Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Perhatikan Bait Sucimu!
Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Allah dengan semua domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedangang merpati Ia berkata, “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Lalu teringatlah murid-murid-Nya bahwa ada tertulis: Cinta untuk rumah-Mu akan menghanguskan Aku. (Yohanes 2:15-17)
Yesus datang ke Bait Suci dan membersihkannya dari pedagang-pedagang yang berjualan di depan Bait Suci. Dia melihat bait suci tidak lagi menjadi tempat yang kudus, sehingga Dia mau mengembalikan fungsi Bait Allah yang sebenarnya. Demikian juga dengan hidup kita; Kita adalah bait sucinya Tuhan.
Perhatikan Bait Sucimu! Bait suci berbicara tentang hati kita dan hidup kita.
Apakah hatimu penuh dengan kepahitan, dosa, dan hal yang tidak berkenan di mata Tuhan? Dia akan obrak-abrik dan usir itu, karena Tuhan mau mengembalikan fungsi bait Allah kita sesuai dengan panggilannya yang semula. Kalau Yesus masuk dalam hati kita dan mengintervensi kita, apa reaksi kita? Kita seringkali bisa menjadi seperti para Imam dan pedagang yang marah kepada Yesus atas tindakannya tersebut, karena mungkin seringkali kita mencari keuntungan diri kita sendiri. Tanpa kita berusaha mengerti, bahwa apa yang Tuhan lakukan tujuannya baik, yaitu supaya kita diubahkan dan dikuduskan.
Seringkali kita bisa memiliki “kamar-kamar rahasia” kita, dimana dosa kita ditutupi dan tidak ada seorang pun yang tahu. Sepertinya kita baik-baik, sepertinya melayani Tuhan, ternyata ada dosa mengerikan yang tersimpan.
Hal itu pula yang diceritakan dalam Yehezkiel 8:6-17 tentang bangsa Israel yang memiliki berhala yang mengerikan: Para tua-tua Israel mengukir binatang berhala di tembok kamar mereka smbil membawa bokor ukupan mereka (ay 10-12); Perempuan2 menangisi dewa Tamus pada musim gugur (ay 14); dan banyak Laki-Laki membelakangi bait Allah sambil sujud kepada matahari (ay. 16). Mereka berbalik dari Tuhan menyembah kepada berhala lain.
Perkara Kecilkah Itu??
Apakah itu sebuah perkara kecil? Tidak! Karena itu jangan anggap remeh hal-hal yang tidak baik dalam dirimu: malas ke gereja.. malas doa.. malas persekutuan. Itu menghambat kerohanian kita bertumbuh, membuat kerohanian kita bisa mati; kita tidak lagi suka pergi ke gereja.. atau tidak lagi bersemangat untuk berdoa. Belajarlah disiplinkan dirimu untuk tidak menjauhi jam-jam ibadah. Itu yang akan membuat kita tetap kuat di dalam Dia.
Jangan biarkan bait sucimu dicemari!
Jagalah setiap perkataanmu. Lidah kita bisa menjadi berkat, tetapi juga bisa menjadi kutuk buat orang lain. Dan Tuhan berjanji kita jikalau kita mengucapkan apa yang berharga dan tidak hina, maka kita akan dipakaiNya menjadi penyambung lidah bagiNya (Yeremia 15:19).
Maukah kamu membiarkan Dia masuk dan mengintervensi hatimu? Dia mau membersihkan hatimu.. Dia mau mengubahkan hidupmu, sehingga hidupmu dikuduskan dan sesuai dengan panggilanNya yang semula untuk hidupmu. Jaga lidah dan perkataanmu, maka kita akan dijadikanNya penyambung lidah bagiNya.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Menjadi Murid Kristus
Bacaan : Lukas 14 : 25-35
Ada banyak alasan orang-orang mengikut Yesus. Ada yang menginginkan makan, mujizat, dan lain sebagainya. Tetapi Tuhan tidak menghendaki kita hanya sekedar menjadi “pengikut” Kristus, tetapi menjadi murid Kristus yang sejati. Bagaimana menjadi murid Kristus yang sejati?
Membenci Semua Berhala
“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:26)
Apakah ada yang kita kasihi lebih dari Tuhan? Tuhan mau kita membenci itu. Maksud dari membenci ini supaya itu tidak menjadi berhala kita. Allah kita adalah Allah yang cemburu. Ia begitu mengasihi dan menginginkan kita. Ia mau kita mencintai-Nya lebih dari segalanya. Kita harus menempatkan Tuhan di atas segalanya. Keluarga merupakan salah satu orang yang paling kita kasihi. Tapi Firman Tuhan berkata barangsiapa mengasihi keluarga daripada Yesus, maka ia tidak layak untuk menjadi Murid Kristus.
Mungkin ada berhala-berhala di hidup kita: raksasa. Ada yang memiliki raksasa keluarga, raksasa persahabatan, dll, sehingga hati kita bisa terikat oleh keterikatan duniawi. Ketika hati kita sudah terikat, kita jadi tidak bisa menempatkan Yesus menjadi yang pertama dan satu-satunya.
Kalau kita lebih mengasihi berhala-berhala kita, rencana Tuhan tidak dapat terjadi di dalam hidup kita.
Banyak orang yang tidak mau menerima panggilan Tuhan hanya karena lebih memilih orang-orang yang ia kasihi di dunia. Banyaknya pilihan sulit yang membuat kita harus memutuskan apakah kita mau taat kepada Tuhan atau manusia. Berapa banyak orang yang dipengaruhi oleh apa kata orang? Menjadi murid Kristus harus meninggalkan apa kata orang. BELAJAR MENDENGARKAN SUARA TUHAN! Maukah kita sungguh-sungguh mempertahankan panggilan kita? Ini membutuhkan PROSES.
Memikul Salib
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:27)
Memikul salib berarti kita mau menderita untuk Tuhan. Kekristenan bukan hanya berbicara tentang berdoa meminta kepada Tuhan lalu dikabulkan, tetapi berbicara tentang BAYAR HARGA. Belajarlah untuk mengikut Kristus dengan membayar harganya. Dalam setiap pelayanan, pengerjaan visi, kita perlu bayar harga.
Visi tidak cukup hanya dibayangkan, tetapi juga harus dilakukan, dan itu membutuhkan bayar harga. Belajar mengandalkan Tuhan, dan Ia yang akan mencukupi kebutuhan kita.
“Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.” (Lukas 14:28-31)
Dalam mengikut Yesus kita perlu punya perhitungan; punya perencanaan. Kita harus siap dalam membayar harganya. Siap mental dan penuh persiapan supaya tidak putus di tengah jalan dalam perjalanan memenuhi panggilan Tuhan. Selesaikan panggilan kita sampai akhir.
Mengosongkan Diri
“Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:33)
Serahkan semua yang ada padamu kepada Tuhan. Apa berhala yang menghalangimu untuk dekat dengan Tuhan? Belajar merelakan semuanya dan kosongkan dirimu. Sehingga rencana Tuhan yang sempurna dapat terjadi dalam hidupmu.
Menjadi Garam
“Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Lukas 14:34-35)
Ketika kita menjadi murid, kita harus menjadi DAMPAK bagi orang lain. Jangan kita menjadi tawar yang tidak memberikan pengaruh apapun; semuanya hanya menjadi sia-sia. Jadilah dampak dimanapun kita berada, dan nama Tuhan dipermuliakan.
JADILAH MURID KRISTUS SEJATI YANG MENJADIKAN TUHAN YANG TERUTAMA DALAM HIDUPMU
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita – Jangan Jadi Pemalas!
Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel, yang belum mendapat bagian milik pusaka. Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehinga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu? (Yosua 18:2-3)
Diceritakan ada 7 suku dari 12 suku Israel yang belum menduduki tanah Kanaan, sekalipun Tuhan sudah memberikan tanah perjanjian ini kepada mereka. Mereka menjadi “malas” menduduki tanah tersebut. Mungkin mereka malas untuk pindahan, membangun, dan berperang melawan musuh-musuh mereka yang pada waktu masih berada di daerah sekitar mereka. Mereka tertahan dalam zona nyaman mereka; Padahal tanah itu sudah diberikan Tuhan kepada mereka.
Berbeda dengan Kaleb, dia begitu berapi-api untuk mendapatkan Tanah Perjanjian Tuhan. Bahkan dia berkata bahwa kekuatannya di umur 85 tahun masih sama pada saat umurnya yang ke 40 tahun (Yosua 14:6-7). Kaleb meminta bagiannya, karena dia tahu Tuhan punya perjanjian dalam hidupnya. Dan begitu ia mendapatkan bagian dari Tanah Kanaan, dia segera mendudukinya dan dengan semangat menghalau musuh-musuhnya (Yosua 15:13-14).
Demikian juga dengan kita sebagai anak Tuhan. Tuhan punya perjanjian untuk kita semua; masa depan, pelayanan, kehidupan kita. Apakah kita sudah memiliki mental seperti Kaleb ? ataukah kita “pemalas” seperti 7 suku yang tidak menduduki Tanah Perjanjian?
Miliki Mental Seperti Kaleb
Kita harus memiliki mental seperti Kaleb yang memperjuangkan haknya. Dia punya semangat sampai janji Tuhan digenapi dalam hidupnya. Milikilah semangat seperti Kaleb; sampai tua terus berkobar untuk visi Tuhan. Menjadi percaya bahwa jika Tuhan berkata : “Jadi” maka semuanya pasti akan “Jadi”.
Sudahkah anda tertanam dalam visi Gereja?
Gereja ini memiliki visi menjadi jemaat yang Rasuli, Rahmani, dan Rajani. Rasuli artinya gereja yang bermisi. Gereja bukan terbatas dari gedung saja, tetapi dimanapun menjadi dampak untuk dunia luar. Rahmani artinya kemurahan Tuhan. Ini berbicara tentang janji Tuhan akan lawatan, pemulihan dan kasih yang Tuhan nyatakan lewat gereja ini. Rajani berbicara tentang karakter dan kualitas luar biasa yang digunakan untuk menjadi dampak secara luas supaya semua bangsa mengenal kuasaNya.
DNA Surgawi: Makanan kita adalah Firman Tuhan dan darah kita adalah darah pemberita Injil.
Sudahkan kita memiliki DNA Surgawi? Jika kita memilikinya, hati kita pasti tergerak untuk memberitakan Injil. Jika tidak, patut dipertanyakan DNA siapa yang kita miliki? Kita harus menerapkan dan mengerjakan prinsip OPOS, OPOF, dan OLOC:
OPOS : One Person One Soul (Satu orang memenangkan 1 jiwa)
OPOF : One Person One Family (Satu orang memenangkan 1 keluarga)
OLOC : One Leader One City (Satu Pemimpin mengubahkan 1 kota)
Mari Kita menjadi Gereja yang Bergerak!
Gereja yang hidup adalah gereja yang bergerak. Gereja yang bergerak adalah gereja yang bisa mengalahkan Iblis. Iblis sedang berusaha mencuri mimpi Tuhan dalam kita. Kita memiliki 7 voice; ini adalah senjata kita. Tuhan sudah memberikan banyak senjata kepada kita. Mari kita memakainya! Tuhan sedang melatih kita untuk menggunakan senjata melawan iblis. Jangan biarkan Iblis menawan hati kita! Mari kita terus kobarkan api kita dengan mengerjakan 7 Voice :
Voice of Salvation : Pedang – Memberitakan kebenaran kepada jiwa-jiwa
Voice of Healing : Obat – Mambagikan “obat” Kristus untuk menyembuhkan mereka yang terluka baik secara jasmani, jiwani, maupun rohani
Voice of Love : Handuk – Membalut, Membebat yang terluka, dan menghangatkan
Voice of Prayer : Perisai – Menahan serangan Iblis dengan berjaga-jaga dalam doa
Voice of Blessing : Tongkat Otoritas – Memberkati orang lain dengan usaha dan daya yang dimilikinya
Voice of Worship : Kecapi – Penyembahan yang membuat iblis gemetar
Voice of Family : Rantai – Menghubungkan setiap jiwa dalam keluarga Allah
Jadilah gereja yang bergerak! Jangan jadi pemalas dan teruslah berjuang sampai mimpi Tuhan digenapi dalam hidupmu.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Tidak Bercacat Cela di Hadapan Tuhan
Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah (Filipi 1:9-11)
Tuhan menginginkan di akhir kehidupan kita, kita didapati suci dan tidak bercacat di hadapan Tuhan. Ending dari kehidupan kita adalah menjadi serupa seperti Kristus. Bagaimana caranya? Kita harus bisa dapat memilih apa yang baik.
Hidup ini penuh pilihan, dan pilihan kita menentukan kehidupan yang akan datang.
Kita perlu memiliki pengetahuan dan pengertian yang benar untuk dapat memilih yang baik, sehingga kita menjadi pribadi yang didapati tak bercacat dan memiliki hidup yang berbuah di hadapan Tuhan. Karena itu miliki pengetahuan yang benar agar dapat memilih yang dengan benar.
Miliki pengetahuan yang benar agar dapat memilih yang dengan benar
Dalam kerohanian kita, kita harus memiliki pengetahuan yang benar; Pelajari terlebih dahulu sebelum memilih. Di sisi yang lain, seseorang tidak bisa melihat pengetahuan yang benar jika dia tidak memiliki kasih. Karena orang yang tidak memiliki kasih tidak akan bisa menerima kebenaran.
Apa itu kasih?
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala seuatu, percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1 Kor 13:4-7)
Orang yang tidak memiliki kasih tidak bisa menerima kebenaran, karena masih ada benteng-benteng dalam pikiran mereka. Sedangkan apa yang ada dalam pikiran kita belum tentu benar. Seringkali apa yang kita pikirkan, itulah yang kita lakukan. Kalau yang kita pikirkan salah, maka pilihan-pilihan kita pun menjadi salah. Karena itu, penting untuk belajar Firman Tuhan dengan benar.
Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah (Roma 10:2-3)
Dikatakan bahwa banyak yang kelihatannya rohani, tetapi mereka tidak memiliki pengertian yang benar. Mereka tidak mengenal kebenaran, lalu mulai menciptakan kebenaran versi mereka sendiri. Sehingga mulai memilih-milih Firman Tuhan yang menyenangkan telinga mereka saja. Hanya mendengarkan Firman Tuhan yang menguntungkan saja. Pengertian kita telah salah terhadap Firman Tuhan.
Maukah kita dipakai Tuhan untuk menyampaikan apa yang benar? Ataukah kita adalah orang apatis yg enggan menyampaikan apa yang benar? Apakah kita sudah memilih yg benar? Hidup adalah sebuah pilihan dan Tuhan rindu kita semua memilih apa yang baik.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)
Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia memang memberikan banyak tawaran, tapi pilihlah apa yang berasal dari Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai robot. Manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih. Tapi yang perlu kita lakukan adalah memberikan kehendak dan keinginan kita kepada Tuhan untuk dipakai sesuai dengan rencana-Nya.
Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Jadi jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. (2 Petrus 3:9,11,14)
Tuhan memberikan kesempatan bahwa kita harus berusaha memiliki hidup tak bercacat dan bercela di akhir kehidupan kita, artinya kita 100% taat kepada kehendak Tuhan; Kita harus menaati seluruh Firman Tuhan, dan keseluruhannya harus dijalankan dengan sempurna.
Tuhan menghendaki kita berbuah. Sudahkah kita menghasilkan buah? Buah berbicara tentang buah pertobatan, buah pelayanan, dan buah jiwa. Sudahkah hidup kita mengalami perubahan? Sudahkah kita melayani Tuhan? Sudahkah kita berbuah jiwa?
Sama seperti pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9), Jika kita tidak berbuah, maka Tuhan akan menebang kita. Dan kita tidak bisa berbuah kalau kita tidak melekat pada Yesus, pokok anggur yang benar. Karena itu, mari kita senantiasa melekat kepada Yesus, supaya hidup kita semakin tidak bercacat cela dan berbuah bagi kerajaanNya.
Mari siapkan diri kita yang terbaik menjelang kedatangan-Nya yang sudah tidak lama lagi. Mari kita senantiasa mengoreksi kehidupan kita. Apakah kita sudah mengusahakan diri untuk tidak bercacat cela di hadapan Tuhan? Pilihlah apa yang baik dan benar karena kita sudah mengenal kebenaran yang sejati.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Elita Chandra : Kebenaran yang Memerdekakan
Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:30-32)
Berbicara kebenaran, setiap kita yang dilahirkan dari keluarga Kristen, kita sudah sering mendengar kebenaran. Dalam perikop sebelum Yohanes 8 : 30-36 banyak menjelaskan asal usul Yesus dan banyak orang yang menjadi percaya. Tetapi Tuhan tidak mau kita hanya cukup menjadi percaya. Kita harus menghidupi kepercayaan kita. Kita harus mengerti dan melakukan prinsip Kebenaran itu. PRINSIP KEBENARAN :
Tinggal dalam Firman akan Memerdekakan Kita
Setiap kita memang tidak mungkin lepas dari dosa tanpa kasih karunia, tetapi dengan tinggal dalam Firman Tuhan, kita dapat dimerdekakan. Tinggal artinya tetap, tidak berpindah-pindah.
Sama halnya ranting tanaman anggur yang tidak berpindah-pindah; dia melekat dengan pokoknya. Tuhan berkata tentang pokok anggur yang benar. Ranting yang sesungguhnya melekat pada pokoknya. Ranting yang tidak melekat dengan benar adalah ranting yang palsu. Tuhan mau kita melekat pada pokok anggur. Buah akan dapat kita hasilkan kalau kita melekat pada pokok anggur.
Kebenaran itu menyakitkan. Seperti pil pahit yang harus kita telan, tetapi menyembuhkan kita.
Ketika kita sakit, kita tidak bisa memilih-milih obat yang harus kita minum. Demikian juga dengan kebenaran; kita tidak bisa memilih-milih kebenaran yang menyenangkan telinga kita saja. Jika kita pilih-pilih obat/ Firman, kita tidak sungguh-sungguh tinggal dalam Firman. Walau itu menyakitkan, kita harus menelan Frman itu.
Kita tidak akan tahu kebenaran seperti apa, jika kita tidak tinggal di dalamnya.
Jika kita tinggal, kita akan mengetahui apa yang kita tidak pernah tahu. Seperti kita tinggal satu rumah dengan orang lain, kita akan tahu kebiasaan-kebiasaan orang-orang yang tinggal bersama dengan kita. Ketika kita tinggal bersama sesuatu/seseorang, ada kehidupan yang terjadi. Demikian juga jika kita tinggal bersama kebenaran, maka akan ada kehidupan yang terjadi.
Cara pandang yang berubah
Untuk merdeka, kita harus tahu apa itu kebenaran. Ketika kita tahu kebenaran, cara pandang kita terhadap sesuatu akan sesuai dengan kebenaran. Jika kita tidak tahu kebenaran, kita akan dengan mudahnya menerima inputan-inputan yang tidak benar berupa nilai-nilai yang berasal dari dunia yang kemudian kita rohanikan.
Cara pandang kita menentukan arah hidup kita. Jika cara pandang kita salah, hidup kita akan dikendalikan pada suatu yang salah. Tapi jika cara pandang kita benar, hidup kita akan dibawa pada kebenaran.
Memberi Ruang untuk Kebenaran Dalam Hati
Aku tahu, bawa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena Firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu (Yohanes 8 : 37)
Yesus mengatakan mereka memang adalah keturunan jasmani dari Abraham, tetapi Yesus menegur mereka bahwa mereka tidak hidup dalam Firman, tidak seperti Abraham, bapa leluhur mereka.
Kebenaran seringkali bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan. Awalnya pasti menyakitkan, tetapi jika kita ingin bebas, kita harus menerima kebenaran.
Seringkali kita datang pada Tuhan, kita bertanya pada Tuhan, tetapi tidak menginginkan kebenaran, melainkan pembenaran. Kita jahat dan licik.
Berikan tempat untuk kebenaran tinggal dalam hati, jangan hanya mendengar. Tetapi biarlah itu mengoreksi dan mengubah hidup kita.
BAGAIMANA IBLIS MEMPERNGARUHI KEBENARAN, MENIPU ANAK-ANAK TUHAN SEHINGGA MEREKA MEMPEROLEH KEBENARAN YANG SALAH?
Berfokus dengan 1 Kata Larangan
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua
pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, ” (Kejadian 2:16)
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang
dijadikan oleh Tuhan Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahhnya, bukan?” (Kejadian 3:1)
Iblis fokus pada 1 perintah Tuhan, iblis suka menyorot 1 poin larangan saja, padahal ada 1000 kebaikan Tuhan lainnya. Sehingga manusia salah fokus seakan Tuhan itu jahat, Tuhan melarang. Mindset Hawa dipermainkan agar Hawa hanya fokus pada larangan Tuhan!
Ketika kita ditegur, kita langsung menyorot pada teguran tanpa melihat nasihat yang diberikan itu baik. Kita langsung mengecap orang yang menegur kita adalah orang yang jahat dengan 1 larangan, tanpa memperhitungkan kebaikan-kebaikan lainnya yang dia lakukan. Padahal kata jangan/larangan yang diberikan itu bertujuan baik untuk kita.
Menyederhanakan Perintah Tuhan
“.. Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:17)
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak
akan mati,” (Kejadian 3:4)
Iblis selalu MENYEPELEKAN dosa dan MENYEDERHANAKAN perintah Tuhan. Tuhan sudah jelas mengatakan bahwa manusia akan langsung mati, tetapi iblis berkata bahwa “sekali-sekali”. Hati manusia sangat licik untuk bermain-main dengan larangan Tuhan. Kita mencari-cari cara, menyepelekan dosa karna kita suka. Tetapi hati nurani kita tahu bahwa itu tidak benar.
Jangan pernah menyederhakan perintah Tuhan!
karena sekali-kali dilakukan, lama-lama akan menjadi berkali-berkali.
Memakai Dalih Rohani untuk Membenarkan Dosa
Tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka dan kamu menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat(Kejadian 3:5)
Iblis berkata “sama seperti Allah”. Tuhan mau kita sempurna seperti Tuhan, dan iblis memakai dalih-dalih kerohanian untuk membuat kita jatuh dalam dosa, padahal itu tidak membawa kita dekat kepada Tuhan.Kita sering memakai statement yang terlihat rohani untuk melancarkan sesuatu.
Contohnya kita bekerja keras sehingga tidak ke gereja dengan alasan agar dapat uang dan uang tersebut akan digunakan untuk memberkati gereja. Tetapi itu adalah DALIH KITA, pembenaran yang kita lakukan. Jika roh Kudus ada dalam hati kita, kita pasti tahu bahwa kita salah.
Tawaran yang Tampaknya Baik dan Menarik
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. (Kejadian 3:6a)
Tipuan iblis seakan-akan tidak berhasil terhadap Hawa, tetapi saat itu Iblis pikiran Hawa sedang bermain. Dikatakan bahwa Hawa melihat buah itu baik dan menarik.
APA YANG KITA LIHAT BAIK, BELUM TENTU ITU BAIK. Mata manusia seringkali menipu, tetapi manusia seringkali tertipu oleh apa yang kita lihat. Tipuan pertama Iblis pada Hawa masih dapat dengan mudah ia sangkal. Ia masih teguh dan mengingat perintah Tuhan. Tetapi ketika ia melihat bahwa buah itu menarik dan seakan tidak berbahaya, ia tertipu.
Apa yang kita lihat baik, belum tentu itu yang terbaik. Terlihat baik tetapi ujungnya adalah maut, kita terpisah dari kasih dan perkenanan Tuhan.
Berapa jarak pandang manusia? Penglihatan manusia sangat terbatas, tetapi Tuhan melihat segalanya. Apa yang kita lihat baik dan berkenan, kita harus tanyakan kembali pada Tuhan agar kita tidak tertipu. Siapa tahu apa yang kita lihat baik seperti pohon pengetahuan, itu ternyata menyesatkan.
Hiduplah dalam kebenaran yang sanggup memerdekakan kita. Dengan kita tinggal dalam kebenaran, itu akan menjadi senjata kita untuk bertahan dan melawan tipu daya si Jahat kepada setiap kita.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Lapar dan Haus akan Tuhan
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”
Matius 5:6
Lapar dan haus berbicara tentang :
- Pemenuhan kebutuhan pokok manusia agar dapat tetap hidup. Jika kebutuhan tersebut tidak dipenuhi, kita akan mati. Begitu pula kita juga perlu berseru kepada Tuhan, “Tuhan, aku sangat menginginkan Engkau, kalau tidak, aku bisa mati!”
- Keinginan dan kerinduan yang sangat, sampai HARUS tercapai atau dipuaskan.
- Sesuatu yang terjadi secara berulang-ulang, berkali-kali dalam sehari.
Berapa banyak dari kita yang mengalami kekeringan rohani akhir-akhir ini? Misalnya :
- Merasa biasa saat memuji dan menyembah Tuhan
- Tidak merenungkan apa yang kita ucapkan
- Datang ke gereja karena rutinitas setiap minggu saja
- Pelayanan ya begitu-begitu saja, serasa hambar
- Tidak dapat merasakan hadirat Tuhan
Jika mengalami hal tersebut, apa yang perlu dilakukan?
CEK HATI KITA.
- Yohanes 6:25-26
Apakah kita masih mencari Yesus untuk mencari berkat-berkat-Nya daripada mengenal pribadi-Nya secara langsung? - Yohanes 6:32-35
Jika kita masih mencari roti untuk memuaskan kedagingan kita saja, berkat yang membuat hidup serasa enak saja, kita tidak akan pernah bisa dipuaskan. Sebab, bukan roti itu yg utama, tetapi Roti Hidup itu adalah pribadi Yesus itu sendiri.
Bagaimana memiliki hati yang lapar dan haus akan Tuhan?
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;
Yohanes 14:12
Ketika kita berdoa: apakah kita meminta atau berusaha untuk mendapatkan hati yang lapar dan haus akan Dia? Kita tidak perlu meminta hati yang demikian, sebab ketika kita sadar bahwa kita sedang lapar dan haus akan kebenaran, kita sendiri akan melakukan suatu tindakan iman untuk melangkahkan kaki demi mendapatkan makanan/minuman itu.
Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
Yohanes 6:37-39
Kita diutus untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus kita; yaitu:
1.Mempertahankan jiwa-jiwa
2.Mencintai apa yang menjadi kerinduan Tuhan
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Membuka Kuasa
Bacaan dalam Kisah Para Rasul 6:1-6 menceritakan di mana mulai terjadi masalah dalam pelayanan ketika orang percaya mulai bertambah. Mereka kesulitan untuk mengabarkan Firman dan pelayanan diakonia sekaligus. Banyak orang mulai bersungut-sungut dan marah. Lalu para rasul memanggil 7 orang yang dikenal baik dan penuh dengan roh untuk membantu mereka dalam pelayanan diakonia dan diantaranya yang paling terkenal adalah Stefanus dan Filipus.
Satu hal yang bisa kita pelajari dari kisah ini adalah di mana ketika para rasul menghadapi masalah, mereka langsung fokus pada pencarian solusi dan mereka melakukan tindakan yang tepat. Kalau kita punya masalah, berfokuslah pada solusi, bukan masalahnya. Jangan marah atau bersungut-sungut.
Nama 7 diaken ini tiba-tiba muncul dalam Alkitab. Mereka bukanlah murid Kristus yang mengikuti Yesus sejak lama, tetapi mereka penuh dengan roh dan hikmat serta dikenal baik oleh orang-orang. Mereka melayani bersungguh-sungguh, bahkan lebih dari apa yang ditugaskan pada mereka. Kita perlu memiliki hati seperti ini. Mereka siap sedia kapan saja, mengerjakan tugas dan panggilan kita, bahkan lebih dari apa yang menjadi tugas kita. Kita tidak akan tahu kapan kita akan dipakai dan dipanggil Tuhan. Mari kita melayani dimanapun kita berada.
Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya. Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.
Ayub 12:12-13
Hikmat bukan kepandaian secara fisik. Kita butuh hikmat dalam banyak aspek hidup kita. Hikmat lebih baik dariada latihan-latihan perang. Kita butuh hikmat untuk memperoleh kemenangan.
Stefanus dipakai TUHAN dengan hikmat yang luar biasa. Ia tidak disukai oleh para ahli taurat dan agama Yahudi, karena Stefanus pintar berbicara, penuh dengan karunia, bahkan memiliki kuasa yang menyembuhkan dan mengadakan mujizat dan tanda, meskipun mereka bukan rasul. Mereka hanyalah pelayan meja.
Tuhan bisa pakai kita lebih kalau kita mau dipakai lebih. Kita bisa dipakai untuk melakukan mujizat. Mujizat atau kekuatan supranatural masih ada. Kita butuh kuasa dan urapan seperti itu. Kita buka lidah kita dengan hikmat. Buka kunci dan beritakan Firman. Tidak perlu takut atau malu. Buka dan kuasa Tuhan mengalir dari hidupmu. Buka lidahmu dan lakukan sesuatu, maka kuasa TUHAN mengalir.
Filipus dalam [Kisah Para Rasul 8:4-8] bukanlah Filipus murid Yesus, tapi Filipus diaken. Tanah Samaria diselamatkan karena pemberitaan Filipus, karena Filipus mengadakan mujizat dan tanda.
Pada Kisah Para Rasul 8:26 dikatakan malaikat berbicara pada Filipus. Filipus mengalami pengalaman supranatural. Kuasa Roh Kudus, mukjizat dan tanda-tanda masih terjadi. Filipus punya kepekaan dengan suara Tuhan. Kita perlu dikembalikannya kuasa Tuhan dalam hidup kita. Kita harus ingat juga bahwa kita juga memiliki kuasa dalam nama Yesus. Kenakan selengkap senjata Allah. Belajar peka dengan suara Tuhan.
Kualitas seorang pemimpin.:
- Punya Visi
- Pengetahuan dan Keterampilan
Bisa melihat potensi dan mengarahkan kepada arah yg tepat. Kita sering ingin dipakai Tuhan. Kita harus mempersiapkan diri sebelum Tuhan pakai. Latihan sungguh-sungguh dan tekun. Jika tidak, kita nggak akan dipakai Tuhan. - Konsisten
Konsisten dengan apa yang dipercayakan kepada kita, juga konsisten mengikut Tuhan, tidak mengikuti arus mood kita. Kalau mood kita baik, kita taat pada Firman Tuhan, jika tidak, kita tidak taat pada Firman Tuhan. - Karakter Ilahi
Melatih jemaat untuk melayani, sehingga terjadi pelipatgandaan.
5 jenis api yang perlu dimiliki anak2 Tuhan :
- Api doa
- Api penyembahan
- Api penginjilan
- Pemuridan
- Pelayanan
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Ketidaktaatan Saul
Bacaan: 1 Samuel 13
Saul membagi 2 pasukan untuk menyerang Filistin. Ternyata pasukan Yonatan menang, sedangkan Saul belum berperang dan tidak menemukan titik kemenangan. Lalu Saul meniup sangkakala dan menyatakan dirinya menang, padahal sebenarnya Saul belum menang. Di sisi yang lain, Filistin sudah mengumpulkan pasukan yang sangat banyak untuk menyerang balik Saul. Mereka menjadi takut dan gemetar.
Rakyat Saul mulai meninggalkan Saul dan Saul menjadi takut. Sehingga Saul mengambil alih kedudukan Samuel sebagai imam, untuk mempersembahkan korban. Saul tidak menunggu Samuel datang, meskipun Samuel belum terlambat. Dalam hal ini Saul memiliki banyak ketidaktaatan.
Penyebab ketidaktaatan Saul :
1. Ketakutan / kekuatiran
Saul takut kalah dan mati. Dia tidak bertanya pada Tuhan dan menggunakan pikirannya sendiri. Ketakutan-ketakutan kita membuat kita mencari jalan keluar dengan pikiran kita sendiri. Saul tidak menunggu Samuel dan buru2 mempersembahkan korban. Padahal Samuel datang tidak lama setelah Saul mempersembahkan korban. Kemudian Saul mulai mempersalahkan Samuel yang tidak kunjung datang. Ketika kita mengambil sebuah keputusan yang salah, berapa banyak kita mulai menyalahkan orang lain dan sekeliling kita.
Mari belajar untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Kita harus percaya kepada Tuhan, dan juga pada pemimpin kita. Saul tidak percaya pada pemimpinnya. Kalau dia percaya pada Samuel, pasti dia percaya bahwa Samuel akan datang.
Masih Suka dengan Dosa
1 Samuel 15 selanjutnya menceritakan ketidaktaatan Saul selanjutnya.
Tuhan memperintahkan Saul untuk menumpas Bangsa Amalek sampai habis, tetapi Saul tidak menumpas semuanya.
Seringkali kita suka pilih2 untuk membuang dosa. Kita masih sayang untuk membuang dosa yang menyenangkan daging kita. Ini adalah bentuk ketidaktaatan. Mari kita taat pada Firman Tuhan secara utuh, tidak setengah-setengah. Tuhan tidak suka dengan dosa, maka kita harus melepaskan semuanya.
Saul merasa sudah melakukan Firman Tuhan, tapi sebenarnya melanggar Firman Tuhan [ayat 13]. Saul suka membenarkan diri, ditambah lagi dia membenarkan diri dengan alasan yang terlihat rohani [ayat 14]. Saul menyalahkan rakyatnya demi alasan membenarkan dirinya [ayat 21]. Bahkan ketika Samuel memperingatkan Saul atas ketidaktaatannya, tidak ada reaksi penyesalan apapun dari Saul.
Tuhan lebih tertarik dengan ketaatanmu daripada kita mempersembahkan korban. Tuhan melihat hati kita.
Berkatalah Saul kepada Samuel: “Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.
1 Samuel 15:24
Saul meminta maaf, tetapi tidak ada ketulusan di dalamnya, masih ada kata “tetapi” dalam permintaan maafnya. Hingga akhirnya Tuhan benar-benar menolak dia sebagai raja.
Janganlah kita menjadi seperti Saul yang tidak taat dengan perintah Tuhan. Mari kita belajar untuk menjadi orang yang taat kepada Tuhan. Mari kita tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Tanya dulu kehendak Tuhan dalam hidup kita sebelum kita melakukan sesuatu. Belajar percaya kepada Tuhan dan pemimpin kita, sehingga kita didapati menjadi anakNya yang taat kepada Tuhan.
- Published in Sermons











