SIGN IN YOUR ACCOUNT TO HAVE ACCESS TO DIFFERENT FEATURES

FORGOT YOUR PASSWORD?

FORGOT YOUR DETAILS?

AAH, WAIT, I REMEMBER NOW!

Generasi Jawaban Doa - Gereja Christ Mercy Center

  • LOGIN
  • Home
  • Ministry
    • Vision & Ministries
    • Communities
    • The Shepherd’s Voice
  • Resources
    • Sermons
    • News & Events
  • On The Move
    • Road to Revival
    • SOW Camp
    • Healing from Heaven
    • Tabloid Transform
    • Transformer Ministry
  • Download
    • Download Tabloid TRANSFORM
  • Home
  • Posts tagged "pemulihan"
  • Page 3
26 October 2026

Tag: pemulihan

Khotbah Ev. Evie Mehita : Persiapkan Dirimu!

Monday, 27 November 2017 by Renee

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
2 Timotius 3:16

Firman Tuhan itu Ya dan AMIN. Walaupun telah berulang kali kita membacanya, pasti ada hal baru yang Tuhan sampaikan kepada setiap kita, sebab Firman Tuhan itu hidup. Firman Tuhan tidak akan pernah habis. Kita harus belajar dari Firman Tuhan yang tidak pernah berubah.

Perubahan yang dari Tuhan akan mengubah semua gaya hidup kita secara otomatis. Dari sikap, cara berpakaian, dan lain-lain.

Terkadang banyak orang berubah karena situasional. Pada saat kita berada di lingkungan yang rohani, gaya hidup kita juga menjadi rohani. Tetapi pada saat ini berada di luar lingkungan rohani, kita mulai keluar dari hal-hal yang rohani. Misalnya seorang yang menyukai pakaian mini kurang bahan, ketika berada di lingkungan gereja yang cara berpakaiannya sopan dan tertutup, dia mengikutinya. Tetapi pada saat dia jalan-jalan ke mall dan di luar lingkungan yang rohani, dia kembali memakai pakaian mini kesukaannya. Tidak ada integritas dalam dirinya.

Begitu juga dengan musik-musik dunia. Tidak ada larangan untuk mendengar musik dunia dan lain sebagainya, tetapi ketika itu semua dijadikan pelarian kita, itu akan menjadi kesalahan. Saat bosan dan lelah dengan banyak masalah, jangan jadikan hal-hal duniawi menjadi pelarian kita. Pergi ke tempat karaoke dan bernyanyi sampai pagi. Kita belajar, ketika kita mendapat masalah, kita datang kepada Tuhan, berdoa dan membaca Firman Tuhan. Sebab perubahan yang sempurna berasal dari Tuhan.

 

Jawab malaikat itu kepadanya: “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.
Lukas 1:19

 

Terkadang kita susah untuk mendengarkan firman Tuhan karena pahit dan mengaduk-aduk hati. Tetapi, kebenaran yang dari Tuhan adalah obat pahit yang menyembuhkan.

Kita sebagai manusia menginginkan sesuatu yang spektakuler, seperti pesta rohani, menjadi ratu, menjadi pangeran, terlihat rohani di depan semua orang dengan pelayanan kita dan gaya hidup kita. Tetapi semua ini belum tentu membuat kita siap untuk memasuki pertandingan yang sesungguhnya.

 

dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”
Lukas 1:17

Kita harus menjadi generasi Yohanes yang membuka jalan dan mempersiapkan jalan untuk Tuhan. Kita semua butuh dipersiapkan untuk menjadi orang-orang yang layak dihadapan Tuhan, memiliki hati yang berbalik kepada Tuhan. Sudakah hati kita sendiri berbalik kepada Tuhan? Kalau hati kita belum berbalik pada Tuhan, maka kita tidak bisa membuat hati orang lain berbalik pada Tuhan. Hati yang berbalik berbicara tentang cinta dua arah, dimana Tuhan mencintai kita dan kita juga mencintai Tuhan. Tuhan sudah mencintai kita, sudahkah kita mencintai Tuhan? Ada 3 panah iblis yang selalu ditembakkan kepada anak-anak Tuhan :

  1. Panah tidakaman dengan cinta Tuhan
    Panah ini membuat anak-anak Tuhan selalu curiga dengan Tuhan, curiga dengan orang-orang disekitar kita, curiga dengan penerimaan-penerimaan yang ada, dan gambar diri.
  1. Panah damai sejahtera yang palsu
    Panah ini selalu membuat anak-anak Tuhan merasa baik-baik saja dan damai apabila diluar Tuhan maupun melakukan dosa.
  1. Panah tujuan hidup
    Tujuan hidup bukan berbicara tentang Tuhan panggil aku di suatu tempat atau menjadi apa. Tetapi kita harus melepaskan semua mimpi kita dan biarkan Tuhan mengambil alih penuh hidup kita. Belajar dari kisah Saulus yang buta selama 3 hari. Ia tidak bisa lagi melihat mimpi-mimpi besar yang sudah saulus rencanakan dan inginkan.

 

Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Ibrani 12:7-8

Anak gampangan pada firman yang di atas jika diartikan dengan bahasa lain adalah penjahat, orang-orang yang terkutuk, dan lain sebagainya. Begitu jelek arti dari anak gampangan. Oleh karena itu, jangan mau menjadi anak-anak gampangan yang tidak memiliki tujuan. Tetapi marilah kita belajar menanggung setiap proses yang Tuhan berikan.

Evie MehitaKebangkitanpemulihanPeperangan Rohani
Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Membuka Tanah Baru

Tuesday, 07 November 2017 by Renee

Sebab beginilah firman TUHAN kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: “Bukalah bagimu tanah baru, dan janganlah menabur di tempat duri tumbuh.
Yeremia 4:3

Awalnya, saya mendefinisikan tanah baru sebagai sebuah tanah yang belum pernah dihuni dan tanahnya subur dan baik. Tetapi, dalam NKJV, kata “tanah baru” yang disebutkan bukan ditulis dalam “new land” tetapi “fallow ground” yang berarti tanah yang sudah lama ditinggalkan, banyak tumbuhan-tumbuhan liar, tidak terlalu bagus, tetapi jika digali, kita masih bisa menemukan buah-buahan yang sudah mengering, namun mati.

Hari ini, Tuhan meminta kita untuk membuka tanah yang baru. Definisi awal saya adalah sebuah tempat yang wellcome dengan kekristenan dan menyenangkan. Tapi ketika menyelidiki arti kata yang sebenarnya dari tanah yang baru, itu berarti bukanlah tempat yang benar-benar menyenangkan.

Kita dibesarkan dalam keluarga yang berbeda-beda dan definisi kita seringkali salah tangkap satu dengan lainnya. Misalnya ketika mendefinisikan kata cukup. Sang suami mendefinisikan kata cukup sebagai kaya raya, sehingga kemudian ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam dan kurang waktu dengan keluarga. Sedangkan sang istri mendefinisikan kata cukup sebagai tidak kekurangan, dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memiliki waktu untuk keluarga. Definisi yang salah akhirnya membuat bentrok antara suami dengan istri.

Demikian juga dalam Firman Tuhan. Kita bisa multitafsir terhadap suatu khotbah. Kalau kita mau sehati dan sepikir, kita harus belajar mengenali Firman Tuhan dari sudut pandang Tuhan, bukan dari sudut pandang masing-masing.

Bentukan-bentukan yang kita dapatkan dari masa lalu mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan.

Misalnya, saya dengan ibu saya. Saya bisa mengubah keputusan ibu saya kalau saya menyenangkan hatinya. Tadinya dia bisa berkata “TIDAK”, tetapi jika saya bisa menyenangkan hatinya, mendapatkan nilai sempurna, saya bisa membalikkan kata TIDAK tadi menjadi kata YA. Demikian juga dengan Tuhan. Saya berpikir bahwa keputusan Tuhan bisa diubah jika saya bisa mengambil hati Tuhan, melakukan sesuatu yang baik, yang tadinya saya tidak diijinkan, saya jadi mendapatkan ijin.

Bentukan masa lalu begitu dominan untuk menentukan sikap kita dan bagaimana kita mendefinisikan kasih Tuhan.

Ketika berdoa, ke gereja, membaca Firman Tuhan, menyembah adalah sebuah kewajiban, kemudian menjadi pengamat-pengamat rohani, sesungguhnya kita sudah mundur dari Tuhan.

Kita belajar menghindari kebangunan rohani yang pura-pura. The Great Revival berbanding lurus dengan pertumbuhan rohani yang begitu pesat. Jika pekerjaanmu dibungkus dengan kerohanian, tetapi membuat kita meninggalkan Tuhan, kita sudah mundur dari Tuhan.

Fallow ground yang Tuhan suruh bukanlah tempat yang menyenangkan. Banyak semak duri yang harus dipangkas. Harus membajak tanahnya agar subur kembali. Tugas kita di fallow ground adalah membabat tanaman-tanaman liar, mengaduk tanahnya, dibajak. Fallow ground dipandang manusia sebagai tanah yang jelek, namun Tuhan dapat memandangnya menjadi bagus. Seperti Gomer, istri Hosea. Seorang pelacur seperti Gomer yang tidak berharga bagi manusia, Tuhan melihat kedalaman hatinya baik. Dan dia dipakai untuk kemuliaan Tuhan.

Mungkin Tuhan meminta kita untuk membersihkan hati kita saat ini. Membabat tanaman-tanaman liat dalam hati kita. Karena ketika hati kita sudah ditumbuhi semak belukar, pikiran kita menjadi pikiran-pikiran yang jahat dan negatif. Kalau hati kita tidak dekat dengan Tuhan sehari saja, hati kita ditumbuhi semak belukar. Mengusahakan tanah yang tandus tidak dapat kita kerjakan sendiri. Kita membutuhkan Tuhan untuk bekerja bersama kita dengan memberikan hujan untuk melembutkan tanah tersebut.

Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita  —  oleh kasih karunia kamu diselamatkan  —  dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga,  supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
Efesus 2:1-6

Penguasa kerajaan angkasa yang dimaksud adalah roh-roh di udara. Salah satunya yang terbesar adalah roh Mamon, roh cinta akan uang. Bukan berarti kita tidak boleh menjadi kaya, tetapi saat kita menjadi kaya itulah, kita harus berjaga-jaga. Roh Mamon menjauhkan kita secara perlahan namun pasti.

Kasih karunia menghidupkan kita dan menyelamatkan. Kasih karunia yang menyelamatkan sama dengan kasih akrunia yang menghidupkan kita. Kasih karunia dan iman adalah satu paket dan tidak bisa dipisahkan. Karena iman, kita beroleh kasih karunia.

Tuhan Yesus adalah seorang tukang kayu. Di masa itu, tukang kayu adalah sebuah gelar yang hebat. Seorang tukang kayu dapat membangun sebuah rumah. Yesus totalitas dalam pekerjaannya sehingga ia beroleh gelar sebagai tukang kayu.

Jangan menyerah, ketika kita sudah bekerja keras, tetapi belum berbuah lebat. Kita sudah berusaha maksimal, tetapi ada hak prerogatif dari Tuhan. Kita sudah mengusahakan fallow ground dengan tekun, namun ada yang harus kita minta, yaitu hujan dari Tuhan.

bayar hargaDaniel Hadi ShaneKasih Bapapemulihan
Read more
  • Published in The Shepherd's Voice
No Comments

Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Kendalikan Emosimu

Wednesday, 04 October 2017 by Renee

Musa dan Harun adalah salah satu contoh pemimpin dalam Alkitab yang berkenan di mata Tuhan. Mereka memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju ke tanah perjanjian. Akan tetapi, Musa dan Harun pada akhirnya tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam tanah Kanaan. Mengapa demikian?

Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?” Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.
TUHAN berfirman kepada Musa: “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.” Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka.
Bilangan 20:2-13

Kisah di atas menjelaskan mengapa Musa dan Harun tidak dapat masuk ke tanah Kanaan. Pada waktu itu bangsa Israel mengeluh dan marah kepada Musa dan Harun karena kekeringan di padang gurun. Tuhan memerintahkan mereka berdua untuk berkata pada gunung batu supaya mengeluarkan air. Tetapi karena emosi mereka terhadap bangsa Israel yang marah, mereka mengambil sebuah tindakan yang fatal. Mereka memukulkan tongkat Musa pada batu itu sebanyak 2 kali, di mana itu bukan perintah Tuhan kepada mereka; mereka mengambil tindakan ceroboh karena emosi sesaat. Karena tindakan ceroboh itulah, Tuhan berkata pada Musa, “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Itu adalah salah satu contoh bagaimana emosi sesaat yang dapat berdampak sangat besar. Seringkali hidup manusia dikendalikan oleh emosi. Lebih gawatnya lagi, ketika emosi yang mengendalikannya adalah emosi yang sesaat. Gambar diri yang rusak adalah salah satu penyebab kita sering dikendalikan oleh emosi seseorang. Gambar diri membuat mereka merasa tidak diterima, merasa tidak dicintai. Sehingga banyak orang yang akhirnya memaksakan kehendaknya untuk dicintai seperti yang dia mau, seperti yang dia pikir. Ketika orang tidak melakukan seperti yang dia mau, maka dia akan mudah sekali kecewa, marah, sedih dan terluka. Inilah yang disebut emosi mengendalikan hidup. Ada banyak anak Tuhan yang akhirnya menjadi batu sandungan bagi orang lain karena hidupnya dikendalikan oleh emosi. Karena gambar dirinya yang rusak, dia menuntut orang lain menjadi seperti yang dia mau, dan pada akhirnya hidupnya hanya melukai orang lain.

Ketika kita mengharapkan sesuatu dan ternyata Tuhan memilih orang lain, bagaimana respon hati kita? Jangan kita menjadi marah dan emosi, tapi belajar untuk introspeksi diri. Apakah kita sudah memiliki motivasi yang benar dalam mengharapkan sesuatu itu? Apakah kita mengharapkan hal itu untuk kemuliaan kita sendiri atau kemuliaan Tuhan? Belajar introspeksi, belajar menyelidiki. Karena jangan sampai kita mengambil wewenang Tuhan hanya karena emosi sesaat kita. Seperti Musa dan Harun, yang mengambil wewenang Tuhan untuk menyatakan mujizatnya kepada bangsa Israel. Hingga akhirnya Tuhan tidak lagi berkenan atas mereka.

Ketika hidup kita sudah di dalam Tuhan, seharusnya kita yang mengendalikan emosi, bukan sebaliknya.  Kita harus belajar meredam emosi dan miliki gambar diri yang benar. Untuk memiliki gambar diri yang benar adalah sebuah proses, proses untuk dilahirkan kembali. Proses pembentukan karakter yang benar di dalam Tuhan akan mendewasakan setiap kita. Seorang yang dewasa adalah seorang yang mampu mengendalikan perasaan dan emosinya dengan baik. Oleh karena itu, karakter kita perlu diubahkan semakin lama semakin serupa dengan Kristus. Kita harus jadi terang, menjadi dampak untuk orang-orang disekeliling kita. Menjadi pribadi yang bukan hanya “meminta”, tetapi pribadi yang “memberi”. Menjadi pribadi yang bukan hanya maunya “didengarkan”, tapi pribadi yang mau “mendengarkan” orang lain. Sebab di mata Tuhan, pelayanan yang terbaik adalah mendengarkan.

Kunci untuk masuk dalam tanah perjanjian bukan hanya iman, tetapi juga kesabaran. Ketika kita mampu mengendalikan emosi kita dan menjadi sabar, saat itulah kita dapat memasuki tanah perjanjian Tuhan. Seandainya Musa dan Harun bersabar dan mengikuti semua perintah Tuhan, mungkin pada waktu itu mereka dapat masuk ke tanah yang dijanjikan oleh Tuhan. Karena itu kita perlu miliki kesabaran dalam menghadapi segala sesuatu, sehingga janji-janji Tuhan ada dalam tangan kita.

Baiklah kita mengerjakan kerinduan Tuhan tidak dengan emosi. Mari kita belajar dari banyak tokoh Alkitab yang jatuh. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan mereka. Saat kita percaya dan hidup di dalam Dia, biarkan Yesus yang menguasai hidup kita sepenuhnya. Kendalikan emosi kita, miliki gambar diri yang benar, bersabar, dan pegang Yesus dalam segala perkara.. maka hidup kita akan menjadi terang bagi banyak orang. God Bless You.

lifestyleManusia Barupemulihan
Read more
  • Published in The Shepherd's Voice
No Comments

Khotbah Ev. Evie Mehita : Mulutmu Harimaumu

Monday, 25 September 2017 by Renee

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Yakobus 1:19-21

Siapa sih, yang tidak suka berkata-kata? Semakin ramai, semakin asyik!
Firman Tuhan berkata kita tidak bisa menghalangi apa yang akan kita dengar, bisa berita buruk, berita negatif, prasangka orang, gosip dan lain sebagainya. Namun kita belajar untuk tidak langsung memberikan reaksi atas apa yang kita dengar. Lambat berkata-kata dan lambat untuk marah. Sebelum kita bereaksi, cobalah kita memikirkan dahulu apa yang kita dengar dengan kepala dingin, sehingga kita akan dihindarkan dari dosa amarah.

Semakin banyak berkata-kata, semakin banyak hal negatif yang kita terima. Semakin kita mengungkapkan isi hati dan ingin membereskan sesuatu kepada seseorang, justru semakin membuat sesuatu menjadi tidak beres dan akan membuat kedua pihak semakin menjauh.

Amarah manusia tidak pernah menghasilkan kebenaran. Lalu bagaimana dengan amarah Tuhan? Kita semua tahu bahwa Tuhan pun pernah marah. Tetapi amarah Tuhan berbeda, amarah Tuhan berdasarkan kebenaran, kebijaksanaan hati Tuhan dan memiliki tujuan kepada sesuatu yang baik. Namun amarah manusia seringkali hanya berdasarkan pada kedagingan semata sehingga tidak benar di hadapan Tuhan.

Tetapi pada hari sesudah bulan baru itu, pada hari yang kedua, ketika tempat Daud masih tinggal kosong, bertanyalah Saul kepada Yonatan, anaknya: “Mengapa anak Isai tidak datang makan, baik kemarin maupun hari ini?”Jawab Yonatan kepada Saul: “Daud telah meminta dengan sangat kepadaku untuk pergi ke Betlehem, katanya: Biarkanlah aku pergi, sebab ada upacara pengorbanan bagi kaum kami di kota, dan saudara-saudaraku sendirilah yang memanggil aku. Oleh sebab itu, jika engkau mengasihi aku, berilah izin kepadaku untuk menengok saudara-saudaraku. Itulah sebabnya ia tidak datang ke perjamuan raja.”
Lalu bangkitlah amarah Saul kepada Yonatan, katanya kepadanya: “Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu? Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh. Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati.”
Tetapi Yonatan menjawab Saul, ayahnya itu, katanya kepadanya: “Mengapa ia harus dibunuh? Apa yang dilakukannya?” Lalu Saul melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Maka tahulah Yonatan, bahwa ayahnya telah mengambil keputusan untuk membunuh Daud.
1 Samuel 20:27-33

Amarah Saul tidak dapat dibendung lagi dan ketika Yonatan, anak Saul sendiri yang begitu mengasihi Daud, tidak menerima amarah Saul tersebut, sehingga Saul menjadi begitu marah dan melempar tombak kepadanya. Saul mengalami amarah yang tidak terkendali.

Setiap emosi negatif kita memiliki magnet untuk berhubungan dengan emosi-emosi dan dosa-dosa lainnya.

Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.“
1 Samuel 18:6-7

Saul begitu membenci Daud. Pada awalnya, ia tidak membenci Daud, bahkan ia menyukainya. Saul memberikan peralatan perangnya ketika melawan Goliat, ia senang mendengar permainan kecapi Daud. Tapi ketika Daud semakin diangkat Tuhan dan dipuji-puji oleh bangsa Israel, Saul menjadi sangat iri kepada Daud. Saul merasa tidak aman dan tidak yakin akan panggilan Tuhan. Saul memiliki permasalahan dalam dirinya yang belum dibereskan, dan ketika area ini tersentuh, ia menjadi begitu marah. Area tersebut adalah dibandingkan. Setiap kita mungkin tanpa sadar, sejak kecil, kita dibandingkan. Hal inilah yang membaut emosi kita menjadi berantakan. Ada emosi yang tidak terlihat, ada emosi yang terlihat dari sikap dan kata-kata. Mengapa kita marah?

  1. Ketidakadilan
    Ada ketidakadilan yang memang benar-benar merupakan ketidakadilan, ada ketidakadilan yang hanya merupakan versi ktia sendiri. Ketidakadilan membuat hati kita terluka dan kita menjadi marah.
  2. Frustasi
    Frustasi karena tidak mendapatkan sesuatu yang kita harap-harapkan.
  3. Tersakiti
    Orang yang tersakiti cenderung melindungi diri dengan amarah.
  4. Avon
    Banyak orang berkata bahwa sifat pemarah adalah turunan, tetapi kita memiliki Roh Kudus yang menuntun kita untuk berubah.
  5. Perlakuan yang diterima waktu kecil
    Perlakuan yang kita terima saat kecil akan membentuk kepribadian dan karakter kita.

Amarah yang sesuai dengan Firman Tuhan bukan merupakan seuatu dosa, tapi amarah yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan adalah dosa. Marah berdasar tujuan, amarah berdasarkan kebenaran adalah amarah sesuai Firman Tuhan, tapi amarah berdasarkan situasional, amarah dari daging adalah dosa.

 

Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
Yakobus 4:2

Manusia menjadi iri hati karena menginginkan apa yang bukan atau belum menjadi haknya. Orang tua, sahabat, anak-anak kita membandingkan mana yang lebih baik dan lain-lain. Ini sangat merusak. Manusia menjadi iri hati karena menginginkan apa yang belum atau bukan menjadi haknya.

Hal penyebab iri hati dalam diri manusia yang kedua adalah gambar diri yang rusak. Kita ingin dikasihi seperti orang lain, kita merasa tidak dikasihi dan dihargai kalau cara mengasihinya tidak seperti yang kita bayangkan. Kalau kita tidak menerima seperti apa yang kita pikirkan, kita merasa tidak dicintai.

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Yakobus 3:16

Orang egois adalah orang yang melihat kebahagiaan diri sendiri. Karena itulah kita belajar untuk melayani, melayani Tuhan dan sesama. Dengan kita melayani, kita akan melihat pada Tuhan dan sesama. Kalau kita hanya melihat diri sendiri, kita akan hancur. Ketika kita sudah lemah dan lelah untuk pelayanan, apa yang mempertahankan kita kalau bukan Tuhan dan sesama. Kalau kita melihat diri kita sendiri, kita tidak akan pernah bisa bertahan dan kita akan hancur. Bahkan dalam dosa sekalipun, jangan kita terus menerus melihat pada dosa, tetapi kita belajar untuk melihat Yesus dan tidak melihat diri sendiri.

 

Evie MehitaHubunganlifestyleManusia Barupemulihan
Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Keselamatan yang Terjamin

Tuesday, 22 August 2017 by Renee
daniel hadi shane keselamatan yang terjamin

Saya berusaha untuk hidup benar di hadapan Tuhan, namun saya tidak bisa. Dosa selalu ada menghampiri. Contohnya, ketika saya bertobat tidak lagi mencontek ataupun memberikan contekan, teman saya memohon agar saya memberikan contekan dengan memberikan alasan-alasan mengapa ia membutuhkan bantuan. Saya menolaknya dan membuatnya sedih… Saya sudah berbuat dosa… Saya tidak mau menolong teman saya dan membuatnya terluka.

Kita tidak mungkin dapat berhenti berbuat dosa jikalau kita tidak pernah menerima kemurahan dari Tuhan. Yang membuat manusia bebas dari dosa bukanlah segala perbuatan baik kita. Tidak ada seorangpun di dunia, bahkan nabi sekalipun sanggup menjalankan taurat Tuhan 100% sempurna. Yesus datang ke dunia untuk menyelesaikan tugas, yakni menggenapi hukum Taurat dan mematahkan kutuk. Karena itulah, keselamatan kita tergantung kepada Yesus Kristus, hasil usaha kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk mendapatkannya. Tanpa kita sadar, kita sering mengingkari kuasa Yesus. Kita menjadi seorang yang sangat rohani, tapi kita sendiri meragukan keselamatan kita. Ketika kita diberi pertanyaan “jika engkau mati hari ini, apakah engkau akan masuk surga?”, 99% akan ragu menjawabnya. Ini adalah contoh kita mengingkari kuasaNya.

Kita sering diombang-ambingkan oleh pengajaran hukum taurat, bukan injil. Misalnya, suatu pengajaran mengatakan “kalau tidak berbahasa roh, tidak bisa masuk surga“. Tentu saja ini salah! Bahasa roh membuat kita dekat dengan Tuhan, tapi tidak membuat kita kehilangan keselamatan. Begitu banyak injil-injil palsu yang tidak pernah ada dalam Firman Tuhan, tapi disampaikan dan ditanamkan.

Keselamatan tidak tergantung pada perbuatan kita, tetapi dari kasih karunia.

Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.
Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”
Yohanes 5:2-7

Orang ini percaya akan adanya kesembuhan, namun tidak pernah mengalaminya sendiri. Ia mempercayai sesuatu yang salah, ia percaya kepada mitos-mitos, kepercayaan dan roh-roh agamawi yang ada. Ketika Yesus datang dan menjumpai dia, Yesus bertanya suatu pertanyaan yang konyol kepadanya “maukah engkau sembuh?“. Seharusnya, Yesus sudah tahu bahwa ia ingin sembuh. Bahkan tidak hanya Yesus, pasti semua orang tahu bahwa ia ingin sembuh. Tetapi jawaban dari orang lumpuh ini justru berbeda. Ia tidak marah, ia bahkan tidak menjawab dengan benar. Ia justru mengalihkan pembicaraan pada situasi-situasi yang ada, seolah-olah ia meminta Yesus untuk menolongnya sampai ke kolam. Sesuatu yang baik dari orang lumpuh ini adalah ia tidak kehilangan harapannya untuk sembuh selama 38 tahun.

Betesda artinya rumah kemurahan. House of Mercy, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk sembuh. Lalu mengapa orang ini tidak menerima kemurahan di rumah kemurahan? Karena ia memiliki pola pikir yang salah, pikiran-pikiran yang berkubu. Berpikir bahwa Yesus akan menolong saya ketika saya melakukan perbuatan yang wah, ketika saya melayani Dia dengan sempurna. Kita sering lupa akan hukum kasih karunia. Kesembuhan yang kita dapatkan tidak tergantung pada situasi dan kondisi, karena itu jangan salahkan situasi dan kondisi ketika kita tidak sembuh.

Ketika Yesus mati di kayu salib, dosa dan kutuk kita sudah ditanggung olehNya, karena itu Ia berkata “sudah selesai“

Barang siapa percaya Yesus sungguh-sungguh, dosanya telah diampuni dan kita diselamatkan. Ada proses pengudusan yang membuat kita semakin lama, semakin serupa dengan Yesus.

Daniel Hadi ShaneHubunganKasih BapaManusia Barupemulihan
Read more
  • Published in The Shepherd's Voice
No Comments

Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Hidup dalam Kasih Karunia

Tuesday, 08 August 2017 by Renee

 

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!”
Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati.
Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup,
sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.
Roma 7:7-12

Kita percaya bahwa Tuhan datang bukan untuk membatalkan hukum taurat tetapi justru menggenapinya. Dahulu pada perjanjian lama, orang-orang yang ingin datang kepada Allah harus lewat perantara nabi. Setelah zaman perjanjian baru, kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan kapan saja. Itu semua karena kemurahan-Nya. Tanpa kemurahan Tuhan, upaya kita mengerjakan kebenaran di dunia ini adalah sia-sia.

(more…)

Daniel Hadi ShaneKasih BapaManusia Barupemulihan
Read more
  • Published in The Shepherd's Voice
No Comments

Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Sampah Rohani

Monday, 31 July 2017 by Renee

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.  Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Matius 5:14-16

Hari-hari ini terjadi krisis garam. Bagi ibu rumah tangga tentunya mengerti akan hal ini. Garam yang murah, yang biasanya bisa didapat dengan uang seribu rupiah, hari-hari ini menjadi langka. Harganya bisa mencapai 3-4 kali lipat.

Begitupula dengan kasih karunia. Kasih karunia menjadi seperti “garam” akhir-akhir ini. Kasih karunia diberikan oleh Tuhan secara murah dan gratis, hampir tidak berharga. Saat kasih karunia itu langka, kita akan memburu kasih karunia itu dengan harga berapapun, tidak peduli walaupun itu mahal. Namun, belum tentu kita akan mendapatkannya kembali atau bahkan ada. Masalah terbesar dalam anak-anak Tuhan adalah kita tidak tahu cara menghargai kasih karunia yang Tuhan berikan.

Tuhan rindu kita memuliakan namaNya dengan terlihat, tidak meletakkannya di bawah gantang. Memuliakan Tuhan adalah kita mempercayai Tuhan. Ketika kita meragukan Dia, sama saja kita menyalibkan Yesus kembali.

Di hari-hari terakhir ini kita harus waspada terhadap guru-guru palsu, nabi-nabi palsu, bahkan jangan kita menjadi salah satunya. Kita akan menjadi guru-guru palsu atau nabi-nabi palsu ketika kita mengejar kemuliaan yang seharusnya untuk Tuhan, tapi kita berikan untuk diri sendiri. Misalnya dalam pelayanan WL atau singer atau musik, kita berpikir “ah, kalau saja aku yang pelayanan, mkaa suasa akan dipenuhi dengan Roh Kudus“. Ini berarti, kita adalah guru palsu, kita sudah mengambil kemuliaan yang seharusnya untuk Tuhan, menjadi milik sendiri.

Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.
Filipi 1:15

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
Filipi 1:21-22

Jika hidup di dunia ini kita harus bekerja dan menghasilkan buah, kita akan kerepotan sekali karena suatu saat kita akan menghadap tahta pengadilan Bapa. Kalau selama kita di bumi, kita wasting time dengan perkara-perkara dunia, cerita-cerita cinta yang tidak berkesudahan, buah apa yang dapat kita persembahkan pada tahta pengadilan Tuhan. Ketika kita diadili nanti, apa yang dapat kita berikan.

Tuhan rindu kita memuliakan namaNya dan segala sesuatu yang tidak memuliakan namaNya, sesungguhnya adalah sampah.

Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
Filipi 3:7

Jika kita mengejar segala sesuatu untuk kemuliaan diri sendiri, sebenarnya kita hanya mencari sampah, sesuatu yang tidak berguna dalam tahta pengadilan Bapa. Semakin hari, kita harus mengenal Kristus, karena itulah yang berguna. Kita takut tidak makan besok, kita sudah menghina Tuhan. Takut tidak menikah, kita menyalibkan Dia kedua kali. Percaya itu penting, percaya menandakan hubungan ayah dan anak.

Kalau kita curiga pada Tuhan, tidak percaya pada Tuhan, kita tidak bisa disebut sebagai anak Tuhan, karena seorang anak pasti percaya pada Bapanya. Ketika kita tidak percaya, berarti kita sudah menjauhi kasih karunia Tuhan. Percaya berarti Yesus adalah “center” dalam hidup ktia.

Kita melihat apa yang kita lihat dan jiwa kita menuntun pada apa yang ingin kita lihat. Banyak orang menghibur jiwa tetapi tidak membereskan akar permasalahannya, yaitu rohnya. Pergi berlibur hanya untuk lari dari masalah-masalah.

Kasih karunia Tuhan diturunkan pada semua orang, tetapi mendapat warisan Tuhan hanya diperuntukkan pada anak-anakNya.

Pelayanan kita harus menghasilkan buah dan buah itu harus melimpah. Jangan kita terlalu sibuk mencari sampah-sampah sampai lupa akan gelanggang pertandingan kita.

Daniel Hadi ShaneManusia BarupemulihanPeperangan Rohani
Read more
  • Published in The Shepherd's Voice
No Comments

Khotbah Ev. Evie Mehita : Seorang Anak – Teknon vs Huios?

Monday, 24 July 2017 by Renee

Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Yohanes 3:6

Setiap kita dilahirkan oleh ibu kita, dari keturunan ayah dan ibu kita dengan segala kelebihan dan kekurangan. Kita berasal dari daging, kita sudah pasti memiliki sifat-sifat daging. Tapi daging kita ini hanya bungkus saja, sebab kita adalah anak-anak Tuhan. Kita memiliki DNA roh, yakni ada sifat-sifat rohani.

(more…)

Evie MehitaHati BapaHubunganpemulihan
Read more
  • Published in Sermons
No Comments

Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Pemulihan Pondok Daud

Tuesday, 18 July 2017 by Renee

Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala,
Amos 9:11

Pondok Daud adalah tempat yang dibangun Daud sebagai kemah puji-pujian Tuhan. Daud bukan orang yang kudus dan sempurna, ia jatuh ke dalam dosa yang sangat besar, tetapi ia tahu cara menyenangkan hati Tuhan.

(more…)

Daniel Hadi ShaneHati Bapapemulihan
Read more
  • Published in The Shepherd's Voice
No Comments

Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Syarat Pemulihan

Tuesday, 20 June 2017 by Renee

Ketika saat teduh malam sebelumnya, pikiran saya melayang-layang pada penelitian orang Jepang yang dapat mengubah kotoran manusia menjadi makanan yang bisa dikonsumsi kembali. Saya menjadi terpikir “bisakah tempe berubah kembali menjadi kedelai?“. Otak saya berpikir untuk mencari jawaban. Karena saya adalah seorang sarjana kimia, saya merumuskan cara-cara mengubah tempe kembali menjadi kedelai. Setelah pikiran saya terpuaskan, pikiran saya berlanjut untuk mengubah tahu kembali menjadi kedelai.

Sejujurnya saya sedikit pusing. Jika itu tempe, sisa-sisa kedelai masih ada, tetapi kalau tahu yang lebih lembut, bisakah itu diubah kembali. Tidak cukup sampai di situ, pikiran kembali berlanjut untuk mengubah bubur kembali menjadi nasi. Pikiran itu cukup mengganggu saya sehingga saya tidak bisa melanjutkan saat teduh saya.

Kemudian pikiran saya melayang lagi, ketika gereja Tuhan sudah kehilangan api, mengalami penyimpangan-penyimpangan, tidak lagi mengutamakan Tuhan sebagai Tuhan dan Raja, apa yang harus dilakukan untuk memulihkannya kembali?

Saya mencari jawabannya lewat alkitab, tetapi tidak menemukan jawabannya. Akhirnya saya mencari jawabannya di internet untuk menemukan jawabannya. Tetapi tetap tidak menemukan jawabannya dan kemudian saya justru membuka acara America’s Got Talent. Di sana saya melihat seorang anak kecil bernyanyi dengan indah dan sangat merdu sekali. Orang tuanya terliaht begitu bangga terhadapnya.

Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?
(Yunus 2:1-4)

Selanjutnya hati saya terasa hambar. Membaca alkitab menjadi tidak bergairah. Saya merasa seperti terbuang dan tidak mampu menyenangkan Tuhan, seperti Yunus yang gagal dalam panggilannya. Saya merasa Tuhan begitu sukar untuk disenangkan, seolah apa yang telah saya lakukan tidak pernah cukup. Kemudian saya merasa sedikit sedih, seolah berteriak “mengapa Engkau begitu sulit untuk disenangkan?“

Kemudian RohNya dengan lembut menjawab saya

“Engkau telah mengenalku begitu lama, tetapi sudahkah engkau benar-benar mengenal kasihKu?“

Pikiran saya lalu melayang kepada acara sekolah pelepasan siswa CMC School. Di sana anak-anak kecil itu menari dengan gerakan yang sangat sangat jauh di bawah peserta America’s Got Talent. Dengan gerakan yang sangat biasa saja, mereka bisa salah. Tetapi, meskipun demikian, orang tua mereka bangga melihat anak-anak mereka. Mereka merekam penampilan anak mereka dengan begitu sukacita.

Kita berpikir bahwa Tuhan akan bangga dan mengasihi kita kalau kita berprestasi. Tapi sesungguhnya, apapun yang kita lakukan, itu tidak mengubah fakta bahwa kita adalah anak-anak kesayangan Tuhan. Ia tetap bangga atas hidup kita. Tetapi Ia rindu kita pulih dan mengalami mujizatNya. MujizatNya akan terasa hambar kalau kita sudah kehilangan kasih Bapa.

Kemudian terlintas dalam pikiran saya “apakah kamu tidak percaya pada mujizat?”

Seringkali kita percaya pada mujizat, tetapi tidak mempercayai mujizat Tuhan. Kita bersukacita ketika ada momen-momen mujizat, tetapi apakah kita telah mengalami mujizat Tuhan secara pribadi? Saya tidak menyangka bahwa semua pikiran-pikiran nakal saya saat bersaat teduh adalah pengajaran Roh Kudus untuk saya.

Ketika kondisi hidupmu, keuanganmu atau hal-hal lainnya tampak buruk, pernahkah kita berharap mengalami mujizat? Hanya mujizat yang dapat mengubah bubur menjadi nasi kembali dengan rasa yang sama, bahkan mungkin lebih enak. Mujizat juga pasti dapat mengubah tempe menjadi kedelai kembali.

Kita seringkali melupakan mujizat. Kita percaya akan mujizat, tetapi tidak mengalami. Kita berpikr bahwa mujizat itu bukan untuk kita. Mujizat itu untuk orang lain. Petrus mengalami mujizat Tuhan, mengalami sentuhan Tuhan. Ia berubah. Paulus pun demikian. Ia yang seorang pembunuh anak-anak Tuhan, mengalami mujizat Tuhan dan diubahkan kembali.

Seberapa buruk hidup yang kita alami sekarang? Apakah hidup kita hanya dipenuhi nafsu-nafsu kehidupan, memenuhi kebutuhan kita, memikirkan jalan-jalan pribadi, tetapi tetap tidak bisa berhasil. Kita putus asa karenanya, seolah Tuhan telah meninggalkan kita. Padahal hanya satu yang kita butuhkan untuk memulihkan hidup kita, yaitu mujizat.

Kita tidak tahu kapan kita pergi dari dunia. Waktu Tuhan seperti pencuri dan iblis membuat kita tidak sadar bahwa hari Tuhan sudah sangat semakin dekat. Ciri hari Tuhan semakin dekat adalah hilangnya kasih dari manusia.

Bahasa kasih terbesar adalah mendengar, kemudian yang kedua adalah bertindak. Bagaimana kita bisa memberi kalau kita tidak mendengar kebutuhan mereka.

Akhir JamanDaniel Hadi ShaneHubunganpemulihan
Read more
  • Published in The Shepherd's Voice
No Comments
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

RSS Rahasia Hati

  • 3 Penghalang Ciptaan Baru
  • Pelajaran Mengenai Kapak yang Tumpul
  • Sulitkah Hidup Kudus?
  • Kisah Cangkir yang Cantik
  • Disertai Roh Kudus dan Roh Kudus Tinggal Dalam Kita

© 2015. All rights reserved. Buy Kallyas Theme.

TOP