Khotbah Ev. Christin Jedidah : Menuju Akhir Zaman
Bacaan : Yoel 1;Yoel 2
Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, sebab hari Tuhan datang, sebab hari itu sudah dekat (Yoel 2:1).
Sangkalala menandakan bahaya atau ada serangan dalam sebuah peperangan. Jika kita pelajari dalam kisah sejarah, di atas tembok-tembok pertahanan yang tinggi selalu ada penjaga yang berjaga-jaga di atasnya. Ketika ada musuh yang datang menyerang, mereka akan meniup sangkakala sebagai tanda bahwa ada serangan. Sehingga orang yang mendengarnya akan berjaga dan bersiap-siap. Hari Tuhan sudah dekat. Apakah kita sudah bersiap?
Kitab Yoel menggambarkan keadaan yang terjadi pada datangnya hari-hari Tuhan di akhir zaman
Di dalam Yoel 1 dikatakan bahwa di akhir zaman akan ada belalang pengerip, belalang pindahan, belalang pindahan, belalang pelompat, dan belalang pelahap (Yoel 1:4). Belalang itu sifatnya merusak. Bahkan dikatakan dalan Yoel 1:6, “Sebab maju menyerang negeriku suatu bangsa yang kuat dan tidak terbilang banyaknya; giginya bagaikan gigi singa, dan taringnya bagaikan taring singa betina.” Di akhir zaman akan muncul pasukan perusak yang akan menghancurkan anak-anak Tuhan. Mereka akan mennghancurkan apa yang sudah dibangun oleh anak-anak Tuhan; merusak kehidupan kita, ladang-ladang kita, pelayanan dan hubungan kita dengan Tuhan. Banyak hal yang iblis mau rusak dalam hidup kita lewat belalang-belalang ini.
Tetapi sekarang juga, “Demikianlah Firman Tuhan,” berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. (Yoel 2:12-13)
Sekalipun di akhir jaman akan muncul belalang-belalang, tetapi dalam perikop “Seruan untuk Bertobat” (Yoel 2:12-17), Tuhan mau berkata bahwa kita harus berbalik kepada Tuhan di hari-hari menjelang kedatangan Tuhan. Berbalik kepada Tuhan artinya kita bertobat; kita berbalik dari jalan-jalan yang salah. Sudahkah kita sungguh-sungguh bertobat? Pertobatan yang sejati bukan hanya sekedar dalam ucapan, tetapi pertobatan yang sejati lahir dari hati. Dan Untuk berbalik kepada Tuhan dibutuhkan respon kita dan kasih karunia Tuhan.
Kita tidak bisa bertobat dengan kekuatan kita sendiri. Kita mungkin ingin berubah, tetapi belalang-belalang perusak itu tidak tinggal diam untuk menggagalkan setiap usaha kita. Oleh karena itu, dibutuhkan kasih karunia Tuhan untuk berbalik dari jalan kita yang salah.
Seringkali banyak anak Tuhan yang hidup dalam lingkaran dosa; jatuh bangun dalam dosa yang sama, sehingga mereka tidak bisa bebas hidup melayani Tuhan. Itu harus kita bereskan supaya kita berlari dan maju. Tuhan merindukan pertobatan kita. Karena itu, marilah kita miliki pertobatan yang sejati, dimana hati kita dikoyakkan untuk berbalik dari jalan-jalan yang jahat.
Tuhan memanggil semua orang untuk menjadi pasukan Tuhan di akhir zaman
Di saat ada belalang-belalang yang muncul, Tuhan juga bangkitkan pasukan yang akan melawannya. Maukah kita sungguh-sungguh menanggapi panggilan Tuhan untuk bangkit menjadi pasukanNya? Tuhan panggil pasukkan menjadi imam yang berdiri bagi bangsanya; berdoa dan menangisi bangsanya yang dihabiskan oleh belalang-belalang perusak. Maukah engkau di pakai Tuhan?
Tuhan akan menyatakan pemulihannya kepada orang yang sungguh-sungguh bertobat (Yoel 2:25-27). Tuhan akan kembalikan tahun-tahun kita yang sudah dihabiskan oleh belalang-belalang itu. Bagaimana keadaanmu saat ini? Apakah aspek dalam kehidupanmu begitu hancur berantakan? Tuhan berkata, bahwa hidupmu akan dipulihkan ketika kamu benar-benar mau bertobat.
Siapkah kamu menjadi tentara Kristus di akhir zaman?
Menjadi seorang tentara Kristus, ada 3 hal yang perlu menjadi prinsip : Tidak ada kata mundur, tidak ada tawar-menawar, tidak ada penyesalan. Apa yang sudah kita bangun bersama Tuhan, jangan pernah ada kata mundur. Mental seorang tentara Kristus ada pemberani; tidak takut terhadap apapun dan terus maju. Mengerjakan mimpi Tuhan, kita akan menjumpai banyak tantangan dan mendorong kita mundur. Tetapi kita harus fokus untuk terus maju.
Menjadi seorang tentara Kristus, ada 3 hal yang perlu menjadi prinsip : Tidak ada kata mundur, tidak ada tawar-menawar, tidak ada penyesalan.
Banyak anak muda yang takut melakukan misi buat Tuhan, takut untuk mengerjakan ladang Tuhan, takut untuk mengikuti panggilan Tuhan karena takut hidup mereka tidak dicukupi. Tetapi Tuhan tidak pernah berhutang kepada orang yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Tuhan yang akan menjamin hidup kita. Karena itu jangan takut untuk mengikuti rencana Tuhan.
Tentara Kristus di akhir zaman akan Tuhan perlengkapi
Tuhan akan mencurahkan Roh Kudusnya kepada kita supaya kita dapat mengadakan mujizat-mujizat (Yoel 2:28-30). Tuhan mau mengingatkan kita melalui Nabi Yoel, bahwa di Akhir Zaman kita akan menghadapi peperangan. Kalau kita tidak bangkit dan tidak bersiap-siap maka kita akan mati sia-sia. Maka mulai hari ini persiapkan diri kita sebaik-baiknya (Yoel 3:9-11). Mari kita sama-sama berkata, “Aku ini Pahlawan.”
Pahlawan adalah seorang yang menonjol, yang memiliki keberanian, dan rela berkorban untuk membela kebenaran.
Selain itu, Pala-Wan dari bahasa Sansekerta berarti orang yang menghasilkan buah yang berkualitas bagi bangsa dan agama. Artinya kalau kita mau menjadi seorang pahlawan, kita harus menghasilkan buah yang berkualitas.
Menjadi pahlawan itu bukan menjadi manusia super. Menjadi pahlawan adalah ketika kita tidak lagi mementingkan diri sendiri, tetapi melakukan sesuatu, bahkan hal yang kecil sekalipun untuk orang lain.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Defeat the Devil
Apakah hari-hari ini Anda mengalami masalah? Bersyukurlah! Mungkin ini terdengar aneh, namun ketika kita mengalami masalah, justru itu membuktikan bahwa ada peperangan yang harus kita menangi dan pasti kita adalah pemenangnya [1 Korintus 9 :24-27]. “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” [Ay.27]. Ditolak yang dikatakan Paulus artinya ditolak kerajaan Tuhan. Maka dari itu, sangat penting untuk melatih diri kita untuk tetap hidup kudus dan tak bercela di hadapan-Nya.
Tuhan melatih kita untuk berperang di gelanggang pertandingan yang telah disiapkan-Nya.
Namun, ada satu hal yang membuat anak Tuhan tidak mau berperang; tipuan iblis. Apa tipuannya? Ia akan mengatakan bahwa kita tidak perlu berperang. Peperangan hanya dilakukan oleh hamba Tuhan saja. Ini salah besar!. Tipuan ini ampuh membuat anak-anak Tuhan enggan untuk melangkah di gelanggang pertempuran dan memilih untuk bermain aman. Iblis itu pandai menipu dan mereka punya rencana yang terstruktur dengan rapi. Bagaimana cara kerjanya?
Iblis suka dengan hati yang ‘kosong’
[Matius 12:43-45]“Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur.” [Ay. 44]
Jangan biarkan hati kita kosong! Ketika kita sudah bertobat dan membiarkan itu terjadi, itu seperti membuka celah untuk membiarkan iblis masuk dan membuatnya menjadi lebih ‘kotor’. Bahkan ia akan mengajak rekan-rekannya yang lebih kuat dan jahat [Ay. 45]. Iblis akan bekerja lebih hebat pada ruang-ruang hati yang tersembunyi, sebab disitulah ia dapat bekerja bebas untuk merusak pandangan manusia tentang Allah. Roh iblis adalah roh yang kering dan tidak ada damai sejahtera. Maka dari itu, kita harus senantiasa mengisi hati kita dengan Roh Kudus.
Mengambil keuntungan dari terpisahnya tubuh Kristus
[2 Korintus 2:10-11]“Supaya iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.” Iblis senang dengan perceraian. Ia senang kalau tubuh Kristus tidak memiliki kesatuan. Sebab ia tahu, ketika anak-anak Tuhan tidak bersatu, banyak celah yang dapat ia masuki dan itu memudahkannya untuk menghancurkan tubuh Kristus. Ketika tubuh Kristus memiliki kesatuan, iblis jadi gentar.
Mencuri Firman Tuhan
[Markus 4:15]“Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.”
Iblis adalah pencuri. Ia senang mencuri firman yang kita dengar sehingga firman itu tidak dapat bertumbuh.
Iblis suka membisikkan rencananya
[Yohanes 13:2]“Mereka sedang makan bersama, dan iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.”
Iblis suka memberitahukan rencana jahatnya dengan cara berbisik. Walaupun hanya berbisik, itu dapat mempengaruhi pikiran bahkan hati kita. Maka dari itu, tidak semua apa yang dipikirkan dan direncanakan manusia adalah baik dan benar. Mungkin iblis akan membisikkan rencananya yang terlihat baik, namun sebetulnya itu adalah rencana penghancuran rasa percaya kita di dalam Kristus.
Lalu, bagaimana cara melawan si penipu ulung ini?
Tunduk kepada Allah [Yakobus 4:7]
“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu!”
Hubungan intim dengan Tuhan adalah kuncinya. Ketika kita dekat dengan-Nya, iman kita menjadi teguh. Iblis sangat takut dengan anak Tuhan yang mau bangkit dan yang mau memenuhi takdirnya di dalam Tuhan.
Iblis adalah penipu yang suka mencobai manusia. Walaupun begitu, pencobaan-pencobaan yang diberikan iblis tidak akan melebihi kekuatan manusia. Walaupun kita dicobai, Tuhan telah memberikan jalan keluarnya [1 Korintus 10:13]. Jadi, apakah kita mau melawan atau malah berdamai dengan iblis?
JADILAH ORANG YANG BERBAHAYA BAGI IBLIS
- Published in Sermons
Khotbah Ir. Benny Lianto : Pemimpin Berkarakter Ilahi
Di dunia ini, begitu banyak figur pemimpin; ada yang memang pemimpin, ada pula yang mengklaim dirinya pemimpin. Tetapi, saat ini dunia sedang mengalami krisis dalam memiliki Pemimpin yang Berkarakter Ilahi. Ada 2 masalah besar yang membuat kita harus segera memiliki pemimpin yang memiliki karakter yang Ilahi:
Domba yang tidak bergembala
“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:36)
Mengapa domba membutuhkan gembala? Karena domba adalah hewan yang paling lemah. Gembala memastikan semua dombanya untuk tetap berada dalam kawanannya. Jika tidak, domba ini akan dengan mudahnya diburu oleh serigala yang berkeliaran. Karena itu, Yesus mengajak murid-muridnya untuk memiliki belas kasihan kepada orang-orang yang tidak bergembala itu; untuk mengambil keputusan untuk membimbing dan memuridkan mereka.
Orang Buta Menuntun Orang Buta
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8)
Apa yang terjadi ketika tidak ada pemimpin dengan karakter Ilahi bergerak dan memimpin domba yang tak bergembala itu? Akan ada orang-orang “buta” yang mau mengambil alih memimpin mereka. Orang buta yang menuntun orang buta, semuanya akan berujung jatuh ke dalam jurang. Seorang yang juga tidak mengerti jalan kebenaran, menggiring orang-orang yang belum kenal kebenaran. Ini yang berbahaya; mereka bisa sesat.
Bagaimana menjadi Pemimpin yang Berkarakter Ilahi?
Untuk menjadi pemimpin yang berkarakter Ilahi, ada standar-standar yang harus kita penuhi:
Memiliki Tujuan Hidup yang Benar
Banyak orang berkata bahwa tujuan hidup mereka adalah menjadi orang sukses. Tetapi itu itu adalah jawaban yang abstrak. Ukuran kesuksesan berbeda-beda, bergantung nilai hidup orang tersebut. Orientasi kesuksesan dan tingkat keberhasilan kebanyakan orang rata-rata berbicara soal harta. Ada tingkatan ukuran kesuksesan yang seringkali jadinya kita balik urutannya. Urutan prioritas harta:
- Harta Rohani (Anugerah Keselamatan)
- Jiwa
- Kesehatan
- Sosial (Memiliki pergaulan dan berteman)
- Keluarga yang Harmonis
- Harta Jasmani / benda
Seharusnya kita dapat membawa anak kita mengenal Tuhan, tetapi banyak yang membalik urutan prioritas tersebut, sehingga harta jasmani menjadi urutan pertama dalam hidupnya. Pemimpin yang berkarakter Ilahi tahu dengan pasti apa yang menjadi tujuan dan prioritas dalam hidupnya. Tentunya tujuan hidupnya adalah tujuan yang Ilahi; Tujuannya adalah untuk memuliakan nama Tuhan.
Sebab beginilah Firman Tuhan kepada kaum Israel: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup! Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap..” (Amos 5:4-5)
Dari ayat tersebut, dikatakan bahwa tujuan kita seharusnya tertuju kepada Tuhan. Tuhan tidak menghendaki kita pergi ke Betel, Gilgal, dan Bersyeba. Betel adalah gambaran dari hal-hal fisik, sarana prasarana, dan fasilitas. Misalnya mereka hanya mau ke gereja karena gedung yang besar dan mewah. Sedangkan Gilgal berbicara tentang posisi dan jabatan; Bersyeba berbicara tentang harta duniawi. Karena itulah Tuhan berkata, janganlah kita mengejar hal-hal yang demikian. Jika kita menjadikan Yesus sebagai yang terutama bagi kita, maka Dia cukup bagi kita.
Apapun yang kita miliki di dunia ini tidak akan bisa membuat kita cukup. Hanya Tuhan yang cukup untuk setiap kita.
Keintiman dengan Tuhan
Kepada siapa kita intim? Kita sering hadir ke gereja bukan berarti kita intim dengan Tuhan. Mungkin kita sering menunjukkan diri pergi ke gereja, tetapi Tuhan berkata, “… Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dai pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23). Itu artinya kita kurang intim dengan Tuhan. Orang yang sharing di gereja pun belum tentu intim dengan Tuhan.
Pemimpin yang berkarakter Ilahi memiliki keintiman dengan Tuhan. Orang yang intim dengan Tuhan adalah orang yang selalu mengutamakan Tuhan dalam hidupnya. Ketika Tuhan yang terutama dalam hidup kita, maka nilai kita semakin besar. Sebaliknya, ketika kita menempatkan Yesus di belakang, maka segala karya yang kita buat tidak ada artinya.
Ukuran sebuah keintiman dengan Tuhan adalah haus dan lapar akan kebenaran.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan (Matius 5:6).
Apakah kita sudah haus dan lapar akan Tuhan? Anak muda jaman sekarang sudah sangat ketagihan dengan gadget mereka; tidak bisa sehari saja tidak terkoneksi dengan internet. Tetapi apakah kita sudah ketagihan dengan Firman Tuhan? Seberapa ketagihan kita kepada Tuhan dibandingkan koneksi internet?
Seorang pemimpin yang berkarakter Ilahi harusnya selalu ter-connect dengan Tuhan. Jika tidak, tujuan hidupnya sebenarnya palsu.
Rendah Hati
Demikianlah jugalah kamu, hai orang-orang muda tunduklah kepada orang-orang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang-orang yang congkak, tetapi mengasihani orang ayng rendah hati.” Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktu-Nya. (1 petrus 5:5-6)
Output dari seorang pemimpin berkarakter Ilahi ialah: rendah hati. Menjadi seorang pemimpin seringkali membuat kita berpikir bahwa kita seharusnya dilayani. Tetapi seorang pemimpin di dalam Tuhan seharusnya melayani sesama. Belajar dari pribadi Yesus; Dia datang di dalam dunia ini tidak dilayani, tetapi melayani sesama.
Tuhan membenci orang yang sombong dan angkuh. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk merendahkan diri kita. Sebab Firman Tuhan berkata bahwa ketika merendahkan diri kita di bawah tanganNya yang kuat, maka kita akan ditinggikanNya pada waktuNya.
Sudahkah kita mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang berkarakter Ilahi? Untuk menjadi pemimpin mudah, tetapi menjadi pemimpin yang berkarakter Ilahi, diperlukan sebuah standar, yaitu memiliki Tujuan yang benar, Keintiman dengan Tuhan, serta karakter rendah hati. Mari persiapkan diri kita agar kita bukan hanya sekedar menjadi pemimpin. Tetapi menjadi pemimpin-peminpin yang membawa terobosan di dalam Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Berani Nyatakan Kebenaran
Tembok Yerikho bukan diruntuhkan oleh puji-pujian. Dalam Ibrani 11:30 dikatakan, “Karena iman maka runtuhlah tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.” Iman-lah yang meruntuhkan tembok Yerikho. Puji-pujian hanyalah alat yang digunakan untuk menyatakan iman dan ketaatan mereka terhadap perintah Tuhan. Ketika kita taat terhadap suara Tuhan, kita akan dapat menemukan hambatan.
Hari-hari ini banyak pengajaran yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Begitu banyak anak muda diburu untuk mengikuti kegerakan tertentu; mereka dibaptis dengan paksa. Penyesatan di jaman ini bukan menunjukkan diri dengan topeng hantu, tetapi mereka menyamar dengan wajah-wajah yang rupawan, sehingga kita tidak sadar bahwa mereka sesat.
Gereja Tuhan harus menyatakan kebenaran, sekalipun hidupmu akan disingkirkan ketika kamu menyatakan kebenaran itu.
Mungkin jika Rasul Paulus hidup di jaman ini, yang diupload di Instagram adalah ketika dia dipenjara, dianiaya, dan diperlakukan tidak adil karena pemberitaan kebenaran yang sejati. Begitu banyak media saat ini mencuci pikiran kita, menggeser kebenaran yang sejati dalam hidup kita. Banyak orang menyangka bahwa kekristenan adalah sebuah gaya hidup mewah yang sangat diberkati. Sehingga orang yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan terintimidasi, “Orang yang kemarin menolak untuk diinjili, kok hidupnya lebih bahagia ya? Sedang aku yang ikut Tuhan sungguh-sungguh, jadi menderita seperti ini ya” Kita menjadi iri dengan mereka. Tetapi seorang Paulus dan seorang Petrus, ketika melihat Yesus mati bagi dosa-dosa manusia, mereka berkata, “Kapan ya aku seperti itu? Kapan aku bisa merasakan rasanya dianiaya dan disiksa karena pemberitaan Injil yang benar?”
Kaya bukanlah tolak ukur mutlak bahwa hidup kita diberkati Tuhan
Menjadi kaya tidak dosa. Tetapi Alkitab tidak mengajarkan bahwa kita harus kaya. Menjadi kaya bukan standar hidup kita diberkati. Media dapat menipu, tetapi Firman Tuhan tidak pernah menipu. Firman Tuhan katakan bahwa ketika kita dianiaya dan diperlakukan tidak adil karena memberitakan kebenaran, kita akan mendapat bagian dalam Kerajaan Sorga.
Hari-hari ini anak-anak Tuhan sedang menuju kepada garis akhir. Bumi sedang menuju kepada kesudahannya. Gempa bumi, pesawat jatuh, dan bencana dimana-mana; itu menjadi sebuah tanda bahwa kedatanganNya sudah tidak lama lagi. Kita perlu memiliki hidup kekristenan yang benar. Hidup kekristenan adalah hidup dimana Kristus yang menjadi pusat dan tujuannya; Kita jangan serupa dengan dunia ini, tetapi harus menjadi serupa dengan Kristus.
Ada banyak orang bertanya, “Mengapa aliran sesat itu terus berkembang sangat pesat? Mengapa Tuhan tidak memusnahkan saja aliran-aliran sesat itu?” Dalam Perumpamaan Gandum dan Ilalang (Matius 13:24-30), Tuhan membiarkan ilalang itu bertumbuh bersama-sama dengan gandum. Tetapi ketika masanya menuai, Tuhan akan memisahkan keduanya; gandum akan dimasukkan dalam lumbung Tuhan, sedangkan Ilalang itu akan dibakar di dalam api. Pada kedatanganNya, Tuhan akan memisahkan “gandum” dengan “ilalang”. Tuhan tahu waktu menaruh penghakimanNya pada hari yang terakhir.
Apa tembok Yerikho-mu?
Berfirmanlah Tuhan kepada Yosua: “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa…” (Yosua 6:2)
Apa tembok Yerikho-mu? Tuhan akan serahkan semua musuh-musuhmu ketika kau hidup benar di hadapan Tuhan. Yang sanggup meruntuhkan tembok Yerikho adalah ketaatan. Kita harus nyatakan kebenaran kita tanpa menghakimi orang lain, sebab penghakiman hanya milik Tuhan. Tapi kita harus dengan lantang menyatakan ketidakbenaran, itu perintah Tuhan.
Revival bukanlah ketika sebuah gereja semakin banyak jemaatnya, dan gereja yang lainnya tutup. Tetapi revival adalah ketika hati kita dikembalikan kepada Bapa, dan kita sangat mengucap syukur dengan segala yang diberikanNya kepada kita. Revival terjadi ketika kita taat, dan terlebih dari itu Revival adalah sebuah kasih karunia.
Mari kita senantiasa bersyukur dengan apa yang Tuhan beri kepada kita. Apakah kamu sudah menerima revival? Kita menerima diri kita untuk dipakai oleh Tuhan, kita bersyukur dengan segala sesuatu dalam hidup kita. Cintailah gelanggang kita, dan kerjakan gelanggangmu dengan hati yang taat dengan kerinduan Tuhan. Berani nyatakan kebenaran! karena itulah perintah Tuhan untuk setiap kita.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Keluarga Allah
Kristus menciptakan kita serupa dengan-Nya dalam satu iman dan satu keluarga
Gereja tidak berbicara mengenai nama denominasi, organisasi, maupun gedung tempat beribadah. Namun, gereja adalah sebuah organisme kehidupan. Gereja adalah sebuah keluarga. Sudahkah kita merasa bahwa gereja ini keluarga di dalam Kristus, bahwa gereja ialah keluarga rohani kita? Jika ada hubungan keluarga jasmani, persahabatan, pertemanan, ada juga ada hubungan yang dinamakan hubungan dalam satu keluarga rohani. Gereja juga bukan sekedar komunitas, tempat kumpul saja, berkumpul bersama-sama karena tidak ada kerjaan, paksaan, atau karena ada banyak makanan pada saat itu.
Apa itu keluarga?
Tentu kita tidak asing lagi dengan kata yang satu ini. Keluarga adalah bagian terkecil yang membentuk masyarakat. Dalam keluarga, kita mulai mempelajari tentang berbagai hal. Keluarga merupakan bagian terdekat dalam hidup kita. Seringkali, kita cenderung tampil apa adanya pada keluarga kita. Ada keterbukaan, baik itu dalam hal penampilan, cara bicara, dan lain sebagainya.
Keluarga Rohani
Keluarga rohani ialah keluarga yang dipersatukan dalam Kristus, yaitu orang-orang yang ditemukan oleh kasih anugerah-Nya dan disatukan dalam rencana-Nya yang mulia. Ada beberapa ciri keluarga rohani yang benar, yaitu:
Di dalam sebuah keluarga rohani, seseorang tidak perlu mengenakan topeng.
Seorang anggota keluarga belajar untuk membuka setiap topeng dan kubu pikiran mereka untuk dipulihkan dan disempurnakan dalam Kristus. Ada suatu dasar kasih yang benar, bahwasanya teguran dari pemimpin ialah suatu bentuk kasih sayang dalam keluarga. Amsal 27:6 menyatakan, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik.” Demikian pula kawan-kawan kita dalam persekutuan di dalam Kristus.
Di dalam sebuah keluarga rohani, ada rasa percaya antara satu anggota dengan anggota keluarga yang lain.
Ciri kedua yang terdapat dalam sebuah keluarga yaitu rasa percaya. Rasa percaya mengalahkan segala kebimbangan dan keraguan dalam hati. Sebab di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (1 Yohanes 4:18). Adanya rasa percaya berarti ketiadaan rasa curiga antar tubuh Kristus. Dari sinilah muncul sebuah kesatuan hati. Sudahkah kita membangun rasa percaya, sehati, dan sepikir di dalam Kristus.
Di dalam sebuah keluarga rohani, Yesus merupakan kepala keluarga dan gereja ialah tubuh-Nya.
Iblis sangat menyukai perpecahan. Bilamana ada damai sejahtera, Iblis selalu mengambil celah untuk masuk dan memporakporandakan keadaan tersebut. Oleh karena itu, apabila terjadi perpecahan di dalam tubuh Kristus, yakni antar sesama anggota keluarga rohani, ingatlah Efesus 6:12. Bahwasanya, “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Oleh karena itu, jangan biarkan Iblis mencuri kasih dan damai sejahtera Allah melalui ketegangan yang ada di antara kita. Tetapi, milikilah karakter kasih Allah agar kita dimampukan untuk memaafkan kesalahan anggota keluarga kita. Pernahkah Anda mendengar mengenai “mantan keluarga”? Sungguh aneh bukan? Sebab, tidak ada istilah demikian. Seorang anak yang mengalami perseteruan di dalam keluarga, tidak pernah pergi dan mencari keluarga lain. Ia mungkin kabur dari rumah, terhilang dan tersesat, tetapi keluarganya selalu ada untuk menerima dia kembali untuk pulang ke rumah yakni keluarganya yang sejati.
Di dalam sebuah keluarga rohani, ada kasih tak bersyarat.
Beberapa keluarga jasmani mungkin memaparkan kasih yang bersyarat, karena pada dasarnya, kita memang masih hidup dan berinteraksi di dunia dengan manusia yang penuh keterbatasan dalam mengasihi. Namun dalam keluarga rohani yang benar, ada kasih yang benar pula yakni bentuk kasih yang tak bersyarat. Paulus menyatakan dalam surat 1 Korintus 13:1, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”
Dalam sebuah hubungan, entah seperti apa pun bentuknya, yaitu keluarga, jalinan kasih, persahabatan, diperlukan kasih dan pengampunan untuk mempertahankan hubungan tersebut. Kita memiliki kecenderungan untuk membentuk suatu benteng-benteng tertentu di dalam pikiran kita. Luka-luka lama yang terbentuk dari hubungan yang tidak berakhir dengan baik di masa lalu kita membawa banyak sekali masalah dalam hubungan-hubungan kita berikutnya di masa depan. Bahwasanya, hati ini bagaikan sebuah cermin, ketika ia menerima sesuatu, ia cenderung memberikan hal serupa kepada orang lain. Tetapi kita tidak perlu khawatir, karena seperti yang dinyatakan dalam 2 Korintus 10:4-5 bahwa, “…senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus.”
Mengapa Gereja disebut sebagai sebuah Keluarga?
Ada hubungan yang spesial dalam sebuah jalinan darah dalam keluarga. Seorang pegawai tidak mungkin akan mendapatkan sepeser pun dari si bos apabila ia resign dari tempat kerjanya. Namun bagaimana dengan seorang anak? Tentu ia berhak untuk mendapatkan warisan dari si bos, sang ayah. Begitu pula dalam gereja. Gereja disebut sebagai keluarga karena ada suatu warisan jubah karunia-karunia, tongkat estafet para pemimpin. Seperti Elia yang menyerahkan jubahnya kepada Elisa, demikian pula orang tua rohani kita akan memberikan juga suatu harta untuk diwariskan kepada kita (1 Raja-raja 19:19-21). Ada suatu genetik rohani yang dapat diturunkan kepada anak rohani, yang berakar dari Kristus. Inilah pentingnya suatu komitmen dalam sebuah keluarga, agar seorang anak siap menerima warisan yang diperuntukkan baginya.
Ketika memiliki hati yang dipulihkan, kita dimampukan untuk memikirkan hal-hal yang baik di mata Tuhan (Filipi 4:8).
Lawanlah kejahatan dengan kebaikan, cara satu-satunya untuk mengalahkan Iblis yaitu dengan memiliki sifat dan karakter Allah yang penuh kasih dan pengampunan, bukan dengan memiliki karakter Iblis yang penuh dendam dan perpecahan.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Seberapa Gregetnya Kamu?
Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.
Matius 13:44-46
Kita sering mendengar istilah bahwa orang Kristen itu aneh. Untuk menjadi murid Kristus, kita harus berani difitnah; berani untuk membuat kontroversi. Jika Paulus ada di jaman sekarang, dia pasti sering membuat hal-hal yang kontroversi. Kontroversi adalah bagian dari anak Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, “Pergi.. jual seluruh milikmu dan ikutlah Aku.” Atau “Jika orang tuamu menghalangi rencana Tuhan dalam hidupmu, tinggalkan mereka.”; ini adalah hal yang menimbulkan kontroversi.
Kita harus menjadi orang Kristen yang berani menjadi kontroversi.
Kala ini banyak orang yang mengejar “body goal”. Mereka menginginkan sebuah gambaran tubuh yang sempurna dan menjadi impian banyak orang. Tetapi pernahkah kita sebagai orang Kristen mengejar Heavenly Goal? Heavenly Goal maksudnya mengejar apa yang menjadi goal sorgawi; mengejar panggilan sorgawi yang sudah Tuhan tetapkan dalan hidup kita.
Seberapa Gregetnya kamu?
Menjadi anak Tuhan harus greget. Hari-hari ini di social media, muncul banyak tantangan “Seberapa gregetnya kamu?” Tetapi, seberapa gregetnya kamu sebagai anak Tuhan? Orang Kristen harus punya Heavenly Goal. Orang Kristen yang tidak memiliki heavenly goal bukanlah orang kristen. Jangan takut dibilang aneh. Karena keanehan adalah bagian kita sebagai anak Tuhan. Ketika kita mendapatkan uang 1 milyar, dan yang kita ambil 1 juta saja, sedang yang 999 juta kita berikan untuk Kerajaan Tuhan, orang akan mengatakan hal itu aneh; tetapi itu tidak aneh bagi kita. Itu adalah orang Kristen yang greget.
Orang Kristen harus greget. Kalau orang Kristen tidak greget, kita akan membuat Tuhan gregetan.
Banyak orang yang berkata, “Jangan terlalu serius ikut Yesus.” Dan ketika kita melakukannya, Tuhan juga bisa berkata, “Aku gak serius janjikan kamu Surga”. Karena itu, kita harus serius ikut Yesus. Kita harus radikal dalam mengikutNya. Janganlah kita menjadi Kristen ‘dunia’, karena Standar Kristen ‘dunia’ itu hanyalah buatan manusia, tetapi Alkitab adalah buatan Tuhan. Oleh sebab itu, standar kita harusnya adalah standar sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
JADILAH ANAK TUHAN YANG GREGET DENGAN MEMILIKI HEAVENLY GOAL
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Evie Mehita : Pikiran yang “Waras”
Bacaan : 1 Petrus 4 : 7-11
“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” [1 Petrus 4:7]
Manusia memiliki perasaan dan pikiran yang tidak stabil. Orang yang tidak tenang pasti sering membuat kesalahan. Contohnya ketika seseorang dikejar penjahat dan ia berniat untuk masuk ke dalam rumah. Karena panik, ia sampai tidak tahu cara membuka kunci rumah. Peluang untuk membuat kesalahan sangat besar terjadi ketika pikiran kita tidak sehat. Injil Petrus mengatakan bahwa kita harus menjadi tenang supaya kita bisa berdoa. Tenang disini artinya menjadi waras.
Pikiran yang tidak waras membuat kita sulit untuk berhubungan pribadi dengan Tuhan.
Apa yang dimaksud dengan pikiran tidak waras? Pikiran-pikiran liar yang menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan. Maka dari itu, kita harus menguasai diri. Menguasai diri berarti mengekang pikiran kita yang liar dan tidak stabil supaya kita hanya memikirkan apa yang Tuhan pikirkan. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” [Filipi 2 : 5]. Pikiran seperti Kristus hanya bisa didapat dari hubungan pribadi kita dengan-Nya. Untuk bisa berhubungan pribadi, kita harus mengekang pikiran yang tidak waras.
“Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah dalam pelayanan Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah untuk kepentingan kamu.”
Ketika melayani Tuhan, kita harus menjadi “tidak waras”. Tidak waras disini bukan berarti memiliki pikiran yang menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan, tetapi memiliki mimpi yang radikal bagi Tuhan. Mimpi setinggi-tingginya sampai dunia memandang kita sebagai orang yang “tidak waras”. Namun, dalam kehidupan kita dengan sesama, kita harus memiliki pikiran yang waras. Mengasihi mereka dengan kasih Kristus.
“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” Kita harus lebih mengasihi saudara seiman kita. Kasih menutupi banyak sekali dosa artinya tidak menyebarkan kesalahan orang lain supaya tidak mempermalukan dan memperburuk keadaannya. Pelayanan tanpa kasih adalah sia-sia. “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” [1 Petrus 4:10].
Sudahkah kita memiliki pikiran yang waras dalam Tuhan? Pikiran yang waras hanya didapat ketika kita mengekang pikiran yang liar—yang tidak sesuai dengan pikiran Tuhan. Miliki hubungan pribadi dengan-Nya supaya kita memiliki pikiran yang sehat.
MILIKILAH PIKIRAN YANG WARAS DARI BERHUBUNGAN PRIBADI DENGAN TUHAN
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Meterai Roh Kudus
Bacaan: 1 Korintus 12 : 1-11
Kita seringkali diberitahu oleh orang tua bahwa listrik itu berbahaya. Tetapi kadangkala kita baru bisa memahami kalau listrik itu berbahaya saat kita mengalami kesetrum. Kita mungkin seringkali percaya dengan apa yang orang tua kita katakan. Tetapi ketika mengalaminya sendiri, kita akan memahami dan sungguh-sungguh mengerti. Sama halnya dengan Kekristenan. Tidak semua orang yang percaya dengan Yesus adalah orang yang sudah dimeteraikan oleh Roh Kudus. Tetapi orang yang percaya kepada Kristus dan telah dimeteraikan oleh Roh Kudus pasti menerima jaminan keselamatan. Dan mereka diberi kesanggup untuk tidak menyangkal Yesus.
Apa yang dimaksud dengan dimeteraikan oleh Roh Kudus? Yaitu orang yang lidahnya mengaku dan hatinya percaya Yesus. Hati yang percaya ada tindakan. Seorang yang sungguh-sungguh mencintai pasangannya tidak hanya mengaku dibibir saja, tetapi juga ada tindakan yang dia lakukan untuk membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh mencintai. Oleh karena itu, saat kita dimeteraikan oleh Roh Kudus, kamu menerima beban dari Tuhan, menerima hati yang hancur dari Tuhan. Tanpa meterai dari Roh Kudus, seseorang tidak bisa memiliki beban hati untuk jiwa-jiwa.
Meterai artinya disahkan oleh Roh Kudus, dihidupi oleh Roh Kudus, dijamin oleh Roh Kudus, dan hidup bersama Kerinduan Roh Kudus
Dimeteraikan oleh Roh Kudus ini adalah proses untuk memegang tanggungjawab dan mandat Ilahi. Kita adalah orang-orang pilihan Tuhan. Yang mendapat anugerah mendengarkan berita inijl. Sementara di luar sana banyak orang belum bisa mendengarkan kebenaran Firman Tuhan. Tetapi sebagai orang-orang pilihan, kita punya tanggungjawab: jiwa-jiwa.
Saat kita dibaptis oleh Roh Kudus, seharusnya kita memiliki buah-buah Roh
Makna dibaptis oleh Roh Kudus ini luas. Ada yang berkata bahwa orang yang sudah dibaptis oleh Roh Kudus adalah bisa berbahasa lidah. Tetapi tanda-tanda supranatural itu tidaklah mutlak. Saat kita dibaptis oleh Roh Kudus, seharusnya kita memiliki buah-buah Roh. Seseorang yang sudah dimeteraikan oleh Roh Kudus ini masih bisa berbuat salah, tetapi ada proses bersama dengan Roh Kudus yang dia alami, sehingga dia menjadi pribadi yang semakin disempurnakan di dalam Tuhan. Hidupnya akan memiliki beban untuk semakin serupa dengan Kristus, dan dia akan memiliki beban untuk jiwa-jiwa yang terhilang. Ada hati yang rindu supaya jiwa-jiwa itu dapat mengenal kebenaran. Sudahkah anda mengenal beban ilahi itu?
Meterai artinya kita mau berkata, “aku mau mengambil beban itu. Apapun yang akan ku hadapi, aku tetap mau percaya kepada Yesus.” Meterai itu sudah tersedia. Hanya kita perlu siap untuk menandatanganinya. Karena dalam sebuah perjanjian ada 2 belah pihak. Kita bukan hanya perlu percaya. Tapi kamu tinggal di dalam Dia, dan Dia tinggal di dalam kamu.
Apakah kau sedang mengalami masalah? Dalam Alkitab selalu diceritakan, sebelum terjadi mujizat selalu didahului oleh persoalan. Karena itu, ketika kamu mengalami permasalahan, kamu menjadi kandidat penerima mujizat. Sebab kita yang sudah dimeteraikan oleh Roh Kudus akan menerima kuasa. Kita telah dipilih Tuhan menjadi ahli waris-Nya, karena itu Tuhan akan perlengkapi hidup kita dengan karunia-karunia Roh Kudus.
Kuasa tidak mungkin bekerja sebelum kamu mengakui bahwa kuasa itu ada
Roh Kudus adalah pribadi lemah lembut. Jika engkau mengingkari keberadaanNya, Dia akan pergi dari hidupmu. Dia tidak akan bekerja dengan kuat dalam hidupmu. Roh Kudus masih bekerja sampai hari ini. Sealed by Holy Spirit artinya anda hidup dalam perkenanan yang Ilahi dan memiliki beban yang Ilahi. Bukan hanya beban yang sesaat, yang sehari saja sudah hilang. Ketika kita punya beban, akan terjadi kebangunan di kampus-kampus, di market place, dan dimanapun kita berada. Ada kerinduan yang besar supaya nama Tuhan semakin dipermuliakan.
Percaya kalau kita akan diberi kuasa dan diberi kekuatan oleh Tuhan untuk memperlengkapi dirimu. Berani untuk mengabarkan injil kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Ambil tanggungjawab dan beban Ilahi, karena kita adalah orang yang sudah dimeteraikan oleh Roh Kudus.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Penuhi Cawanmu!
“Mereka telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi Baal untuk membakar anak-anak mereka sebagai korban bakaran kepada Baal, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan atau Kukatakan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku.” (Yeremia 19:5)
Hati-hati, beda tipis antara api yang dari Tuhan dan api yang bukan dari Tuhan. Kerinduan untuk memimpin yang bukan dari Tuhan akan mengakibatkan api yang asing. Ketika kita mau memimpin seseorang tetapi tidak mau dipimpin, kita sedang masuk ke dalam sebuah penyesatan. Kita merasa, kita dipanggil oleh Tuhan, tetapi kita tidak mau mendengar orang yang terlebih dahulu dipanggil oleh Tuhan untuk menceritakan pengalaman hidup mereka dan kita tidak mau dipimpin oleh kerinduan Tuhan.
Api asing berbahaya. Ia muncul bukan dari hati Tuhan, tetapi muncul dari perasaan manusia.
Api yang palsu bisa berupa bakat dan talenta teknis yang mendatangkan kesombongan. Misalnya saja, kita sebagai manusia menetapkan standar-standar tertentu untuk seseorang bisa menyembah Tuhan harus dengan suara yang indah. Justru, segala sesuatu yang kelihatannya hebat dan heroik, belum tentu datangnya dari Tuhan. Seperti kisah dalam Yeremia, pada waktu itu, umat Israel mempersembahkan anak mereka sendiri. Hal itu kelihatannya dahsyat dan luar biasa, tetapi itu bukan dari Tuhan, melainkan dari pikiran dan perasaan mereka sendiri.
Banyak orang yang berbicara “aku mendapat ini dari Tuhan,” sementara, itu hanya merupakan dari perasaan dan pikiran mereka semata. Tetapi, domba-domba Tuhan, mengenal suara Tuhan. Beberapa waktu yang lalu, terjadi tsunami di Lombok. Lalu terjadi tsunami di Palu dan Donggala, dan sampai saat ini, kota-kota tersebut terisolasi dan kita tidak tahu bagaimana nasib orang-orang yang ada di kota tersebut. Hal ini tentu mengingatkan kita semua bahwa mall yang besar bisa rubuh, harta yang dikumpulkan dengan susah payah bisa hanyut oleh air, tetapi pada hari-hari terakhir ini, Tuhan rindu mengumpulkan sebuah jemaat yang berkemenangan. Anda tidak boleh “berdiam diri”. Tetapi Anda harus berdiam diri di dalam Tuhan, yakni bertindak dengan iman.
Janji Tuhan itu pasti. Namun, mengapa seringkali kita masih mengalami kegagalan demi kegagalan? Jika Anda sedang mengalami situasi yang berat dalam kehidupan Anda, Anda tidak tahu mengapa janji-janji Tuhan tidak segera digenapi, yang perlu Anda pahami ialah:
Suara siapa yang sedang Anda dengarkan?
Ada seseorang yang menjual semua rumah dan harta pribadinya, untuk membuat sebuah bisnis, dan akhirnya bangkrut dan menyalahkan Tuhan. Mengapa? Karena ia merasa itu suara Tuhan. Tetapi sesungguhnya, Tuhan tidak pernah berkata demikian, sebab suara Tuhan tidak mungkin gagal. Suara manusia dan suara perasaan seringkali menipu.
Waktu Tuhan
Ketika Anda sudah betul-betul mendengarkan suara Tuhan, dan bisnismu masih gagal, studimu masih gagal, dan hidupmu masih berantakan, percayalah, Tuhan sedang meminta Anda untuk berdiam diri. Berdiam diri bukan berarti tertidur, tetapi Anda menyerahkan segala sesuatunya sesuai dengan perintah Tuhan sebab waktu-Nya tidak sama dengan waktu kita. Ketika Naaman disembuhkan (2 Raja-raja 5:1–27), orang yang paling berjasa dalam penyembuhannya ialah pembantunya. Pembantu itu berjalan kepada istri Naaman, dan berujar, “tidak baik berdiam diri, pergilah kepada nabi, dan mudah-mudahan akan terjadi kesembuhan di sana.” Ada sebuah tindakan iman yang perlu dilakukan. Berdiam diri bukan berarti pasrah dengan keadaan. Berdiam diri artinya mendengarkan suara Tuhan, apa yang Tuhan mau untuk kita lakukan?
Ketika kita sedang berdiam diri, Tuhan sedang mengumpulkan air mata kita, peluh kita, di dalam kirbat dan cawan Tuhan. Dan sebelum cawan itu penuh, tidak akan terjadi sesuatu yang hebat dalam diri Anda. Tetapi ketika cawan itu penuh, meluap, melimpah, maka apa pun yang Anda kerjakan akan selalu berhasil.
Kita perlu menunggu cawan Tuhan penuh di dalam kehidupan kita. Lalu, dengan apa cawan ini bisa penuh?
Cawan tersebut akan penuh oleh air mata. Air mata disini melambangkan penyerahan demi penyerahan kita kepada Tuhan. Ketika punya kerinduan Tuhan, membuka toko donat, misalnya. Dan Anda yakin bahwa itu benar-benar dari Tuhan, maka yang pertama kali Tuhan akan kumpulkan yaitu air mata Anda. Pada awalnya, bisa saja Anda menyediakan 1000 donat, dan yang laku hanya 10. Anda mulai menangis, kita merasa, keadaan tidak bersahabat dengan kita. Ketika itu terjadi, Tuhan ingin agar kita berdiam diri, sebab Tuhan sedang mengumpulkan air mata kita, peluh kita ke dalam cawan-Nya. Saat cawan-Nya untuk kita sudah penuh, percayalah, mujizat-Nya untuk kita akan segera terjadi.
Banyak orang gagal dalam proses cawan ini dan menjadi tidak sabaran untuk menerima janji Tuhan. Mereka berusaha menyiramnya dengan api yang asing, semangat yang palsu. Akibatnya, api yang asing dan semangat yang palsu bukan memeras air mata mereka, tetapi memeras air mata kesombongan, “Hmph, lihatlah, donatku akan menjadi donat terbaik sedunia!” Itu api asing, yang Tuhan tidak kehendaki dalam hidup kita.
Lalu, bagaimana kita mengetahui air mata yang benar dan dikehendaki oleh Tuhan? Air mata yang demikian ditandai dengan adanya:
Pendahuluan, berupa motivasi, kerinduan yang dibangkitkan dari Tuhan. Anda akan mendapatkan pujian dan dukungan untuk mengerjakan mimpi Tuhan dalam hidup Anda.
Proses, yaitu bagian terberat. Anda akan mengalami caci maki, nyinyiran rohani, sentimen, dan segala sesuatu yang tidak baik dalam hidup Anda. Tetapi proses itu mendatangkan air mata dan minyak yang kudus, yang siap memenuhi cawan kita.
Pemenuhan cawan, yaitu keberhasilan demi keberhasilan yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang setia menanti pemenuhan cawan Tuhan. Semakin sabar Anda, semakin cepat waktu pemenuhan cawan tersebut di dalam kehidupan Anda. Tetapi semakin tidak sabar Anda, semakin waktu-Nya seakan-akan tidak berujung. Oleh karena itu, mari berdoa kepada Tuhan agar Ia memenuhi cawan Anda, supaya melimpah, dan jikalau cawan itu melimpah, maka Anda siap melakukan perkara-perkara yang besar untuk kemuliaan nama-Nya.
Ada yang berkata jualan ini gagal, jualan itu gagal, saya adalah orang yang gagal. Tetapi ingatlah bahwa Tuhan tidak menciptakan kita sebagai orang yang gagal, tetapi sebagai orang-orang yang lebih daripada para pemenang (Roma 8:37). Jikalau Anda tidak bisa memenuhi cawanmu, sampai seumur hidup, Anda tidak akan pernah mengerti hidup yang penuh kemenangan. Tetapi apabila cawan itu melimpah, kemenangan itu akan dipercepat oleh Tuhan. Maukah Anda bersama-sama, berlomba untuk memenangkan pertandingan Ilahi dan setia dalam proses pemenuhan cawan-Nya?
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Melihat Gambaran Seutuhnya
Bacaan: Yosua 1 :1-9
Yosua adalah pelayan Musa yang setia. Tuhan memberikan kedudukan yang luar biasa kepada Yosua karena dia setia kepada pemimpinnya. Kita tidak bisa setia dengan Tuhan bila kita tidak belaja setia dengan pemimpin. Bagaimana mungkin kita bisa setia dengan yang tidak terlihat, sedangkan kita tidak bisa setia dengan yang terlihat? Nama asli Yosua adalah Hosea, yang berarti keselamatan. Tetapi Musa menggantinya menjadi Yosua, yang berarti : engkau yang akan menyelamatkan. Yosua adalah pribadi yang melihat gambar seutuhnya rencana Tuhan di dalam diri Musa. Dia begitu percaya bahwa Musa akan memiliki tanah perjanjian sesuai dengan kehendak Tuhan.
Proses setia itu tidak mudah; kita perlu melihat apa yang Tuhan lihat. Kita sering tidak bisa melihat gambaran seutuhnya dari pandangan Tuhan, sehingga kita bisa berubah tidak setia. Kita bisa marah dan bersungut-sungut kepada Tuhan.
Kehidupan kita bagaikan sebuah Puzzle
Kehidupan kita seperti sebuah puzzle. Pada mulanya kita tidak tahu gambarannya sama sekali. Tetapi jika semua disatukan, itu membentuk gambaran utuh. Setelah lihat secara keseluruhan, kita bisa mengerti maksud puzzle tersebut. Sayangnya banyak anak Tuhan yang menjadi frustasi sebelum mereka menyelesaikan puzzle mereka. Mereka melihat potongan kecil yang mereka dapatkan nampaknya tidak sesuai dengan janji yang Tuhan. Mereka akhirnya membongkar kembali puzzle itu, dan menggantinya dengan puzzle yang baru. Akibatnya kita tidak pernah bisa memiliki tanah perjanjian.
Ada orang yang setia berdoa 40 tahun. Doa itu tidak terjawab melalui dirinya, tetapi melalui keturunannya. Itu berarti doanya mengerjakan sesuatu. Itu yang disebut dengan buah kesetiaan. Banyak yang meragukan janji Tuhan karena kita tidak bisa melihat apa yang Tuhan lihat dalam hidup kita.
Seringkali kita memaksa Tuhan melakukan apa yang kita mau. Kita claim janji-janji Tuhan, tetapi kita tidak melakukan kesetiaan dan ketaatan seperti Abraham. Dia memberikan anaknya yang didapatnya melalui penantian yang panjang. Dia harus menunggu puluhan tahun penggenapan janji Tuhan untuk memberikan keturunan kepadanya. Tetapi Abraham memegang teguh janji Tuhan. Dia taat dan setia dengan apa yang Tuhan mau; Dia sangat percaya dengan janji Tuhan bahwa dia akan menjadi bapa dari segala bangsa. Puzzle-puzzle yang harus dia lewati seakan-akan bertentangan dengan janji Tuhan kepadanya: Istrinya mandul, dia sudah tua, keadaan di sekelilingnya tidak mendukung, sehingga mustahil dia bisa memiliki keturunan. Tetapi Abraham setia dan percaya kepada Tuhan, bahwa Tuhan tidak mungkin mengingkari janjiNya.
Sama halnya dengan memahami konsep Allah Tritunggal. Kita tidak bisa melihat gambaran Allah secara keseluruhan karena pengetahuan yang kita miliki terbatas. Allah Tritunggal tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Semua rahasianya terletak di dalam Firman Tuhan. Untuk mengetahui Allah Tritunggal secara benar kuncinya adalah terima Yesus terlebih dahulu baru kita akan tahu tentang Allah Tritunggal. Yesus pun berkata dalam Yohanes 14 : 6, “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Oleh karena itu, kita harus menerima Yesus dulu, barulah selubung di hati dan pikiran klita dibukakan.
Tanpa Yesus, kamu tidak akan bisa mengenal Bapa kita
Terima Yesus dan kamu akan terbuka dengan misteri pengenalan Tuhan. Saat kita mengenal Yesus, kamu akan tahu tentang Bapa dan Roh kudus. Janganlah kita malah menggoyahkan iman orang percaya dengan pemahaman dan pengetahuan kita yang terbatas.
Percaya artinya kita menyerahkan apa yang Tuhan minta dalam hidup kita
Memahami Allah Tritunggal sama halnya dengan memahami rencana Tuhan dalam hidup kita. Kita harus percaya kepada Yesus terlebih dahulu. Percaya artinya kita menyerahkan apa yang Tuhan minta dalam hidup kita. Kita tidak bisa menuntut Tuhan berikan penggenapan janjiNya kalau kita tidak mau berikan yang terbaik untuk Tuhan. Abraham ketika menerima penggenapan janji Tuhan, dia rela mempersembahkan anaknya ketika Tuhan minta; karena dia percaya kepada Tuhan. Ketika kita percaya, kita dapat menyerahkan apa yang paling Tuhan inginkan.
Bukan karena kita tidak bisa melihat, maka janji Tuhan itu tidak terlihat sama sekali
Mari kita sungguh-sungguh menyerahkan hati dan hidup kita sungguh-sungguh kepada Tuhan; Penyerahan secara total. Mengapa kita seringkali tidak melihat janji Tuhan? Mungkin kita harus introspeksi diri: apakah kita sudah serahkan apa yang Tuhan inginkan? Tuhan kita bukan pembunuh, yang membunuh mimpi-mimpi kita. Tetapi Dia Tuhan yang setia.
Setiap orang memiliki bagiannya. Kita belajar menyerahkan apa yang menjadi bagian kita. Ketika kamu melihat pertumbuhanmu nampaknya seperti tanaman-tanaman yang kecil, percayalah kamu akan dapat melihatnya perlahan bertumbuh semakin besar dan kuat, asal kamu percaya dan menginjikan Yesus tinggal dalam hatimu. Maukah kamu belajar untuk percaya dan melihat gambaran Tuhan seutuhnya? Mari kita bertumbuh bukan karena perkara receh, tapi kita bertumbuh dari kebenaran Firman Tuhan.
Hidupmu bisa berpengaruh untuk orang lain; Berdampak luar biasa. Kuncinya adalah setia. Katakan kepada Tuhan: “Aku mau Kau pakai, Tuhan.” Maukah kamu memberikan apa yang paling kamu inginkan? Jikalau kamu memberikannya seperti Abraham memberikan Ishak kepada Tuhan, janji itu akan terjadi dalam hidupmu.
- Published in The Shepherd's Voice









