Khotbah Ev. Christin Jedidah : Ahli Waris
“Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Roma 8:14-17)
Apa yang muncul dibenakmu ketika mendengar kata “warisan”? Warisan adalah sesuatu yang diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Warisan bukan hanya berbicara tentang harta saja, tetapi bisa juga banyak hal. Kita bisa menerima warisan berupa nilai-nilai atau karakter-karakter dari nenek moyang kita; dalam hal baik maupun buruk. Ada juga warisan yang otomatis kita warisi, yaitu warisan berkat atau warisan kutuk. Ketika nenek moyang kita hidup dalam kebenaran Firman Tuhan, maka kita juga sebagai keturunannya juga akan menerima warisan berkat. Sebaliknya, ketika nenek moyang kita hidup dalam kutuk, itu juga akan menurun kepada kita. Maka dari itu, mari kita hidup seturut dengan kebenaran Firman Tuhan, supaya warisan kutuk itu dipatahkan, dan warisan berkat dapat kita nikmati dan wariskan kepada anak cucu kita.
Sejarah akan terus berulang, sampai ada seseorang yang masuk dan memenangkannya
Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, kita sudah mendapatkan warisan dosa; itulah yang disebut sebagai dosa kecenderungan. Kita akan memiliki kecenderungan dosa yang sama dengan orang tua atau nenek moyang kita. Tetapi semuanya akan terus terulang dari generasi satu ke generasi sampai ada seseorang yang memutuskan ikatan dosa itu. Jika dosa itu masih melekat dengan kita, maka kita tidak akan bertumbuh maksimal dalam Tuhan. Hidup kita harus mengalami pertumbuhan rohani.
Orang yang siap menerima warisan adalah seorang yang sudah akil balig
Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu. (Galatia 4:1)
Untuk menjadi seorang ahli waris Kerajaan Allah, kita harus belajar menjadi anak terlebih dahulu. Tetapi seorang ahli waris yang belum dewasa belum bisa menerima warisan. Karena itu, jika kita mau menerima warisan, kita harus dewasa terlebih dahulu. Kita semua adalah ahli waris Kerajaan Allah, tapi syarat untuk menerima warisan adalah dewasa secara rohani.
Demikian pula kita: selama kta belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia (Galatia 4:3)
Orang yang dewasa adalah orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Allah, dan tidak lagi takluk dengan roh-roh dunia. Banyak yang mengaku orang Kristen, tapi masih takluk kepada roh-roh dunia. Orang yang seperti ini tidak berhak menerima warisan dari Tuhan. Maka dari itu, jadilah dewasa di dalam Tuhan.
Seorang hamba adalah seseorang yang diperhamba oleh sesuatu, dan dia tidak berhak menerima apapun. Tetapi Tuhan tidak tidak lagi menyebut kita hamba, tetapi ahli warisNya (Galatia 4:4-7)
Kita harus kembali pada tujuan awal Tuhan menciptakan kita. Status kita adalah anak raja. Karena itu kita harus sadar otoritas kita sebagai anak Raja. Ketika kita masih diperhamba oleh kutuk, kita tidak akan tampil sebagai anak raja. Kita diciptakan Tuhan pada mulanya sempurna, tetapi kita mudah jatuh bangun dalam dosa, tidak bisa bertumbuh lebih lagi dalam Tuhan; kita tidak bisa sempurna, karena dosa warisan yang diberikan kepada kita. Tetapi ketika kita menjadi ahli waris Kerajaan Sorga, kita diberi otoritas untuk mematahkan setiap warisan “pengemis” dalam hidup kita. Di dalam Tuhan tidak ada yang mustahil; itu adalah otoritas kita sebagai anak Raja. Miliki mental sebagai seorang anak Tuhan.
Bagian yang vital dari sebuah tanaman adalah akarnya. Tidak semua tanaman memiliki buah atau daun, tetapi tanpa akar, sebuah tanaman tidak akan bisa bertumbuh. Ketika akar itu kuat, maka tanaman itu bisa bertahan hidup, bertumbuh, bahkan berbuah. Seorang yang dewasa akan terlihat dari buahnya. Sudahkah kamu berbuah? Kalau kita mau menghasilkan buah yang baik, akar pemasalahan dari hidup kita harus kita bereskan, yaitu warisan kutuk/dosa dari nenek moyang kita. Setelah itu, barulah kita bisa menerima warisan yang sehat, yaitu warisan dari Kerajaan Sorga.
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)
Kita adalah orang-orang pilihan Tuhan. Kita diperintahkan untuk berbuah, dan buah yang kita hasilkan tetap. Sebagai anak Tuhan yang dewasa, kita tahu betul apa yang kita minta kepada Tuhan adalah sebuah kebutuhan, bukan keinginan semata. Selama kita minta kepada Tuhan, dan itu selaras dengan kerinduan Tuhan, Tuhan pasti akan memberikannya kepada kita. Belajar percayai Tuhan, karena dia pasti memberikan yang terbaik untuk setiap kita.
Kalau kita dewasa dan siap menerima warisan dari Tuhan, kita akan mendapatkan pemenuhan dari janji-janji Tuhan. Kita adalah buatan Allah, dan Dia rindu kita mengerjakan pekerjaan baik yang sudah disediakan-Nya untuk kita (Efesus 2:10). Maka dari itu, mari kita semakin bertumbuh dan semakin dewasa dalam Tuhan, supaya kita siap menerima warisan kita.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Anak yang Sah
Kisah para tokoh di Alkitab memang menarik. Salah satunya tokoh yang satu ini: Titus. Dikatakan bahwa Titus merupakan anak rohani dari rasul Paulus. “Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama:” [1 Titus 1:4a]. Singkat cerita mengenai Titus, ia adalah orang Yunani yang diberi pelayanan oleh Paulus untuk melayani orang Kreta. Mengapa Paulus memilih Titus untuk melayani orang Kreta? Karena Paulus melihat bahwa Titus ada seorang anak muda yang memiliki semangat yang militan.
Bila Titus dikatakan sebagai anak yang sah, pasti juga ada anak yang tidak sah di dalam iman. Bagaimana seseorang bisa dikatakan sebagai anak Tuhan yang sah dalam iman? Mari kita simak Ibrani 12:5-6.
Tidak Menganggap Remeh Didikan Tuhan
“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya” [Ibrani 12:5b].
Ketaatan itu penting! Anak yang sah tidak akan menganggap remeh didikan Bapa.
Nasihat yang diberikan Tuhan itu baik adanya. Mungkin Ia menegur kita lewat pembimbing rohani, para pelayan, dan orang-orang yang berada dalam lingkup rohani kita. Namun, tidak semua orang ingin menjadi anak.
Menjadi anak berarti hidupnya diatur dan hal itu yang membuat banyak orang menghindari didikan Tuhan.
Padahal masa anak-anak adalah masa dimana kita tidak mengerti banyak hal. Maka dari itu, kita perlu untuk dididik. Kalau kita ingin menjadi dewasa secara rohani, kita harus menjadi anak terlebih dahulu. Dididik berarti juga ada rasa rendah hati untuk senantiasa mengoreksi diri. Jadi, jangan pernah menyerah untuk terus ditegur.
‘Disesah’ oleh Tuhan
“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
Jika kita mencari gambar di google dengan keyword ‘sesah’, kita akan menemukan sebuah gambar cambukan. Ini sangat kontroversi dengan pernyataan sebelumnya yaitu anak yang dikasihi-Nya.
Tuhan memiliki tujuan untuk ‘menyesah’ kita. Pertama, Tuhan tidak mau kita dihukum bersama dunia. Ia mendidik kita untuk tidak sama seperti dunia. Kedua, ia mau kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.
Orang pilihan pasti akan dilatih lebih keras daripada yang lainnya. Itu bertujuan untuk membentuk pribadi kita sehingga kita berbeda dengan orang-orang biasa. Begitu juga dengan Tuhan. Ia melatih kita dengan kasih. Ia menekan kedagingan kita, sehingga kita menjadi berbeda dengan orang dunia. Cara inilah yang menunjukkan bahwa Allah mengasihi kita. Dan itu dilakukannya kepada anak-Nya yang sah. Mungkin manusia bisa salah mendidik kita, tetapi Tuhan akan mendidik kita secara luar biasa bila kita mengijinkan-Nya untuk ‘menyesah’ kedagingan kita.
Titus mengambil peran untuk menegur orang-orang di Kreta [Titus 3:9-11]. Ini membuktikan bahwa banyak bidat-bidat yang sulit ditegur di sana. Memang ada orang-orang yang sudah diajar berkali-kali, namun tidak kunjung berubah. Kita harus bisa membedakan mana orang yang mau berubah dan mana yang tidak memiliki niat untuk berubah. Walaupun begitu, kita harus tetap mendoakan orang-orang yang tidak mau diajar agar mereka mengenal didikan Kristus.
Paulus juga menasihati Titus untuk menciptakan budaya Kristus di antara orang-orang Kreta [Titus 2]. Ada sebuah kehidupan jemaat yang dibangun. Membangun budaya kristus berarti menjadi teladan bagi orang-orang sekitar. Itulah yang seharusnya menjadi poin utama dalam kehidupan Kristen.
Kita harus menjadi teladan dan bisa mempertanggungjawabkan hidup ini di hadapan Tuhan. Menjadi anak yang sah dalam Kristus artinya kita harus mempraktekkan budaya Kristus, sehingga dunia bisa melihat cerminan Kristus di setiap perilaku kita.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Jangan Selalu Negatif!
Salah satu orang yang terkaya di dunia ini, Jack Ma membuat presentasi di sebuah perkuliahan tentang kesuksesan bisnisnya. Kemudian ia menguji orang-orang di sana, apakah mereka teliti dan cekatan. Ia menuliskan beberapa penjumlahan matematika sederhana. Semua benar kecuali 1 yang terakhir, ia salah menjumlahkan dan semua orang di kelas tersebut menertawakannya. Lalu ia berkata bahwa mereka terlalu fokus pada satu kesalahannya yang terakhir, padahal di hitungan sebelumnya ia menulis dengan benar, tetapi tidak ada pujian. Ia menekankan bahwa mereka terlalu fokus dengan kesalahan.
Anak-anak Tuhan seringkali terlalu fokus dengan kesalahan. Kita terlalu banyak melihat hal-hal yg buruk dalam diri orang yang kita kasihi daripada hal-hal yang baik.
Berapa banyak, suami istri, anak dengan orang tua yang tidak bisa menikmati berkat-berkat hubungan karena sibuk melihat hal-hal yg buruk di dalam hidup orang tersebut. Kita tidak melihat hal-hal baik yang telah dilakukan dan berfokus pada hal-hal buruk. Sehingga hidup mereka tidak pernah bisa berhasil.
Apakah kita selalu melihat keburukan orang lain dan tidak melihat kebaikan dalam diri orang lain?
Karena kita selalu melihat keburukan dalam diri orang lain, maka gambar diri kita pun buruk. Orang-orang selalu melihat hal-hal yg buruk dalam diri orang lain, tapi Tuhan mengajarkan kita untuk mendoakan dan melihat hal-hal yg baik dalam diri orang yang kita doakan. Itulah Tuhan kita, penuh dengan kasih karunia. Apakah kita terlalu sibuk melihat kekurangan yang kita miliki? Sehingga kita tidak melihat potensi yang Tuhan berikan dalam diri kita untuk melakukan perkara-perkara besar untuk kemuliaan nama Tuhan.
Padi yang menghasilkan biji padi, akan dapat dinikmati banyak orang. Tetapi padi yang gagal, akan ditebang, dibuang dan dijadikan makanan sapi. Tebu yang gagal panen, dipotong, dijadikan makanan kambing. Buah-buahan yang busuk, yang tidak layak untuk dikonsumsi dan bermanfaat bagi manusia, akan dipotong dan diberikan kepada babi. Kita manusia, untuk apa kita hidup di muka bumi ini kalau kita fokus dengan kesalahan kita dan kesalahan orang lain? Kita tidak akan bisa berbuah dan mempersembahkan buah bagi kemuliaan nama Tuhan dan dinikmati banyak orang.
Ada begitu banyak orang yang bersukacita hatinya kalau melihat saudaranya menderita, kalau melihat pemimpinnya jatuh dan salah. Tapi itu bukan jati dirinya yang berbahagia, tapi dagingnya yang berbahagia. Oleh karena itu, Firman Tuhan hari ini berkata bahwa kita semua berharga di mata Tuhan.
Ada salah seorang hamba Tuhan bercerita bahwa ia bersyukur ia menjadi seorang penginjil dan tidak menjadi seorang gembala, sebab itu bukan panggilannya. Tetapi beberapa tahun kemudian, ia menggembalakan sebuah gereja. Kalau saya berfokus dengan kata-katanya yang lalu, saya akan berkata bahwa hamba Tuhan ini berbohong. Tetapi Roh Tuhan adalah roh yg dinamis, bukan roh yg statis.
Kasih Tuhan itu indah. Yang tadinya kita tidak bisa mendoakan orang lain, marah dengan orang lain, kita menjadi mampu melakukannya karena orang lain begitu berharga di mata Tuhan dan Tuhan juga ingin kita mengasihi mereka. Semua orang dicinta Tuhan.
Orang-orang yang tidak percaya pada Kristus atau meninggalkan kepercayaan pada Kristus dan disebut Kafir. Kata kafir berasal dari bahasa inggris “cover” atau selubung. Sampai sekarang, masih banyak orang yang belum menerima Yesus sebagai Tuhan karena ada selubung di penglihatan mereka. Sehingga mereka menolak bagaimana Tuhan yang hidup mengambil rupa seorang manusia. Oleh karna itu Alkitab mengatakan mereka sebagai kafir atau tercover, karena pikirannya masih diselubungi.
Kita hidup di dalam anugerah
Apa arti hidup dalam anugerah? Pada waktu Tuhan Yesus menyembuhkan orang kusta, mereka tidak berkata “sembuhkan aku Tuhan”, tetapi “tahirkan aku Tuhan”. Di Perjanjian Lama, orang kusta harus menghadap Imam sebelum mereka masuk bait Allah dan di cek apakah kustanya menular atau tidak. Ketika kusta itu menular, kusta itu harus menyelesaikan perjalanan penyakitnya sampai akhirnya tidak menular lagi. Orang-orang yang terkena kusta harus ada di jalan2 dan berkata “najis” agar orang-orang menjauhi dia karena ia menular.
Ketika kusta sudah menyelimuti seluruh tubuhnya (putih semua), imam akan berkata “engkau sudah tahir”. Mengapa demikian? Ini adalah suatu contoh kasih karunia. Orang-orang yang telah diselimuti kusta secara keseluruhan, ia sudah hopeless. Ia tidak berdaya lagi. Dan di sanalah kasih karunia datang, “engkau sudah tahir, tidak lagi najis”.
Saat masih ada hal baik dalam diri kita, kita akan berbangga diri dengan diri kita dan terus berusaha mengandalkan kekuatan kita. Tetapi ketika seluruh diri kita, kita sadari telah rusak dan hancur, kita hopeless, kemudian kita datang pada Tuhan dengan kehancuran kita, Tuhan memberikan kasih karunianya pada kita untuk mentahirkan kita.
Jangan mengandalkan dirimu untuk melawan dosa, karena tidak akan pernah bisa. Kecenderungan manusia adalah jahat adanya, selalu berbuat dosa. Karena itu roh Tuhan tidak selama-lamanya tinggal dalam diri manusia. Ketika engkau tidak mampu dan tidak berdaya, dan engkau datang pada Tuhan “tahirkan aku”, di saat itulah Tuhan akan mentahirkan engkau.
Injil kita adalah kasih karunia, tetapi bukan hypergrace
Injil kita adalah kasih karunia yang berasal dr Firman Tuhan. Kasih karunia seperti obat. Kasih karunia yang benar tidak akan membunuh diri kita. Tetapi jika kita overdosis untuk menggunakan obat berlebihan, itu membahayakan kita dan itu diluar kasih karunia yang sesungguhnya.
Siapa dari kita yg masih berbuat dosa? Datang pada Yesus yang sumber kasih karunia. Jangan pakai kekuatan sendiri. Kasih karunia itu akan memampukan kamu untuk bebas dari dosa. Banyak orang belum paham ini karena belum tinggal dalam kasih karunia. Ketika kita belajar untuk tinggal dalam kasih karunia, yang tadinya kita bisa benci orang, kita bisa mendoakan dan memberkati orang tersebut. Itu adalah anugerah Tuhan.
Ciri dari anak-anak Tuhan adalah doanya dekat kepada Tuhan
Anak Tuhan berdoa pada Tuhan akan berseru, cry out. Mau terjadi revival dalam hidupmu? Menjeritlah pada Tuhan. Berseru pada Tuhan menunjukkan keintiman dengan Tuhan. Doamu menunjukkan keintiman atau hanya sekadar sambil lalu saja? Mau hidupmu mengalami mujizat? Kalau kita berkata Tuhan tidak mampu memberikan keinginan kita yang selaras dengan Firman Tuhan, berarti kita mengkhianati Tuhan. Kamu tidak percaya pada Tuhan dan menghina kasih Tuhan.
Tindakan kita yang tidak percaya pada Tuhan adalah bentuk penghinaan pada Tuhan, meremehkan kasih dan hikmat.
Kita tidak percaya bisa lulus dengan nilai yang baik, kita sudah menghina Tuhan. Kita tidak percaya kita bisa mendapatkan jodoh yang terbaik, kita menghina dan mempermalukan Tuhan. Dia Tuhan, Dia tidak mungkin dan mustahil gagal.
Caramu memperoleh mujizat adalah kamu harus menyadari bahwa kamu memiliki hubungan spesial dengan Tuhan, seperti hubungan anak dengan orang tuanya. Kita adalah ahli warisnya Tuhan. Belajar menyerahkan semuanya dan bergantung penuh pada Tuhan.
Jangan pernah melihat keburukan dari orang-orang di sekitarmu, lihatlah segala kebaikan yang pernah mereka lakukan. Ubah cara pandang kita, kita tidak sebaik itu untuk melihat hanya keburukan orang lain. Kita pun juga akan dapat dilihat demikian oleh orang lain. Ketika kita melihat sesuatu yang baik dari diri seseorang, berikan pujian juga padanya. Belajarlah melihat kebaikan dalam diri orang lain.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Proses
Hari-hari ini banyak produk yang instan, dan begitu banyak orang menyukai hal yang instan. Tetapi sesuatu yang instan belum tentu baik untuk kita. Bukan hanya berbicara tentang sesuatu yang jasmani, tetapi juga dalam kerohanian kita. Tidak semua yang instan itu menyehatkan untuk jiwa kita. Hidup kita butuh yang namanya Proses.
Proses yang membuat kita dewasa
Proses yang membuat kita belajar dan membuat kita menjadi lebih besar. Tapi banyak orang yang tidak suka dengan proses. Orang yang tidak mengalami proses tidak akan bertahan lama. Sayangnya seringkali dalam menggapai mimpi dan ambisi kita, kita berusaha menggapainya dengan cara yang instan. Banyak orang yang ingin kaya dengan cara-cara yang instan, tetapi melanggar kebenaran Firman Tuhan. Setiap kita punya tujuan dan mimpi. Maukah kamu menyerahkan mimpi dan tujuan hidupmu supaya selaras dengan mimpi Tuhan?
Kita tidak akan pernah bisa mencapai mimpi kita tanpa penyertaan Tuhan. Kita bisa mencapai apa yang menjadi mimpi-mimpi kita, tetapi tanpa penyertaan dari Tuhan, semuanya hanya akan sia-sia. Karena itu belajar untuk diproses dan serahkan mimpimu dalam tangan Tuhan.
Mimpi apa yang sedang kau perjuangkan? Kita butuh proses untuk mencapainya. Proses itu bisa menyakitkan dan membutuhkan ketahanan mental. Banyak orang yang tidak sadar dengan proses. Sebenarnya apa yang kita kerjakan dan lalui saat ini adalah bagian dari proses. Kalau kita tidak sadar, kita akan melalui “proses” tanpa sebuah proses.
Seperti sekolah, setiap jenjang adalah proses untuk pertumbuhan kita dari kecil hingga dewasa. Kalau kita berhasil melalui proses itu, maka kita akan dapat melanjutkan ke stage yang selanjutnya. Ketika kita berhasil melalui proses dalam hidup kita, maka kita akan menjadi lebih dewasa dan matang secara rohani, kita akan memperoleh hal-hal yang sesuai dengan kerinduan Tuhan.
Tanpa proses, kita tidak akan pernah mendapatkan mimpi dari Tuhan
Tidak ada yang menyangka kalau seorang gembala bertubuh kecil seperti Daud akan diangkat menjadi raja. Tetapi Daud adalah orang pilihan Tuhan, dia adalah pribadi yang sudah diproses Tuhan. Hati Daud sangat lembut, mau dibentuk, dan menghargai Roh Tuhan dalam dirinya. Daud begitu takut kalau Roh Tuhan pergi darinya. Dia begitu intim dengan Tuhan. Inilah yang membuat hati Tuhan tertarik memandang hati Daud. Sudahkah Tuhan tertarik dengan hatimu?
Tuhan tidak butuh orang yang sempurna untuk mengerjakan mimpi-mimpiNya
Belajar dari Daud, Tuhan tidak melihat rupa, tapi Tuhan memandang hati. Daud punya kelemahan, tapi dia adalah seorang mau menyerahkan dirinya di hadapan Tuhan. Tetapi ketika dia melakukan dosa, dia segera bertobat dan berkabung dengan dosa-dosa yang dibuatnya. Ini yang disebut dengan proses. Karena itu dia memiliki tempat yang spesial di mata Tuhan. Mari kita memikat dan mencuri hati Tuhan dengan hati kita yang lembut dan mau diproses. Ketika Daud hendak diangkat menjadi raja membutuhkan proses yang panjang. Dia mengikuti semua proses Tuhan dengan setia.
Dalam kehidupan kita, kita juga akan menjalani sebuah proses untuk mengalahkan raksasa-raksasa kita. Kita harus berani seperti Daud yang maju mengalahkan Goliat. Apa raksasamu? Mungkin raksasa kita adalah zona nyaman kita. Kita tidak mau meninggalkan zona nyaman kita dan mengikuti panggilan Tuhan. Ayo kita belajar koyakkan kenyamanan kita untuk meraih apa yang menjadi visi Tuhan.
Maka berkumpullah segenap umat Israel di Silo, lalu mereka menempatkan Kemah Pertemuan di sana, karena negeri itu telah takluk kepada mereka. Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel yang belum mendapat bagian milik pusaka. Sebab itu berkatalah Yosua kepada semua orang Israel: “Berapa lama lagi kamu bermalas-malasan, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu? (Yosua 18:1-3)
Mereka sudah sangat mendekati tanah perjanjian Tuhan, tetapi mereka bermalas-malasan. Tanah perjanjian atau mimpi Tuhan itu mungkin ada di mata kita. Tetapi kemalasan kita bisa menghalangi kita untuk mencapainya. Jangan lewatkan waktu-waktu kita dengan sia-sia, tapi kita kerjakan semuanya untuk kemuliaan Tuhan.
Proses yang kita lalui dimulai dengan setia dari hal yang kecil
Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang besar kalau kita belum siap menerimanya. Perbesar kapasitas kita supaya kita bisa menampung sesuatu yang lebih besar. Untuk itu, kita harus siap diproses oleh Tuhan.Sesuatu yang baru membutuhkan kapasitas hati yang baru. Kantong yang lama; pemikiran-pemikiran kita yang yang lama, itu harus dibuang. Siapkan kantong hatimu yang baru jika kamu mau menerima sesuatu yang baru dari Tuhan. Jika kamu mau diproses, siapkan hatimu yang terbaik bagi Tuhan.
Dalam proses mungkin kita akan melalui kesengsaraan. Tetapi proses itu yang menghasilkan ketekunan dan tahan uji. Orang yang yang tahan uji adalah orang yang berpengharapan, dan pengharapan kita di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan.
Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita. Karena kita tahu, kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan. Dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:3-5)
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Menjadi Prajurit yang Awas dan Tepat Sasaran
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai diri dirinya sendiri dan menjadi hamba uang . Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! (2 Timotius 3 : 1-5)
Kita perlu berhati-hati dalam bergaul. Karena tidak semua orang dengan label Kristen mengerjakan apa yang menjadi prinsip-prinsip Firman Tuhan. Kita perlu memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan. Apabila kita sendiri lemah dalam pengenalan akan Tuhan, kita bisa menyetujui hal-hal buruk yang kita terima dari sekitar kita.
Ketika kita memiliki pikiran yang sakit, kata-kata yang sakit, dan kita bergaul dengan orang-orang yang sakit, maka kerohanian kita bisa menjadi sakit.
Banyak orang yang hidupnya penuh dengan akar kepahitan dan permusuhan. Itu menandakan bahwa orang tersebut berada di luar Kristus. Seringkali Iblis juga bisa memakai anak-anak Tuhan untuk menghancurkan kesatuan yang ada. Hati-hati dengan perkataan kita. Gosip yang kita tujukan ke orang lain bisa menjadi kutuk untuk mereka.
Banyak anak Tuhan di akhir jaman mengalami situasi kebangunan rohani yang palsu. Hidup yang diberkati dan promosi-promosi jabatan dianggap kebangunan rohani. Kebangunan rohani yang palsu pasti akan berkibar terlebih dahulu sebelum kebangunan rohani yang asli.
Kebangunan rohani yang sejati adalah perubahan pola pikir anak Tuhan yang pikirannya selalu tertuju kepada kristus dan memiliki buah-buah yang benar di dalam pengenalan akan Tuhan.
Seringkali kita memandang kebangunan rohani yang besar itu menurut cara pandang kita: Musik yang bagus, ibadah yang penuh sesak, dan hamba Tuhan yang luar biasa dahsyat. Tetapi semuanya hanya bisa dilihat dari buahnya. Sama halnya buah apel yang tampak cantik dari luar, tetapi dalamnya busuk, apel itu tidak akan bisa dinikmati. Dikatakan dalam 2 Timotius 3, bahwa manusia di akhir jaman akan mencintai diri sendiri, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri; itu bukanlah ciri-ciri orang yang hidup di dalam Tuhan. Janganlah kita ikut bermufakat dengan orang-orang yang sepakat untuk menjelekkan orang lain. Karena dengan demikian, sebenarnya hidup kita penuh dengan kutuk kepada orang lain. Mari kita hidup benar d hadapan Tuhan. Jangan menjadi penggenapan manusia di akhir jaman.
Gad, ia akan diserang segerombolan, tetapi ia akan menyerang tumit mereka. (Kejadian 49:19)
Perjalanan hidup Gad penuh dengan peperangan; Tidak pernah mengalami zona aman dan nyaman. Tetapi dia dinubuatkan Tuhan untuk selalu menang. Dia tidak terlalu terkenal dibandingkan dengan anak Yakub yang lain. Tetapi dia tidak terlalu masalah dengan peperangan yang dia hadapi, dan dia tahu cara memenangkannya.
Tuhan menilai kadar cinta kita saat kita mengalami penyerangan.
Cinta kita diuji kepada Tuhan ketika kita mengalami kesesakan. Kalahkan raksasamu dan menangkan peperanganmu. Sebab seorang pasukan harus siap sedia dalam segala kondisi.
Tentang Gad dia berkata: Terpujilah Dia yang memberi kelapangan kepada Gad. Seperti singa betina ia diam dan menerkam lengan, bahkan batu kepala. Ia memilih bagian yang terutama, sebab di sanalah tersimpan bagian panglima; ia datang kepada para kepala bangsa itu; dilakukannya kebenaran Tuhan serta penghukuman-penghukumanNya bersama dengan orang Israel (Ulangan 33:20-21).
Gad memiliki hati yang lapar. Disaat hidupnya yang penuh dengan peperangan, dia tidak menjadi payah, dan tidak bermuram durja. Tetapi diia berpikir bagaimana memenangkan peperangan yang harus dihadapinya. Dikatakan bahwa dia menyerang lengan dan kepala; ini berbicara tepat sasaran. Dia tahu tujuan peperangannya. Dia menyerang tepat pada kekuatan musuhnya, yaitu Lengan. Dia tepat sasaran dalam memenangkan peperangan dalam hidupnya.
Apakah kita sudah tepat sasaran? Jiwa-jiwa begtu berharga di mata Tuhan. Apakah kita sudah menjangkau mereka dengan tepat sasaran? Kunci kemenangan Gad dia sadar tujuan berperang dan dia tepat sasaran. Gad tidak mau menjadi prajurit, tetapi dia mau menjadi panglima di hadapan Tuhan.
Dia mau jadi yg terutama d hadapan Tuhan. Untuk itu, strategi Gad adalah dia menyerang dari atas. Yang dia serang adalah panglima perang. Sekalipun Gad adalah orang yang selalu menang, dia adalah orang yang tetap tinggal dalam kebenaran Tuhan. Dia bersedia dikoreksi dan mengikuti hukum-hukum Tuhan.
Rencana Tuhan adalah yang terbaik untuk setiap kita. Dia rindu kita memiliki mimpi-mimpiNya dan mengalahkan musuh-musuh kita dengan penuh keberanian karena kita memegang perjanjian kita dengan Tuhan. Beranilah bermimpi! Saat kita tidak lagi bermimpi, mimpi Iblis yang akan menguasai pikiran kita.
Tinggalah dalam kasih karunia Tuhan, dan hiduplah dengan kepala terangkat berani dan mengalahkan musuh-musuhmu. Apakah kamu mengalami patah semangat dalam peperanganmu?
Terimalah anugerah dari Tuhan. Tuhan yang akan menjamin hidupmu. Mari jadi prajurit Tuhan yang tepat sasaran!
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Maju Berperang Pantang Mundur!
Kita semua pernah mengalami peperangan. Di dalam kerohanian kita, kita seringkali perlu berperang melawan dosa, kedagingan, dan pikiran kita yang jahat. Bagaimana supaya kita dapat memenangkan peperangan kita?
Ada yang disebut hukum peperangan yang harus kita kerjakan untuk memperoleh kemenangan dalam hidup kita.
Membangun Mental
Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan engkau melihat kuda dan kereta, yakni tentara yang lebih banyak dari padamu, maka janganlah engkau takut kepadanya, sebab TUHAN, Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir, menyertai engkau. (Ulangan 20:1)
Inilah hukum yang pertama di dalam peperangan: Membangun Mental. Seringkali iblis memberika psywar dalam pikiran kita. Mereka akan berkata, “Kamu sudah seringkali jatuh, kamu seringkali gagal, bahkan sampai sekarang kamu tidak menggenapi rencana Tuhan.” Dan jika kita mengiyakannya, sebenarnya kita sudah kalah berperang.
Hari-hari ini banyak pasukan cyber. Orang yang sedang melakukan pemilihan presiden menyebarkan hoax-hoax di media sosial, sehingga lawannya menjadi tidak berdaya dan menyerah. Demikian juga dengan Iblis; dia akan mengintimidasi kita dengan hoax-hoax, sehingga kita percaya dan kalah. Kebohongan terbesar dari Iblis ini adalah yang membuat kita kalah berperang. Kita harus percaya bahwa sengat maut Iblis itu sudah dipatahkan waktu Yesus mati dan bangkit untuk kita semua. Oleh karena itu, dia tidak punya kekuatan, hanya seperti singa ompong yang menakuti kita. Tetapi kalau kita percaya, itu yang akan membuat hidup kita berantakan.
Akan tetapi, seringkali anak-anak Tuhan secara tidak sadar menjadi Iblis-Iblis kecil. Mereka ikut menyebarkan hoax, berita-berita yang tidak benar, dan kata-kata yang melemahkan. Secara tidak sadar mereka menjadi bala tentara iblis. Maka dari itu, kita harus berhati-hati.
Jangan Takut
Apabila kamu menghadapi pertempuran, maka seorang imam harus tampil ke depan dan berbicara kepada rakyat, dengan berkata kepada mereka: Dengarlah, hai orang Israel! Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu; janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka (Ulangan 20:2-3).
Pada perjanjian lama, harus ada seorang pemimpin yang mendengarkan suara Tuhan. Tetapi pada perjanjian baru, kita percaya bahwa kita bisa mendengar suara Tuhan. Jika saat ini kita kuatir dengan dengan hari esok: Jangan takut, jangan lemah, dan janganlah gemetar! Apa yang mustahil bagi Tuhan? Dibutuhkan iman dan orang yang mendengar suara Tuhan dalam mengerjakan mimpi Tuhan.
Rencana Tuhan tidak pernah gagal, meskipun orang menilainya sebagai suatu keterlambatan.
Tetapi Tuhan tidak pernah terlambat. Yang membuat segala sesuatu sepertinya terlambat adalah benteng-benteng yang kita dirikan untuk menghalangi rencana Tuhan dalam hidup kita: benteng ketakutan, benteng kegelisahan, benteng kekuatiran, dan benteng kecurigaan dengan kasih Tuhan. Benteng yang kita dirikan itu menghalangi waktu Tuhan bekerja dalam hidup kita. Tuhan butuh waktu untuk menghancurkan setiap benteng yang kita dirikan. Karena itu, jangan kita menjadi orang yang berkerjasama dengan Iblis membuat benteng-benteng yang menghalangi rencana Tuhan. Jangan percaya dengan dusta iblis ini, karena ini strategi Iblis untuk menghancurkan hidupmu.
Taat! Karena peperangan ini Milik Tuhan
Tuhan menyorot ketaatanmu. Taatlah dengan apa yang Tuhan mau, dan kamu akan menerima semua kepenuhan janji Tuhan. Jangan coba-coba membantu Tuhan, biarkan Tuhan yang berperang dan memenangkan peperangan! Kamu hanya bisa membantu Tuhan dengan TAAT.
Tinggalkan Kenyamanan
Para pengatur pasukan haruslah berbicara kepada tentara, demikian: Siapakah orang yang telah mendirikan rumah baru, tetapi belum menempatinya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain menempatinya. Dan siapa telah membuat kebun anggur, tetapi belum mengecap hasilnya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengecap hasilnya (Ulangan 20:5-6).
Ini adalah sindiran; yang takut, tidak usah ikut berperang, karena orang yang lemah hatinya tidak akan memperoleh kemenangan. Banyak orang yang takut untuk meninggalkan zona nyaman mereka. Mereka dipusingkan dengan perkara-perkara yang tidak perlu. Stop membuat segala sesuatunya lebih rumit! Sebab Dia dapat dengan mudah memberikan jalan kepada kita kalau kita mau maju berperang.
Janji Tuhan tetap Berlaku
Dalam pada itu Yerikho telah menutup pintu gerbangnya; telah tertutup kota itu karena orang Israel; tidak ada orang keluar atau masuk. (Yosua 6:1)
Jika Tuhan sudah berjanji, Tuhan akan menepatinya. Tetap percaya, tetap berdoa, tetap peganglah janji Tuhan. Mungkin kita bisa menemui “tembok-tembok” yang menghalangi langkahmu. Tetapi Tembok Yerikho pun bisa hancur dalam nama Yesus. Belajarlah hukum peperangan rohani, dan hancurkan “tembok Yerikho”mu. Tuhan akan berperkara, asal kita taat dan berjaga-jaga dengan tipu daya Iblis dalam hidup kita.
Jadilah Tentara Tuhan yang Maju Berperang Pantang Mundur!
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Evie Mehita : Live in Passion
Pernahkah kita merasa bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan? Rasanya tidak mau berhenti dan ingin terus melakukannya. Orang-orang biasa menghubungkan hal ini dengan passion.
Banyak orang bijak berkata, “Bekerjalah sesuai passion.” Orang yang memiliki passion menulis, akan selalu menulis tanpa kenal waktu. Orang yang tidak memiliki gairah dalam menulis pasti akan mengalami kesulitan ketika harus membuat esai. Itulah pengertian orang tentang passion. Padahal, passion tidak harus berupa sebuah kesenangan atau yang paling baik yang dapat kita lakukan.
Passion diambil dari kata ‘pass’ yang artinya mampu menderita. Demi melakukan passion, seseorang berani menderita. Berani membayar harga dan mau memberikan seluruh harta, waktu, dan tenaga demi mendapat kepuasan akan passion tersebut. Passion atau gairah itu akan terpancar hingga orang-orang dapat melihatnya.
Passion juga terbentuk dari kata ‘En’ dan ‘Theos’ yang artinya memiliki energi atau gairah dalam Tuhan. Energi ini tidak akan pernah ada habisnya. Suatu gairah yang berapi-api untuk melaksanakan kerinduan Tuhan di dalam hidup manusia.
“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Roma 12:11
Passion yang benar dalam Tuhan akan menghasilkan ‘buah-buah’ yang nyata. Dia memiliki gairah yang berapi-api akan melakukannya berulang-ulang. Menceritakannya dengan mata berbinar-binar agar orang lain turut merasakan rasa antusias yang ia alami.
Passion juga identik dengan rasa antusias kita terhadap suatu hal. Memiliki passion tanpa dibarengi dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan, sama saja nol. Sudahkah kita antusias dalam memuliakan nama Tuhan? Begitulah seharusnya ketika kita memiliki passion dalam Kristus. Tidak malu untuk menceritakan kasih-Nya kepada setiap orang. Kalau kita tidak memiliki gairah dalam hal ini, ada yang salah dengan api roh kita. Setiap dari kita pasti diberikan sebuah passion dari Tuhan untuk membawa jiwa-jiwa mengenal Dia. Sudahkah kita melakukan passion itu?
Tidak ada seorangpun yang bisa membayar passion atau panggilan kita di dalam Tuhan.
“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”
Matius 9:36
Passion akan membawa kita pada compassion (belas kasihan). Yesus tergerak oleh rasa belas kasihan. Belas kasihan bukan hanya tentang memberi, tetapi ada aksi lebih. Kata belas kasihan tidak ada di perjanjian lama. Barulah pada zaman perjanjian baru, orang-orang mengenal belas kasihan karena tidak bisa menggambarkan passion yang dimiliki Yesus ketika Ia menolong orang lain. Apa yang Yesus lakukan adalah hal baru bagi mereka. Itulah bukti nyata dari sebuah gairah yang membuahkan rasa belas kasihan.
Passion tidak terbatas oleh kelemahan fisik. Seseorang yang memiliki passion akan mencoba banyak hal untuk menekan kelemahannya agar tidak membatasi ruang geraknya.
Dari sebuah gairah yang berapi-api akan melahirkan sesuatu yang besar. Para rasul di perjanjian baru menghasilkan jemaat mula-mula karena passion mereka dalam menjaring jiwa kepada Kristus. Passion itu berjalan selaras dengan compassion yang akhirnya membuat banyak orang mengenal Yesus. Mereka tidak mau dibayar, tetapi mau bayar harga. Itulah passion yang sejati dalam Kristus.
HIDUPILAH PASSION KRISTUS
RASAKAN APA YANG YESUS RASAKAN
LAKUKAN APA YANG YESUS LAKUKAN
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Membangun Dasar
Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Lukas 6:47-49)
Dalam membangun sebuah bangunan ada 2 macam dasar, yaitu bangunan tanpa dasar atau bangunan dengan dasar yang kuat. Seorang yang ingin rumahnya bertahan lama, tentu harus membangun rumah itu dengan dasar yang kokoh. Sama halnya dengan sebuah bangunan yang kuat karena dasar yang kuat, demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Fondasi manakah yang kamu pilih untuk menjadi dasar hubunganmu dengan Tuhan? Tentu saja kita mau memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan. Untuk itu, kita perlu memiliki dasar yang benar. Bagaimana membangun hidup kita dengan dasar yang kuat?
Datang kepada Tuhan
Sudahkah hidup kita dipenuhi oleh Tuhan? Sudahkah kita sungguh-sungguh menjadikan Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dalam hidup kita? Kita mungkin sering mendengarkan pengajaran tentang keselamatan, tetapi sudahkah kita sungguh-sungguh mengerjakan keselamatan itu? Dalam bahasa aslinya, Tuhan artinya tuan / orang yang berkuasa dalam hidup kita. Apakah kita sudah mempercayakan seluruh hidup dan masa depan kita kepada yang seharusnya berkuasa dalam hidup kita?
Mempercayakan hidup kita artinya mengosongkan diri, yaitu “Hidupku bukannya aku lagi, tapi Yesus yang ada dalamku.”
Apakah masih ada berhala-berhala dalam hidup kita? Apakah persembahan kita sudah benar-benar dari hati kita? Tuhan melihat hati! Persembahan yang menyenangkan Tuhan adalah yang berasal dari hati yang benar. Mari kita berikan yang terbaik untuk Tuhan. Terbaik bukan berbicara tentang nominal, tapi yang terbaik berasal dari hati yang bersukacita
Bedakan rutinitas dengan passion yang rindu kita kerjakan. Jika Tuhan adalah passion kita, maka kita akan menjadikan Tuhan yang terutama dalam hidup kita. Kasih Tuhan kepada kita kekal dan tak bersyarat (kasih agape). Mari kita belajar untuk seperti Tuhan yang mengasihi orang lain dengan tanpa syarat.
Mendengar dan Melakukan Firman Tuhan
Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. (Yakobus 1:22-25)
Mari kita belajar bukan saja mendengarkan Firman, tetapi menjadi pelaku Firman Tuhan itu. Mungkin kita mengikuti banyak ibadah, atau bahkan pelayanan. Tetapi apakah kita sudah melakukan Firman Tuhan? Bahkan dalam Yakobus 2:14 dikatakan bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Kita adalah orang-orang yang “hidup”, maka biarlah Firman yang sudah kita dengar kita imani dan kita lakukan. Sebab Iman bekerjasama dengan perbuatan kita untuk menjalankan sebuah komitmen kita dihadapan Tuhan.
Komitmen itu adalah bukti dari sebuah perjanjian dan proses mengikut Tuhan
Jika kita pelajari lebih lagi, janji adalah sesuatu yang membutuhkan satu pihak saja. Tetapi dalam sebuah perjanjian dibutuhkan 2 pihak. Dan ketika kita memiliki sebuah perjanjian, dibutuhkan sebuah komitmen, bahwa kedua pihak akan menepati janjinya. Sama halnya sepasang kekasih yang mengucapkan janji di hari pernikahan mereka, keduanya mengikat sebuah perjanjian di hadapan Tuhan. Perjanjian tersebut bukan hanya tentang 1 orang, tetapi dua orang. Tuhan punya janji juga dengan kita.. dan itu membentuk sebuah perjanjian yang kekal antara kita dengan Bapa.
Kasih Tuhan tidak bersyarat, tetapi Janji Tuhan bersyarat
Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi (Keluaran 19 : 5).
Tuhan mengasihi kita tanpa syarat, tetapi janji Tuhan kepada kita mengandung sebuah syarat. Seperti ayat diatas katakan, bahwa untuk mendapatkan perjanjian berkat dari Tuhan, kita harus taat mendengarkan Firman Tuhan dan terus berpegang pada perjanjianNya untuk setiap kita. Dikatakan juga dalam Imamat 26:3-4, bahwa “Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.” Itulah syarat yang harus kita penuhi untuk mendapatkan berkat dari Tuhan.
Kita harus menjadi pelaku Firman Tuhan, sehingga kita bisa memiliki perjanjian yang indah dengan Tuhan. Dan kita harus sungguh-sungguh kepada Tuhan, sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu; Dia tidak suka kalau kita memiliki berhala lainnya. Kalau kita sudah memilki perjanjian dengan Tuhan, sudahkah kita melakukan apa yang menjadi komitmen kita di hadapan Tuhan?
Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud. (Yesaya 55:3)
Tuhan kita adalah Tuhan yang setia pada janji-janjiNya. Maukah kita benar-benar mengikat perjanjian yang kudus dengan Tuhan? Miliki komitmen untuk menepati janji-janjimu. Menjadi pelaku Firman dibutuhkan sebuah komitmen, dan itu adalah proses seumur hidup kita. Mari kita belajar setia, belajar sungguh-sungguh mengerjakan segala sesuatu dengan rela hati untuk Tuhan, bukan karena terpaksa semata. Mari kita mengerjakan segalanya dengan sukacita untuk kemuliaan nama Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Panggilan Menjala Manusia
Bacaan : Lukas 5:1-11
Hidup di dunia, pastinya kita tidak terlepas dari proses seleksi. Masuk universitas, melamar pekerjaan, bahkan masuk ke tim sepakbola selalu ada proses ini. Seleksi bertujuan untuk mendapatkan yang terbaik, sehingga orang yang tidak memenuhi kualifikasi tertentu akan gagal pada tahap ini. Ia memilih kita dengan tidak sembarangan. Sesungguhnya manusia adalah ciptaan yang gagal memenuhi kualifikasi masuk surga; hidup kudus. Betapa ajaibnya kasih karunia yang Yesus berikan sehingga melayakkan setiap kita untuk memiliki hidup yang kekal dan penuh arti. Tinggal dalam kasih karunia artinya ada gaya hidup yang tidak sama lagi. Ketika mengikuti ketetapan Tuhan dan kebenaran firman-Nya, kita akan dipandang ‘abnormal’ oleh dunia. Tetapi, pernahkah kita merasa ingin memiliki kehidupan yang ‘normal’ dan mencoba menjalani panggilan dari dunia?
Ia memilih kita dengan tidak sembarangan. Sesungguhnya manusia adalah ciptaan yang gagal memenuhi kualifikasi masuk surga; hidup kudus. Betapa ajaibnya kasih karunia yang Yesus berikan sehingga melayakkan setiap kita untuk memiliki hidup yang kekal dan penuh arti.
“Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai.” [Lukas 5:3]
Mengapa Yesus memilih kapal Simon?
Simon memiliki latar belakang sebagai nelayan. Menjala ikan adalah pekerjaan yang ia lakukan selama bertahun-tahun. Sungguh aneh bila Yesus menyuruh Simon Petrus untuk menjala ikan di tengah laut. Padahal, saat itu para nelayan hampir menyerah karena tak kunjung mendapat ikan. Yesus tidak punya pengalaman di bidang perikanan, tetapi Ia dengan yakin menyuruh Petrus ke tengah laut dan ia taat. Hasil dari ketaatannya adalah mukjizat yang terjadi, yaitu banyak ikan yang terperangkap dalam jala. Di momen itulah, Yesus mengajak Petrus untuk menjadi penjala manusia. Petrus pun menerima tawaran itu dan meninggalkan kehidupannya sebagai nelayan [Lukas 5:11].
Sama seperti Simon, Yesus bisa memanggil kita dari apapun latar belakang yang ada. Tuhan dapat berbicara dengan banyak cara yang ajaib dan kreatif. Namun, terkadang manusia memiliki pride yang membuatnya cenderung untuk ragu akan rencana-Nya. Pride adalah ketika kita mempertahankan apa yang paling benar menurut versi kita.
Mengapa Tuhan memakai kata ‘penjala’ manusia?
Karena menjala adalah kegiatan yang membutuhkan proses dan kesabaran. Kita harus mengetahui ‘ikan’ apa yang harus ditangkap, dimana lokasinya, dan mengerti bagaimana cara melempar ‘jala’. Apa yang merupakan ‘jala’ kita? Bisa pekerjaan, hobi, tempat dimana kita belajar, dll. Yang menjadi ‘ikan’ adalah orang-orang yang belum mengenal Yesus dan hidup di dalam kasih karunia. Ikan memiliki sifat tidak suka ditangkap. Kita pun dahulu menjadi ‘ikan-ikan’ yang lari dari panggilan Tuhan. Tetapi ketika Tuhan memanggil kita sebagai penjala manusia, ada suatu makna hidup sejati yang kita temukan.
Petrus pun setelah kematian Yesus kembali lagi menjadi penjala ikan. Namun, pada akhirnya Yesus mengingatkannya pada tujuan hidupnya yang sebenarnya [Yohanes 21:15]. Pada momen itulah, Petrus mendapatkan kembali gairah hidupnya sebagai penjala manusia. Sudahkah kita taat akan panggilan-Nya menjadi penjala manusia? Kita sama seperti ‘ikan’ yang terperangkap. Terperangkap dalam rencana-Nya yang besar dan ajaib.
JARINGLAH ‘IKAN’ SEBANYAK-BANYAKNYA UNTUK MENJADI PERSEMBAHAN YANG HARUM BAGI TUHAN.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Berani Bermimpi
Tidak sedikit anak Tuhan yang cerita cintanya dengan Tuhan bergeser karena mimpi pribadi dan kedagingannya. Akan tetapi lebih mengerikan seseorang yang tidak memiliki mimpi dalam hidupnya.
Pernahkah anda bermimpi? Tidak ada seorang pun yang tidak pernah bermimpi. Mimpi itu mewarnai kehidupan kita. Saya percaya, ketika ada mimpi Tuhan yang diberikan dalam hidup kita, itulah yang bisa menguatkan hidup kita. Banyaknya orang-orang ekstrim dengan prosperity (kemewahan), membuat kita takut bermimpi. Tetapi janganlah kita terlalu ekstrim menanggapi suffering theology. Suffering Theology yang ditanggapi terlalu ekstrim hanya akan menyakiti diri kita, bukannya menyenangkan Tuhan. Karena itu, kita perlu memiliki mimpi dalam kehidupan kita mengikut Tuhan.
Jikalau kita tidak pernah bermimpi, maka kehidupan kita akan kering, tidak memiliki warna, dan tidak memiliki target apapun
Ketika seorang ayah meninggal, dia akan memberikan warisan kepada anak-anaknya; demikian juga dengan Kristus. Tuhan menjanjikan perjanjian-perjanjian berkatNya dalam hidup kita. Tuhan sedih melihat orang yang terlalu ektrim dengan Prosperity dan Suffering Theology, tetapi lebih menyedihkan lagi orang yang tidak mempunyai mimpi dan ambisi apapun.
Ketika kita tidak memiliki mimpi, kita tidak memiliki gairah dalam hidup kita. Betapa bodohnya kita, kalau kita hidup muka bumi ini hanya menunggu kedatangan Tuhan tanpa berbuat apapun
Yusuf bermimpi bahwa berkas-berkas gandumnya tegak berdiri dan berkas-berkas saudaranya menyembah kepada berkas-berkasnya. Di mimpi yang lain, dia melihat matahari, bulan, dan 11 bintang sujud menyembah kepadanya. Ketika dia menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya, marahlah saudara-saudaranya kepada dia (Kejadian 37:5-11).
Ketika kita memiliki mimpi dari Tuhan, hambatan itu justru muncul dari orang-orang di sekitar kita. Kita perlu mengosongkan diri (dalam bahasa Yunani: Kenosis), dimana Tuhan mengambil semua mimpi kita dan menggantinya dengan mimpiNya. Sebab mimpi pribadi kita tidak akan memberikan manfaat apapun. Berapa banyak orang yang tidak mau mengosongkan dirinya dan memakai kekuatannya untuk memuaskan rasa sakit hatinya. Sakit hatinya di masa lalu dipakai untuk menjadi sukses secara dunia. Betapa menyedihkannya kita, karena kita tidak menunjukkan kasih, yang ada hanya sakit hati yang dipertontonkan.
Ketika engkau mengijinkan mimpimu diambil oleh Tuhan, maka Tuhan yang akan “memaksakan” mimpiNya dalam hidupmu; dan itu memaksimalkan hidupmu
Utarakanlah mimpimu kepada Tuhan, meskipun mimpi itu akan dibenarkan oleh Tuhan. Tuhan memberikan mimpi-mimpi besar yang Tuhan rindu kamu kerjakan dalam hidupmu. Temukan mimpi Tuhan itu, dan Tuhan akan maksimalkan dirimu. Siapa yang merebut mimpimu? Saudaramu? Keluargamu? Ketakutanmu? Engkau adalah ciptaan Tuhan, Engkau diciptakan dengan satu tujuan, dengan satu alasan. Banyak jiwa-jiwa yang letih, lelah dan berbeban berat sehingga hidupnya tidak bergairah, tanpa passion; Itu salah! Ketika kita menemukan mimpi Tuhan, atau kita menjalani apa yang kita nggap “mimpi Tuhan”, itu akan memberikan kekuatan kepada kita.
Kalau kita melakukan apa yang kita anggap “mimpi Tuhan” itu, selama kita berserah, Tuhan yang akan murnikan dan kuduskan.
Tidak ada proses pengosongan yang instan; itu membutuhkan waktu dan proses.
Mimpi kita kadang perlu dikoreksi Tuhan. Mimpi Yusuf pun dikoreksi oleh Tuhan. Kalau mimpi Yusuf tidak pernah dikoreksi, tidak mengalami hambatan, hidupnya tidak akan pernah maksimal. Yusuf mempunyai potensi yang dilihat oleh Tuhan. Apa potensimu? Tuhan sedang melihat potensi dalam hidupmu. Jangan kerdilkan dirimu dengan berkata “aku tidak bisa”! Kita adalah ciptaan yang tertinggi. Kita sanggup melakukan segala perkara bersama dengan Tuhan. Berani bermimpi! Tuhan akan memberikan janjiNya ketika kita berani bermimpi. Bermimpi dan ikutilah proses mimpi Tuhan.
Pembesar-pembesarnya menyuruh pelayan-pelayannya mencari air; mereka sampai ke sumur-sumur, tetapi tidak menemukan air, sehingga mereka pulang dengan kendi-kendi kosong. Mereka malu, mukanya menjadi merah, sampai mereka menyelubungi kepala mereka. (Yeremia 14:3)
Dalam perjanjian lama, kendi-kendi kosong itu yang disebut kenosis. Maukah hidupmu menjadi kendi-kendi kosong di hadapan Tuhan? Ketika kendi-kendi kosongmu diisi dengan “air” dari Tuhan, Tuhan akan membuatmu maksimal. Percayalah bahwa mimpi Tuhan akan menjadi kenyataan bagi orang yang mengasihi Dia.
Syarat memperoleh mimpi dari Tuhan adalah berjumpa dengan Tuhan
Ketika kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan, kita tahu Dia bukan Allah yang berdusta. Dia yang akan menepati janjiNya sesuai dengan kerinduan dalam hidup kita. Maukah jadi roti yang terpecah bagi banyak orang? Jangan cengeng! Miliki fighting spirit. Jika kita tahu Yesus beserta kita, siapa yang jadi lawan kita?
Bangkit sekarang! Berkaryalah bagi Tuhan mulai saat ini. Janganlah kita menjadi lelah ketika masa menuai. Beranilah bermimpi, sebab Tuhan yang akan support kamu. Biar nama Tuhan yang dipermuliakan lewat hidup kita.
Tuhan ingin lihat penyerahan dalam hidupmu, yaitu hidupmu bukan dirimu lagi, melainkan Kristus berserta mimpi-mimpiNya ada dalam dirimu.
- Published in The Shepherd's Voice









