FORGOT YOUR DETAILS?

Sermons

Hari-hari ini dunia sedang digemparkan dengan munculnya virus Corona yang menyebabkan ribuan kematian di berbagai negara. Hal ini adalah salah satu pertanda bahwa kita telah berada pada akhir zaman.

 

 

Sebuah situs dunia mencatat, ada 10 pertanda kiamat:
1. Malapetaka / Bencana alam
2. Tanda Kelaparan, Kemiskinan, & Penyakit
3. Kekerasan dan Sex bebas
4. Perang
5. Kemerosotan Moral
6. Banyak Orang Depresi
7. Penyebaran Ajaran Palsu
8. Krisis Lingkungan Global
9. Fenomena Alam
10.Kebangunan besar-besaran

Di akhir zaman, akan banyak orang mengalami stres dan kecemasan; mereka hidup dalam tekanan yang luar biasa. Sehingga akan banyak orang murtad kepada Tuhan, dan atau sebaliknya, akan banyak orang yang menyadari bahwa mereka membutuhkan Tuhan.

Di hari-hari terakhir ini, Tuhan sedang mencari orang-orang yang menyembah Tuhan dalam Roh dan Kebenaran. Mari kita Belajar menjadi penyembah yang benar dari seorang Pribadi Daniel (Daniel 1).

1. Memiliki Ketetapan Hati

Ketika Daniel diminta untuk menyantap makanan raja yang enak, dia memilih untuk tidak memakannya. Kemungkinan besar makanan-makanan itu sebelumnya dipersembahkan kepada dewa-dewa mereka. Daniel memiliki ketetapan hati untuk tidak menajiskan dirinya dengan meminum anggur dan menyantap makanan-makanan itu.

Sebaliknya, Daniel berketetapan hati untuk tetap menyembah Tuhan di tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Bahkan ia dengan tekun berdoa 3x sehari kepada Tuhan.

2. Berani Diuji

Daniel tidak takut menyatakan kuasa Tuhan, sekalipun dia di tengah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Daniel berani diuji, walau tidak makan santapan raja, dia tetap segar dan sehat setelah melewati 10 Hari.

Daniel berketetapan hati untuk tetap menyembah Tuhan, sekalipun sekelilingnya tidak mendukung dia. Mari kita miliki ketetapan hati dalam Tuhan; berketetapan hati untuk menyembah Tuhan, berketetapan hati untuk tetap setia hidup dalam kebenaran.

Daniel belajar setia dari hal kecil. Dari masalah makanan, kemudian ia teruji dan menjadi kesayangan raja. Ia menjadi orang bijaksana melebihi orang-orang yang ada di negeri itu; Ia dipromosikan oleh Tuhan.

Mau dipromosi oleh Tuhan? Belajarlah setia seperti Daniel. Lakukan kebenaran dengan ketetapan hati dan beranilah untuk diuji. Biarkan Tuhan berkuasa penuh dalam hidupmu. 

Ada 4 kata kasih dalam bahasa Yunani, yaitu Agape, Phileo, Eros dan Storge, tetapi ternyata hanya ada 2 kata kasih dalam bahasa Yunani yang muncul dalam Alkitab Perjanjian Baru, yaitu Agape yang muncul sebanyak 116 kali dan Phileo sebanyak 26 kali.

Kasih agape adalah kasih yang tidak bersyarat, kasih yang memiliki pengorbanan dan tidak mengharapkan imbalan. Sedangkan Philia adalah kasih dalam persahabatan, yang tidak ada hubungan atau ikatan darah.

Di dalam Matius 22:37-49, hukum yang terutama, kasih yang terdapat pada ayat ini adalah kasih Agape. Tidak hanya Tuhan yang memberikan kasih agape kepada kita, tetapi kita juga harus memiliki kasi Agape, yaitu kasih tanpa syarat kepada Tuhan, sesama dan diri sendiri.

1. Kasih Agape kepada Tuhan (1 Yoh. 4:7-8,10,19)

Pada dasarnya manusia tidak bisa mengasihi. Tetapi jika kita bisa mengasihi, semua karena Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita. Mengasihi Tuhan artinya memberikan seluruh hidup kita di tangan Tuhan dan mau didewasakan oleh Tuhan. Kita mau mengasihi Dia bukan karena berkat dan imbalan yang kita harapkan kita terima, tapi kita mencintai Tuhan tanpa syarat, walaupun apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita akan tetap mengasihi Tuhan.

2. Kasih Agape kepada sesama manusia (1 Yoh 4:20-21)

Jika seorang berkata aku mengasihi Tuhan, tetapi ia membenci saudara nya, maka ia adalah, seorang pendusta. Apa bukti kita mengasihi Tuhan? Apakah kita sudah mengasihi sesama kita dengan kasih agape, yaitu kasih tanpa syarat? Mudah untuk mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi Tuhan mengajar kita mengasihi orang yang membenci kita (Luk. 6:27-29)

Mengasihi Tuhan dan sesama kita dapat di lihat dari perbuatan kita, apa yang kita lakukan untuk orang lain, seperti kita melakukan nya untuk Tuhan (Mat. 25:31-40).

3. Mengasihi Diri Sendiri

Untuk dapat mengasihi diri sendiri, kita perlu mengenal kasih Tuhan. Dan kita tidak dapat mengasihi orang lain sebelum kita mengasihi diri kita sendiri. Karena itu, kita harus bisa menerima diri kita sebagai ciptaanNya yang mulia dan yang dikasihiNya.

Yoh 15:13-17 – Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang rela memberikan nyawaNya untuk sahabatNya. Tuhan memanggil kita dengan sebutan sahabat.
Kata kasih yang tertulis di sini adalah Phileo. Ini menunjukkan bahwa Tuhan mau kita punya hubungan yang dekat denganNya.

Milikilah Kasih Agape dalam hidup Kita, yaitu kasih yang tak bersyarat, dan milikilah kasih Phileo yang membuat kita selalu melekat dengan Tuhan.

Bacaan : Filipi 16:13-40

Dalam Filipi 16:13-40, adalah cerita bagaimana Paulus merintis Jemaat di Filipi dengan cara yang luar biasa. Mulai dari bertemu dengan seorang pedagang bernama Lidia, mengusir roh tenung dari perempuan tukang sihir, pujian dan penyembahan Paulus yang membuka pintu penjara, hingga bertobatnya kepala penjara beserta keluarganya. Tuhan memakai banyak orang dengan berbagai macam latar belakang untuk merintis jemaat di Filipi. Demikian juga dalam hidup ini, Tuhan sanggup memakai orang dengan segala macam latar belakang untuk membangun gerejaNya, kerinduanNya.

Semua Bisa Dipakai Tuhan

Kita semua bisa dipakai Tuhan; dimanapun kita dan bekerja sebagai apapun. Kita bisa dipakai Tuhan untuk merintis gerejaNya. Tuhan akan melakukan perkara-perkara yang ajaib ketika kita mau meletakkan hidup kita untuk dipakai Tuhan. Kita harus jadi anak Tuhan yang UUY (Ujung- Ujungnya Yesus): dalam kita bekerja, dalam kita melakukan segala hal, biarlah segalanya selalu tujuan akhirnya adalah untuk Yesus.

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus — itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. (Filipi 1:21-24)

Paulus bergumul dalam 2 pilihan – Hidup atau Mati. Dia lebih bersukacita kalau dia mati, karena dia akan bertemu dan tinggal dengan Yesus, pribadi yang paling dikasihinya. Tetapi jika Dia hidup, artinya dia bekerja untuk memberikan buah-buah yang manis untuk Tuhan. Dia INGIN mati – Tinggal bersama Yesus, tetapi bagi dia, dia PERLU hidup supaya dia dapat memberi buah dan memberitakan injil – untuk membawa semua orang mengenal Yesus.

Paulus meneladani Yesus dimana Yesus lebih memilih “hidup” diantara manusia, sekalipun menderita, karena dengan Dia “hidup” maka Yesus dapat menyelamatkan semua orang dan menebus dosa-dosa kita.

Maukah kita ambil bagian untuk merintis gerejaNya? Maukah kita ambil bagian untuk memberikan diri, hidup kita, pekerjaan kita untuk mengabarkan Injil Kristus ? Sama seperti Yesus yang memberikan diriNya, mengambil rupa seorang hamba dan menebus dosa-dosa kita dengan darahNya yang mahal.

Mari kita miliki pikiran dan perasaan Kristus (Fil 2:5). Jadilah bagian dari rencana Tuhan untuk membangun jemaatNya, membangun gerejaNya.

Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu (Kisah Para Rasul 3:21)

Di akhir zaman ini, Tuhan rindu ada pemulihan di antara anak-anak Tuhan. Pemulihan itu tidak hanya sekali, tetapi perlu berulang kali. Sama halnya dengan pertobatan; tiap-tiap hari kita perlu mengalami pertobatan. Sudahkah kita mengalami pertobatan yang sejati? Jika tidak, kita akan menjadi orang Kristen “TOMAT”- Tobat Kumat, setelah bertobat kembali melakukan hal sama terus menerus.

Selama kita hidup kita sedang diproses menjadi semakin serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus artinya kita memiliki karakter, hati, dan pemikiran seperti Kristus. Tetapi banyak anak-anak Tuhan yang menjadi serupa dengan dunia ini. Oleh karena itu, akan ada pemulihan yang dijanjikan Tuhan, dimana anak-anak Tuhan itu menjadi tampil berbeda dengan dunia ini.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2)

Pembaharuan budi yang dimaksud adalah pikiran. Pertobatan kita harus disertai dengan perubahan pola pikir kita (metanoia). Pikiran kita bisa menjadi salah satu sumber penyakit. Bukan penyakit secara jasmani saja, tetapi juga bagian dari Mental Illness. Mental Illness adalah penyakit dalam jiwa kita yang pelu dipulihkan. Banyak sekali anak Tuhan yang mungkin sangat mencintai Tuhan dan melayani Tuhan, tetapi mereka menderita penyakit ini; Mereka butuh disembuhkan!

Jiwa kita sehat saat kita memiliki perasaan dan pikiran Kristus

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5)

Jiwa kita sehat ketika kita memiliki perasan dan pikiran Kristus. Tetapi Iblis berusaha merusak gambaran Tuhan yang benar dalam diri anak-anak Tuhan. Gambar diri yang rusak membuat banyak gereja Tuhan diisi oleh orang- orang sakit, sehingga mereka sulit mengalami pertumbuhan dan terobosan dalam Tuhan.

Iblis berusaha menanamkan dalam diri manusia bahwa harga diri kita ditentukan oleh penampilan dan apa kata orang tentang kita. Dunia mengajarkan, kita berharga jika kita cantik/ganteng, kaya, punya posisi tinggi dalam pekerjaan; itu yang merusak jiwa kita.

Tanpa sadar banyak Tuhan yang mengejar rasa berharga yang salah dengan mengikuti standar dunia; hidup dikendalikan dari apa kata orang lain, bukan apa kata Tuhan terhadapnya. Itulah yang merusak emosi kita, sehingga banyak orang yang menggunakan topeng; tidak menjadi diri sendiri,

Mari kita sadari bahwa kita sungguh-sungguh berharga di mata Tuhan. Kita berharga karena kita sudah ditebus oleh darah Kristus, bahkan Firman Tuhan berkata Kkta semua berharga di mata Tuhan: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku san mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” (Yesaya 43:4).

Orang yang perlu dipulihkan adalah orang yang memiliki kepercayaan yang salah dan orang yang belum bisa menerima Kasih Kristus. Orang yang sungguh-sungguh menerima kasih Kristus, hidupnya dipulihkan, pikirannya diubahkan, dan dia akan tahu siapa sebenarnya dirinya dalam Tuhan.

Tuhan rindu kita semua pulih dari “sakit jiwa” kita. Hanya Yesus yang sanggup memulihkan kita. Dia yang akan memulihkan kita dengan kasih Tuhan yang tak bersyarat. Mari kita sungguh-sungguh menerima kasihNya bagi kita. Bukan hanya mendengar tentang kasihNya dari orang lain, tetapi merasakan secara pribadi kasihNya. Dengan demikian, kita dapat diubahkan dan dipulihkan.

Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu (Yeremia 31 : 3)

Maksudku ialah : hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga kamu setiap kali melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. (Galatia 5:16-18)

Rasul Paulus berbicara tentang hidup menurut Roh atau daging. Keduanya saling bertentangan, dan sebagai anak Tuhan, kita harus belajar menyalibkan kedagingan kita yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Hari-hari ini banyak orang Kristen yang ngakunya anak Tuhan, tetapi ternyata ada berhala-berhala dalam hidupnya.

Di perjanjian lama, berhala-berhala digambarkan dengan patung-patung atau dewa-dewa. Di masa sekarang, berhala bisa berbicara banyak hal yang lebih kita utamakan dibandingkan Tuhan dalam hidup kita, dan itu sangat menghambat pertumbuhan rohani kita.

Apa saja hal yang bisa menjadi berhala kita?

Penerimaan

Kita sangat mengutamakan penerimaan dan persetujuan orang lain akan apa yang kita putuskan, dan tidak bertanya kepada Tuhan. Kita hidup dari apa kata orang lain tentang kita dibandingkan apa kata Tuhan tentang kita. Tujuan hidup kita tidak lagi diselaraskan dengan tujuan Tuhan, melainkan apa yang orang lain katakan. Seringkali tidak dapat menolak orang lain, atau kondisi hati yang sangat buruk jika menolak orang lain.  Ini membuat kita tidak bisa mengikuti jalan-jalan Tuhan.

Posisi/Jabatan/Kekuasaan

Kita menjadi berambisi untuk mendapatkan posisi tertentu. Berebut mencari kekuasan dengan menghalalkan segala macam cara. Hidupnya digerakkan dengan mencari pengakuan melalui jabatan dan kekuasaan. Ini juga menjadi salah satu alasan kejatuhan Lucifer; karena dia berambisi dengan jabatan dan kekuatan, dia ingin menjadi sama seperti Tuhan (Yesaya 14:12-14).

Promosi itu datangnya dari Tuhan. Jangan ambisius untuk mendapatkan jabatan, karena Tuhan tahu waktu yang terbaik untuk mengangkat kita.

Tuhan mau kita memiliki kerendahan hati (Matius 23:11). Tidak perlu mencari pengakuan dari dunia ini. Kita harus sadari bahwa posisi kita sebagai Ahli Waris Kerajaan Surga adalah posisi yang luar biasa.

Pekerjaan / Pelayanan / Studi

Menjadi orang sibuk dengan perkerjaan/ pelayanan/ studi kita tanpa berfokus kepada Tuhan, pekerjaan/ pelayanan/ studi kita telah menjadi berhala bagi kita. Kita berfokus kepada pekerjaannya, bukan kepada Tuhan lagi, atau menjadi seorang yang melayani di banyak bidang, sehingga tidak fokus beribadah menemukan Tuhan. Kita suka pelayanan sana sini, tetapi justru itu membuat kita lupa bersekutu dan berdoa dengan Tuhan. Jangan seperti Martha yang sibuk melakukan ini dan itu, tapi jadilah Maria yang mengerti bahwa bagian terbaik adalah mendengarkan Tuhan.

Oleh karena itu, kita harus bisa seimbang dalam pelayanan dan pekerjaan dengan Tuhan. Jangan kita lupa siapa yang lebih penting dari semua pelayanan kita.  

Keluarga

Keluarga juga bisa menjadi berhala bagi kita. Kita lebih mencintai kelurga kita daripada Yesus. Banyak anak-anak Tuhan yang lebih mementingkan kata-kata keluarganya daripada mendengarkan kata Tuhan terhadapnya. Baik dalam melayani Tuhan, mengikuti panggilan Tuhan, ataupun mengambil keputusan untuk sungguh-sungguh sama Tuhan. Berhala ini membuat kita tidak bisa memenuhi kerinduan Tuhan buat hidup kita, karena seringkali kita tidak mendengarkan Tuhan dan lebih mendengarkan apa kata keluarga kita.

Kekayaan / Materi

Orang dengan berhala ini adalah penganut Teologi kemakmuran. Harta dan kekayaannya menjadi berhala dan lebih diutamakan daripada Tuhan. Tidak suka memberikan persembahan buat Tuhan, karena sayang dengan uangnya. Lebih baik mencari banyak uang dan terus bekerja cari uang daripada pergi beribadah.

Gereja / Denominasi

Gereja juga bisa menjadi berhala, ketika kita terlalu mengkhususkan nama gereja, denominasi, aliran, atau kita terlalu mengagungkan hamba Tuhan daripada Tuhan. Bahkan ada yang sampai selalu menyetujui semua pengajarannya dan tidak menyaring hal-hal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Hobi dan Me Time

Hobi-hobi kita bisa menjadi berhala juga dalam hidup kita, misalnya mengidolakan Bintang Film berlebihan, main handphone, intenet, atau games terus menerus, dan tidak punya waktu untuk Tuhan. menghabiskan semua waktu untuk kepuasan diri sendiri, dan tidak memiliki tujuan ke arah Tuhan.

Mari kita sungguh-sungguh hidup untuk Tuhan. Jangan kita memiliki berhala dan bersahabat dengan dunia ini. Sebab Firman Tuhan katakan, Persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yakobus 4:4). Tuhan mau kita hidup dan hati kita utuh diberikan untuk Tuhan.

Jangan kuatir dengan segala sesuatu, karena Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Mungkin kita tidak sadar memiliki berhala-berhala dalam hidup kita, hari ini mari kita sadari dan lepaskan semua berhala kita, dan Tuhan yang akan memegang hidup kita.

Bacaan : Matius 16 : 5 – 12 (Tentang ragi Orang Farisi dan Saduki)

Dalam Matius 16 : 5 -12, Yesus menjelaskan kepada murid-muridNya untuk tidak mengikuti cara-cara Orang Farisi dan Saduki. Yesus berbicara kepada murid-muridNya melalui perumpamaan ragi. Tetapi rupanya murid-muridnya salah menangkap apa yang Yesus katakan; Murid-muridNya tidak sungguh-sungguh memahai Yesus sebagai orang yang selama ini dekat dengan mereka. Bahkan dalam Matius 16:5-12 Yesus kembali mengingatkan mereka tentang kejadian dan mujizat-mujizat yang mereka lihat dan rasakan bersama dengan Yesus. Mereka bersama dengan Yesus, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mengenal Yesus.

Sudahkah kita sungguh-sungguh mengenal pribadi Yesus dan mengenal rencanaNya dalam hidup kita?

Dalam Markus 8:14-21, yang juga bercerita tentang Yesus yang memperingatkan murid-muridNya tentang ragi Orang Farisi dan Saduki, Yesus mengatakan “kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidak ingat lagi,..” (ayat 18). Terkadang kita seperti murid-murid Yesus. Kita mungkin mengaku anak Tuhan, tetapi seringkali kita tidak bisa melihat perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib, kita juga tidak mendengarkan Tuhan dengan baik.

Yesus mengecam pada Ahli Taurat dan Orang Farisi karena mereka begitu mengikuti tradisi keagamaan, tetapi tidak sungguh-sungguh mengenal pribadi Yesus.

Mereka selalu protes kepada Yesus karena merasa Yesus tidak mematuhi hukum taurat: ketika Yesus makan bersama dengan pemungut cukai (Matius 9:11), ketika murid-muridNya memetik gandum pada hari Sabat (Matius 12:2), Ketika Yesus tidak membasuh tangan ketika makan (Markus 7:3). Mereka terlalu berpegang kepada tradisi, dan mengira Yesus telah melanggar dan mengacaukan hukum taurat yang selama ini mereka pegang.

Hati-hati dengan kebiasaan Orang Farisi ini! Mereka rajin beribadah, bahkan hafal semua isi kitab, tetapi tidak hidup dibawah pimpinan Tuhan. Mereka suka menceritakan isi Taurat, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya (Matius 23:1); semua dilakukannya supaya dilihat oleh orang lain dan dipandang hebat. Jangan menjadi orang Kristen Farisi! Yang hidupnya hanya penuh dengan pencitraan dan penghormatan diri sendiri. Jika kita diberi kesempatan untuk melayani, biarlah semua penghormatan hanya milik Tuhan.

Kita seringkali berpikir apa yang orang lain pikirkan tentang kita, tetapi kita yang perlu kita pikirkan adalah “Apa yang Tuhan pikirkan tentang Saya”.

Bergantung dengan apa opini orang lain, tetapi tidak mengindahkan apa yang Tuhan katakan. Seperti itulah sifat orang Farisi dan ahli taurat. Ketika kita selalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, kita hanya akan berfokus pada diri sendiri dan akan mengusahakan diri terlihat baik (pencitraan). Hati-hati terhadap jebakan sombong rohani! Bahkan hal rohani pun bisa menjadi sebuah kedok bagi kita meninggikan diri. Karena itu, kita harus senantiasa menjaga hati kita tetap murni di hadapan Tuhan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak, Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan (Matius 3:7-8)

Mari kita menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Hasilkanlah buah-buah yang baik di hadapan Tuhan supaya jangan kita “ditebang” saat kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Jangan biarkan hal-hal kecil yang bersifat buruk dalam hidup kita. Karena ketika kita biarkan, itu bisa menjadi dosa yang semakin berkembang dan berbuah-buah dalam hidup kita.

Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita hidup di dunia ini. Karena itu, mari kita berikan yang terbaik buat Tuhan. Kita sungguh-sungguh mengenal Tuhan dan mengasihiNya dengan segenap hati kita. Dengan kita sungguh-sungguh mengenalNya, maka kita mengerti kerinduan dan hatiNya bagi setiap kita.

 

Ketika Yesus masuk ke Rumah orang Farisi, seorang wanita berdosa menangis di kakiNya, menyekanya dengan rambutnya, dan mengurapi kakiNya dengan minyak yang mahal. Banyak orang yang tidak mengindahkan tindakan wanita ini; karena dia seorang pendosa, dan minyak mahal seharga 300 dinar yang dipakainya itu dianggap terlalu boros untuk mengurapi kaki Yesus (300 dinar pada waktu itu senilai gaji 1 Tahun).

Tetapi Yesus terkesan dengan tindakan wanita ini. Disaat orang Farisi pemilik rumah itu tidak membasuh kaki Yesus, tetapi wanita ini memberikan minyak wangi terbaik untuk diberikan kepada Yesus. Bahkan Yesus berkata, perbuatan wanita ini akan dikenang sepanjang masa.

Seberapa besar rasa syukur kita, menentukan apa yang kita lakukan buat Tuhan.

Wanita itu mengerti arti mengucap syukur atas anugerah Tuhan. Sehingga dia memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Berbeda dengan Yudas yang suka hitung-hitungan, bahkan untuk sesuatu yang diberikan untuk Tuhan.

Sudahkah kita memberikan minyak yang terbaik buat Tuhan?

Minyak berbicara tentang sesuatu yang mahal, sesuatu yang berharga, sesuatu yang kita korbankan untuk Tuhan. Jadilah seperti wanita itu, yang mencurahkan semua yang berharga di kaki Tuhan. Sesuatu yang berharga bagi kita mungkin berbicara tentang keluarga, uang, dosa kita, sifat / kebiasaan-kebiasaan buruk atau bahkan diri kita sndiri, mari kita belajar serahkan semuanya kepada Tuhan.

Minyak berbicara pengorbanan kita. Ketika dalam hidup ini kita memilih kehendakNya di atas kehendak kita sndiri, ketika kita rela daging kita dihabiskan supaya Tuhan disenangkan, dan ketika kita belajar taat akan stiap apa yang Tuhan mau dalam hidup kita.

Yohanes 21:18-23

Seorang Petrus yang suka kepo (ingin tahu) dengan urusan orang lain yang bukan urusannya. Petrus menggunakan pikirannya sendiri menafsirkan apa yang Yesus katakan dan menyebarkannya. Sehingga menjadi gosip di antara murid-murid. Mari kita jangan berpegang dengan pemikiran diri sendiri. Mari kita berhati-hati dengan pemikiran kita, karena belum tentu yang kita pikirkan benar. Serahkan semua pemikiran kita kepada Tuhan, sebab itu juga bagian dari kita memberi yang terbaik untuk Tuhan.

Minyak yang terbaik bukan berbicara tentang berdoa & baca Firman Tuhan, tetapi Minyak kita yang terbaik adalah ketika kita berkorban untuk Tuhan, dan lewat pengorbanan kita, Tuhan disenangkan.

Hidup kita ini penuh dengan pilihan. Dalam setiap pilihan itu, tentunya kita mau apa yang kita pilih adalah yang hal tepat. Tetapi apa jadinya kalau kita memilih sesuatu saat emosi kita sedang rusak? Tentu semua pilihan, tindakan, dan keputusan kita pun jadi salah.

Kita perlu memberi perhatian lebih untuk “Emosi yang Rusak”. Emosi yang rusak adalah akibat dari luka masa lalu yang tidak kita bereskan, sehingga kita memiliki emosi yang tidak dapat kita kendalikan. Orang yang memiliki emosi yang rusak akan selalu haus akan penerimaan dan penghargaan orang lain, sehingga dia berusaha dengan keras untuk mencapainya bahkan dengan cara-cara yang salah. Bahayanya, emosi rusak dan hubungan rusak membuat kita mengambil keputusan dan tindakan yang salah sehingga seluruh jalan kehidupan kita tidak sesuai dengan destiny Tuhan.

Orang yang punya emosi yang rusak hidup dalam ketakutan; takut salah buat keputusan, takut salah memilih pasangan, takut salah memilih pekerjaan, takut kehilangan yang berlebihan.

Dalam Tuhan seharusnya kita tidak hidup dalam ketakutan

Semua ketakutan kita harus dilawan dengan kita belajar melangkah dengan Iman. Ketika kita mau menentukan pilihan pastikan apakah itu menyenangkan hatimu sendiri atau menyenangkan hati Tuhan. Tentu pilihan yang benar tolak ukurnya adalah sesuai Firman Tuhan, ada damai sejahtera, dan pastikan pilihanmu itu menyenangkan hati Tuhan.

Mintalah nasehat-nasehat yang benar dari orang-orang yang dapat dipercaya dalam hal kerohanian.

Jangan sembarangan minta nasehat orang yang tidak mengenal Tuhan; itu hanya akan menuntun kita kepada pilihan yang salah. Miliki penasehat di dalam Tuhan yang menuntun kamu dalam pilihan yang benar dalam Tuhan.

Emosi yang rusak merupakan sebuah belenggu bagi kita, yang membuat kita sulit untuk berubah dan menerima kasih karunia Tuhan, bahkan membuat kita tidak dapat berlari ke tujuan Tuhan yang ditetapkanNya bagi kita. Tetapi semua kembali kepada pribadi kita: Maukah kamu berubah? Berubah mengandung kata aktif, artinya perubahan kita adalah sebuah tindakan yang harus kita lakukan. Diperlukan usaha untuk berjuang melawannya supaya kita dipulihkan.

Belenggu-belenggu manusia:

Budos – Budak dosa

Hidupnya diikat oleh dosa. Dia mau lepas, tetapi tidak bisa. Sehingga dia menyerah dengan keadaan itu, dan terus melakukan dosanya. Hal ini juga berupa kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak dikuasai, sehingga berbuahkan dosa. Dan itu menjadi sebuah belenggu yang sulit untuk dilepaskan.

Belenggu Mamon

Orang yang dibelenggu mamon ciri-cirinya adalah materialistis dan hidupnya dikuasai oleh kekuatiran. Hidupnya selalu kuatir apa yang akan dimakan besok, kuatir akan masa depannya, kuatir dengan harta-harta yang dimilikinya. Dia dibelenggu oleh rasa berharganya terhadap materi.

Belenggu nafsu keinginan

Hidupnya penuh dengan keinginan. Semua yang diinginkan harus terjadi dan sesuai dengan keinginannya. Dia dibelenggu dalam hal Pasangan, Games, Makan, keterikatan Internet, Media sosial, Ikatan nafsu.

Hidup kita adalah pilihan: Apakah kita memutuskan jatuh dalam dosa dan melukai Tuhan atau menyangkal diri dari semuanya. Ketika ada masalah dalam hidup kita, Kita pilih diam dan bereskan dengan Tuhan ataukah kita memilih untuk pahit.

Orang yang emosinya rusak adalah orang yang memilih untuk pahit ketika masalah terjadi dalam hidupnya.

Emosi kita yang rusak harus disembuhkan oleh Tuhan, dan kesembuhan kita itu dimulai dari keputusan kita untuk mau sembuh. Perhatikan setiap keputusan kita! Jangan membuat keputusan yang dekat-dekat dengan dosa. Sepert Lot, dia meninggalkan Abraham dan membuat sebuah keputusan untuk dekat dengan Sodom dan Gomora, yang akhirnya menyeretnya masuk dalam dosa yang Tuhan dibenci oleh Tuhan.

Kita perlu menguasai daging kita; kita harus bisa mengontrol semua emosi kita. Karena itu, kita jangan memberi daging kita makan terus. Memberi makan daging berbicara kita kompromi dengan dosa, kita kompromi dengan kebiasaan buruk, dan akhirnya membuat kita jatuh. Kita harus perbesar roh kita; kasih makan roh kita dengan lagu Rohani, doa dan Firman Tuhan. Sehingga roh kita jauh lebih mendominasi daripada perasaan kita.

Sebab beginilah Firman Tuhan kepada kaum Israel: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup! Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.” Carilah Tuhan, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel. (Amos 5:4-6)

Betel, Gilgal, dan Bersyeba adalah tempat yang pernah dipakai untuk bertemu dengan Tuhan. Itu adalah tempat-tempat yang luar biasa. Tetapi tempat-tempat itu pada akhirnya menjadi berhala; orang-orang lebih mengkhususkan tempat itu daripada mengutamakan Tuhan. Kita mungkin pernah mengalami pengalaman-pengalaman dengan Tuhan, tetapi yang terutama bukanlah pengalaman itu, tetapi Tuhan. Jangan punya Betel, Gilgal, atau Bersyeba dalam hidupmu, tetapi carilah Tuhan, maka kamu akan hidup.

Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mulai memperhambakan diri lagi kepadanya (Galatia 4:9)

Kita sebagai orang yang pernah mengecap kebaikan Tuhan jangan mau lagi diperhamba oleh Roh dunia ini yang miskin dan lemah. Tetapi kalau Roh Tuhan ada dalam kita, kita adalah orang-orang yang kaya dengan Kasih KaruniaNya.  Emosi yang rusak adalah bagian dari roh yang miskin dan lemah itu, karena itu mari kita mau belajar dipulihkan hari ke hari bersama Tuhan.

 

TOP