Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Kasih Karunia dalam KelahiranNya
Bacaan : Lukas 1 : 26-35
Natal merupakan perayaan kelahiran Yesus yang selalu dirayakan tiap tahunnya. Yesus lahir di Nazaret, di kandang domba, di dalam palungan merupakan fakta yang sudah hafal di luar kepala. Namun, ada satu pesan yang Injil Lukas ingin sampaikan di setiap momen natal yang kita rayakan: kasih karunia.
Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”
Maria merupakan wanita biasa dari keluarga biasa. Tidak tertulis bahwa Maria dipilih karena parasnya, keahliannya, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Wanita itu mendapat kasih karunia dari Allah. Ketika kita mendengar kata “kasih karunia”, secara otomatis frasa itu merujuk pada hal-hal yang sifatnya menyenangkan ‘daging’. Padahal, tidak selalu kasih karunia dianggap ‘kehadirannya’ dalam wujud hal yang menyenangkan ‘daging’. Apa makna kasih karunia yang sebenarnya?
Kasih karunia adalah sesuatu yang tidak layak kita terima, namun kita mendapatkannya
Di balik kasih karunia yang kita terima, selalu ada konsekuensi/risiko. Maria mendapat kasih karunia, sekaligus ia juga menghadapi risiko ketika menjalaninya. Mengandung saat belum bersuami tentu adalah hal yang tidak wajar pada saat itu. Walaupun begitu, Maria tetap berani mengambil konsekuensi itu [Ay. 38]. Kasih karunia harus diresponi. Respon kita adalah wujud kehendak bebas yang Tuhan berikan pada setiap penawaran-Nya. Kita adalah makhluk yang selalu dan tidak akan pernah menjadi sempurna, sehingga kita membutuhkan kasih karunia dari Tuhan untuk menyempurnakan hidup kita. Untuk mengerjakan kasih karunia, kita juga membutuhkan tuntunan Roh Kudus [Ay.35].
Ketika diberikan kasih karunia, janganlah kita menyia-nyiakannya.
“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” [1 Korintus 15:10]. Kasih karunia memampukan kita untuk bekerja lebih keras.
Selain kasih karunia, kelahiran Yesus juga berhubungan dengan mukjizat.
Mukjizat bisa terjadi dalam banyak hal, baik kecil maupun besar. Elisabet, saudara Maria yang disebut mandul pun mengandung [Ay.36]. Suatu hal yang sangat mengejutkan bagi Maria. Namun, Malaikat ingin meyakinkan Maria bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil [Ay. 37]. Dibutuhkan iman percaya untuk dapat mengalami mukjizat.
Sungguh dalam makna dari hari Natal yang sesungguhnya. Kelahiran Yesus ke dalam dunia bukan hanya untuk menyelamatkan orang berdosa, tetapi lewat kelahiran-Nya Ia ingin menunjukkan bagaimana kasih karunia dan mukjizat itu sungguh ada bagi orang-orang yang menantikan-Nya dengan taat dan setia.
KELAHIRAN YESUS MEYAKINKAN KITA BAHWA KASIH KARUNIA DAN MUKJIZAT MASIH ADA DI DALAM DUNIA
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Silvia Marryasa Hannah : Perkenanan
Bacaan : Ester 1
Tahun 2019 sudah tiba. Tahun mukjizat dan kasih tak bersyarat merupakan rhema bagi kita semua. Tuhan mengasihi semua orang. Namun, tidak semua tindakan manusia mendapat perkenanan Bapa. Bagaimana agar hidup kita berkenan di hadapan-Nya?
Ratu Wasti adalah gambaran sempurna seorang ratu di masa itu. Memiliki paras menawan, bergelimang harta, dan mendapat posisi utama di kerajaan Ahasyweros. Sayangnya, ia menolak untuk dipakaikan mahkota oleh sang raja. Ahasyweros pun geram dan menyingkirkan ratu. Wasti menggambarkan anak-anak Tuhan di akhir zaman. Banyak anak Tuhan yang sudah nyaman berada di comfort zone mereka sehingga menganggap remeh anugerah dari sang Raja, Yesus Kristus.
Mari kita lihat bagaimana kehidupan Ester, pengganti Wasti. Ester adalah seorang wanita biasa yang tidak memiliki ayah dan ibu. Ia pun diangkat oleh pamannya, Mordekhai. Hidup Ester bukan hidup yang diinginkan kebanyakan orang. Ia menyadari bahwa hidupnya terpuruk. Ketika ia melihat kesempatan yang dapat mengubah hidupnya, ia mau meninggalkan hidupnya yang lama dan meresponi sebaik mungkin kesempatan itu. Akhir cerita, Ester pun disenangi oleh semua orang bahkan Raja Ahasyweros. Ini semua tentang bagaimana kita mau move on dari hidup lama yang nyaman atau terpuruk ke kehidupan yang berkenan. Tuhan melihat hati manusia yang memiliki respon yang benar.
Ester adalah gambaran bagaimana kita mau move on dari hidup lama yang nyaman kepada kehidupan yang berkenan.
Kedua, untuk memiliki hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, kita harus memiliki karakter rendah hati. Karakter ini dapat kita teladani dari perilaku Ester [Ester 2:15]. Ia mau belajar mendengarkan orang lain sekalipun orang tersebut hanyalah seorang penjaga. Memiliki sikap rendah hati saja tidak cukup, melainkan menjadikan itu sebagai sebuah karakter. Kerendahan hati adalah sebuah perlindungan dan kemanan, bukan kekalahan. Mengapa? Karena kita membiarkan Tuhan untuk lebih tinggi dan lebih berkuasa dalam hidup kita.
Untuk memiliki hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, kita harus memiliki karakter rendah hati.
Kebaikan lain yang membuat Ester menjadi orang yang berkenan bagi raja adalah tindakannya yang tidak mementingkan diri sendiri. Ketika Haman ingin memunahkan semua orang Yahudi, Ester tidak tinggal diam. Ia berpuasa dan mencari akal untuk meminta belas kasih dari raja. Ester memiliki hati untuk bangsanya. Hati Tuhan berada pada jiwa-jiwa yang terhilang. Sudahkah kita memiliki hati untuk mereka? Jangan membuat ‘kerajaan’ kita sendiri, tetapi perbesar kerajaan Allah di bumi.
Untuk memiliki hidup yang berkenan, kita harus mengetahui apa yang Tuhan ingini. Miliki waktu yang berkualitas dan intim dengan-Nya, maka kita tahu bagaimana cara menyenangkan hati-Nya.
HIDUP YANG BERKENAN DI HADAPAN TUHAN ADALAH GAYA HIDUP ORANG PERCAYA
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Selamat Hari Pengutusan!
Natal selalu diidentikkan dengan kelahiran Tuhan Yesus, Ulang tahun Tuhan Yesus. Hari ulang tahun adalah hari pengutusan kita ke dunia, dimana Tuhan punya tujuan untuk setiap kita dilahirkan di dalam dunia ini.
Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (Lukas 2:52)
Ketika Yesus semakin besar, Yesus mendapatkan perkenanan Tuhan dan manusia. Ingin disukai oleh banyak orang? Maka jadilah seperti Yesus. Yesus mengasihi kita dan mati bagi kita waktu kita masih di dalam dosa. Bukankah kalau kita sungguh-sungguh bertobat dan hidup dalam Dia, Dia akan lebih lagi mengasihi kita. 2 minggu lagi kita akan memasuki tahun yang baru, mari kita belajar merenung: apakah kita sudah semakin berkenan? apakah kita sudah berbuah? dan apakah kita sudah memiliki target di tahun depan?
Di akhir jaman ini semakin banyak orang yang tidak tertarik dengan hal-hal rohani, sehingga banyak gereja-gereja membuat kegerakan, untuk membungkus kegiatan rohani menjadi menarik. Kita boleh membuat hal-hal yang menarik, tetapi jangan sampai itu melenceng dengan kebenaran Firman Tuhan. Sebuah survey mengatakan bahwa di Korea banyak dewasa muda yang hanya setahun hanya sekali sampai 2 kali saja ke gereja. Mereka beralasan karena sibuk.
Masa remaja adalah masa menanam dasar. Jika dasar kita tidak kuat, kita setelah dewasa, atau bahkan ketika tua nanti, mungkin bisa saja kita didapati tidak setia kepada Tuhan. Janganlah kita menjadi orang-orang seperti itu.
Visi kita selanjutnya adalah melatih pasukan Tuhan. Tapi itu butuh kita sendiri mau dilatih dan melatih dengan konsisten. Kita harus belajar bayar harga dan mengajari anak-anak kita untuk bayar harga. Beberapa waktu lalu, saya melayani anak-anak SMP dan SMA. Remaja itu sangat butuh untuk dibimbing. Kita bisa mudah sekali dipengaruhi dan disesatkan oleh orang lain jika kita tidak dibimbing.
Mari kita belajar memuridkan generasi di bawah kita. Bukan hanya remaja, bahkan orang tua pun butuh untuk dimuridkan. Begitu banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kita.
Sebagai murid Tuhan, kita harus memiliki 3B, yaitu Bertobat, Berubah, dan Bermisi. Ayo kita menjadi orang yang bermisi. Begitu banyak ladang yang harus dikerjakan. Maukah kita menjadi orang-orang yang mengerjakannya?
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. (2 Korintus 5:15)
Untuk memiliki hidup yang dibagi untuk orang lain itu memang tidak mudah. Mungkin kita berkata, “Ah waktuku habis.. Ah repot..” dan lain sebagainya. Tetapi ketika kamu membagi roti, kamu tidak akan kehabisan roti. Membagi kasih, kasih itu tidak akan pernah habis. Percayalah bahwa Tuhan akan memperhitungkan semua korban kita.
Hidup kita adalah sebuah perjalanan. Kalau Tuhan masih membawa kita sampai pada hari ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Kesalehan yang Sejati
Bacaan : Yesaya 58:1-12
Yesaya mengatakan tentang kesalehan yang palsu dan sejati. Bangsa Israel berkata kepada Tuhan, bahwa mereka sudah melakukan banyak hal. Mereka tiap hari datang kepada Tuhan; mengikuti semua kegiatan keagamaan dan rajin saat teduh setiap hari. Mereka aktif mengikuti acara-acara rohani. Mereka ingin dan suka mengenal jalan-jalan Tuhan. Sepertinya bangsa ini melakukan hal yang benar, dan tidak meninggalkan hukum Allah.
Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?. (Yesaya 58:3a)
Mereka sepertinya dekat dengan Tuhan, tetapi mereka merasa Tuhan tidak pernah memperhatikan mereka. Ada banyak motivasi orang berpuasa, dan juga ada macam-macam jenis puasa. Ternyata bangsa Israel yang berpuasa tidak mendapatkan jawaban dari puasa mereka kepada Tuhan. Mengapa demikian?
Yang menghalangi kita mendapatkan janji Tuhan dan kesalehan yang sejati:
Ketika kita masih mengurus urusan kita sendiri
Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. (Yesaya 58:3b)
Seringkali ketika hidup kita hanya berfokus pada “aku”, kita tidak akan mendapatkan perkenanan dari Tuhan. Hukum kasih yang terutama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.” Dan hukum yang kedua adalah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39). Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita harus mengasihi diri kita sendiri. Kita belajar, bahwa kita hidup janganlah berfokus pada diri sendiri.
Kita mau dipakai Tuhan untuk membangun Kerajaan Allah, bukan kerajaan kita sendiri.
Dalam Hagai 1 : 4 – 11, berbicara tentang membangun kembali rumah Allah. Jangan kita berfokus untuk membangun rumah kita sendiri; jangan berfokus membangun kehidupan kita sendiri, padahal rumah Tuhan menjadi reruntuhan. Mereka menabur banyak, tetapi hasilnya sedikit. Ini bukan berbicara tentang materi, tetapi tentang kepuasan mereka dalam menikmati apa yang mereka usahakan. Mungkin ada orang-orang tertentu yang bisa menghasilkan 50 juta atau 100 juta dalam 1 bulan, tetapi tidak pernah bisa menikmatinya karena sakit-sakitan. Mereka tidak dapat menikamtinya karena mereka masih mengurus urusan mereka sendiri.
Mereka berpuasa, tetapi mereka tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat.
Sesungguhnya kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan di tempat maha tinggi (Yesaya 58:4)
Mereka masih suka berbantah dan berkelahi. Ini mewakili perbuatan dosa. Mereka masih suka melakukan dosa, walaupun mereka kelihatannya rohani. Ini yang membuat mereka jauh dari Tuhan; mereka tidak mendapatkan perkenanan dari Tuhan. Orang yang memiliki kesalehan yang sejati, kita mengalami sebuah pemulihan yang sejati dari Tuhan. Yang Tuhan inginkan bukan sekedar rutinitas berpuasa. Berpuasa bukan sekedar aktifitas. Ibadah yang sesungguhnya bukan sekedar acara. Lalu apa yang Tuhan inginkan sebenarnya?
Dalam Yesaya 58:6-7, Tuhan menghendaki kehidupan kita “membuka belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk”. Tuhan ingin kita berfokus untuk mengasihi sesama kita. Apa yang menjadi belenggu dalam hidup kita? Apa yang menjadi beban yang begitu merintangi hidup kita untuk berlari kepada Tuhan? kita berdoa dan minta hikmat dari Tuhan supaya Tuhan melepaskan setiap belenggu-belenggu. Orang yang terbelenggu tidak akan bisa melakukan sesuatu.
Selama kita masih diijinkan hidup di dunia ini, kita mau hidup untuk orang lain. Kita memperhatikan kebutuhan orang lain.
Seperti halnya dalam peperangan rohani, ketika Iblis membelenggu hidup kita, itu membuat kita tidak dapat bergerak. Kita tidak bisa mengalami kehidupan yang berbuah. Tuhan mau kita memiliki kesalehan yang sejati; kita melepaskan semua yang menghalangi kita berlari bersama Tuhan. Sehingga kita bisa memerdekakan orang lain.
Sudahkah anda memiliki tujuan Tuhan dalam hidup anda?
Untuk memilikinya, kita perlu peka dengan kebutuhan orang lain. Selalu visi Tuhan adalah untuk membangun Kerajaan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang lain. Berapa banyak yang mau dipanggil Tuhan untuk dipakai jadi berkat untuk orang lain?
Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari (Yesaya 58:10)
Kita harus seimbang dalam kehidupan ini, antara pelayanan, keluarga, teman-teman, dan diri kita sendiri. Mungkin ada kalanya kita bisa lelah melayani. Tetapi ada masa juga dalam hidup kita, ketika kita belajar untuk melayani, memperhatikan kebutuhan orang lain, membagi hidup kita, disitu kita akan mendapatkan kekuatan dari Tuhan. (Ayat 11-12). Ketika kita belajar melayani orang lain disaat kita terluka, di saat itulah luka-luka kita akan disembuhkan. (ayat 8)
Di dalam kita menjawab kebutuhan orang lain, ada rahasia yang luar biasa yang Tuhan janjikan. Tuhan yang akan memperbaharui kekuatan kita. Siapkah kita, jika Tuhan ingin pakai kita menjadi perintis-perintis? Dimana kita akan menjadi batu-batu awal dari kerajaan Allah. Maukah kita sama-sama membangun visi Tuhan yang Tuhan berikan dalam hidup kita? Ketika kita melakukan Firman Tuhan, Tuhan yang akan buka jalan demi jalan.
Mari kita menjadi History Maker, membuat yang tidak ada menjadi ada, membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Menuju Akhir Zaman
Bacaan : Yoel 1;Yoel 2
Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, sebab hari Tuhan datang, sebab hari itu sudah dekat (Yoel 2:1).
Sangkalala menandakan bahaya atau ada serangan dalam sebuah peperangan. Jika kita pelajari dalam kisah sejarah, di atas tembok-tembok pertahanan yang tinggi selalu ada penjaga yang berjaga-jaga di atasnya. Ketika ada musuh yang datang menyerang, mereka akan meniup sangkakala sebagai tanda bahwa ada serangan. Sehingga orang yang mendengarnya akan berjaga dan bersiap-siap. Hari Tuhan sudah dekat. Apakah kita sudah bersiap?
Kitab Yoel menggambarkan keadaan yang terjadi pada datangnya hari-hari Tuhan di akhir zaman
Di dalam Yoel 1 dikatakan bahwa di akhir zaman akan ada belalang pengerip, belalang pindahan, belalang pindahan, belalang pelompat, dan belalang pelahap (Yoel 1:4). Belalang itu sifatnya merusak. Bahkan dikatakan dalan Yoel 1:6, “Sebab maju menyerang negeriku suatu bangsa yang kuat dan tidak terbilang banyaknya; giginya bagaikan gigi singa, dan taringnya bagaikan taring singa betina.” Di akhir zaman akan muncul pasukan perusak yang akan menghancurkan anak-anak Tuhan. Mereka akan mennghancurkan apa yang sudah dibangun oleh anak-anak Tuhan; merusak kehidupan kita, ladang-ladang kita, pelayanan dan hubungan kita dengan Tuhan. Banyak hal yang iblis mau rusak dalam hidup kita lewat belalang-belalang ini.
Tetapi sekarang juga, “Demikianlah Firman Tuhan,” berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. (Yoel 2:12-13)
Sekalipun di akhir jaman akan muncul belalang-belalang, tetapi dalam perikop “Seruan untuk Bertobat” (Yoel 2:12-17), Tuhan mau berkata bahwa kita harus berbalik kepada Tuhan di hari-hari menjelang kedatangan Tuhan. Berbalik kepada Tuhan artinya kita bertobat; kita berbalik dari jalan-jalan yang salah. Sudahkah kita sungguh-sungguh bertobat? Pertobatan yang sejati bukan hanya sekedar dalam ucapan, tetapi pertobatan yang sejati lahir dari hati. Dan Untuk berbalik kepada Tuhan dibutuhkan respon kita dan kasih karunia Tuhan.
Kita tidak bisa bertobat dengan kekuatan kita sendiri. Kita mungkin ingin berubah, tetapi belalang-belalang perusak itu tidak tinggal diam untuk menggagalkan setiap usaha kita. Oleh karena itu, dibutuhkan kasih karunia Tuhan untuk berbalik dari jalan kita yang salah.
Seringkali banyak anak Tuhan yang hidup dalam lingkaran dosa; jatuh bangun dalam dosa yang sama, sehingga mereka tidak bisa bebas hidup melayani Tuhan. Itu harus kita bereskan supaya kita berlari dan maju. Tuhan merindukan pertobatan kita. Karena itu, marilah kita miliki pertobatan yang sejati, dimana hati kita dikoyakkan untuk berbalik dari jalan-jalan yang jahat.
Tuhan memanggil semua orang untuk menjadi pasukan Tuhan di akhir zaman
Di saat ada belalang-belalang yang muncul, Tuhan juga bangkitkan pasukan yang akan melawannya. Maukah kita sungguh-sungguh menanggapi panggilan Tuhan untuk bangkit menjadi pasukanNya? Tuhan panggil pasukkan menjadi imam yang berdiri bagi bangsanya; berdoa dan menangisi bangsanya yang dihabiskan oleh belalang-belalang perusak. Maukah engkau di pakai Tuhan?
Tuhan akan menyatakan pemulihannya kepada orang yang sungguh-sungguh bertobat (Yoel 2:25-27). Tuhan akan kembalikan tahun-tahun kita yang sudah dihabiskan oleh belalang-belalang itu. Bagaimana keadaanmu saat ini? Apakah aspek dalam kehidupanmu begitu hancur berantakan? Tuhan berkata, bahwa hidupmu akan dipulihkan ketika kamu benar-benar mau bertobat.
Siapkah kamu menjadi tentara Kristus di akhir zaman?
Menjadi seorang tentara Kristus, ada 3 hal yang perlu menjadi prinsip : Tidak ada kata mundur, tidak ada tawar-menawar, tidak ada penyesalan. Apa yang sudah kita bangun bersama Tuhan, jangan pernah ada kata mundur. Mental seorang tentara Kristus ada pemberani; tidak takut terhadap apapun dan terus maju. Mengerjakan mimpi Tuhan, kita akan menjumpai banyak tantangan dan mendorong kita mundur. Tetapi kita harus fokus untuk terus maju.
Menjadi seorang tentara Kristus, ada 3 hal yang perlu menjadi prinsip : Tidak ada kata mundur, tidak ada tawar-menawar, tidak ada penyesalan.
Banyak anak muda yang takut melakukan misi buat Tuhan, takut untuk mengerjakan ladang Tuhan, takut untuk mengikuti panggilan Tuhan karena takut hidup mereka tidak dicukupi. Tetapi Tuhan tidak pernah berhutang kepada orang yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Tuhan yang akan menjamin hidup kita. Karena itu jangan takut untuk mengikuti rencana Tuhan.
Tentara Kristus di akhir zaman akan Tuhan perlengkapi
Tuhan akan mencurahkan Roh Kudusnya kepada kita supaya kita dapat mengadakan mujizat-mujizat (Yoel 2:28-30). Tuhan mau mengingatkan kita melalui Nabi Yoel, bahwa di Akhir Zaman kita akan menghadapi peperangan. Kalau kita tidak bangkit dan tidak bersiap-siap maka kita akan mati sia-sia. Maka mulai hari ini persiapkan diri kita sebaik-baiknya (Yoel 3:9-11). Mari kita sama-sama berkata, “Aku ini Pahlawan.”
Pahlawan adalah seorang yang menonjol, yang memiliki keberanian, dan rela berkorban untuk membela kebenaran.
Selain itu, Pala-Wan dari bahasa Sansekerta berarti orang yang menghasilkan buah yang berkualitas bagi bangsa dan agama. Artinya kalau kita mau menjadi seorang pahlawan, kita harus menghasilkan buah yang berkualitas.
Menjadi pahlawan itu bukan menjadi manusia super. Menjadi pahlawan adalah ketika kita tidak lagi mementingkan diri sendiri, tetapi melakukan sesuatu, bahkan hal yang kecil sekalipun untuk orang lain.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Defeat the Devil
Apakah hari-hari ini Anda mengalami masalah? Bersyukurlah! Mungkin ini terdengar aneh, namun ketika kita mengalami masalah, justru itu membuktikan bahwa ada peperangan yang harus kita menangi dan pasti kita adalah pemenangnya [1 Korintus 9 :24-27]. “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” [Ay.27]. Ditolak yang dikatakan Paulus artinya ditolak kerajaan Tuhan. Maka dari itu, sangat penting untuk melatih diri kita untuk tetap hidup kudus dan tak bercela di hadapan-Nya.
Tuhan melatih kita untuk berperang di gelanggang pertandingan yang telah disiapkan-Nya.
Namun, ada satu hal yang membuat anak Tuhan tidak mau berperang; tipuan iblis. Apa tipuannya? Ia akan mengatakan bahwa kita tidak perlu berperang. Peperangan hanya dilakukan oleh hamba Tuhan saja. Ini salah besar!. Tipuan ini ampuh membuat anak-anak Tuhan enggan untuk melangkah di gelanggang pertempuran dan memilih untuk bermain aman. Iblis itu pandai menipu dan mereka punya rencana yang terstruktur dengan rapi. Bagaimana cara kerjanya?
Iblis suka dengan hati yang ‘kosong’
[Matius 12:43-45]
“Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur.” [Ay. 44]
Jangan biarkan hati kita kosong! Ketika kita sudah bertobat dan membiarkan itu terjadi, itu seperti membuka celah untuk membiarkan iblis masuk dan membuatnya menjadi lebih ‘kotor’. Bahkan ia akan mengajak rekan-rekannya yang lebih kuat dan jahat [Ay. 45]. Iblis akan bekerja lebih hebat pada ruang-ruang hati yang tersembunyi, sebab disitulah ia dapat bekerja bebas untuk merusak pandangan manusia tentang Allah. Roh iblis adalah roh yang kering dan tidak ada damai sejahtera. Maka dari itu, kita harus senantiasa mengisi hati kita dengan Roh Kudus.
Mengambil keuntungan dari terpisahnya tubuh Kristus
[2 Korintus 2:10-11]
“Supaya iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.” Iblis senang dengan perceraian. Ia senang kalau tubuh Kristus tidak memiliki kesatuan. Sebab ia tahu, ketika anak-anak Tuhan tidak bersatu, banyak celah yang dapat ia masuki dan itu memudahkannya untuk menghancurkan tubuh Kristus. Ketika tubuh Kristus memiliki kesatuan, iblis jadi gentar.
Mencuri Firman Tuhan
[Markus 4:15]
“Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.”
Iblis adalah pencuri. Ia senang mencuri firman yang kita dengar sehingga firman itu tidak dapat bertumbuh.
Iblis suka membisikkan rencananya
[Yohanes 13:2]
“Mereka sedang makan bersama, dan iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.”
Iblis suka memberitahukan rencana jahatnya dengan cara berbisik. Walaupun hanya berbisik, itu dapat mempengaruhi pikiran bahkan hati kita. Maka dari itu, tidak semua apa yang dipikirkan dan direncanakan manusia adalah baik dan benar. Mungkin iblis akan membisikkan rencananya yang terlihat baik, namun sebetulnya itu adalah rencana penghancuran rasa percaya kita di dalam Kristus.
Lalu, bagaimana cara melawan si penipu ulung ini?
Tunduk kepada Allah [Yakobus 4:7]
“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu!”
Hubungan intim dengan Tuhan adalah kuncinya. Ketika kita dekat dengan-Nya, iman kita menjadi teguh. Iblis sangat takut dengan anak Tuhan yang mau bangkit dan yang mau memenuhi takdirnya di dalam Tuhan.
Iblis adalah penipu yang suka mencobai manusia. Walaupun begitu, pencobaan-pencobaan yang diberikan iblis tidak akan melebihi kekuatan manusia. Walaupun kita dicobai, Tuhan telah memberikan jalan keluarnya [1 Korintus 10:13]. Jadi, apakah kita mau melawan atau malah berdamai dengan iblis?
JADILAH ORANG YANG BERBAHAYA BAGI IBLIS
- Published in Sermons
Khotbah Ir. Benny Lianto : Pemimpin Berkarakter Ilahi
Di dunia ini, begitu banyak figur pemimpin; ada yang memang pemimpin, ada pula yang mengklaim dirinya pemimpin. Tetapi, saat ini dunia sedang mengalami krisis dalam memiliki Pemimpin yang Berkarakter Ilahi. Ada 2 masalah besar yang membuat kita harus segera memiliki pemimpin yang memiliki karakter yang Ilahi:
Domba yang tidak bergembala
“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:36)
Mengapa domba membutuhkan gembala? Karena domba adalah hewan yang paling lemah. Gembala memastikan semua dombanya untuk tetap berada dalam kawanannya. Jika tidak, domba ini akan dengan mudahnya diburu oleh serigala yang berkeliaran. Karena itu, Yesus mengajak murid-muridnya untuk memiliki belas kasihan kepada orang-orang yang tidak bergembala itu; untuk mengambil keputusan untuk membimbing dan memuridkan mereka.
Orang Buta Menuntun Orang Buta
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8)
Apa yang terjadi ketika tidak ada pemimpin dengan karakter Ilahi bergerak dan memimpin domba yang tak bergembala itu? Akan ada orang-orang “buta” yang mau mengambil alih memimpin mereka. Orang buta yang menuntun orang buta, semuanya akan berujung jatuh ke dalam jurang. Seorang yang juga tidak mengerti jalan kebenaran, menggiring orang-orang yang belum kenal kebenaran. Ini yang berbahaya; mereka bisa sesat.
Bagaimana menjadi Pemimpin yang Berkarakter Ilahi?
Untuk menjadi pemimpin yang berkarakter Ilahi, ada standar-standar yang harus kita penuhi:
Memiliki Tujuan Hidup yang Benar
Banyak orang berkata bahwa tujuan hidup mereka adalah menjadi orang sukses. Tetapi itu itu adalah jawaban yang abstrak. Ukuran kesuksesan berbeda-beda, bergantung nilai hidup orang tersebut. Orientasi kesuksesan dan tingkat keberhasilan kebanyakan orang rata-rata berbicara soal harta. Ada tingkatan ukuran kesuksesan yang seringkali jadinya kita balik urutannya. Urutan prioritas harta:
- Harta Rohani (Anugerah Keselamatan)
- Jiwa
- Kesehatan
- Sosial (Memiliki pergaulan dan berteman)
- Keluarga yang Harmonis
- Harta Jasmani / benda
Seharusnya kita dapat membawa anak kita mengenal Tuhan, tetapi banyak yang membalik urutan prioritas tersebut, sehingga harta jasmani menjadi urutan pertama dalam hidupnya. Pemimpin yang berkarakter Ilahi tahu dengan pasti apa yang menjadi tujuan dan prioritas dalam hidupnya. Tentunya tujuan hidupnya adalah tujuan yang Ilahi; Tujuannya adalah untuk memuliakan nama Tuhan.
Sebab beginilah Firman Tuhan kepada kaum Israel: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup! Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap..” (Amos 5:4-5)
Dari ayat tersebut, dikatakan bahwa tujuan kita seharusnya tertuju kepada Tuhan. Tuhan tidak menghendaki kita pergi ke Betel, Gilgal, dan Bersyeba. Betel adalah gambaran dari hal-hal fisik, sarana prasarana, dan fasilitas. Misalnya mereka hanya mau ke gereja karena gedung yang besar dan mewah. Sedangkan Gilgal berbicara tentang posisi dan jabatan; Bersyeba berbicara tentang harta duniawi. Karena itulah Tuhan berkata, janganlah kita mengejar hal-hal yang demikian. Jika kita menjadikan Yesus sebagai yang terutama bagi kita, maka Dia cukup bagi kita.
Apapun yang kita miliki di dunia ini tidak akan bisa membuat kita cukup. Hanya Tuhan yang cukup untuk setiap kita.
Keintiman dengan Tuhan
Kepada siapa kita intim? Kita sering hadir ke gereja bukan berarti kita intim dengan Tuhan. Mungkin kita sering menunjukkan diri pergi ke gereja, tetapi Tuhan berkata, “… Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dai pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23). Itu artinya kita kurang intim dengan Tuhan. Orang yang sharing di gereja pun belum tentu intim dengan Tuhan.
Pemimpin yang berkarakter Ilahi memiliki keintiman dengan Tuhan. Orang yang intim dengan Tuhan adalah orang yang selalu mengutamakan Tuhan dalam hidupnya. Ketika Tuhan yang terutama dalam hidup kita, maka nilai kita semakin besar. Sebaliknya, ketika kita menempatkan Yesus di belakang, maka segala karya yang kita buat tidak ada artinya.
Ukuran sebuah keintiman dengan Tuhan adalah haus dan lapar akan kebenaran.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan (Matius 5:6).
Apakah kita sudah haus dan lapar akan Tuhan? Anak muda jaman sekarang sudah sangat ketagihan dengan gadget mereka; tidak bisa sehari saja tidak terkoneksi dengan internet. Tetapi apakah kita sudah ketagihan dengan Firman Tuhan? Seberapa ketagihan kita kepada Tuhan dibandingkan koneksi internet?
Seorang pemimpin yang berkarakter Ilahi harusnya selalu ter-connect dengan Tuhan. Jika tidak, tujuan hidupnya sebenarnya palsu.
Rendah Hati
Demikianlah jugalah kamu, hai orang-orang muda tunduklah kepada orang-orang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang-orang yang congkak, tetapi mengasihani orang ayng rendah hati.” Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktu-Nya. (1 petrus 5:5-6)
Output dari seorang pemimpin berkarakter Ilahi ialah: rendah hati. Menjadi seorang pemimpin seringkali membuat kita berpikir bahwa kita seharusnya dilayani. Tetapi seorang pemimpin di dalam Tuhan seharusnya melayani sesama. Belajar dari pribadi Yesus; Dia datang di dalam dunia ini tidak dilayani, tetapi melayani sesama.
Tuhan membenci orang yang sombong dan angkuh. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk merendahkan diri kita. Sebab Firman Tuhan berkata bahwa ketika merendahkan diri kita di bawah tanganNya yang kuat, maka kita akan ditinggikanNya pada waktuNya.
Sudahkah kita mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang berkarakter Ilahi? Untuk menjadi pemimpin mudah, tetapi menjadi pemimpin yang berkarakter Ilahi, diperlukan sebuah standar, yaitu memiliki Tujuan yang benar, Keintiman dengan Tuhan, serta karakter rendah hati. Mari persiapkan diri kita agar kita bukan hanya sekedar menjadi pemimpin. Tetapi menjadi pemimpin-peminpin yang membawa terobosan di dalam Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Keluarga Allah
Kristus menciptakan kita serupa dengan-Nya dalam satu iman dan satu keluarga
Gereja tidak berbicara mengenai nama denominasi, organisasi, maupun gedung tempat beribadah. Namun, gereja adalah sebuah organisme kehidupan. Gereja adalah sebuah keluarga. Sudahkah kita merasa bahwa gereja ini keluarga di dalam Kristus, bahwa gereja ialah keluarga rohani kita? Jika ada hubungan keluarga jasmani, persahabatan, pertemanan, ada juga ada hubungan yang dinamakan hubungan dalam satu keluarga rohani. Gereja juga bukan sekedar komunitas, tempat kumpul saja, berkumpul bersama-sama karena tidak ada kerjaan, paksaan, atau karena ada banyak makanan pada saat itu.
Apa itu keluarga?
Tentu kita tidak asing lagi dengan kata yang satu ini. Keluarga adalah bagian terkecil yang membentuk masyarakat. Dalam keluarga, kita mulai mempelajari tentang berbagai hal. Keluarga merupakan bagian terdekat dalam hidup kita. Seringkali, kita cenderung tampil apa adanya pada keluarga kita. Ada keterbukaan, baik itu dalam hal penampilan, cara bicara, dan lain sebagainya.
Keluarga Rohani
Keluarga rohani ialah keluarga yang dipersatukan dalam Kristus, yaitu orang-orang yang ditemukan oleh kasih anugerah-Nya dan disatukan dalam rencana-Nya yang mulia. Ada beberapa ciri keluarga rohani yang benar, yaitu:
Di dalam sebuah keluarga rohani, seseorang tidak perlu mengenakan topeng.
Seorang anggota keluarga belajar untuk membuka setiap topeng dan kubu pikiran mereka untuk dipulihkan dan disempurnakan dalam Kristus. Ada suatu dasar kasih yang benar, bahwasanya teguran dari pemimpin ialah suatu bentuk kasih sayang dalam keluarga. Amsal 27:6 menyatakan, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik.” Demikian pula kawan-kawan kita dalam persekutuan di dalam Kristus.
Di dalam sebuah keluarga rohani, ada rasa percaya antara satu anggota dengan anggota keluarga yang lain.
Ciri kedua yang terdapat dalam sebuah keluarga yaitu rasa percaya. Rasa percaya mengalahkan segala kebimbangan dan keraguan dalam hati. Sebab di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (1 Yohanes 4:18). Adanya rasa percaya berarti ketiadaan rasa curiga antar tubuh Kristus. Dari sinilah muncul sebuah kesatuan hati. Sudahkah kita membangun rasa percaya, sehati, dan sepikir di dalam Kristus.
Di dalam sebuah keluarga rohani, Yesus merupakan kepala keluarga dan gereja ialah tubuh-Nya.
Iblis sangat menyukai perpecahan. Bilamana ada damai sejahtera, Iblis selalu mengambil celah untuk masuk dan memporakporandakan keadaan tersebut. Oleh karena itu, apabila terjadi perpecahan di dalam tubuh Kristus, yakni antar sesama anggota keluarga rohani, ingatlah Efesus 6:12. Bahwasanya, “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Oleh karena itu, jangan biarkan Iblis mencuri kasih dan damai sejahtera Allah melalui ketegangan yang ada di antara kita. Tetapi, milikilah karakter kasih Allah agar kita dimampukan untuk memaafkan kesalahan anggota keluarga kita. Pernahkah Anda mendengar mengenai “mantan keluarga”? Sungguh aneh bukan? Sebab, tidak ada istilah demikian. Seorang anak yang mengalami perseteruan di dalam keluarga, tidak pernah pergi dan mencari keluarga lain. Ia mungkin kabur dari rumah, terhilang dan tersesat, tetapi keluarganya selalu ada untuk menerima dia kembali untuk pulang ke rumah yakni keluarganya yang sejati.
Di dalam sebuah keluarga rohani, ada kasih tak bersyarat.
Beberapa keluarga jasmani mungkin memaparkan kasih yang bersyarat, karena pada dasarnya, kita memang masih hidup dan berinteraksi di dunia dengan manusia yang penuh keterbatasan dalam mengasihi. Namun dalam keluarga rohani yang benar, ada kasih yang benar pula yakni bentuk kasih yang tak bersyarat. Paulus menyatakan dalam surat 1 Korintus 13:1, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”
Dalam sebuah hubungan, entah seperti apa pun bentuknya, yaitu keluarga, jalinan kasih, persahabatan, diperlukan kasih dan pengampunan untuk mempertahankan hubungan tersebut. Kita memiliki kecenderungan untuk membentuk suatu benteng-benteng tertentu di dalam pikiran kita. Luka-luka lama yang terbentuk dari hubungan yang tidak berakhir dengan baik di masa lalu kita membawa banyak sekali masalah dalam hubungan-hubungan kita berikutnya di masa depan. Bahwasanya, hati ini bagaikan sebuah cermin, ketika ia menerima sesuatu, ia cenderung memberikan hal serupa kepada orang lain. Tetapi kita tidak perlu khawatir, karena seperti yang dinyatakan dalam 2 Korintus 10:4-5 bahwa, “…senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus.”
Mengapa Gereja disebut sebagai sebuah Keluarga?
Ada hubungan yang spesial dalam sebuah jalinan darah dalam keluarga. Seorang pegawai tidak mungkin akan mendapatkan sepeser pun dari si bos apabila ia resign dari tempat kerjanya. Namun bagaimana dengan seorang anak? Tentu ia berhak untuk mendapatkan warisan dari si bos, sang ayah. Begitu pula dalam gereja. Gereja disebut sebagai keluarga karena ada suatu warisan jubah karunia-karunia, tongkat estafet para pemimpin. Seperti Elia yang menyerahkan jubahnya kepada Elisa, demikian pula orang tua rohani kita akan memberikan juga suatu harta untuk diwariskan kepada kita (1 Raja-raja 19:19-21). Ada suatu genetik rohani yang dapat diturunkan kepada anak rohani, yang berakar dari Kristus. Inilah pentingnya suatu komitmen dalam sebuah keluarga, agar seorang anak siap menerima warisan yang diperuntukkan baginya.
Ketika memiliki hati yang dipulihkan, kita dimampukan untuk memikirkan hal-hal yang baik di mata Tuhan (Filipi 4:8).
Lawanlah kejahatan dengan kebaikan, cara satu-satunya untuk mengalahkan Iblis yaitu dengan memiliki sifat dan karakter Allah yang penuh kasih dan pengampunan, bukan dengan memiliki karakter Iblis yang penuh dendam dan perpecahan.
- Published in Sermons












