bahwa dirinya dipakai Tuhan. Dia mengalami trauma dan hidup di bawah bayang-bayang kegagalan, ketakutan, dan masa lalu; Jati dirinya rusak. Inilah yang dialami oleh banyak pahlawan Tuhan. Yang seharusnya kita membebaskan bangsa Israel, tetapi kita terpuruk dengan permasalah diri kita, tembok-tembok kita, dengan trauma dan kegagalan.
Berapa banyak di antara kita yang tidak berani melangkah, tidak berani melayani sungguh-sungguh, tidak berani berikan hidup untuk Tuhan, karena memiliki trauma kegagalan. Mungkin kita pernah menjangkau jiwa, kemudian mereka lepas. Dan itu membuat kita trauma untuk menjangkau jiwa lagi. Jika kita ditinggalkan, itu adalah sebuah proses bagi kita. Tetapi kita jangan pernah berhenti menjangkau jiwa. Karena kita pasti akan memiliki anak-anak yang satu visi yang kelak akan menjadi pewaris mimpi Kerajaan Tuhan. Kita mendidik anak-anak rohani kita bukan dengan kekuatan kita, tetapi kita harus memuridkan mereka di dalam Roh Kudus. Artinya kita memiliki ikatan di dalam roh.
“Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu — dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.”
Keluaran 32:32
Musa adalah gambaran orang yang trauma dan takut melangkah, Musa yang tidak peduli dengan bangsa Israel. Tetapi Musa yang sama mengatakan, . Dulu dia begitu tidak peduli akan bangsa Israel dan menolak panggilan Tuhan, tetapi ketika dia belajar taat, ia mencintai apa yang Tuhan cintai. Kalau kita dulunya orang yang tidak peduli, ketika kita taat, mulai melangkah, mengalirkan sesuatu, kita pun akan mencintai apa yang Tuhan cintai. Yang Tuhan cintai adalah jiwa-jiwa diselamatkan. Oleh karena itu, mari kita belajar seperti Musa: taat dan melangkah.
Di dalam kisah Nabi Elisa, Tuhan memerintahkan Elisa untuk datang kepada seorang Janda. Janda itu memiliki buli-buli minyak. Elisa meminta janda itu untuk mengumpulkan bejana dan menuangkan minyak dalam bejana-bejana itu. Ketika semua bejana itu penuh, berhentilah aliran minyak tersebut. Saya percaya kita akan memiliki aliran Roh Kudus kalau kita melayani orang lain. Belajar mengalirkan aliran itu kepada orang lain. Mungkin kita tidak tahu mau melayani apa. Belajarlah dari hal yang paling simple: mendoakan orang, mengunjungi dan memperhatikan orang lain. Setiap kita adalah bejananya Tuhan. Tetapi kalau tidak ada bejana yang perlu diisi, aliran itu tidak bisa mengalir lagi. Sebagai bejana Tuhan, kita harus saling mengisi. Kita mengisi kehidupan sesama kita dengan Firman Tuhan, dengan kasih Tuhan.
Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi.
Yesaya 62:6-7
Tugas seorang pengintai adalah menjaga suatu wilayah. Mereka menjaga dari atas tembok yang paling tinggi supaya dapat melihat dari kejauhan. Sehingga mereka tahu siapa yang mau masuk ke dalam wilayah mereka. Kalau ada musuh, mereka akan meniup sangkakala supaya rakyat yang ada di dalam tembok tersebut dapat bersiap-siap. Sama halnya kalau kita menjaga diri kita dengan baik, sebetulnya kita sedang menjaga keluarga kita, gereja kita, bahkan bangsa kita.
Ada banyak orang yang berkata, “Kalau aku gak sungguh-sungguh kerja untuk keluargaku, aku tidak mengangkat keluargaku, nanti bagaimana mereka??” Kita menganggap kita sendiri yang bisa memulihkan keluarga kita. Kita bisa meninggalkan panggilan Tuhan demi menjadi superhero untuk keluarga kita. Ada banyak orang yang berusaha membuktikan diri; mereka memenuhi panggilan mereka dan panggilan dari orang tua mereka, justru mereka tidak mendapatkan tanah perjanjian yang Tuhan janjikan. Tetapi kalau kita mengikuti rencana dan panggilan Tuhan, ada mimpi Tuhan yang jauh lebih besar untuk kita dan keluarga kita. Belajar taat.. Tuhan akan turun tangan, akan ada pemeliharan Tuhan buat kita dan keluarga kita.
Menjadi seorang penjaga, kita harus melihat dari tempat yag lebih tinggi. Kita harus melihat dengan pembedaan roh. Jadilah penjaga untuk anak-anak rohani, saudara, dan teman-teman kita. Ketika ada yang mengancam kehidupan mereka, jangan diam. Lakukan sesuatu, layani mereka, dan doakan mereka. Dan ketika kita mulai melakukan itu, aliran itu akan mulai muncul. Kalau kita diam, kita akan menjadi mengalami kematian rohani karena tidak mengalirkan sesuatu. Karena itu, jangan pernah berhenti melayani Tuhan. Dan jika kita mengalirkan dari hidup kita, secara otomatis kita akan “dibersihkan dari dalam”
Apakah hari-hari ini kita menangisi jiwa-ijwa dalam doa-doa kita? Mari kita berdoa dan menangis untuk orang lain yang terhilang, tersesat, dan terluka. Sebab air mata kita seperti air yang dapat membajak tanah hati kita yang kering. Jangan biarkan hati kita menjadi tandus, tetapi terus alirkan, bahkan jadikan itu menjadi sungai yang mengalir bagi banyak orang. Mari kita melakukan pelayanan kita keluar dari tembok gereja. Pelayanan misi dan penginjilan kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Beritakan kebenaran dan keselamatan kepada mereka.
Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.
Yehezkiel 34:16
Tugas penjaga jiwa adalah mencari mereka yang terhilang, orang yang binasa, orang yang belum diselamat. Jangan kita pasif.. Kita mencari orang yang hilang, bukan tunggu mereka datang kepada kita. Untuk mencari yang terhilang ini, perlu tindakan dari kita. Yang tersesat dibawa pulang, artinya dipulihkan, ada restorasi dalam orang itu, sehingga ada pemulihan hubungannya dengan Kristus. Yang terluka dibalut dengan kasih. Yang sakit dikuatkan. Orang sakit adalah orang yang lemah. Mari kita yang sudah kuat, belajar menguatkan yang lain. Tuhan berkata dalam Yohanes 21:15-17, bahwa kalau kita mengasihi-Nya, gembalakanlah domba-domba bagi Tuhan. Artinya ada interaksi dengan jiwa-jiwa, mengingatkan, menjaga dan merawat mereka dengan kasih Kristus. Ini adalah tugas kita semua. Mari menjaga domba-domba Tuhan. Kalau kita memiliki sesuatu yang kita jaga, maka hidup kita akan lebih bermakna.
- Published in Sermons









