Khotbah Ev. Christin Jedidah : Mati dan Bangkit Bersama Kristus
Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita juga akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.
Roma 6 : 5,8-9
Paskah mengingatkan kita untuk mengenang peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Ini adalah peristiwa yang penting, karena untuk inilah Kristus datang ke dunia, yaitu menebus dosa manusia. Tidak ada penebusan manusia tanpa peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya. Di dalam Roma dikatakan bahwa, “… kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya”. Tetapi apakah kita sudah hidup dalam kematian dan kebangkitan Yesus?
Sebagai pengikut Kristus yang sejati, kita harus mengalami peristiwa kematian dan kebangkitan bersama dengan Kristus. Artinya kita mati dari manusia lama kita yang tunduk kepada dosa (Roma 6:10-11), dan bangkit menjadi manusia baru dalam Tuhan (Roma 6:4). Jika kita ikut mati dan bangkit bersama dengan Kristus, artinya kita tidak lagi menyerahkan tubuh kita yang fana kepada dosa. Kita memang tidak bisa lepas dari dosa, tetapi Tuhan rindu kita menjadi pribadi yang mau senantiasa disempurnakan.
Kita belajar instrospeksi diri kita, hal apa yang harus kita perbaiki dalam hidup kita. Tuhan rindu kita ada progress; kita mengalami kemenangan demi kemenangan yang mengubahkan hidup kita. Perubahan yang kita alami akan membawa dampak untuk orang-orang yang ada di sekeliling kita. Inilah tujuan kita dilahirkan di dunia: berdampak dan membawa kemuliaan Tuhan di muka bumi.
Tugas utama kita menginjil kepada banyak orang, supaya mereka mengenal Kristus. Menginjil bukan hanya berkhotbah atau berupa perkataan, tetapi lewat hidup kita. Karena itu, kita disebut sebagai garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16). Garam adalah bumbu yang berfungsi untuk memberi rasa pada makanan. Jika garam itu menjadi tawar, dia akan kehilangan fungsinya. Demikian juga terang kita. Janganlah kita menyembunyikannya, tetapi meletakkannya di atas kaki dian, supaya orang bisa merasakan terangnya. Ketika hidup kita sungguh-sungguh menjadi garam dan terang dunia, orang akan terberkati lewat hidup kita dan nama Tuhan dipermuliakan.
Bagaimana menjadi Garam dan Terang? Ada 3P yang harus kita perhatikan, yaitu:
- Perkataan
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Efesus 4:29
Perkataan kotor yang dimaksudkan adalah perkataan umpatan dan perkataan sia-sia. Janganlah keluar kata sia-sia dari mulut kita; kita harus menjadi terang dalam perkataan kita. Kita harus bijak dalam berkata-kata, tidak semua hal dapat kita perkatakan sembarangan. Kita perlu menyaring setiap perkataan kita. Perkataan yang tidak kita jaga dengan baik, akan bisa menjadi gosip dan fitnahan yang dapat merugikan orang lain. Ada banyak orang yang memiliki gambar diri yang rusak akibat dari perkataan orang tua mereka yang salah. Bahkan perkataan yang merujuk kepada bullying juga dapat membunuh karakter orang lain.
Dalam Yakobus 3:1-12, dijelaskan bahwa lidah kita mengambil peranan yang penting. Jika lidah kita cemar, maka cemarlah seluruh tubuh kita. Untuk menjinakkan lidah dan perkataan kita memang membutuhkan proses, karena itu kita harus belajar untuk mematikan setiap perkataan-perkataan kita yang jahat. Sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu memiliki perkataan-perkataan Kristus dalam hidup kita, yakni kata-kata yang membangun (Kolose 3:16).
- Pikiran
Pikiran adalah pusat dari peperangan rohani. Pikiran berpengaruh terhadap perkataan dan perbuatan kita. Pikiran muncul dari apa yang kita lihat dan kita dengar. Karena tidak semua yang kita lihat dan dengar baik, maka kita perlu memilah-milah. Sebab dari pikiran, akan timbul keinginan. Hati-hati dengan dosa keinginan/ dosa pikiran. Jika pada zaman dahulu, orang yang berzinah itu dikatakan berdosa, tetapi Yesus berkata bahwa ketika pikirannya mengingininya saja sudah dikatakan berdosa.
Pikiran kita juga mempengaruhi perasaan dan respon kita terhadap sesuatu. Ketika respon dan perasaan mengikuti pikiran kita yang jahat, maka perkataan dan perbuatan kita pun juga akan condong kepada hal yang jahat. Pikiran yang iri hati, akan mempengaruhi hati kita untuk menjadi iri dan terluka. Karena itu, kita harus menaklukkan pikiran kita kepada Tuhan (2 Kor 10:5). Kita harus sadar bahwa peperangan rohani sungguh nyata. Iblis akan selalu berusaha menjatuhkan kita sebagai anak Tuhan. Jangan sampai kita dikuasai oleh pikiran jahat dan berpengaruh kepada perbuatan kita.
Karena itu, mari kita memikirkan apa yang berkenan kepada Tuhan (Filipi 4:8).
- Perbuatan
Perbuatan kita adalah output dari pikiran kita. Jika pikiran kita baik, maka perbuatan yang dilakukan pun menjadi baik. Namun, ketika pikiran kita dikuasai dengan kejahatan, maka output yang dikeluarkan pun demikian. Karena itu, mengendalikan dan menguasai pikiran itu penting. Supaya apa yang kita lakukan dapat memancarkan terang untuk orang-orang di sekeliling kita.
Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
1 Petrus 1:14-15,18-19
Hidup kita yang lama sudah mati. Mari kita bangkit dan menjalani hidup kita yang baru. Belajarlah hidup kudus d hadapan Tuhan, karena Yesus adalah Kudus. Jangan kita hidup seperti manusia lama kita, karena kita sudah di tebus oleh Yesus Kristus. Sekalipun ada dosa-dosa keturunan yang membuat kita sangat sulit untuk bangkit, tetapi Tuhan-lah yang terlebih sanggup. Dia sanggup mengubahkan setiap kita.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Tuhan Sudah Membayar Lunas
Ketika kita membayar sesuatu dengan mahal, kita akan menganggap itu sangat berharga bagi kita. Demikian pula jika kita merasa memiliki sesuatu, kita akan merasa hal itu berharga untuk kita. Kita bisa dengan mudah mengkritik banyak hal ketika memasuki rumah orang lain, tetapi di dalam rumah kita sendiri, kita akan membersihkan dan menghargai apa yang ada di dalamnya. Demikian juga dengan kita, jemaat perlu belajar untuk memiliki gereja dan menghargai apa yang ada di dalamnya. Sehingga kita merasa bahwa itu adalah sesuatu yang berharga.
“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
1 Korintus 6:20
Seringkali kita kurang menghargai apa yang Tuhan berikan dalam hidup kita karena kita menganggap diri kita tidak berharga. Bagaimana kamu memandang dirimu? Kita bisa merasa bahwa diri kita buruk, penuh dengan dosa dan kegagalan, sehingga kita dihantui rasa bersalah dan membuat diri kita merasa tidak berharga lagi. Tetapi dalam Firman Tuhan dikatakan bahwa kita telah dibeli dan lunas dibayar dari dosa. Tuhan telah membayar lunas kita dengan darahNya yang tercurah di kayu salib. Di mata Tuhan kita sangat berharga. Karena itu, Yesus relakan hidupnya untuk menebus setiap kita.
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah.- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab, kamu telah ditebus dengan harga lunas. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
1 Korintus 6:19
Diri kita adalah bait Roh Kudus, sehingga diri kita bukanlah milik kita sendiri. Sama halnya dengan suami dan istri. Ketika mereka sudah terikat dalam sebuah pernikahan, hidup mereka bukan milik mereka sendiri; mereka terikat satu dengan yang lainnya. Sama halnya dengan kita; kita adalah milik Kristus, artinya kita perlu bertanya kepada Tuhan tentang segala yang terkait dengan hidup kita. Kita tidak bisa memutuskan sendiri dengan sesuka hati kita.
Orang yang sadar dirinya milik Tuhan dan terikat dengan-Nya akan selalu melibatkan Tuhan di dalam keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Ketika kita melakukan hal ini, kita akan sungguh-sungguh mengalami tuntunan dari Tuhan.
Dikatakan di ayat 20, “… Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” Jika kita sudah terikat dengan Tuhan, artinya tubuh kita juga milik Tuhan. Apapun kondisi tubuh kita, kita memerlukan tubuh ini untuk melakukan karya-karya bagi Kerajaan Allah. Kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk orang lain hanya jiwa dan roh tanpa tubuh. Kita memerlukan bibir kita untuk memperkatakan berkat; kita memerlukan kaki kita untuk melangkah kepada orang yang membutuhkan, kita memerlukan tangan kita untuk melayani sesama. Tubuh kita seharusnya digunakan kemuliaan nama Tuhan. Sudahkah tubuh kita menjadi berkat untuk orang lain? Tubuh kita sangat penting. Dengan kita menjaga kehormatan tubuh kita, kita juga menjaga kehormatan Bapa di Sorga. Karena itu, mari kita belajar untuk menghargai tubuh kita.
Paulus mengulang perkataannya dalam 1 Korintus 7:23, “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” Arti menjadi “hamba manusia” disini adalah berbicara menjadi budak dari pemikiran, kedagingan, dan jiwani manusia. Tubuh, jiwa dan roh kita perlu kita serahkan dalam tangan Tuhan, karena di dalam Tuhan kita bukan lagi hamba dosa, tetapi kita adalah hamba kebenaran.
“Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota- anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.”
Roma 6:19
Kita adalah orang-orang yang penuh dengan kelemahan. Karena itu mari kita belajar menyerahkan segalanya dalam tangan Tuhan untuk masuk dalam proses pengudusan. Proses pengudusan artinya tubuh, jiwa dan roh kita menjadi hamba kebenaran. Semua masalah dan dosa-dosa kita sudah dibayar lunas oleh Tuhan, tetapi seringkali banyak anak Tuhan masuk dalam ikatan dan pergumulan. Mereka bisa merasa bahwa diri mereka berada di dalam penjara dan tidak bisa keluar, padahal kunci itu sudah mereka miliki. Kita perlu ambil langkah iman untuk berlari ke pintu dan membukanya dengan kunci yang sudah kita miliki.
Ada cawan dari Tuhan yang harus kita minum. Kita meminumnya supaya kehendak Tuhan terjadi dalam hidup kita. Sekalipun cawan itu terasa tidak enak, tetapi cawan itu adalah obat terbaik untuk setiap kita. Kalau kita meminum cawan itu, kita akan diberi kekuatan sampai akhir. Saat dihadapkan dengan cawan kita, mungkin kita merasa tidak aman, tertolak, dan ingin lari dari Tuhan. Tetapi sebenarnya perasaan kita tidak bisa dipercaya; perasaan kita mudah berubah. Jika hidup kita dikendalikan oleh perasaan, kita hanya akan melakukan hal yang menyenangkan bagi kita. Kita akan dengan mudahnya melarikan diri dari cawan-cawan yang harus kita hadapi. Saat ini kita sedang dibentuk untuk menjadi tentara-tentara yang kuat di akhir zaman. Orang yang kuat adalah orang yang bertahan di dalam proses Tuhan. Karena itu, marilah kita senantiasa bertahan di dalam proses-proses pembentukan Tuhan.
Paulus menyampaikan kerinduannya untuk setiap jemaat Tuhan agar memiliki cara hidup seorang hamba (1 Kor 1:9-17). Hari-hari ini banyak hamba-hamba Tuhan yang tidak melayani Tuhan, tetapi menjadi hamba yang materialistis. Menjadi hamba bukan berarti tidak mengikui tren yang ada, tetapi yang kita pancarkan bukanlah kekayaan kita, melainkan spirit kita yang sungguh-sungguh melayani Tuhan.
Mari kita belajar melayani dengan hati, bukan karena upah yang kita dapat dengan melayani Tuhan, tetapi bagaimana pelayanan kita membawa kemuliaan nama Tuhan. Hidup kita haruslah jadi teladan, supaya hidup kita memancarkan Kristus. Paulus juga menyampaikan dalam 1 Korintus 6:1-7, bahwa Tuhan rindu ada penasehat-penasehat rohani yang bijaksana. Karena ketika kita menjadi pemimpin dan memberikan nasehat-nasehat yang berhikmat, kita akan memberi damai sejahtera untuk orang-orang yang kita pimpin. Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak mencampuri peperangan orang lain.
Di dalam Korintus 2 kali disebutkan bahwa kita hidup kita sudah lunas dibayar oleh Tuhan. Karena itu mari kita jangan lagi menjadi hamba kedagingan kita. Yesus sudah membayar dosa-dosa kita, tapi kita perlu belajar untuk menggunakan kunci yang telah diberikan supaya kita tampil sebagai pemenang. Jadilah orang merdeka yang memuliakan nama Tuhan!
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Perjanjian dengan Tuhan
Dari sepanjang sejarah kebenaran Firman Tuhan, ada satu kata yang menjadi intipati dari keseluruhan Alkitab, yaitu Perjanjian. Perjanjian adalah sesuatu yang bersifat selama-lamanya. Perjanjian yang disebutkan dalam Firman Tuhan adalah perjanjian antara Bapa dengan manusia, dan itu berlaku kekal selama-lamanya.
Hari-hari ini ada banyak kebangunan rohani yang terjadi; ada yang dari Tuhan, ada yang dari setan, ada pula yang dari manusia itu sendiri. Apabila kita melihat sejarah kebangunan rohani, kita akan dapat melihat bahwa kebangunan rohani adalah inisiatif Tuhan untuk menjangkau dan menjamah manusia. Tidak ada kebangunan rohani dari hasil paksaan manusia. Seperti kebangunan rohani yang terjadi di Tiongkok, mereka sungguh-sungguh menyembah Tuhan di gereja-gereja bawah tanah meskipun tanpa musik atau poster-poster promosi. Kita harus belajar dengan peka tentang Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah iya dan amin, sebab di dalam Firman Tuhan tidak ada roh pura-pura, roh penipuan,dan kesaksian-kesaksian palsu.
Kita harus peka menghadapi kondisi jaman, karena begitu banyak penyesatan yang terjadi. Penyesatan bukan berasal dari luar, tetapi berasal dari rumah Tuhan itu sendiri.
Kita akan sulit membedakan mana yang sungguh-sungguh mengalami kuasa Roh Kudus dengan kuasa kudalini. Kudalini adalah gerakan yang menyebutkan bahwa kita adalah tuhan-tuhan kecil yang mampu menyembuhkan diri sendiri. Tetapi dari buahnya kita bisa mengenal mereka. Buah yang dimaksud adalah buah di dalam Kristus, bukan buah yang terlihat dari mata jasmani kita. Kita perlu hati-hati dan menjadi peka. Karena itu, pengajaran Alkitab itu penting untuk menghindari hal yang tidak alkitabiah di sekitar kita. Kita harus menyatakan kebenaran. Kita harus mendengarkan Gembala Agung kita, yaitu Yesus Kristus. Adalah sebuah fenomena yang aneh apabila anak Tuhan tidak tahu seperti apa suara Tuhan itu. Mereka yang tidak sungguh-sungguh mau digembalakan tidak akan bisa mendengarkan suara Gembalanya, karena seharusnya domba dapat mendengarkan suara gembalanya.
Begitu banyak rupa-rupa pengajaran. Tetapi pengajaran yang benar berasal dari Firman Tuhan yang murni; yang tidak dicondongkan kepada keinginan pribadi. Manusia seringkali mencari ayat yang mendukung kondisinya, dan Tuhan ijinkan semua terjadi karena manusia punya free will. Sama halnya ketika Tuhan memanggil 12 murid, dan Tuhan tahu bahwa 1 orang akan mengkhianati dia. Tuhan yang memilih kita, bukan kita yang memilih Tuhan. Kita tidak bisa memilih jalan kita sendiri; Dia-lah yg memilihkan jalan bagi kita jikalau Tuhan adalah gembala bagi kita. Kalau kita memilih jalan hidup kita sendiri, kita akan mudah digembalakan oleh pikiran kita sendiri.
Ketika kita memiliki perjanjian dengan Tuhan, mimpi kita bukannya mimpi kita lagi, melainkan mimpi Kristus di dalam kita. Perjanjian dengan Tuhan adalah detik dimana kita sadar bahwa Yesus adalah Gembala Agung kita.
Kita tidak boleh menghitung ukuran keberhasilan menurut jam orang lain. Kalau belum waktunya bagi kita diangkat oleh Tuhan, janganlah angkat diri kita sendiri. Percaya bahwa Tuhan yang menuntun langkah-langkah kita. Janganlah kita menganggap remeh kuasa Tuhan atas diri kita. Ia terlebih sanggup dan tahu kapan waktu yang terbaik untuk mengangkat setiap kita.
Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri. Pada hari itu Saul membawa dia dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya. Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri. Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya. Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya, sehingga Saul mengangkat dia mengepalai para prajurit. Hal ini dipandang baik oleh seluruh rakyat dan juga oleh pegawai-pegawai Saul.
1 Samuel 18:1-5
Yonatan menanggalkan jubah dan ikat pinggangnya. Jubah berbicara kerinduan, perlindungan, ego. Yesus pun juga melakukan hal yang sama. Ia mati di kayu salib. Yesus menanggalkan jubah dan keakuan-Nya sebagai manusia untuk digantikan dengan kehendak Bapa yang mengutus Dia. Ketika kita hidup dalam perjanjian dengan Tuhan, seharusnya pemikiran Tuhan menjadi pemikiran kita.
Yang mengaku sudah lama jadi anak Tuhan tetapi tidak memahami hukum perjanjian. Jika kita ingin mengikat perjanjian dengan Tuhan, kita harus lepaskan jubah kita. Kita kenakan jubah yang baru, yaitu jubah Kristus. Sejak itu, kita menyerahkan segalanya dalam tangan Tuhan. Sudahkah kita melakukan ketentuan-ketentuan di dalam perjanjian dengan Tuhan? Itu berbicara bagaimana kita bisa mengikuti kerinduan Tuhan. Kita melepaskan semua ego dan perlindungan kita untuk mengikuti kehendak Kristus. Apakah kita sudah terikat perjanjian dengan Tuhan? Percayalah bahwa perjanjian itu kekal selama-lamanya. Jika kita menerima Yesus dengan sungguh-sungguh, nama kita akan tercatat dalam kitab perjanjian Tuhan.
Jumat Agung adalah peristiwa kematian Tuhan Yesus. Peristiwa ini tidak akan pernah ada jika Yesus tidak memenangkan peperangannya. Ketika Yesus tidak memenangkan doanya di Taman Getsemani, tidak akan pernah ada peristiwa kematian-Nya di kayu salib. Karena itu, doa adalah hal yang penting. Ketika kita berdoa, kita menanggalkan semua keakuan dan semua kesombongan kita. Kita menyerahkan kehendak kita, supaya kehendak-Nya yang jadi. Milikilah doa yang benar. Berdoa bukan memaksa Tuhan untuk melakukan yang menjadi tujuan kita, tetapi meminta Tuhan pembelaan, perlindungan, dan kehendak-Nya jadi dalam hidup kita.
Tuhan menjamin hidup kita dengan perjanjian darah-Nya, bahwa kita yang percaya kepada-Nya akan mendapatkan perlindungan sampai garis akhir. Tuhan akan memberi kita Blessing Convenant, tetapi kita harus mengikuti hukum dan aturannya, yaitu menyerahkan semua mimpi kita dalam tangan-Nya dan mengerjakan yang terbaik untuk Tuhan. Jika kita sungguh-sungguh mengikuti aturannya, hidup kita akan menjadi berkat untuk banyak orang. Kekristenan adalah bagaimana kamu bisa berdampak dan menghasilkan buah untuk Kerajaan Sorga. Jangan sia-siakan hidup kita, karena banyak kerinduan Tuhan menanti kita. Berdampak bukan berbicara menjadi seorang dengan title Fulltimer. Kita semua menjadi Fulltimer-nya Tuhan ketika kita sudah full heart mengerjakan apa yang Tuhan percayakan dan hati kita tertuju kepada Kristus.
Mari tanggalkan jubahmu dan ganti dengan jubah Kristus dalam hidupmu. Hidupmu menjadi kerinduan Tuhan. Lepaskan ikat pinggangmu dan ikatkan ikat pinggang dari Kristus; kita tidak boleh memiliki keakuan lagi. Ada mimpi Tuhan yang jauh lebih besar dalam diri kita. Mari kita mau seperti Yesus yang berkata, “Finishing well” di akhir hidup kita. Mari kita belajar bijaksana dan kenakan jubah Yesus, sebab masyarakat di sekitar kita membutuhkan Tuhan. Tanggalkan jubah kita yang lama dan kita akan menjadi anak-anak terang. Anak-anak terang akan memancarkan cahayanya dan lewat hidupnya, orang memuliakan Bapa di sorga.
Demikian hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa yang di sorga.
Matius 5 : 16
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Intimacy With GOD
TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai kemenangan di kemah orang-orang benar: “Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!” Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.
Mazmur 118:14-17
Berbicara tentang kedekatan dengan Tuhan, kita melihat banyak kata-kata yang dituliskan Daud yang menunjukkan kedekatannya dengan Tuhan. Seseorang bisa dekat dengan orang lain apabila mereka sudah memiliki hubungan cukup lama dengan orang tersebut. Seperti Daud dan Yonatan, mereka bersahabat cukup lama. Bahkan Yonatan bisa merasakan apa yang Daud rasakan ketika Daud dikejar oleh Saul. Yonatan berusaha keras untuk melindungi Daud. Daud dan Yonatan memiliki kedekatan karena mereka bersahabat sejak lama dan memiliki pengalaman bersama-sama.
Kunci utama dalam sebuah hubungan yang indah dengan Tuhan adalah pengalaman. Kita perlu mengerti kehendak Tuhan dalam hidup kita. Bagaimana cara kita mengetahuinya? Filter utama untuk mengerti kehendak Tuhan adalah pengalaman dan pergaulan kita dengan Tuhan. Tuhan memberitahukan perjanjian-Nya dengan orang-orang yang bergaul karib dengan Dia. Mustahil untuk mengenal Tuhan dan kehendak-Nya apabila kita tidak membangun hubungan dengan dia melalui waktu-waktu doa kita. Karena itu, kita harus memberikan waktu yang terbaik untuk berdoa kepada Tuhan. Sebab kita tidak akan bisa mengenal Tuhan dengan doa yang sangat singkat saja.
Kita perlu belajar untuk menjadikan Tuhan sebagai tujuan kita satu-satunya dalam hidup kita. Apa fokus hidup kita? Kita tidak akan berfokus dengan hal lainnya apabila Tuhan adalah fokus utama kita. Ada banyak orang yang begitu mengalami permasalahan dalam hidupnya, berusaha untuk mencari penyelesaian secara instan. Tetapi bukan dengan cara seperti itu. Jika Tuhan adalah fokus hidup kita, kita akan mencari Tuhan terlebih dahulu sebelum kepada hal lainnya. Karena itu kunci pertama untuk dekat dengan Tuhan adalah investasikan waktu yang terbaik untuk Tuhan. Waktu terbaik kita adalah pada waktu pagi hari. Mulailah pagi hari dengan mencari Tuhan.
Kita juga perlu belajar menjadi seorang pendengar yang baik. Karena mendengarkan adalah kunci sebuah hubungan. Jikalau kita minta didengarkan terus menerus tanpa mau mendengarkan, Kita sebenarnya tidak mengenali teman kita. Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Apabila kita terus berbicara dengan Tuhan tanpa mendengarkan isi hati Tuhan, kita sesungguhnya tidak mengenal Tuhan.
Bagaimana dengan suara Tuhan yang kamu dengar? Suara Tuhan bukan seperti suara robot yang kaku. Suara Tuhan begitu lembut. Suara Tuhan juga bisa sangat keras ketika kita melakukan hal yang tidak berkenan bagiNya. Suara Tuhan juga bisa seperti nyanyian yang menghibur kita. Suara Tuhan yang benar adalah suara seperti seorang pencipta dengan makhluk ciptaanNya. Kita harus bedakan suara Tuhan dengan suara dari Iblis. Suara Tuhan tidak akan membuat kita semakin lemah, sedangkan suara dari Iblis akan memberikan penuduhan di dalam pikiran dan melemahkan kita. Sayangnya, kita seringkali menikmati penuduhan-penuduhan yang diberikan Iblis dalam pikiran kita. Kita bisa menikmati rasa bersalah kita. Banyak orang yang menikmati rasa sakitnya karena masa kecil yang bermasalah. Mungkin kita memiliki luka dengan orang tua kita, sehingga kita merasa suara Tuhan sama seperti orang tua kita. Kita akan merasa bahwa semua suara yang menghakimi dalam pikiran kita adalah suara dari Tuhan. Karena itu, kita perlu memiliki pemulihan dengan orang tua kita, supaya kita juga pulih dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Apakah kita sudah mendengarkan suara Tuhan dengan baik? Mari dengarkan suara Tuhan dengan bijaksana. Ada banyak anak Tuhan yang salah dalam mendengarkan suara dalam pikiran mereka. Mereka bisa merasa bahwa suara-suara penuduhan yang berkata “aku tidak akan bisa, aku pembuat kejahatan, aku tidak akan pernah bisa bahagia” adalah suara dari Tuhan. Kebahagiaan kita yang terbesar adalah ketika kita memiliki Kristus. Sebenarnya yang membuat hidup kita tidak bahagia adalah pikiran kita sendiri. Ada banyak orang yang merasa hidupnya tidak bahagia karena mereka tidak memiliki kekayaan. Tuhan mengijinkan itu terjadi, karena Tuhan tahu bahwa ketika kita memilikinya, kita sangat bisa jauh dari Tuhan. Karena itu, rasa cukup yang Tuhan berikan itu baik untuk setiap kita.
Selain menginvestasikan waktu dan mendengar, kita juga harus belajar peka. Seperti Daud dan Yonatan, mereka begitu dekat dan saling peka. Yonatan begitu peka dengan kebutuhan Daud, demikian juga Daud kepada Yonatan. Sudahkah kita peka dengan Tuhan? Tuhan haruslah menjadi sesuatu yang berharga bagi kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu ketika kita lebih mencintai yang lain lebih dari diri-Nya. Ketika kita siap untuk intim dengan Tuhan, kita akan dipakai menjadi pahlawan-pahlawan Tuhan. Mari kita belajar mendengarkan suara Tuhan, apa yang Tuhan mau. Ada tawaran-tawaran dunia yang bisa begitu menggoda kita. Tapi kalau kita belajar menolak apa yang bukan dari Tuhan, kita akan mendapatkan gantinya jauh yang lebih baik.
Belajarlah untuk fokus kepada Tuhan. Fokus artinya berikan waktu yang terbaik untuk Tuhan. Kita renungkan Firman Tuhan dan isi pikiran kita dengan Firman Tuhan itu. Selain itu, kita juga perlu belajar mendengarkan. Suami dan Istri, orangtua dan anak, maupun sesama teman, kita perlu belajar untuk saling mendengarkan. Belajar peka dengan hati Tuhan, jangan membuat Tuhan cemburu karena kita mengasihi yang lain lebih daripada Dia. Milikilah keintiman dengan Tuhan, dan kita akan memiliki kebahagiaan terbesar dalam hidup kita. (EN)
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Pursuit Of God
Semua orang pernah merasa rindu. Kita seringkali rindu dengan orang tua, teman, atau orang-orang kesayangan kita. Tuhan pun sangat merindukan Israel pada masa-masa bulan madu dengan Tuhan. Pada waktu itu ada hadirat Tuhan yang kental dan terasa, mereka begitu bergembira akan Tuhan. Tuhan rindu mengenang masa yang indah tersebut.
Tuhan rindu hati kita seperti anak-anak. Anak-anak tidak ada rasa habisnya dengan rasa “kangen”. Rasa kangen adalah salah satu bagian dalam pengajaran kita akan Tuhan. Kalau kita sudah tidak kangen lagi dengan Tuhan, sebenarnya artinya kita sedang kehilangan sukacita di dalam rumah Tuhan. Ketika kita sudah kehilangan sukacita di dalam rumah Tuhan, kita akan menggantikannya dengan sukacita palsu. Kita bisa memenuhi sukacita kita dengan hal lain atau bersama dengan teman-teman kita yang merupakan sebuah duplikat dari sukacita Sorga.
Mengapa Tuhan merindukan masa-masa bulan madu dengan Israel? Tuhan merindukan Israel pada masa-masa mereka taat kepada Tuhan. Pada masa itu, mereka bersorak-sorai kepada Tuhan. Mereka menjadi anak-anak yang menyenangkan bagi Tuhan. Mungkin dulu kita pernah melihat seorang yang sangat menyenangkan. Namun, ketika bertemu mereka lagi kini, mereka menjadi pribadi yang berubah sama sekali. Apakah kita seperti itu? Dalam siklus kehidupan kita, ada masa-masa dimana kita menjadi sosok yang begitu menyenangkan hati Tuhan. Ketika kita menjadi pribadi yang menyenangkan bagi Tuhan, kita menjadi pribadi yang berbeda di hadapan Tuhan.
Oleh karena itu, ketika kita sering datang ibadah, tapi tidak ada lagi rasa kangen dengan Tuhan, sebenarnya kita sudah menjadi pribadi yang asing.
Pribadi berbicara spirit atau tentang jiwa kita. Meskipun kita tinggal di dalam tubuh, tetapi ketika kita mengalami perubahan ke arah yang positif atau ke arah yang lebih baik, kita menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi yang berbeda inilah yang menyenangkan hati Tuhan. Ketika kita melihat teman-teman kita berbuah roh, dia hidup di dalam sukacita Tuhan, kita akan menyenangi pribadinya. Tetapi ketika kita melihat mereka menjadi sosok yang asing, kita merasa tidak mengenalnya. Apakah pribadi kita sekarang adalah pribadi yang menyenangkan hati Tuhan? Apakah kita memiliki kerinduan akan Tuhan? Sekalipun kita hidup dalam dosa, tapi kita perlu menyukai rumah Tuhan. Kita perlu terus mencari-cari Tuhan. Sama seperti Daud, yang setiap saat mencari wajah Tuhan melebihi semua permasalahan-permasalahan yang dia alami.
Satu hal yang telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya
Mazmur 27 : 4
Dalam mazmur Daud, tergambar bahwa Daud mendapatkan sukacita dalam hubungannya dengan Tuhan. Beban hidup semakin besar, bukan berarti menjadi alasan bagi kita untuk tidak mencari wajah Tuhan. Dalam semua permasalahan yang dihadapinya, Daud selalu mencari wajah Tuhan. Ia selalu merindukan Tuhan, sampai dia membuat Mazmur bahwa dia merindukan Tuhan melebihi masalah-masalahnya. Seakan-akan dia rela membayar berapa pun harganya untuk berjumpa dengan Tuhan. Itulah yang disebut kerinduan.
Kita tidak mungkin mengejar Tuhan jikalau kita tidak memiliki kerinduan. Ketika Daud mengejar Tuhan, dia memiliki sebuah gelora kerinduan yang luar biasa. Sama halnya dengan orang yang sangat kita cintai, kita akan merasakan sebuah kerinduan yang dalam kepada orang tersebut. Itulah yang disebut hasrat utama dengan pencarian akan Tuhan. Apakah hari-hari ini anak –anak Tuhan merindukan Tuhan? Apakah hari-hari ini Tuhan dijadikan sebagai Tuhan dalam hidup kita? Sama seperti anak-anak yang selalu rindu dengan orang terdekat mereka. Kita perlu punya hati seperti anak-anak. Ketika kita tidak memiliki hati seperti anak-anak, kita akan susah berjumpa dengan Tuhan. Hati anak-anak akan selalu mencari ayahnya sekalipun dia pernah di marahi atau disakiti.
Semua mazmur yang ditulis oleh Daud hanya tergambar menjadi 2 kata, yaitu “kangen” dan “kecanduan”. Daud mengalami kecanduan akan Tuhan. Apakah kita sudah kecanduan akan Tuhan? Kecanduan akan Tuhan akan membuat kita gelisah jika kita tidak bertemu dengan Tuhan. Hati kita sangat terusik ketika kita tidak berdoa atau tidak mencari Tuhan. Gereja akan penuh dengan api Tuhan jika kita rindu akan Tuhan. Mari kita mencari dan merindukan Tuhan jauh melebihi apapun yang kita anggap berharga. Hati kita juga tempat yg harus kita sediakan penuh buat Tuhan. Banyak anak Tuhan harus belajar mengalami kerinduan akan Tuhan.
Daud memiliki hati seperti anak-anak. Setelah berbuat dosa, dia langsung menangis, memeluk Bapanya dan bertobat. Ketika kita berbuat dosa, apakah yang kita lakukan? Kita pergi ke gereja mencari Tuhan, atau kita semakin menikmati dosa kita? Setelah berbuat dosa, kita akan sungkan dan enggan ke gereja karena merasa tertuduh. Tetapi hati seorang anak kecil tidak seperti itu. Ketika anak kecil berbuat salah, dia akan mencari ayahnya. Ketika kita ada masalah dan sakit, seringkali kita cari hal-hal yang ada di sekitar kita. Banyak anak Tuhan yang ketika menghadapi masalah atau sakit, mereka mencari solusi lewat google terlebih dahulu daripada Tuhan. Mari kita sungguh-sungguh mengejar Tuhan seperti kita mengejar orang yang kita cintai. Jika kita menyelidiki lebih lanjut, Mazmur Daud semuanya berisi ungkapan “kangen” kepada Tuhan. Daud tidak ingin menjauh dari Tuhan. Buku harian Daud isinya bersyukur dan menyembah Tuhan. Apa isi buku harianmu? Awal dari sebuah Great Revival adalah saat kita mencari Tuhan. Mari kita cari Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Mari kita miliki hati yang tulus seperti anak-anak yang selalu punya kerinduan. Miliki hati yang kecanduan akan Tuhan, dan hati yang diikatkan dengan Tuhan. Gereja tidak melarang orang untuk berpacaran. Tapi kita harus mengerti dan melakukan prinsip pacaran yang kudus. Kita harus tahu tempat dan tahu waktu. Kita tidak boleh membuat orang lain yang melihat kita menjadi tersandung; ini prinsip Firman Tuhan. Ketika kita melakukan prinsip Firman Tuhan, kita akan bersukacita dan bergembira. Mengasihi sesama manusia artinya belajar dalam seluruh kehidupanmu jangan membuat orang lain tersandung.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu, dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Lukas 10 : 27
Amerika Serikat adalah negara yang mengindustrikan segala sesuatu, termasuk juga dengan gereja Tuhan. Mereka membawa gereja Tuhan dalam industri. Gereja Tuhan sudah terpisah dari kasih karunia Tuhan. Mereka menjadikan rumah Tuhan sarang penyamun. Banyak hamba Tuhan yang pada mulanya mencintai Tuhan menjadi sesat pada akhirnya. Karena itu, seorang hamba Tuhan, Billy Graham, berkata bahwa “Amerika, kembalilah kepada Tuhan!” Kekristenan yang saat ini bukan lagi kekristenan yang bersumber dari alkitab. Banyak orang pergi ke gereja hanya untuk mendengarkan lagu-lagu. Lagu-lagu tersebut bertujuan kepada industri semata.
Penginjil-penginjil di Kisah Para Rasul tidak pernah dibayar. Bagaimana dengan penginjil masa kini?
Banyak yang mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri. Pada jaman gereja mula-mula, jemaat akan memberikan semua yang mereka punya, bahkan seluruh hidup mereka dipersembahkan untuk kemuliaan nama Tuhan. Ketika gereja sudah menjadi sebuah industri, sesungguhnya gereja sudah terpisah dari kasih karunia Tuhan. Kekristenan yang sejati adalah kekristenan yang mencari Tuhan, kerinduan akan Tuhan, dan kecanduan dengan Tuhan.
Gereja masa kini berusaha untuk menarik banyak jiwa dengan melakukan banyak program. Banyak program yang hanya menghibur diri sendiri, tapi tidak ada waktu untuk mencari Tuhan. Gereja haruslah mendorong jiwa-jiwa untuk berjumpa dengan Kristus, pencipta kita. Paulus pernah berkata kepada orang di Galilea, “Hai orang Galilea yg bodoh, apa yang mempesona kamu selain pada Kristus yang hidup?” Oleh karena itu tujuan pemberitaan Firman Tuhan bukan untuk kemuliaan hamba Tuhan. Hari-hari ini kemuliaan Tuhan sedang dicuri. Dulu anak-anak Tuhan tidak menonjolkan diri mereka ketika melakukan sesuatu atau menulis buku. Hasil tulisan dari seorang yang sungguh-sungguh memberitakan Firman Tuhan tidak memiliki cover. Apa yang terjadi sekarang? Begitu banyak hamba Tuhan yang “mejeng” di cover buku yang mereka tulis. Seringkali di papan pengumuman gereja ditulis nama-nama orang yang menyumbang perpuluhan untuk gereja. Mari kita tidak mencuri kemuliaan yang sebenarnya bukan milik kita. Mari kita kembalikan kemuliaan hanya kepada Tuhan!
Gereja akan mengalami the Great Revival. Tapi sebelumnya, Tuhan rindu kita punya hati yang rindu akan Dia. Hati yang menginginkan Dia senantiasa. Tuhan mau kita punya hati yang kecanduan akan Dia. Seperti hati Daud yang “kangen” yang amat sangat kepada Tuhan. Hari-hari ini mungin sibuk bekerja atau studi, tetapi kalau kita mencari Tuhan dan kebenarannya, pemeliharaan-Nya sempurna bagi orang-orang yang kudus. Ayo kita mencari Tuhan. Apabila Tuhan diutamakan, musuh-musuh akan dipukul kalah. Ketika musuh Daud menyerang dia, dia tidak memanggil panglima atau triwira terbaiknya, tetapi dia datang kepada Tuhan. Seperti anak kecil yang mengadu kepada ayahnya, dia mengadu kepada Tuhan, dan dia menang. Mari kita minta hati yang merindukan Tuhan, hati yang kecanduan akan Tuhan, dan hati yang terikat dengan Tuhan, sehingga kita menjadi pribadi yang menang dalam kehidupan kita.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Lapar dan Haus akan Tuhan
Doa Daud.
Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku.
Mazmur 86:1
Daud adalah contoh dari orang yang haus dan lapar akan Tuhan. Daud adalah seorang raja yang sangat kaya dan makmur pada waktu ia mengatakan hal itu. Apa yang dikatakannya itu sangat kontradiktif dengan kondisi yang sebenarnya. Dia menyebut dirinya “miskin” karena dia sangat menginginkan Tuhan. Sudahkah kita benar-benar menginginkan Tuhan seperti Daud?
Orang yang sakit tidak punya nafsu makan yang baik. Demikian juga dengan roh kita. Ketika roh kita tidak lagi haus dan lapar akan Tuhan, artinya kita sedang sakit. Begitu banyak anak Tuhan yang hidupnya dipakai untuk memuaskan jiwa mereka dengan semua target-target, pencapaian-pencapaian, bahkan mimpi-mimpi pribadi yang akhirnya menggantikan rasa lapar dan haus akan Tuhan. Mereka mengenyangkan jiwa mereka dengan berbagai hal yang terlihat, tetapi lupa bahwa roh kita juga memerlukan persekutuan dengan Tuhan.
Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
Wahyu 3:15-16
Tuhan ingin setiap kita memiliki hati yang senantiasa lapar akan Dia. Tetapi jika kita sering berkompromi dengan dunia, kita mengenyangkan diri kita dengan hal-hal yang menyenangkan jiwa kita tanpa mempedulikan apa yang menyenangkan hati Tuhan. Kita tidak bisa di saat yang sama menyukai dunia, tetapi juga menyukai hal yang rohani. Kita dikatakan suam-suam, dan Tuhan dapat memuntahkan kita dari mulut-Nya.
Karena engkau berkata: aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta, dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau membeli daripada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, dan agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.
Wahyu 3:17-18
Seringkali banyak anak Tuhan yang tidak sadar bahwa mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang. Seolah-olah kita tidak membutuhkan perkenanan Tuhan dalam hidup kita. Kita memutuskan berbagai hal tanpa berdoa kepada Tuhan, tanpa bertanya apa yang berkenan bagi Tuhan. Kita tak sadar bahwa kita membutuhkan Tuhan; kita sangat miskin dihadapan Tuhan. Tuhan mau kita memiliki emas, pakaian putih dan minyak. Emas berbicara tentang kemurnian, iman dan harta kita. Tuhan mau kita memiliki hati yang murni dihadapanNya. Pakaian putih berbicara tentang kerendahan hati untuk hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Minyak yang dari Tuhan yang akan membukakan mata kita untuk melihat seperti Tuhan melihat, melihat apa yang Tuhan ingin lihat.. supaya hidup kita mengerjakan panggilanNya dalam hidup kita.
Perumpamaan tentang gadis-gadis bodoh dan gadis-gadis bijaksana mengingatkan kita bahwa kita harus senantiasa berjaga-jaga. Kita harus bersiap untuk kedatangan Tuhan yang sudah tidak lama lagi, maka marilah kita menjadi orang yang memiliki kebijaksanaan. Menurut Amsal, kebijaksanaan berbicara tentang kepandaian yang Tuhan berikan. Kepandaian yang Tuhan berikan adalah hikmat di dalam Tuhan, bukan atas diri sendiri. Ketika kita menggunakan hikmat kita sendiri, maka kita akan mudah sekali salah dalam mengambil pilihan-pilihan yang ada di depan kita. Gunakan hikmat yang datangnya dari Tuhan, sehingga kita mengambil keputusan sesuai dengan kerinduan Tuhan.
Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu,
sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.
Amsal 2:1-5
Apakah engkau menyadari dirimu sedang sakit? Tak lagi haus dan lapar akan Tuhan? Mari kita menjadi sembuh! Kita perlu dibakar dengan api yang datangnya dari Tuhan. Saat persediaan minyak kita tak banyak lagi, Tuhan yang akan berikan kepada setiap kita. Minyak kita akan diperbaharui ketika kita mempersembahkan sepenuh hati kita untuk Tuhan.
Tuhan sedang mengetok hati kita, maka marilah kita relakan hati kita dan bukakan pintu kita bagiNya, supaya Dia mendapatkan kita dan kita menjadi sahabatNya. Dan minyak yang baru akan dicurahkan bagi kita. Minta Tuhan membukakan mata kita dengan minyak yang dariNya. Tuhan ingin kita melihat apa yang Tuhan lihat untuk setiap kita. Mari kita terus lapar dan haus akan Tuhan. Kembali kepada persekutuan dengan Tuhan dan Tuhan mendapati hati kita murni seperti emas di hadapanNya. GBU (EN).
Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Wahyu 3:20
- Published in The Shepherd's Voice









