Khotbah Ev. Evie Mehita : Persiapkan Dirimu!
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
2 Timotius 3:16
Firman Tuhan itu Ya dan AMIN. Walaupun telah berulang kali kita membacanya, pasti ada hal baru yang Tuhan sampaikan kepada setiap kita, sebab Firman Tuhan itu hidup. Firman Tuhan tidak akan pernah habis. Kita harus belajar dari Firman Tuhan yang tidak pernah berubah.
Perubahan yang dari Tuhan akan mengubah semua gaya hidup kita secara otomatis. Dari sikap, cara berpakaian, dan lain-lain.
Terkadang banyak orang berubah karena situasional. Pada saat kita berada di lingkungan yang rohani, gaya hidup kita juga menjadi rohani. Tetapi pada saat ini berada di luar lingkungan rohani, kita mulai keluar dari hal-hal yang rohani. Misalnya seorang yang menyukai pakaian mini kurang bahan, ketika berada di lingkungan gereja yang cara berpakaiannya sopan dan tertutup, dia mengikutinya. Tetapi pada saat dia jalan-jalan ke mall dan di luar lingkungan yang rohani, dia kembali memakai pakaian mini kesukaannya. Tidak ada integritas dalam dirinya.
Begitu juga dengan musik-musik dunia. Tidak ada larangan untuk mendengar musik dunia dan lain sebagainya, tetapi ketika itu semua dijadikan pelarian kita, itu akan menjadi kesalahan. Saat bosan dan lelah dengan banyak masalah, jangan jadikan hal-hal duniawi menjadi pelarian kita. Pergi ke tempat karaoke dan bernyanyi sampai pagi. Kita belajar, ketika kita mendapat masalah, kita datang kepada Tuhan, berdoa dan membaca Firman Tuhan. Sebab perubahan yang sempurna berasal dari Tuhan.
Jawab malaikat itu kepadanya: “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.
Lukas 1:19
Terkadang kita susah untuk mendengarkan firman Tuhan karena pahit dan mengaduk-aduk hati. Tetapi, kebenaran yang dari Tuhan adalah obat pahit yang menyembuhkan.
Kita sebagai manusia menginginkan sesuatu yang spektakuler, seperti pesta rohani, menjadi ratu, menjadi pangeran, terlihat rohani di depan semua orang dengan pelayanan kita dan gaya hidup kita. Tetapi semua ini belum tentu membuat kita siap untuk memasuki pertandingan yang sesungguhnya.
dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”
Lukas 1:17
Kita harus menjadi generasi Yohanes yang membuka jalan dan mempersiapkan jalan untuk Tuhan. Kita semua butuh dipersiapkan untuk menjadi orang-orang yang layak dihadapan Tuhan, memiliki hati yang berbalik kepada Tuhan. Sudakah hati kita sendiri berbalik kepada Tuhan? Kalau hati kita belum berbalik pada Tuhan, maka kita tidak bisa membuat hati orang lain berbalik pada Tuhan. Hati yang berbalik berbicara tentang cinta dua arah, dimana Tuhan mencintai kita dan kita juga mencintai Tuhan. Tuhan sudah mencintai kita, sudahkah kita mencintai Tuhan? Ada 3 panah iblis yang selalu ditembakkan kepada anak-anak Tuhan :
- Panah tidakaman dengan cinta Tuhan
Panah ini membuat anak-anak Tuhan selalu curiga dengan Tuhan, curiga dengan orang-orang disekitar kita, curiga dengan penerimaan-penerimaan yang ada, dan gambar diri.
- Panah damai sejahtera yang palsu
Panah ini selalu membuat anak-anak Tuhan merasa baik-baik saja dan damai apabila diluar Tuhan maupun melakukan dosa.
- Panah tujuan hidup
Tujuan hidup bukan berbicara tentang Tuhan panggil aku di suatu tempat atau menjadi apa. Tetapi kita harus melepaskan semua mimpi kita dan biarkan Tuhan mengambil alih penuh hidup kita. Belajar dari kisah Saulus yang buta selama 3 hari. Ia tidak bisa lagi melihat mimpi-mimpi besar yang sudah saulus rencanakan dan inginkan.
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Ibrani 12:7-8
Anak gampangan pada firman yang di atas jika diartikan dengan bahasa lain adalah penjahat, orang-orang yang terkutuk, dan lain sebagainya. Begitu jelek arti dari anak gampangan. Oleh karena itu, jangan mau menjadi anak-anak gampangan yang tidak memiliki tujuan. Tetapi marilah kita belajar menanggung setiap proses yang Tuhan berikan.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Membuka Tanah Baru
Sebab beginilah firman TUHAN kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: “Bukalah bagimu tanah baru, dan janganlah menabur di tempat duri tumbuh.
Yeremia 4:3
Awalnya, saya mendefinisikan tanah baru sebagai sebuah tanah yang belum pernah dihuni dan tanahnya subur dan baik. Tetapi, dalam NKJV, kata “tanah baru” yang disebutkan bukan ditulis dalam “new land” tetapi “fallow ground” yang berarti tanah yang sudah lama ditinggalkan, banyak tumbuhan-tumbuhan liar, tidak terlalu bagus, tetapi jika digali, kita masih bisa menemukan buah-buahan yang sudah mengering, namun mati.
Hari ini, Tuhan meminta kita untuk membuka tanah yang baru. Definisi awal saya adalah sebuah tempat yang wellcome dengan kekristenan dan menyenangkan. Tapi ketika menyelidiki arti kata yang sebenarnya dari tanah yang baru, itu berarti bukanlah tempat yang benar-benar menyenangkan.
Kita dibesarkan dalam keluarga yang berbeda-beda dan definisi kita seringkali salah tangkap satu dengan lainnya. Misalnya ketika mendefinisikan kata cukup. Sang suami mendefinisikan kata cukup sebagai kaya raya, sehingga kemudian ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam dan kurang waktu dengan keluarga. Sedangkan sang istri mendefinisikan kata cukup sebagai tidak kekurangan, dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memiliki waktu untuk keluarga. Definisi yang salah akhirnya membuat bentrok antara suami dengan istri.
Demikian juga dalam Firman Tuhan. Kita bisa multitafsir terhadap suatu khotbah. Kalau kita mau sehati dan sepikir, kita harus belajar mengenali Firman Tuhan dari sudut pandang Tuhan, bukan dari sudut pandang masing-masing.
Bentukan-bentukan yang kita dapatkan dari masa lalu mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan.
Misalnya, saya dengan ibu saya. Saya bisa mengubah keputusan ibu saya kalau saya menyenangkan hatinya. Tadinya dia bisa berkata “TIDAK”, tetapi jika saya bisa menyenangkan hatinya, mendapatkan nilai sempurna, saya bisa membalikkan kata TIDAK tadi menjadi kata YA. Demikian juga dengan Tuhan. Saya berpikir bahwa keputusan Tuhan bisa diubah jika saya bisa mengambil hati Tuhan, melakukan sesuatu yang baik, yang tadinya saya tidak diijinkan, saya jadi mendapatkan ijin.
Bentukan masa lalu begitu dominan untuk menentukan sikap kita dan bagaimana kita mendefinisikan kasih Tuhan.
Ketika berdoa, ke gereja, membaca Firman Tuhan, menyembah adalah sebuah kewajiban, kemudian menjadi pengamat-pengamat rohani, sesungguhnya kita sudah mundur dari Tuhan.
Kita belajar menghindari kebangunan rohani yang pura-pura. The Great Revival berbanding lurus dengan pertumbuhan rohani yang begitu pesat. Jika pekerjaanmu dibungkus dengan kerohanian, tetapi membuat kita meninggalkan Tuhan, kita sudah mundur dari Tuhan.
Fallow ground yang Tuhan suruh bukanlah tempat yang menyenangkan. Banyak semak duri yang harus dipangkas. Harus membajak tanahnya agar subur kembali. Tugas kita di fallow ground adalah membabat tanaman-tanaman liar, mengaduk tanahnya, dibajak. Fallow ground dipandang manusia sebagai tanah yang jelek, namun Tuhan dapat memandangnya menjadi bagus. Seperti Gomer, istri Hosea. Seorang pelacur seperti Gomer yang tidak berharga bagi manusia, Tuhan melihat kedalaman hatinya baik. Dan dia dipakai untuk kemuliaan Tuhan.
Mungkin Tuhan meminta kita untuk membersihkan hati kita saat ini. Membabat tanaman-tanaman liat dalam hati kita. Karena ketika hati kita sudah ditumbuhi semak belukar, pikiran kita menjadi pikiran-pikiran yang jahat dan negatif. Kalau hati kita tidak dekat dengan Tuhan sehari saja, hati kita ditumbuhi semak belukar. Mengusahakan tanah yang tandus tidak dapat kita kerjakan sendiri. Kita membutuhkan Tuhan untuk bekerja bersama kita dengan memberikan hujan untuk melembutkan tanah tersebut.
Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh kasih karunia kamu diselamatkan — dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
Efesus 2:1-6
Penguasa kerajaan angkasa yang dimaksud adalah roh-roh di udara. Salah satunya yang terbesar adalah roh Mamon, roh cinta akan uang. Bukan berarti kita tidak boleh menjadi kaya, tetapi saat kita menjadi kaya itulah, kita harus berjaga-jaga. Roh Mamon menjauhkan kita secara perlahan namun pasti.
Kasih karunia menghidupkan kita dan menyelamatkan. Kasih karunia yang menyelamatkan sama dengan kasih akrunia yang menghidupkan kita. Kasih karunia dan iman adalah satu paket dan tidak bisa dipisahkan. Karena iman, kita beroleh kasih karunia.
Tuhan Yesus adalah seorang tukang kayu. Di masa itu, tukang kayu adalah sebuah gelar yang hebat. Seorang tukang kayu dapat membangun sebuah rumah. Yesus totalitas dalam pekerjaannya sehingga ia beroleh gelar sebagai tukang kayu.
Jangan menyerah, ketika kita sudah bekerja keras, tetapi belum berbuah lebat. Kita sudah berusaha maksimal, tetapi ada hak prerogatif dari Tuhan. Kita sudah mengusahakan fallow ground dengan tekun, namun ada yang harus kita minta, yaitu hujan dari Tuhan.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Evie Mehita : Seorang Anak – Teknon vs Huios?
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Yohanes 3:6
Setiap kita dilahirkan oleh ibu kita, dari keturunan ayah dan ibu kita dengan segala kelebihan dan kekurangan. Kita berasal dari daging, kita sudah pasti memiliki sifat-sifat daging. Tapi daging kita ini hanya bungkus saja, sebab kita adalah anak-anak Tuhan. Kita memiliki DNA roh, yakni ada sifat-sifat rohani.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Pemulihan Pondok Daud
Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala,
Amos 9:11
Pondok Daud adalah tempat yang dibangun Daud sebagai kemah puji-pujian Tuhan. Daud bukan orang yang kudus dan sempurna, ia jatuh ke dalam dosa yang sangat besar, tetapi ia tahu cara menyenangkan hati Tuhan.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Syarat Pemulihan
Ketika saat teduh malam sebelumnya, pikiran saya melayang-layang pada penelitian orang Jepang yang dapat mengubah kotoran manusia menjadi makanan yang bisa dikonsumsi kembali. Saya menjadi terpikir “bisakah tempe berubah kembali menjadi kedelai?“. Otak saya berpikir untuk mencari jawaban. Karena saya adalah seorang sarjana kimia, saya merumuskan cara-cara mengubah tempe kembali menjadi kedelai. Setelah pikiran saya terpuaskan, pikiran saya berlanjut untuk mengubah tahu kembali menjadi kedelai.
Sejujurnya saya sedikit pusing. Jika itu tempe, sisa-sisa kedelai masih ada, tetapi kalau tahu yang lebih lembut, bisakah itu diubah kembali. Tidak cukup sampai di situ, pikiran kembali berlanjut untuk mengubah bubur kembali menjadi nasi. Pikiran itu cukup mengganggu saya sehingga saya tidak bisa melanjutkan saat teduh saya.
Kemudian pikiran saya melayang lagi, ketika gereja Tuhan sudah kehilangan api, mengalami penyimpangan-penyimpangan, tidak lagi mengutamakan Tuhan sebagai Tuhan dan Raja, apa yang harus dilakukan untuk memulihkannya kembali?
Saya mencari jawabannya lewat alkitab, tetapi tidak menemukan jawabannya. Akhirnya saya mencari jawabannya di internet untuk menemukan jawabannya. Tetapi tetap tidak menemukan jawabannya dan kemudian saya justru membuka acara America’s Got Talent. Di sana saya melihat seorang anak kecil bernyanyi dengan indah dan sangat merdu sekali. Orang tuanya terliaht begitu bangga terhadapnya.
Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?
(Yunus 2:1-4)
Selanjutnya hati saya terasa hambar. Membaca alkitab menjadi tidak bergairah. Saya merasa seperti terbuang dan tidak mampu menyenangkan Tuhan, seperti Yunus yang gagal dalam panggilannya. Saya merasa Tuhan begitu sukar untuk disenangkan, seolah apa yang telah saya lakukan tidak pernah cukup. Kemudian saya merasa sedikit sedih, seolah berteriak “mengapa Engkau begitu sulit untuk disenangkan?“
Kemudian RohNya dengan lembut menjawab saya
“Engkau telah mengenalku begitu lama, tetapi sudahkah engkau benar-benar mengenal kasihKu?“
Pikiran saya lalu melayang kepada acara sekolah pelepasan siswa CMC School. Di sana anak-anak kecil itu menari dengan gerakan yang sangat sangat jauh di bawah peserta America’s Got Talent. Dengan gerakan yang sangat biasa saja, mereka bisa salah. Tetapi, meskipun demikian, orang tua mereka bangga melihat anak-anak mereka. Mereka merekam penampilan anak mereka dengan begitu sukacita.
Kita berpikir bahwa Tuhan akan bangga dan mengasihi kita kalau kita berprestasi. Tapi sesungguhnya, apapun yang kita lakukan, itu tidak mengubah fakta bahwa kita adalah anak-anak kesayangan Tuhan. Ia tetap bangga atas hidup kita. Tetapi Ia rindu kita pulih dan mengalami mujizatNya. MujizatNya akan terasa hambar kalau kita sudah kehilangan kasih Bapa.
Kemudian terlintas dalam pikiran saya “apakah kamu tidak percaya pada mujizat?”
Seringkali kita percaya pada mujizat, tetapi tidak mempercayai mujizat Tuhan. Kita bersukacita ketika ada momen-momen mujizat, tetapi apakah kita telah mengalami mujizat Tuhan secara pribadi? Saya tidak menyangka bahwa semua pikiran-pikiran nakal saya saat bersaat teduh adalah pengajaran Roh Kudus untuk saya.
Ketika kondisi hidupmu, keuanganmu atau hal-hal lainnya tampak buruk, pernahkah kita berharap mengalami mujizat? Hanya mujizat yang dapat mengubah bubur menjadi nasi kembali dengan rasa yang sama, bahkan mungkin lebih enak. Mujizat juga pasti dapat mengubah tempe menjadi kedelai kembali.
Kita seringkali melupakan mujizat. Kita percaya akan mujizat, tetapi tidak mengalami. Kita berpikr bahwa mujizat itu bukan untuk kita. Mujizat itu untuk orang lain. Petrus mengalami mujizat Tuhan, mengalami sentuhan Tuhan. Ia berubah. Paulus pun demikian. Ia yang seorang pembunuh anak-anak Tuhan, mengalami mujizat Tuhan dan diubahkan kembali.
Seberapa buruk hidup yang kita alami sekarang? Apakah hidup kita hanya dipenuhi nafsu-nafsu kehidupan, memenuhi kebutuhan kita, memikirkan jalan-jalan pribadi, tetapi tetap tidak bisa berhasil. Kita putus asa karenanya, seolah Tuhan telah meninggalkan kita. Padahal hanya satu yang kita butuhkan untuk memulihkan hidup kita, yaitu mujizat.
Kita tidak tahu kapan kita pergi dari dunia. Waktu Tuhan seperti pencuri dan iblis membuat kita tidak sadar bahwa hari Tuhan sudah sangat semakin dekat. Ciri hari Tuhan semakin dekat adalah hilangnya kasih dari manusia.
Bahasa kasih terbesar adalah mendengar, kemudian yang kedua adalah bertindak. Bagaimana kita bisa memberi kalau kita tidak mendengar kebutuhan mereka.
- Published in The Shepherd's Voice









