SIGN IN YOUR ACCOUNT TO HAVE ACCESS TO DIFFERENT FEATURES

FORGOT YOUR PASSWORD?

FORGOT YOUR DETAILS?

AAH, WAIT, I REMEMBER NOW!

Generasi Jawaban Doa - Gereja Christ Mercy Center

  • LOGIN
  • Home
  • Ministry
    • Vision & Ministries
    • Communities
    • The Shepherd’s Voice
  • Resources
    • Sermons
    • News & Events
  • On The Move
    • Road to Revival
    • SOW Camp
    • Healing from Heaven
    • Tabloid Transform
    • Transformer Ministry
  • Download
    • Download Tabloid TRANSFORM
  • Home
  • Articles posted by Ellen Natalia
  • Page 8
26 August 2026

Author: Ellen Natalia

Khotbah Ev. Christin Jedidah : Menjadi Murid Kristus

Monday, 08 April 2019 by Ellen Natalia

Bacaan : Lukas 14 : 25-35

Ada banyak alasan orang-orang mengikut Yesus. Ada yang menginginkan makan, mujizat, dan lain sebagainya. Tetapi Tuhan tidak menghendaki kita hanya sekedar menjadi “pengikut” Kristus, tetapi menjadi murid Kristus yang sejati. Bagaimana menjadi murid Kristus yang sejati?

Membenci Semua Berhala

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:26)

Apakah ada yang kita kasihi lebih dari Tuhan? Tuhan mau kita membenci itu. Maksud dari membenci ini supaya itu tidak menjadi berhala kita. Allah kita adalah Allah yang cemburu. Ia begitu mengasihi dan menginginkan kita. Ia mau kita mencintai-Nya lebih dari segalanya. Kita harus menempatkan Tuhan di atas segalanya. Keluarga merupakan salah satu orang yang paling kita kasihi. Tapi Firman Tuhan berkata barangsiapa mengasihi keluarga daripada Yesus, maka ia tidak layak untuk menjadi Murid Kristus.

Mungkin ada berhala-berhala di hidup kita: raksasa. Ada yang memiliki raksasa keluarga, raksasa persahabatan, dll, sehingga hati kita bisa terikat oleh keterikatan duniawi. Ketika hati kita sudah terikat, kita jadi tidak bisa menempatkan Yesus menjadi yang pertama dan satu-satunya.

Kalau kita lebih mengasihi berhala-berhala kita, rencana Tuhan tidak dapat terjadi di dalam hidup kita.

Banyak orang yang tidak mau menerima panggilan Tuhan hanya karena lebih memilih orang-orang yang ia kasihi di dunia. Banyaknya pilihan sulit yang membuat kita harus memutuskan apakah kita mau taat kepada Tuhan atau manusia. Berapa banyak orang yang dipengaruhi oleh apa kata orang? Menjadi murid Kristus harus meninggalkan apa kata orang. BELAJAR MENDENGARKAN SUARA TUHAN! Maukah kita sungguh-sungguh mempertahankan panggilan kita? Ini membutuhkan PROSES.

Memikul Salib

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:27)

Memikul salib berarti kita mau menderita untuk Tuhan. Kekristenan bukan hanya berbicara tentang berdoa meminta kepada Tuhan lalu dikabulkan, tetapi berbicara tentang BAYAR HARGA. Belajarlah untuk mengikut Kristus dengan membayar harganya. Dalam setiap pelayanan, pengerjaan visi, kita perlu bayar harga.

Visi tidak cukup hanya dibayangkan, tetapi juga harus dilakukan, dan itu membutuhkan bayar harga. Belajar mengandalkan Tuhan, dan Ia yang akan mencukupi kebutuhan kita.

“Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.” (Lukas 14:28-31)

Dalam mengikut Yesus kita perlu punya perhitungan; punya perencanaan. Kita harus siap dalam membayar harganya. Siap mental dan penuh persiapan supaya tidak putus di tengah jalan dalam perjalanan memenuhi panggilan Tuhan. Selesaikan panggilan kita sampai akhir.

Mengosongkan Diri

“Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:33)

Serahkan semua yang ada padamu kepada Tuhan. Apa berhala yang menghalangimu untuk dekat dengan Tuhan? Belajar merelakan semuanya dan kosongkan dirimu. Sehingga rencana Tuhan yang sempurna dapat terjadi dalam hidupmu.

Menjadi Garam

“Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Lukas 14:34-35)

Ketika kita menjadi murid, kita harus menjadi DAMPAK bagi orang lain. Jangan kita menjadi tawar yang tidak memberikan pengaruh apapun; semuanya hanya menjadi sia-sia. Jadilah dampak dimanapun kita berada, dan nama Tuhan dipermuliakan.

JADILAH MURID KRISTUS SEJATI YANG MENJADIKAN TUHAN YANG TERUTAMA DALAM HIDUPMU

bayar hargaChristin JedidahMurid KristusVisi Tuhan
Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ev. Evie Mehita – Jangan Jadi Pemalas!

Tuesday, 02 April 2019 by Ellen Natalia

Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel, yang belum mendapat bagian milik pusaka. Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehinga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu? (Yosua 18:2-3)

Diceritakan ada 7 suku dari 12 suku Israel yang belum menduduki tanah Kanaan, sekalipun Tuhan sudah memberikan tanah perjanjian ini kepada mereka. Mereka menjadi “malas” menduduki tanah tersebut. Mungkin mereka malas untuk pindahan, membangun, dan berperang melawan musuh-musuh mereka yang pada waktu masih berada di daerah sekitar mereka. Mereka tertahan dalam zona nyaman mereka; Padahal tanah itu sudah diberikan Tuhan kepada mereka.

Berbeda dengan Kaleb, dia begitu berapi-api untuk mendapatkan Tanah Perjanjian Tuhan. Bahkan dia berkata bahwa kekuatannya di umur 85 tahun masih sama pada saat umurnya yang ke 40 tahun (Yosua 14:6-7). Kaleb meminta bagiannya, karena dia tahu Tuhan punya perjanjian dalam hidupnya. Dan begitu ia mendapatkan bagian dari Tanah Kanaan, dia segera mendudukinya dan dengan semangat menghalau musuh-musuhnya (Yosua 15:13-14).

Demikian juga dengan kita sebagai anak Tuhan. Tuhan punya perjanjian untuk kita semua; masa depan, pelayanan, kehidupan kita. Apakah kita sudah memiliki mental seperti Kaleb ? ataukah kita “pemalas” seperti 7 suku yang tidak menduduki Tanah Perjanjian?

Miliki Mental Seperti Kaleb

Kita harus memiliki mental seperti Kaleb yang memperjuangkan haknya. Dia punya semangat sampai janji Tuhan digenapi dalam hidupnya. Milikilah semangat seperti Kaleb; sampai tua terus berkobar untuk visi Tuhan. Menjadi percaya bahwa jika Tuhan berkata : “Jadi” maka semuanya pasti akan “Jadi”.

Sudahkah anda tertanam dalam visi Gereja?

Gereja ini memiliki visi menjadi jemaat yang Rasuli, Rahmani, dan Rajani. Rasuli artinya gereja yang bermisi. Gereja bukan terbatas dari gedung saja, tetapi dimanapun menjadi dampak untuk dunia luar. Rahmani artinya kemurahan Tuhan. Ini berbicara tentang janji Tuhan akan lawatan, pemulihan dan kasih yang Tuhan nyatakan lewat gereja ini. Rajani berbicara tentang karakter dan kualitas luar biasa yang digunakan untuk menjadi dampak secara luas supaya semua bangsa mengenal kuasaNya.

DNA Surgawi: Makanan kita adalah Firman Tuhan dan darah kita adalah darah pemberita Injil.

Sudahkan kita memiliki DNA Surgawi? Jika kita memilikinya, hati kita pasti tergerak untuk memberitakan Injil. Jika tidak, patut dipertanyakan DNA siapa yang kita miliki? Kita harus menerapkan dan mengerjakan prinsip OPOS, OPOF, dan OLOC:

OPOS : One Person One Soul (Satu orang memenangkan 1 jiwa)

OPOF : One Person One Family (Satu orang memenangkan 1 keluarga)

OLOC : One Leader One City (Satu Pemimpin mengubahkan 1 kota)

Mari Kita menjadi Gereja yang Bergerak!

Gereja yang hidup adalah gereja yang bergerak. Gereja yang bergerak adalah gereja yang bisa mengalahkan Iblis. Iblis sedang berusaha mencuri mimpi Tuhan dalam kita. Kita memiliki 7 voice; ini adalah senjata kita. Tuhan sudah memberikan banyak senjata kepada kita. Mari kita memakainya! Tuhan sedang melatih kita untuk menggunakan senjata melawan iblis. Jangan biarkan Iblis menawan hati kita! Mari kita terus kobarkan api kita dengan mengerjakan 7 Voice :

Voice of Salvation : Pedang – Memberitakan kebenaran kepada jiwa-jiwa

Voice of Healing : Obat – Mambagikan “obat” Kristus untuk menyembuhkan mereka yang terluka baik secara jasmani, jiwani, maupun rohani

Voice of Love : Handuk – Membalut, Membebat yang terluka, dan menghangatkan

Voice of Prayer : Perisai – Menahan serangan Iblis dengan berjaga-jaga dalam doa

Voice of Blessing : Tongkat Otoritas – Memberkati orang lain dengan usaha dan daya yang dimilikinya

Voice of Worship : Kecapi – Penyembahan yang membuat iblis gemetar

Voice of Family : Rantai – Menghubungkan setiap jiwa dalam keluarga Allah

Jadilah gereja yang bergerak! Jangan jadi pemalas dan teruslah berjuang sampai mimpi Tuhan digenapi dalam hidupmu.

Evie MehitaKegerakanPemalasvisiVoice
Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Aku Hidup oleh Perkataan-Mu

Tuesday, 26 March 2019 by Ellen Natalia

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engaku diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12: 5-6)

Tuhan adalah Bapa yang mengasihi kita. Dia juga adalah Tuhan yang rindu mendidik kita. Tuhan mendidik orang-orang yang diakui-Nya sebagai anak. Apa reaksi kita ketika dididik Tuhan? Berbahagialah karena jika kita dididik Tuhan, artinya kita masih diakui sebagai anak oleh Tuhan.

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain melihat anak-anak mereka melakukan kebenaran.

Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran. (3 Yohanes 1:4)

Fungsi Bapa adalah mendidik dan menyesah anak-Nya. Bapa rindu memukul kita dengan kebenaran. Di akhir jaman, ada begitu banyak Injil-Injil palsu. Karena itu, kebenaran harus terus diwariskan kepada anak-anak kita, sehingga kita tidak disesatkan oleh rupa-rupa pengajaran. Untuk itu, kita perlu rela untuk dibentuk dan dimurnikan oleh Tuhan sehingga hidup kita akan dapat dipakai oleh Tuhan. Dan marilah kita menjadi orang-orang yang mau berkata: “Hidupku karena perkataanMu, bukan kata orang lain.”

Tuhan Menikmati Penyembahan Kita

Penyembahan adalah sesuatu yang bersifat pribadi. Itu adalah ungkapan cinta kita kepada Tuhan. Seseorang yang tidak memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu kepada orang yang dikasihinya, tentu saja diragukan: apakah dia sungguh-sungguh mencintai atau tidak?

Cinta itu berat. Cinta itu butuh pengorbanan, dan jatuh cinta adalah hubungan pribadi yang tidak bisa dicampuri oleh orang lain. Dan jika kita mencintai Tuhan, maka kita akan menyembah Dia dengan sepenuh hati.

Mirisnya, banyak orang yang meninggalkan gereja hanya karena alasan “Aku tidak bisa menikmati penyembahan di tempat ini.” Lantas, sebenarnya untuk siapa penyembahan kita? Sesungguhnya yang berhak menerima dan menikmati penyembahan kita adalah TUHAN.

Seringkali kita sebagai manusia menilai apa yang kita lihat. Ketika melihat orang yang memuji Tuhan dengan meneteskan air mata, kita menganggap bahwa dalam penyembahannya ada hadirat Tuhan. Padahal penyembahan yang dikagumi oleh Tuhan bukan hanya milik orang yang menyembah dengan berurai air mata; Tuhan lebih tertarik dengan hati kita. Tuhan yang menilai setiap cinta dan pengorbanan kita.

Manusia melihat rupa, tetapi Tuhan melihat hati

Seperti seorang janda miskin yang memberikan yang ada padanya. Sekalipun ada orang kaya yang memberikan persembahan yang nampaknya sangat banyak, namun Tuhan memuji janda ini daripada orang kaya itu, karena dia memberikan yang terbaik untuk Tuhan; Ia korbankan apa yang ada padanya untuk diberikan kepada Tuhan.

Hubunganmu dengan Tuhan adalah urusanmu dengan  Tuhan. Sama seperti orang yang jatuh cinta, ekspresikan cintamu kepada Tuhan. Jangan biarkan penilaian orang menjatuhkan dirimu, karena Tuhan yang menilai semuanya.

Bapa rindu Kita mengerjakan kerinduanNya

Tuhan rindu kita menjadi gereja yang hidup. Seperti jemaat mula-mula yang memecahkan roti dan bersatu, mereka menceritakan Injil Kristus yang sejati tanpa iming-iming kekayaan, tanpa iming-iming kenyamanan. Maukah kita menjadi gereja yang hidup itu? Kita hidup dalam kebenaran dan menceritakan kebenaran yang sejati itu kepada banyak orang.

Apakah kita seperti Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus? Petrus adalah orang yang menyangkal, bahkan menghujat Yesus. Ketika dia sadar akan kesalahannya, dia bersembunyi dari Yesus. Tapi Yesus datang memanggil dia dengan namanya. Sama halnya dengan kita; Mungkin kita berdosa dan terikat, tetapi Tuhan sedang memanggil kita.

Seberapa parahnya dosa dan kesalahan kita, Tuhan masih mengasihi kita, dan selalu ada harapan untuk pulang ke rumah Bapa.

Berapa banyak kita masih hidup terikat dengan dosa? Ayo kita bangkit! Kita diciptakan segambar dengan Tuhan. Roh Tuhan dalam diri kita jauh lebih besar untuk melawan dosa-dosa kita.

Tuhanlah yang menilai hidup kita. Karena itu janganlah kita hidup hanya dari penilaian manusia semata. Biarkan Tuhan yang menikmati setiap penyembahan dari hidup kita.

Daniel Hadi ShaneDidikan TuhanPenilaian TuhanPenyembahan
Read more
  • Published in The Shepherd's Voice
No Comments

Khotbah Ev. Christin Jedidah : Tidak Bercacat Cela di Hadapan Tuhan

Wednesday, 20 March 2019 by Ellen Natalia

Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah (Filipi 1:9-11)

Tuhan menginginkan di akhir kehidupan kita, kita didapati suci dan tidak bercacat di hadapan Tuhan. Ending dari kehidupan kita adalah menjadi serupa seperti Kristus. Bagaimana caranya? Kita harus bisa dapat memilih apa yang baik.

Hidup ini penuh pilihan, dan pilihan kita menentukan kehidupan yang akan datang.

Kita perlu memiliki pengetahuan dan pengertian yang benar untuk dapat memilih yang baik, sehingga kita menjadi pribadi yang didapati tak bercacat dan memiliki hidup yang berbuah di hadapan Tuhan. Karena itu miliki pengetahuan yang benar agar dapat memilih yang dengan benar.

Miliki pengetahuan yang benar agar dapat memilih yang dengan benar

Dalam kerohanian kita, kita harus memiliki pengetahuan yang benar; Pelajari terlebih dahulu sebelum memilih. Di sisi yang lain, seseorang tidak bisa melihat pengetahuan yang benar jika dia tidak memiliki kasih. Karena orang yang tidak memiliki kasih tidak akan bisa menerima kebenaran.

Apa itu kasih?

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala seuatu, percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1 Kor 13:4-7)

Orang yang tidak memiliki kasih tidak bisa menerima kebenaran, karena masih ada benteng-benteng  dalam pikiran mereka. Sedangkan apa yang ada dalam pikiran kita belum tentu benar. Seringkali apa yang kita pikirkan, itulah yang kita lakukan. Kalau yang kita pikirkan salah, maka pilihan-pilihan kita pun menjadi salah. Karena itu, penting untuk belajar Firman Tuhan dengan benar.

Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah (Roma 10:2-3)

Dikatakan bahwa banyak yang kelihatannya rohani, tetapi mereka tidak memiliki pengertian yang benar. Mereka tidak mengenal kebenaran, lalu mulai menciptakan kebenaran versi mereka sendiri. Sehingga mulai memilih-milih Firman Tuhan yang menyenangkan telinga mereka saja. Hanya mendengarkan Firman Tuhan yang menguntungkan saja. Pengertian kita telah salah terhadap Firman Tuhan.

Maukah kita dipakai Tuhan untuk menyampaikan apa yang benar? Ataukah kita adalah orang apatis yg enggan menyampaikan apa yang benar? Apakah kita sudah memilih yg benar? Hidup adalah sebuah pilihan dan Tuhan rindu kita semua memilih apa yang baik.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia memang memberikan banyak tawaran, tapi pilihlah apa yang berasal dari Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai robot. Manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih. Tapi yang perlu kita lakukan adalah memberikan kehendak dan keinginan kita kepada Tuhan untuk dipakai sesuai dengan rencana-Nya.

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Jadi jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. (2 Petrus 3:9,11,14)

Tuhan memberikan kesempatan bahwa kita harus berusaha memiliki hidup tak bercacat dan bercela di akhir kehidupan kita, artinya kita 100% taat kepada kehendak Tuhan; Kita harus menaati seluruh Firman Tuhan, dan keseluruhannya harus dijalankan dengan sempurna.

Tuhan menghendaki kita berbuah. Sudahkah kita menghasilkan buah? Buah berbicara tentang buah pertobatan, buah pelayanan, dan buah jiwa. Sudahkah hidup kita mengalami perubahan? Sudahkah kita melayani Tuhan? Sudahkah kita berbuah jiwa?

Sama seperti pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9), Jika kita tidak berbuah, maka Tuhan akan menebang kita. Dan kita tidak bisa berbuah kalau kita tidak melekat pada Yesus, pokok anggur yang benar. Karena itu, mari kita senantiasa melekat kepada Yesus, supaya hidup kita semakin tidak bercacat cela dan berbuah bagi kerajaanNya.

Mari siapkan diri kita yang terbaik menjelang kedatangan-Nya yang sudah tidak lama lagi. Mari kita senantiasa mengoreksi kehidupan kita. Apakah kita sudah mengusahakan diri untuk tidak bercacat cela di hadapan Tuhan? Pilihlah apa yang baik dan benar karena kita sudah mengenal kebenaran yang sejati.

Christin JedidahKebenaranKudusPengertianPengetahuanPilihanTak Bercacat
Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ev. Elita Chandra : Kebenaran yang Memerdekakan

Wednesday, 20 March 2019 by Ellen Natalia

Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:30-32)

Berbicara kebenaran, setiap kita yang dilahirkan dari keluarga Kristen, kita sudah sering mendengar kebenaran. Dalam perikop sebelum Yohanes 8 : 30-36 banyak menjelaskan asal usul Yesus dan banyak orang yang menjadi percaya. Tetapi Tuhan tidak mau kita hanya cukup menjadi percaya. Kita harus menghidupi kepercayaan kita. Kita harus mengerti dan melakukan prinsip Kebenaran itu. PRINSIP KEBENARAN :

Tinggal dalam Firman akan Memerdekakan Kita

Setiap kita memang tidak mungkin lepas dari dosa tanpa kasih karunia, tetapi dengan tinggal dalam Firman Tuhan, kita dapat dimerdekakan. Tinggal artinya tetap, tidak berpindah-pindah.

Sama halnya ranting tanaman anggur yang tidak berpindah-pindah; dia melekat dengan pokoknya. Tuhan berkata tentang pokok anggur yang benar. Ranting yang sesungguhnya melekat pada pokoknya. Ranting yang tidak melekat dengan benar adalah ranting yang palsu. Tuhan mau kita melekat pada pokok anggur. Buah akan dapat kita hasilkan kalau kita melekat pada pokok anggur.

Kebenaran itu menyakitkan. Seperti pil pahit yang harus kita telan, tetapi menyembuhkan kita.

Ketika kita sakit, kita tidak bisa memilih-milih obat yang harus kita minum. Demikian juga dengan kebenaran; kita tidak bisa memilih-milih kebenaran yang menyenangkan telinga kita saja. Jika kita pilih-pilih obat/ Firman, kita tidak sungguh-sungguh tinggal dalam Firman. Walau itu menyakitkan, kita harus menelan Frman itu.

Kita tidak akan tahu kebenaran seperti apa, jika kita tidak tinggal di dalamnya.

Jika kita tinggal, kita akan mengetahui apa yang kita tidak pernah tahu. Seperti kita tinggal satu rumah dengan orang lain, kita akan tahu kebiasaan-kebiasaan orang-orang yang tinggal bersama dengan kita. Ketika kita tinggal bersama sesuatu/seseorang, ada kehidupan yang terjadi. Demikian juga jika kita tinggal bersama kebenaran, maka akan ada kehidupan yang terjadi.

Cara pandang yang berubah

Untuk merdeka, kita harus tahu apa itu kebenaran. Ketika kita tahu kebenaran, cara pandang kita terhadap sesuatu akan sesuai dengan kebenaran. Jika kita tidak tahu kebenaran, kita akan dengan mudahnya menerima inputan-inputan yang tidak benar berupa nilai-nilai yang berasal dari dunia yang kemudian kita rohanikan.

Cara pandang kita menentukan arah hidup kita. Jika cara pandang kita salah, hidup kita akan dikendalikan pada suatu yang salah. Tapi jika cara pandang kita benar, hidup kita akan dibawa pada kebenaran.

Memberi Ruang untuk Kebenaran Dalam Hati

Aku tahu, bawa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena Firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu (Yohanes 8 : 37)

Yesus mengatakan mereka memang adalah keturunan jasmani dari Abraham, tetapi Yesus menegur mereka bahwa mereka tidak hidup dalam Firman, tidak seperti Abraham, bapa leluhur mereka.

Kebenaran seringkali bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan. Awalnya pasti menyakitkan, tetapi jika kita ingin bebas, kita harus menerima kebenaran.

Seringkali kita datang pada Tuhan, kita bertanya pada Tuhan, tetapi tidak menginginkan kebenaran, melainkan pembenaran. Kita jahat dan licik.

Berikan tempat untuk kebenaran tinggal dalam hati, jangan hanya mendengar. Tetapi biarlah itu mengoreksi dan mengubah hidup kita.

BAGAIMANA IBLIS MEMPERNGARUHI KEBENARAN, MENIPU ANAK-ANAK TUHAN SEHINGGA MEREKA MEMPEROLEH KEBENARAN YANG SALAH?

Berfokus dengan 1 Kata Larangan

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua
pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya
dengan bebas, ” 
(Kejadian 2:16)

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang
dijadikan oleh Tuhan Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman:
semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahhnya, bukan?”  (Kejadian 3:1)

Iblis fokus pada 1 perintah Tuhan, iblis suka menyorot 1 poin larangan saja, padahal ada 1000 kebaikan Tuhan lainnya. Sehingga manusia salah fokus seakan Tuhan itu jahat, Tuhan melarang. Mindset Hawa dipermainkan agar Hawa hanya fokus pada larangan Tuhan!

Ketika kita ditegur, kita langsung menyorot pada teguran tanpa melihat nasihat yang diberikan itu baik. Kita langsung mengecap orang yang menegur kita adalah orang yang jahat dengan 1 larangan, tanpa memperhitungkan kebaikan-kebaikan lainnya yang dia lakukan. Padahal kata jangan/larangan yang diberikan itu bertujuan baik untuk kita.

Menyederhanakan Perintah Tuhan

“.. Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” 
(Kejadian 2:17)

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak
akan mati,”
(Kejadian 3:4)

Iblis selalu MENYEPELEKAN dosa dan MENYEDERHANAKAN perintah Tuhan. Tuhan sudah jelas mengatakan bahwa manusia akan langsung mati, tetapi iblis berkata bahwa “sekali-sekali”. Hati manusia sangat licik untuk bermain-main dengan larangan Tuhan. Kita mencari-cari cara, menyepelekan dosa karna kita suka. Tetapi hati nurani kita tahu bahwa itu tidak benar.

Jangan pernah menyederhakan perintah Tuhan!
karena sekali-kali dilakukan, lama-lama akan menjadi berkali-berkali.

Memakai Dalih Rohani untuk Membenarkan Dosa

Tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka dan kamu menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat(Kejadian 3:5)

Iblis berkata “sama seperti Allah”. Tuhan mau kita sempurna seperti Tuhan, dan iblis memakai dalih-dalih kerohanian untuk membuat kita jatuh dalam dosa, padahal itu tidak membawa kita dekat kepada Tuhan.Kita sering memakai statement yang terlihat rohani untuk melancarkan sesuatu.

Contohnya kita bekerja keras sehingga tidak ke gereja dengan alasan agar dapat uang dan uang tersebut akan digunakan untuk memberkati gereja. Tetapi itu adalah DALIH KITA, pembenaran yang kita lakukan. Jika roh Kudus ada dalam hati kita, kita pasti tahu bahwa kita salah.

Tawaran yang Tampaknya Baik dan Menarik

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. (Kejadian 3:6a)

Tipuan iblis seakan-akan tidak berhasil terhadap Hawa, tetapi saat itu Iblis pikiran Hawa sedang bermain. Dikatakan bahwa Hawa melihat buah itu baik dan menarik.

APA YANG KITA LIHAT BAIK, BELUM TENTU ITU BAIK. Mata manusia seringkali menipu, tetapi manusia seringkali tertipu oleh apa yang kita lihat. Tipuan pertama Iblis pada Hawa masih dapat dengan mudah ia sangkal. Ia masih teguh dan mengingat perintah Tuhan. Tetapi ketika ia melihat bahwa buah itu menarik dan seakan tidak berbahaya, ia tertipu.

Apa yang kita lihat baik, belum tentu itu yang terbaik. Terlihat baik tetapi ujungnya adalah maut, kita terpisah dari kasih dan perkenanan Tuhan.

Berapa jarak pandang manusia? Penglihatan manusia sangat terbatas, tetapi Tuhan melihat segalanya. Apa yang kita lihat baik dan berkenan, kita harus tanyakan kembali pada Tuhan agar kita tidak tertipu. Siapa tahu apa yang kita lihat baik seperti pohon pengetahuan, itu ternyata menyesatkan.

Hiduplah dalam kebenaran yang sanggup memerdekakan kita. Dengan kita tinggal dalam kebenaran, itu akan menjadi senjata kita untuk bertahan dan melawan tipu daya si Jahat kepada setiap kita.

Elita ChandraFirman TuhanKebenaranKemerdekaanTipuan Iblis
Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ev. Silvia Marryasa Hannah : Perkenanan

Wednesday, 23 January 2019 by Ellen Natalia

Bacaan : Ester 1

Tahun 2019 sudah tiba. Tahun mukjizat dan kasih tak bersyarat merupakan rhema bagi kita semua. Tuhan mengasihi semua orang. Namun, tidak semua tindakan manusia mendapat perkenanan Bapa. Bagaimana agar hidup kita berkenan di hadapan-Nya?

Ratu Wasti adalah gambaran sempurna seorang ratu di masa itu. Memiliki paras menawan, bergelimang harta, dan mendapat posisi utama di kerajaan Ahasyweros. Sayangnya, ia menolak untuk dipakaikan mahkota oleh sang raja. Ahasyweros pun geram dan menyingkirkan ratu. Wasti menggambarkan anak-anak Tuhan di akhir zaman. Banyak anak Tuhan yang sudah nyaman berada di comfort zone mereka sehingga menganggap remeh anugerah dari sang Raja, Yesus Kristus.

Mari kita lihat bagaimana kehidupan Ester, pengganti Wasti. Ester adalah seorang wanita biasa yang tidak memiliki ayah dan ibu. Ia pun diangkat oleh pamannya, Mordekhai. Hidup Ester bukan hidup yang diinginkan kebanyakan orang. Ia menyadari bahwa hidupnya terpuruk. Ketika ia melihat kesempatan yang dapat mengubah hidupnya, ia mau meninggalkan hidupnya yang lama dan meresponi sebaik mungkin kesempatan itu. Akhir cerita, Ester pun disenangi oleh semua orang bahkan Raja Ahasyweros. Ini semua tentang bagaimana kita mau move on dari hidup lama yang nyaman atau terpuruk ke kehidupan yang berkenan. Tuhan melihat hati manusia yang memiliki respon yang benar.

Ester adalah gambaran bagaimana kita mau move on dari hidup lama yang nyaman kepada kehidupan yang berkenan.

Kedua, untuk memiliki hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, kita harus memiliki karakter rendah hati. Karakter ini dapat kita teladani dari perilaku Ester [Ester 2:15]. Ia mau belajar mendengarkan orang lain sekalipun orang tersebut hanyalah seorang penjaga. Memiliki sikap rendah hati saja tidak cukup, melainkan menjadikan itu sebagai sebuah karakter. Kerendahan hati adalah sebuah perlindungan dan kemanan, bukan kekalahan. Mengapa? Karena kita membiarkan Tuhan untuk lebih tinggi dan lebih berkuasa dalam hidup kita.

Untuk memiliki hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, kita harus memiliki karakter rendah hati.

Kebaikan lain yang membuat Ester menjadi orang yang berkenan bagi raja adalah tindakannya yang tidak mementingkan diri sendiri. Ketika Haman ingin memunahkan semua orang Yahudi, Ester tidak tinggal diam. Ia berpuasa dan mencari akal untuk meminta belas kasih dari raja. Ester memiliki hati untuk bangsanya. Hati Tuhan berada pada jiwa-jiwa yang terhilang. Sudahkah kita memiliki hati untuk mereka? Jangan membuat ‘kerajaan’ kita sendiri, tetapi perbesar kerajaan Allah di bumi.

Untuk memiliki hidup yang berkenan, kita harus mengetahui apa yang Tuhan ingini. Miliki waktu yang berkualitas dan intim dengan-Nya, maka kita tahu bagaimana cara menyenangkan hati-Nya.

HIDUP YANG BERKENAN DI HADAPAN TUHAN ADALAH GAYA HIDUP ORANG PERCAYA

Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ev. Christin Jedidah : Kasih Karunia dalam KelahiranNya

Wednesday, 23 January 2019 by Ellen Natalia

Bacaan  : Lukas 1 : 26-35

Natal merupakan perayaan kelahiran Yesus yang selalu dirayakan tiap tahunnya. Yesus lahir di Nazaret, di kandang domba, di dalam palungan merupakan fakta yang sudah hafal di luar kepala. Namun, ada satu pesan yang Injil Lukas ingin sampaikan di setiap momen natal yang kita rayakan: kasih karunia.

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Maria merupakan wanita biasa dari keluarga biasa. Tidak tertulis bahwa Maria dipilih karena parasnya, keahliannya, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Wanita itu mendapat kasih karunia dari Allah. Ketika kita mendengar kata “kasih karunia”, secara otomatis frasa itu merujuk pada hal-hal yang sifatnya menyenangkan ‘daging’. Padahal, tidak selalu kasih karunia dianggap ‘kehadirannya’ dalam wujud hal yang menyenangkan ‘daging’. Apa makna kasih karunia yang sebenarnya?

Kasih karunia adalah sesuatu yang tidak layak kita terima, namun kita mendapatkannya

Di balik kasih karunia yang kita terima, selalu ada konsekuensi/risiko. Maria mendapat kasih karunia, sekaligus ia juga menghadapi risiko ketika menjalaninya. Mengandung saat belum bersuami tentu adalah hal yang tidak wajar pada saat itu. Walaupun begitu, Maria tetap berani mengambil konsekuensi itu [Ay. 38]. Kasih karunia harus diresponi. Respon kita adalah wujud kehendak bebas yang Tuhan berikan pada setiap penawaran-Nya. Kita adalah makhluk yang selalu dan tidak akan pernah menjadi sempurna, sehingga kita membutuhkan kasih karunia dari Tuhan untuk menyempurnakan hidup kita. Untuk mengerjakan kasih karunia, kita juga membutuhkan tuntunan Roh Kudus [Ay.35].

Ketika diberikan kasih karunia, janganlah kita menyia-nyiakannya.

“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” [1 Korintus 15:10]. Kasih karunia memampukan kita untuk bekerja lebih keras.

Selain kasih karunia, kelahiran Yesus juga berhubungan dengan mukjizat.

Mukjizat bisa terjadi dalam banyak hal, baik kecil maupun besar. Elisabet, saudara Maria yang disebut mandul pun mengandung [Ay.36]. Suatu hal yang sangat mengejutkan bagi Maria. Namun, Malaikat ingin meyakinkan Maria bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil [Ay. 37]. Dibutuhkan iman percaya untuk dapat mengalami mukjizat.

Sungguh dalam makna dari hari Natal yang sesungguhnya. Kelahiran Yesus ke dalam dunia bukan hanya untuk menyelamatkan orang berdosa, tetapi lewat kelahiran-Nya Ia ingin menunjukkan bagaimana kasih karunia dan mukjizat itu sungguh ada bagi orang-orang yang menantikan-Nya dengan taat dan setia.

KELAHIRAN YESUS MEYAKINKAN KITA BAHWA KASIH KARUNIA DAN MUKJIZAT MASIH ADA DI DALAM DUNIA

Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ev. Evie Mehita : Selamat Hari Pengutusan!

Sunday, 30 December 2018 by Ellen Natalia

Natal selalu diidentikkan dengan kelahiran Tuhan Yesus, Ulang tahun Tuhan Yesus. Hari ulang tahun adalah hari pengutusan kita ke dunia, dimana Tuhan punya tujuan untuk setiap kita dilahirkan di dalam dunia ini.

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (Lukas 2:52)

Ketika Yesus semakin besar, Yesus mendapatkan perkenanan Tuhan dan manusia. Ingin disukai oleh banyak orang? Maka jadilah seperti Yesus. Yesus mengasihi kita dan mati bagi kita waktu kita masih di dalam dosa. Bukankah kalau kita sungguh-sungguh bertobat dan hidup dalam Dia, Dia akan lebih lagi mengasihi kita. 2 minggu lagi kita akan memasuki tahun yang baru, mari kita belajar merenung: apakah kita sudah semakin berkenan? apakah kita sudah berbuah? dan apakah kita sudah memiliki target di tahun depan?

Di akhir jaman ini semakin banyak orang yang tidak tertarik dengan hal-hal rohani, sehingga banyak gereja-gereja membuat kegerakan, untuk membungkus kegiatan rohani menjadi menarik. Kita boleh membuat hal-hal yang menarik, tetapi jangan sampai itu melenceng dengan kebenaran Firman Tuhan. Sebuah survey mengatakan bahwa di Korea banyak dewasa muda yang hanya setahun hanya sekali sampai 2 kali saja ke gereja. Mereka beralasan karena sibuk.

Masa remaja adalah masa menanam dasar. Jika dasar kita tidak kuat, kita setelah dewasa, atau bahkan ketika tua nanti, mungkin bisa saja kita didapati tidak setia kepada Tuhan. Janganlah kita menjadi orang-orang seperti itu.

Visi kita selanjutnya adalah melatih pasukan Tuhan. Tapi itu butuh kita sendiri mau dilatih dan melatih dengan konsisten. Kita harus belajar bayar harga dan mengajari anak-anak kita untuk bayar harga. Beberapa waktu lalu, saya melayani anak-anak SMP dan SMA. Remaja itu sangat butuh untuk dibimbing. Kita bisa mudah sekali dipengaruhi dan disesatkan oleh orang lain jika kita tidak dibimbing.

Mari kita belajar memuridkan generasi di bawah kita. Bukan hanya remaja, bahkan orang tua pun butuh untuk dimuridkan. Begitu banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kita.

Sebagai murid Tuhan, kita harus memiliki 3B, yaitu Bertobat, Berubah, dan Bermisi. Ayo kita menjadi orang yang bermisi. Begitu banyak ladang yang harus dikerjakan. Maukah kita menjadi orang-orang yang mengerjakannya?

Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. (2 Korintus 5:15)

Untuk memiliki hidup yang dibagi untuk orang lain itu memang tidak mudah. Mungkin kita berkata, “Ah waktuku habis.. Ah repot..” dan lain sebagainya. Tetapi ketika kamu membagi roti, kamu tidak akan kehabisan roti. Membagi kasih, kasih itu tidak akan pernah habis. Percayalah bahwa Tuhan akan memperhitungkan semua korban kita.

Hidup kita adalah sebuah perjalanan. Kalau Tuhan masih membawa kita sampai pada hari ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan.

Evie MehitaHari PengutusanNatalPerjalanan
Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ev. Christin Jedidah : Kesalehan yang Sejati

Sunday, 23 December 2018 by Ellen Natalia

Bacaan : Yesaya 58:1-12

Yesaya mengatakan tentang kesalehan yang palsu dan sejati. Bangsa Israel berkata kepada Tuhan, bahwa mereka sudah melakukan banyak hal. Mereka tiap hari datang kepada Tuhan; mengikuti semua kegiatan keagamaan dan rajin saat teduh setiap hari. Mereka aktif mengikuti acara-acara rohani. Mereka ingin dan suka mengenal jalan-jalan Tuhan. Sepertinya bangsa ini melakukan hal yang benar, dan tidak meninggalkan hukum Allah.

Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?. (Yesaya 58:3a)

Mereka sepertinya dekat dengan Tuhan, tetapi mereka merasa Tuhan tidak pernah memperhatikan mereka. Ada banyak motivasi orang berpuasa, dan juga ada macam-macam jenis puasa. Ternyata bangsa Israel yang berpuasa tidak mendapatkan jawaban dari puasa mereka kepada Tuhan. Mengapa demikian?

Yang menghalangi kita mendapatkan janji Tuhan dan kesalehan yang sejati:

Ketika kita masih mengurus urusan kita sendiri

Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. (Yesaya 58:3b)

Seringkali ketika hidup kita hanya berfokus pada “aku”, kita tidak akan mendapatkan perkenanan dari Tuhan. Hukum kasih yang terutama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.” Dan hukum yang kedua adalah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39). Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita harus mengasihi diri kita sendiri. Kita belajar, bahwa kita hidup janganlah berfokus pada diri sendiri.

Kita mau dipakai Tuhan untuk membangun Kerajaan Allah, bukan kerajaan kita sendiri.

Dalam Hagai 1 : 4 – 11, berbicara tentang membangun kembali rumah Allah. Jangan kita berfokus untuk membangun rumah kita sendiri; jangan berfokus membangun kehidupan kita sendiri, padahal rumah Tuhan menjadi reruntuhan. Mereka menabur banyak, tetapi hasilnya sedikit. Ini bukan berbicara tentang materi, tetapi tentang kepuasan mereka dalam menikmati apa yang mereka usahakan. Mungkin ada orang-orang tertentu yang bisa menghasilkan 50 juta atau 100 juta dalam 1 bulan, tetapi tidak pernah bisa menikmatinya karena sakit-sakitan. Mereka tidak dapat menikamtinya karena mereka masih mengurus urusan mereka sendiri.

Mereka berpuasa, tetapi mereka tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat.

Sesungguhnya kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan di tempat maha tinggi (Yesaya 58:4)

Mereka masih suka berbantah dan berkelahi. Ini mewakili perbuatan dosa. Mereka masih suka melakukan dosa, walaupun mereka kelihatannya rohani. Ini yang membuat mereka jauh dari Tuhan; mereka tidak mendapatkan perkenanan dari Tuhan. Orang yang memiliki kesalehan yang sejati, kita mengalami sebuah pemulihan yang sejati dari Tuhan. Yang Tuhan inginkan bukan sekedar rutinitas berpuasa. Berpuasa bukan sekedar aktifitas. Ibadah yang sesungguhnya bukan sekedar acara. Lalu apa yang Tuhan inginkan sebenarnya?

Dalam Yesaya 58:6-7, Tuhan menghendaki kehidupan kita “membuka belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk”. Tuhan ingin kita berfokus untuk mengasihi sesama kita. Apa yang menjadi belenggu dalam hidup kita? Apa yang menjadi beban yang begitu merintangi hidup kita untuk berlari kepada Tuhan? kita berdoa dan minta hikmat dari Tuhan supaya Tuhan melepaskan setiap belenggu-belenggu. Orang yang terbelenggu tidak akan bisa melakukan sesuatu.

Selama kita masih diijinkan hidup di dunia ini, kita mau hidup untuk orang lain. Kita memperhatikan kebutuhan orang lain.

Seperti halnya dalam peperangan rohani, ketika Iblis membelenggu hidup kita, itu membuat kita tidak dapat bergerak. Kita tidak bisa mengalami kehidupan yang berbuah. Tuhan mau kita memiliki kesalehan yang sejati; kita melepaskan semua yang menghalangi kita berlari bersama Tuhan. Sehingga kita bisa memerdekakan orang lain.

Sudahkah anda memiliki tujuan Tuhan dalam hidup anda?

Untuk memilikinya, kita perlu peka dengan kebutuhan orang lain. Selalu visi Tuhan adalah untuk membangun Kerajaan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang lain. Berapa banyak yang mau dipanggil Tuhan untuk dipakai jadi berkat untuk orang lain?

Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari (Yesaya 58:10)

Kita harus seimbang dalam kehidupan ini, antara pelayanan, keluarga, teman-teman, dan diri kita sendiri. Mungkin ada kalanya kita bisa lelah melayani. Tetapi ada masa juga dalam hidup kita, ketika kita belajar untuk melayani, memperhatikan kebutuhan orang lain, membagi hidup kita, disitu kita akan mendapatkan kekuatan dari Tuhan. (Ayat 11-12). Ketika kita belajar melayani orang lain disaat kita terluka, di saat itulah luka-luka kita akan disembuhkan. (ayat 8)

Di dalam kita menjawab kebutuhan orang lain, ada rahasia yang luar biasa yang Tuhan janjikan. Tuhan yang akan memperbaharui kekuatan kita. Siapkah kita, jika Tuhan ingin pakai kita menjadi perintis-perintis? Dimana kita akan menjadi batu-batu awal dari kerajaan Allah. Maukah kita sama-sama membangun visi Tuhan yang Tuhan berikan dalam hidup kita? Ketika kita melakukan Firman Tuhan, Tuhan yang akan buka jalan demi jalan.

Mari kita menjadi History Maker, membuat yang tidak ada menjadi ada, membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Christin JedidahKesalehan SejatiMembangun Kerajaan Allah
Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Sibuk vs Produktif

Friday, 21 December 2018 by Ellen Natalia

“Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (Markus 4:25)

Firman Tuhan ini berbicara tentang produktif. Banyak anak Tuhan terjebak dalam rutinitas yang membuat mereka sibuk tetapi sesungguhnya mereka tidak produktif. Hati-hati! Jika kita seolah-olah kita bekerja penuh di ladang Tuhan, mengerjakan segala sesuatu, tetapi sesungguhnya hasilnya tidak ada. Banyak orang yang terjebak di dalam “tidak tahu apa yang harus dilakukan” dan tidak memiliki tujuan di dalam hidupnya. Orang sibuk bisa saja seolah-olah memiliki tujuan hidup. Tetapi hasilnya tidak kunjung jelas dan tidak memiliki arah. Orang sibuk melakukan hal ini dan itu, tetapi tidak tidak ada perencanaan sama sekali.

Orang-orang sibuk dalam Firman Tuhan seringkali digambarkan seperti “Marta”. Ketika Yesus menyampaikan pengajaran, dia sibuk menyiapkan segala sesuatu, sehingga tujuan pemberitaan itu menjadi gagal dalam hidupnya karena dia terlalu sibuk.

Komitmen

Orang sibuk memiliki banyak komitmen yang berhubungan dengan orang banyak / banyak hal. Orang produktif sulit memiliki komitmen, tetapi sekali dia berkomitmen, dia akan mengerjakannya.

Time Management

Orang sibuk seringkali tidak bisa mengatur waktunya dengan baik. Mereka memposisikan diri menjadi “toko serba ada”. Dia siap mengerjakan segala sesuatu, tetapi ministry yang Tuhan rindukan tidak terjadi dalam hidupnya. Tidak ada buah yang dihasilkan. Tetapi orang produktif tahu dengan betul fokus dalam hidupnya, sehingga waktu-waktunya menjadi efektif.

Buah yang Dihasilkan

Cara membedakan orang sibuk dan orang produktif adalah buahnya. Orang sibuk tidak menghasilkan buah, sedangkan orang produktif mampu mengelola dan mengembangkan talenta yang Tuhan berikan kepadanya.

Menjadi orang baik belum tentu menjadi orang benar di hadapan Tuhan.

Apakah kita sudah berbuah jiwa-jiwa? Ataukah kita sibuk melayani jiwa-jiwa dengan berbagai kebutuhannya, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang tertanam? Karena sesungguhnya kita sedang memenuhi kebutuhan mereka yang sebenarnya hanya Tuhan yang bisa penuhi. Ketika kita melihat Yesus dengan murid-muridnya, mereka melakukan quality time dengan berdoa, menginjil, dan mengajar. Sayangnya, kita seringkali terjebak dalam quality time yang salah; kita hanya memenuhi kebutuhan jiwa dan emosi kita.

Untuk itu menjadi seorang yang produktif, kita harus:

  1. Tujuan kita jelas, yaitu menyenangkan Tuhan dan semua untuk kemuliaan nama Tuhan. Kita dibimbing di dalam taurat Tuhan.
  2. Menghasilkan buah yang kita produksi. Hati-hati orang yang tidak berbuah tidak bisa dipakai oleh Tuhan.

Quality time versi Firman Tuhan adalah kamu mengenal Tuhan secara intim.

Tidak selalu keluarga rohani kita dapat memenuhi ekspektasi dan kebutuhan emosi kita. Sebagian besar curhatan kita adalah untuk meng-amin-kan apa yang sedang kita inginkan. Miliki quality time yang benar: berdoa bersama.

Produktif yang Negatif

Menghasilkan uang untuk membangun kerajaan sendiri, bukan kerajaan Tuhan. Kalau engkau mengumpulkan harta rohani kepada anak cucumu, sampai engkau meninggal, mereka akan mencari Tuhan. Tetapi kalau engkau mengumpulkan harta jasmani, ketika engkau meninggal, hartamu hanya menjadi rebutan. Ini produksi yang salah. Mari kita renungkan, apakah kita bekerja siang malam untuk membangun kerajaan diri sendiri, membangun kerajaan Tuhan, atau memang kita gila kerja?

Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya. (Markus 4:31-32)

Biji sesawi hanya sebesar pasir. Demikian juga, ketika kita percaya kepada Tuhan, dan kita mengerjakan fokus kita kepada Tuhan; kita bekerja dengan iman seperti biji sesawi. Iman itu mungkin tidak kelihatan sekarang, tetapi bukan berarti Tuhan tidak bekerja. Kita menganggap itu sebagai sebuah keterlambatan, tetapi Tuhan tidak pernah terlambat. Tuhan rindu biji sesawi kita itu akan berbuah tepat pada saatnya. Dan ketika biji itu menjadi besar, itu akan menjadi berkat bagi banyak orang.

Sudahkah buah karakter kita baik di hadapan Tuhan? banyak anak Tuhan yang sedang diproses dalam buah-buah karakter. Anak Tuhan dapat dilihat buah karakter ketika menghadapi tekanan dalam hidup. Saat menghadapi masalah, kita memilih berdoa atau berteriak-teriak? Hati-hati! Kita dapat mewariskan warisan kepada anak-anak kita. Baik hal yang baik maupun yang buruk dapat kita wariskan kepada anak-anak rohani kita. Mari kita menjadi orangtua rohani yang memberikan teladan yang baik untuk mereka.

Sudahkah anda fokus pada tujuan hidup anda? Apakah anda orang yang sibuk atau produktif? Jika kita adalah orang yang produktif, kita produktif yang negatif atau produktif yang positif? Sudahkah kita memberikan warisan rohani yang baik kepada anak-anak kita? Ijinkan roh kudus bekerja dalam diri anda.. memproses diri anda, dan anda akan berubah. Mungkin hari-hari ini kamu diproses Tuhan, tetapi hasilnya tidak ada. Serahkan waktu itu kepada Tuhan. Tuhan yang tahu waktu terbaik dalam hidup kita. Mari jadi orang-orang yang produktif, bukan hanya sekedar orang yang sibuk. Dan biarlah buah-buah karakter kita dapat memberkati orang-orang disekeliling kita.

Buah KarakterDaniel Hadi ShaneProduktifSibukTeladan
Read more
  • Published in The Shepherd's Voice
No Comments
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10

RSS Rahasia Hati

  • 3 Penghalang Ciptaan Baru
  • Pelajaran Mengenai Kapak yang Tumpul
  • Sulitkah Hidup Kudus?
  • Kisah Cangkir yang Cantik
  • Disertai Roh Kudus dan Roh Kudus Tinggal Dalam Kita

© 2015. All rights reserved. Buy Kallyas Theme.

TOP