Khotbah Ev. Evie Mehita : Semuanya Habel
Pengkhotbah adalah salah satu Kitab Syair dalam Perjanjian Lama yang penuh dengan misteri. Kitab Pengkhotbah berbicara tentang kesia-siaan (Pengk. 1:1-2). Kata sia-sia disini bukan berarti tidak ada gunanya, tetapi merujuk kepada kata Habel (baca: hefel) yang artinya uap, kabut, asap. Uap/asap kelihatannya padat, tetapi tidak bisa ditangkap; Sesuatu yang kelihatan sebentar saja, lalu hilang. Artinya segala sesuatu di bumi ini hanya fana, hanya sementara, yang sebentar saja lalu hilang.
Manusia berusaha mencari apa arti kehidupannya; Mereka membangun kehidupan mereka melalui kekayaan, status, dan pencapaian, namun semuanya itu fana (habel).
Dalam kehidupan ini, kita akan mengalami banyak masa, baik itu masa yang baik maupun masa yang sulit; Itu pun juga sia- habel. Kebahagiaan yang sejati hanya ada di surga, kebahagiaan yang kita rasakan di bumi hanya habel.
Jika semuanya habel, apa kunci yang harus kita miliki untuk menjalani hidup kita?
Menerima dan Menikmati Habel
Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang , karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu. Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu. Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari. Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. (Pengk. 9:7-10)
Banyak orang berusaha merumuskan pemikiran Tuhan tentang hidupnya. Sehingga banyak dari kita yang sering mempertanyakan keadilan Tuhan: “Kenapa aku? Kenapa aku harus mengalami ini?” Kita merasa bahwa orang baik tidak seharusnya mengalami kemalangan, tetapi tidak ada satupun yang dapat menyelami pikiran Tuhan (Pengk. 8:17). Manusia berusaha melawan habel, tetapi habel bukan untuk dilawan, tetapi untuk dijalani, disyukuri, dan dinikmati.
Apapun yang ada padamu saat ini, terima habelmu dan kerjakan dengan sebaik-baiknya. Semua pekerjaan kita dinilai oleh Tuhan.
Hidup Takut akan Tuhan
Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. (Pengk.12:13)
Menjalani kehidupan yang penuh dengan habel ini, kita harus hidup takut akan Tuhan. Dia sedang menilai kehidupan kita dan mempersiapkan kehidupan kekal bagi kita.
Hidup berdamai dengan jalan Tuhan adalah kunci memiliki sukacita, ucapan syukur, dan kemerdekaan dalam hidup ini. Semua habel, tetapi mari menjalani kehidupan kita dengan sebaik-baiknya untuk kemuliaan nama Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Bahaya Menunda-Nunda
Bacaan : 1 Raja-Raja 17:1-24
Elia adalah seorang yang hidupnya dipakai Tuhan luar biasa untuk menyatakan kemuliaan Tuhan pada masanya. Apa yang bisa kita pelajari dari kisah Elia supaya hidup kita bisa dipakai Tuhan?
Untuk menjadi orang yang bisa dipakai olehNya, kita perlu punya :
Ketaatan
Ketaatan Elia dilatih Tuhan ketika berada di tepi sungai Kerit. Dia berhadapan dengan sungai yang kering, tetapi ada penyertaan Tuhan ketika dia mengikuti apa yang Tuhan katakan. Mungkin saat ini kita mengalami “kekeringan” dalam usaha atau pelayanan kita, tetapi kita tetap belajar percaya dan melakukan apa yang Tuhan mau. Ketaatan juga dalam hal tidak menunda-nunda pekerjaan dan melewatkan kesempatan untuk dipakai Tuhan.
Iman
Tuhan tidak pakai orang kaya untuk memberkati Elia. Sebaliknya, Tuhan memakai janda miskin untuk memberi Elia makan. Butuh iman untuk melihat cara Tuhan menolong kita. Demikian juga dengan Janda Sarfat itu. Dia mulanya tidak punya iman bahwa makanannya akan cukup untuk mereka semua, tetapi ketika dia belajar menyerahkan apa yang dimilikinya untuk dikelola oleh Tuhan, perkara ajaib terjadi atas hidupnya. Tuhan mencukupkan kebutuhan Janda itu dan anaknya.
Tuhan rindu setiap kita taat dalam segala kondisi; kita belajar mengikuti kerinduan Tuhan tanpa menunda-nunda, tanpa berbantah, dan mau dikoreksi. Taat bukan hanya dalam perkataan, namun juga dalam tindakan yang kita lakukan.
Ketika anak Janda Sarfat itu sakit dan meninggal, dia kembali berperkara dengan Elia. Seringkali mungkin kita merasa kita sungguh-sungguh taat dan melakukan kerinduan Tuhan, tetapi kita melihat banyak hal buruk yang terjadi dalam hidup kita. Maka saatnya bagi kita untuk mengembalikan segalanya ke dalam kedaulatan Tuhan yang sempurna.
Dia tidak pernah merancangkan yang buruk, Dia selalu memberikan yang terbaik. Sekalipun badai terjadi dalam hidup kita, tetapi marilah kita bermegah dalan Kristus yang memberikan kekuatan kepada kita. Kita tetap dapat menari dalam badai.
Mari kita melakukan setiap perintah Tuhan dengan penuh ketaatan. Jerih payah kita dalam Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Mari kita menyenangkan Tuhan dengan seluruh kehidupan kita.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Sudut Pandang Kristus
Setiap orang memiliki keunikannya masing-masing, termasuk juga dalam bagaimana kita memandang suatu hal/ suatu peristiwa. Setiap manusia bisa memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat sebuah hal.
Ketika uang koin 500 rupiah dilihat dari satu sisi, orang akan melihat gambar Garuda. Sedangkan disisi yang lain orang akan melihat angka 500. Angka 9 jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda akan menjadi angka 6. Sama halnya ketika kita mendengar / membaca Firman Tuhan, kita bisa memiliki persepsi yang berbeda. Namun kadang manusia melihat dari satu sisi saja. Namun untuk memahami kehendak Tuhan, kita perlu mempelajarinya dari berbagai sudut pandang.
Melihat dari Sudut Pandang Kristus
Manusia melihat apa yang tampak, tetapi Tuhan melihat jauh di kedalaman hati (1 Sam 16:7). Manusia seringkali melihat sesuatu dari apa yang tampak, tetapi apa yang tampak baik diluar belum tentu baik. Manusia duniawi memandang segala sesuatu dengan hikmat duniawi, tetapi ketika kita menggunakan hikmat Tuhan, kita dapat melihat dari apa yang Tuhan lihat (1 Kor 2:6-9). Karena itu, milikilah pikiran dan cara pandang Kristus.
Sudut pandang kita menentukan reaksi atau tindakan yang kita lakukan.
Ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, bagaimanakah respon kita? Seringkali kita menjadi marah dan menganggap Tuhan tidak mengasihi kita; Sebab kita memandangnya dari sudut pandang pribadi, bukan sudut pandang Kristus.
Tuhan selalu merancangkan yang terbaik bagi kita. Namun karena kita fokus kepada masalah yang kita hadapi, kita tidak melihat ada rencana terbaik dibalik semuanya. Belajar bersyukur dengan apapun yang Tuhan ijinkan terjadi, sebab Tuhan memberikan porsi yang pas untuk kita (Ams 30:8-9).
Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Kor 1:26-29)
Kita mungkin lemah bagi dunia, tetapi Tuhan sanggup memakai hidup kita yang rindu menjadi berkat dan mau menyerahkan hati kita kepadaNya.
Seorang Misionaris, David Levingston, dipakai Tuhan untuk menginjil di Afrika. Sebuah kecelakaan membuatnya kehilangan kakinya dan harus membuatnya harus memakai kaki palsu. Namun kaki palsu itu dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil di sebuah suku yang kanibal (makan daging manusia).
Ada maksud Tuhan di balik setiap kejadian dalam hidup kita. Ada rancangan terbaik yang Tuhan sediakan dalam setiap masalah. Kita tidak bisa hidup tanpa masalah, tetapi kita Akan diberikan kekuatan untuk mengatasi masalah, asal kita bergantung penuh kepada Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Ikut Tuntunan Tuhan
Bacaan : Yohanes 6:50-52, 60-61
Yesus berkata kepada murid-muridNya untuk “makan dagingNya dan minum darahNya” (ay 54). Perkataan Yesus ini keras, sehingga banyak muridNya yang mengundurkan diri. Mereka membayangkan Yesus datang sebagai Raja dan menyelamatkan dunia, tapi mereka melihat kenyataan Yesus harus disalibkan; Mereka menjadi kecewa dan meninggalkan Yesus.
Murid itu seperti halnya anak Tuhan yang tidak mengalami Kristus secara pribadi; mereka membaca Firman, merasa mengenal Kristus, tetapi tidak pernah mengalami Kristus dalam hidupnya.
Apa yang menjadi mimpimu? Kita seringkali kecewa ketika apa yang kita mimpikan tidak terjadi. Tetapi mari kita serahkan mimpi kita untuk diselaraskan dengan mimpi Tuhan. Mimpi pribadi yang tidak diserahkan hanya akan bertujuan untuk pembuktian diri dan kepuasan pribadi. Tetapi mimpi Tuhan selalu bertujuan untuk kemuliaan nama Tuhan.
Maukah engkau mengenal mimpi Tuhan?
MimpiNya adalah menjadikan semua bangsa murid Kristus. Kita diciptakan bukan untuk sebuah tujuan yang fana, tetapi untuk tujuan kekalNya. Karena itu, mari mengikuti tuntunanNya; Dia adalah gembala Agung Kita. Jangan menjadi domba yang bebal, yang tidak mau mengikut tuntunan gembalanya. Yang maunya berjalan sendiri dengan caranya, sehingga dia tidak sadar sedang makan rumput yang beracun.
Tuntunan Tuhan tidak pernah salah. Tuhan sanggup pakai kita sebagai saluran bagi Dia menyatakan kuasaNya. Tuhan tidak nilai seberapa tinggi prestasi kita, tetapi berapa banyak kamu mau memikul salib untuk kemuliaan namaNya.
Kita lemah, namun dalam kelemahan, kuasaNya sempurna. Mari minta tuntunan Tuhan; Tuhan yang akan memampukan kita. Tuhan tidak lihat seberapa sering kamu gagal, tetapi seberapa kamu berpegang kepadaNya. Dia sedang bekerja sekalipun nampaknya Dia tidak bekerja.
Jadilah orang Kristen yang ambil bagian dalam daging dan darah Kristus.
Kamu akan dimampukan dalam mengikut Dia. Jadilah saksi yang hidup dan berkat yang mulia. Kemurahan Tuhan sanggup melepaskan orang-orang yang terikat. Jangan menjadi percaya dengan tipu daya Iblis : “kamu tidak bisa dipakai Tuhan.” Tetapi Lawanlah iblis dan dia akan lari daripadamu. Jangan menunggu sempurna dulu untuk di pakai Tuhan. Gereja bukan untuk orang kudus dan sempurna, tetapi tempat untuk orang yang tidak sempurna namun mau disempurnakan oleh Tuhan.
Mari menjadi saksi-saksi Kristus. Menjadi sarana pemberitaan Injil yang terus setia menabur Firman Tuhan, sehingga taburan itu bertumbuh dan buahnya dapat dipersembahkan kepada Tuhan kita.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ev. Evie Mehita : Peperangan Rohani
Di dalam sebuah film, pasti ada tokoh utama di dalamnya. Demikian pula setiap kita adalah tokoh utama dalam cerita kehidupan kita. Kita semua memegang peranan penting dalam cerita yang Tuhan buat. Tidak ada bagian yang tidak penting, karena kita-lah tokoh utamanya. Ketika Kita menonton film, kita mengharapkan akhir yang bahagia. Sama halnya manusia mencari kebahagiaan dalam hidup mereka. Tetapi tujuan kekristenan bukanlah mencari kebahagiaan duniawi semata, tetapi kebahagiaan kekal. Karena itu mari kita mengejar perkenanan Tuhan, mengejar kebahagiaan surga.
Manusia Rohani & Manusia Duniawi
Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos, ” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?
(1 Korintus 3:1-4)
Manusia duniawi buka hanya orang yang belum percaya atau belum mengenal Tuhan. Tetapi orang yang belum dewasa rohani bisa disebut manusia duniawi.
Orang yang belum dewasa tidak bisa makan makanan yang keras, tidak bisa menerima kebenaran. Mereka suka hidup dengan sifat duniawinya, sehingga mereka tidak bisa dipercayakan hal besar oleh Tuhan. Selama kita masih dunia, kita masih punya sifat-sifat duniawi, tetapi ketika hidup kita dipenuhi oleh Roh Kudus, kita harusnya tidak tahan lagi untuk tinggal dalam hal duniawi; Kita berjuang memeranginya.
Setiap kita sedang berada dalam pertandingan kita masing-masing yang harus kita selesaikan secara pribadi. Kita tidak bisa menyeret orang lain untuk menyelesaikan pertandingan kita; Kita harus menyelesaikannya sendiri (1 Korintus 9:24). Setiap kita harus sadar kalau kita penting dalam pekerjaan Tuhan, sebab itu bertandinglah sebaik mungkin.
Hidup kita tidak pernah lepas dari peperangan. Ada 2 peperangan yang kita hadapi dalam hidup kita :
1. Peperangan Pribadi (Raksasa), bisa muncul dari :
– Warisan Nenek Moyang (sifat, dosa, kecenderungan/Avon)
– Pengalaman pribadi / masa lalu yang terjadi atau yang dilakukan terus menerus
– Ketakutan (Karena intimidasi & tawaran Iblis) yang melemahkan mental.
Iblis selalu berusaha menjerat dan menjatuhkan anak-anak Tuhan dengan ketakutan. Dia akan melemahkan mental kita dan membuat kita mengiyakan setiap perkataannya.
2. Peperangan Secara Korporat
Sebagai gereja kita perlu bergerak secara tim. Di akhir zaman ini, Tuhan rindu mengembalikan hati anak-anakNya kepada hati Bapa. Gereja menaklukkan prinsip dunia dan dosa, sehingga dapat merebut jiwa-jiwa dari jerat kebinasaan dan setiap mereka dimenangkan oleh karena Tuhan.
Tuhan rindu setiap kita menjadi pahlawan Tuhan yang tidak terus berkutat dalam peperangan kita pribadi, tetapi berkarya untuk jadi berkat bagi orang lain. Kita tidak hidup bagi diri kita sendiri, tetapi hidup kita dipersembahkan seluruhnya untuk kerajaan Tuhan; Kita hidup untuk kepentingan orang lain.
Kalahkah peperanganmu!
Jika tidak, kita menjadi orang yang lumpuh; Kita menjadi orang yang tidak maksimal dalam Tuhan. Sekalipun kita berada dalam peperangan, jangan pernah menyerah, Jangan berhenti melayani. Jika tidak, Iblis akan semakin menghancurkanmu. Dia akan menghancurkan mental kita sampai kita percaya padanya bahwa kita tidak bisa bangkit lagi.
“Jika engkau telah berlari dengan orang berjalan kaki, dan engkau telah dilelahkan, bagaimanakah engkau hendak berpacu melawan kuda? Dan jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan? (Yeremia 12:5)
Jangan mudah menyerah dalam pertandingan hidupmu. Janganlah ketika menghadapi sedikit tantangan, kita sedikit-sedikit lelah, sedikit-sedikit menyerah, sedikit-sedikit tidak mau melayani Tuhan; Itu bukan mental seorang prajurit. Milikilah mental prajurit yang kuat, sehingga kita mampu memenangkan setiap peperangan kita.
Belajar dari Maria ibu Yesus, di dalam pergumulannya, dia menyimpan dalam hatinya, dia membereskan dan menyelesaikan peperangan dalam dirinya (Lukas 2:19). Kita perlu berlatih untuk dapat memenangkan pikiran kita sendiri kepada Tuhan; tidak menyeret orang lain dan memintanya menyelesaikannya. Kita boleh bercerita dan meminta nasehat untuk setiap masalah kita, tetapi kita harus belajar menyelesaikan masalah kita sendiri.
Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, (Zefanya 3:16-17)
Tuhan adalah pahlawan kita. Jika Tuhan ada bersama kita dalam setiap peperangan, kita tidak akan pernah kalah. Dia yang akan memegang hidup kita dan tangan kananNya memberikan kita kemenangan. Hadapi setiap peperangan bersama dengan Tuhan, dan kemenangan ada di tanganmu.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Anggur yang Berkualitas
Amsal 22:17-29
Jangan merampasi orang lemah dan jangan menginjak orang yang kesusahan (ay. 22-23)
Ini berbicara tentang empati. Kita harus memiliki belas kasihan kepada orang yang lemah. Sudahkah kita sudah empati dengan saudara di sekitar kita? Tuhan menganugerahkan empati kepada kita untuk mengenal hati Tuhan untuk orang lain.
Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, mudah marah, dan mudah terluka (ay.24-25). Jangan bergaul dengan mereka karena kamu akan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.
Menjadi pendamai terus menerus juga tidak baik (ay. 26). Orang pendamai tidak suka berada dalam masalah, mereka suka menghindari masalah. Mengikut Yesus bukan tentang hidup tanpa masalah, tetapi hidup yang semakin disempurnakan semakin serupa dengan Kristus.
Alkitab adalah buku yang hidup. Sehingga ketika kita membaca Firman Tuhan, kita bisa mendapatkan iluminasi dari Roh Kudus. Namun iluminasi dari Roh Kudus haruslah selu diuji melalui Firman Tuhan.
Di lain sisi, ada yang mengikuti Firman Tuhan dengan kaku dan jadi takut sesat. Mereka membatasi diri untuk tidak meminta sesuatu kepada Tuhan. Padahal sebagai anakNya, kita boleh meminta apapun kepada Tuhan. Tetapi keputusan untuk doa kita diterima atau tidak itu adalah urusan Tuhan; Dia tahu yang terbaik bagi kita. Oleh sebab itu, jangan lupa mengakhiri doa kita dengan “Jadilah kehendakMu”.
Diproses Tuhan itu Indah (Yeremia 48:10-13)
Banyak orang yang dilewatkan Tuhan karena hidupnya tidak bisa melakukan tanggungjawab yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Mereka masih terikat dengan dosa, mereka mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan sembarangan, tidak sepenuh hati.
Ayat 11
Moab selalu hidup dalam zona nyamannya, sehingga anggurnya tidak berubah baunya. Anggur yang berkualitas adalah anggur yang berubah baunya dari yang semula. Karena itu, anggur yang baik harus dipindahkan dari tempayan satu ke tempayan lainnya sampai endapannya habis. Sehingga dihasilkan anggur yang berkualitas.
Seperti anggur, kita harus mau dituangkan; Kita harus mau diproses.
Kita tidak tinggal diam dalan kondisi kita terus menerus. Jangan sampai diri kita hari ini masih sama dengan diri kita yang dulu; tidak ada perubahan semakin serupa dengan Kristus : masih dengan tabiat buruk yang lama, masih dalam keterikatan yang sama, masih dalam pergumulan yang sama.
Jangan jadi anggur yang sama, yang tidak pernah dimurnikan. Mungkin banyak dari kita yang kenal Tuhan, tapi masih pakai anggur lama. Karena hanya mau mendengarkan khotbah yang menyenangkan telinganya. Kita suka mencari pembenaran dari pikiran kita yang salah namun kita anggap benar.
Hiduplah dengan pedulilah apa kata Tuhan, bukan apa kata orang. Kita suka jika banyak yang “like” kita. Namun hidup kita bukan seberapa banyak yang “like” kita, tapi apakah Tuhan “like” dengan hidup kita.
Ayat 12-13
Jangan sampai Tuhan turun tangan sendiri dan kita menjadi malu. Mari belajar setia dalam proses Tuhan.
Waktu segera berlalu, karena itu gunakan waktumu dengan sebaik-baiknya. Panggilan Tuhan menanti kita. Jangan karena malas, lalu kita tidak mau dan menunda-nunda untuk melayani Tuhan. Mari kita layani Tuhan dalam masa muda kita.
Kejar dan kerjakan mimpi Tuhan. Hidup kita tidak selamanya; Jangan sampai kita mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan ketika kita sudah tidak ada waktu lagi. Mari berlomba dalam perlombaan iman kita. Kita mendirikan gereja yang kudus, yang suci, yang tidak menjadikannya sebagai sumber keuntungan pribadi, melainkan Kristus sejati yang diberitakan.
- Published in The Shepherd's Voice
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Jangan Terkecoh oleh Nama Besar
Bacaan : 1 Raja-Raja 13
Raja Yerobeam mendirikan mezbah di hadapan Tuhan secara sembarangan. Sehingga Tuhan meminta seorang abdi Allah untuk memperingatkan Raja Yerobeam. Abdi Allah itu telah diperintahkan Tuhan untuk tidak singgah makan atau minum dan melewati jalan yang dilaluinya sebelumnya. Dia berani menolak tawaran raja, tetapi dia menjadi goyah ketika seorang Nabi Tua datang mengundangnya makan.
Nabi tua itu menggunakan jabatannya sebagai Nabi dan berbohong kepada Abdi Allah itu. Nabi Tua itu gila jabatan dan merasa Tuhan bisa pakai dia. Dia berbohong bahwa ia mendapatkan suara Tuhan. Tetapi sesungguhnya dia sudah tidak dipakai oleh Tuhan karena keakuannya.
Abdi Allah itu adalah seorang yang dekat dengan Tuhan. Dia begitu penuh keberanian menceritakan tentang apa yang akan terjadi pada Raja Yerobeam. Tetapi ketika bertemu dengan Nabi Tua, dia menjadi tidak percaya diri dengan apa yang Tuhan katakan kepadanya. Dia justru percaya pada nabi yang berbohong kepadanya.
Kesalahan terbesar abdi Allah ini tidak mengecek kembali kebenarannya, tapi dia menjadi terpesona. Hatinya lemah dan mengira hal yang lain: “Oh jangan-jangan Tuhan memang mengubah rencanaNya, jangan-jangan Tuhan ingin menyambut aku, dll”
Seringkali anak Tuhan bisa berlaku seperti Abdi Allah itu. Kita diberi mimpi oleh Tuhan, tetapi ketika seorang yang berkharisma atau seseorang yang punya jabatan meragukan mimpi itu, kita menjadi ragu dan meninggalkan mimpi itu. Kita mulai mengikuti apa yang mereka katakan, dibandingkan dengan apa yang Tuhan katakan kepada kita.
Apakah kita orang-orang yang sudah menyimpang dari perintah Tuhan dan sudah dibelokkan dari rencana Tuhan?
Hati-hati! Kita bisa dibelokkan karena nama besar, orang-orang terkenal, yang bisa mengaburkan mimpi dan isi hati Tuhan terhadap diri sendiri. Kita minta pimpin an Tuhan, karena tidak segala sesuatu yang nampak rohani berasal dari Tuhan.
Tuhan rindu persekutuan yang dekat dengan Tuhan. Jadi janganlah ragu; Mari lakukan perintah Tuhan. Beranilah menolak Injil yang memberitakan Injil yang lain, yaitu Injil yang tidak berpusat pada Kristus. Injil harus berpusat kepada Kristus, dan segala kemuliaan hanya bagi Kristus, bukan untuk kemuliaan pribadi.
Kita perlu waspada dengan arus pengajaran di akhir zaman yang banyak tipu daya melalui olah kata dan kharisma seseorang. Oleh karena itu, mari kita cari Tuhan, bukan cari hamba Tuhan. Kita harus mempercayai Firman Tuhan. Sebab Firman Tuhan itu sempurna, dan Firman adalah kekuatan Allah. Mari terus bertumbuh akan pengenalan Firman Tuhan.
Sudahkah hidupmu segalanya buat Kristus? Kebahagiaan di bumi ini fana. Kebahagiaan sejati adalah di dalam Kristus. Mari kita mencari perkara di atas.
Dalam kisah ini ada 3 tokoh yang bisa kita pelajari:
1. Raja lalim Yerobeam yang mendirikan mezbah dengan melanggar perintah Tuhan. Dia mendirikan bukan oleh imam lewi, ia hanya mencari nama besar untuk kepentingannya. Ia bahkan mengangkat siapa saja nabi baginya. Hati-hati, jangan sembarangan mengangkat orang.
2. Nabi Tua, yang sudah tidak disertai Tuhan, malah membelokkan abdi Allah dari tujuannya. Ia malah menyombongkan diri dan merasa benar. Akhirnya setelah abdi Allah meninggal, ia menyesal walau terlambat.
3. Abdi Allah, yang mendengar sendiri suara Tuhan namun dibelokkan karena terkecoh dengan nama besar. Ia menjadi ragu akan suara Tuhan dan akhirnya mati dimakan Singa.
Mari kerjakan mimpi Tuhan, kita ceritakan Injil Kristus. Mari bertumbuh dan berakar dalam Kristus. Dengarkan suaraNya dan belajar lakukan dengan taat dan setia. Jangan mudah terkecoh oleh perkataan oranglain. Jika Tuhan memanggilmu, janganlah ragu untuk mengerjakan panggilanNya.
- Published in The Shepherd's Voice, Uncategorized
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Ketaatan
Di dalam Alkitab, banyak kisah tentang orang-orang yang taat kepada Tuhan. Abraham, Nuh, dan Musa adalah orang-orang yang taat kepada Tuhan. Puncak ketaatan di dalam Firman Tuhan dilakukan oleh Yesus, dimana Dia turun ke dunia, menjadi manusia dan pengorbanan-Nya menyelamatkan seluruh umat manusia dari dosa (Roma 5:9).
Ketaatan artinya percaya penuh kepada orang yang kita taati
Ketika kita percaya, kita akan melakukan tanpa banyak bertanya, tanpa banyak alasan. Untuk taat kepada Tuhan, kita perlu percaya penuh kepada-Nya, kita menyerahkan kehidupan kita di tangan-Nya. Kita menghambakan diri kepada Kristus (Roma 6:16). Seorang hamba Akan melakukan perintah dari tuannya.
Ketaatan membutuhkan sebuah tindakan
Seperti perumpaan 2 anak di Matius 21:28-32, salah seorang anak berkata “iya” tetapi tidak melakukan, sedang yang lainnya melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Demikian juga dengan hubungan kita dengan Tuhan; Kita perlu bukan hanya mendengar dan mengerti Firman Tuhan, tetapi kita juga harus melakukannya.
Ketaatan kepada Tuhan haruslah ketaatan 100% (Yak. 2:10)
Kita taat kepada perintah Tuhan tidak setengah-setengah. Tuhan memang menerima kita apa adanya tetapi Tuhan mau setiap kita makin disempurnakan serupa dengan Kristus. Ketaatan penuh juga berarti kita tidak kompromi akan dosa, tetapi Kita sungguh-sungguh melakukan perintah Tuhan.
Kepada siapa kita harus taat?
Tuhan
Ketaatan yang pertama dan terutama adalah kepada Tuhan. Jika Kita mengatakan kita mengasihi Tuhan, kita mau belajar taat akan segala perintah dan kehendak Tuhan.
Orang Tua (Efesus 6:1-9)
Mari kita belajar taat akan orang tua kita. Jika orangtua kita belum di dalam Tuhan, kita patut tetap menghormati mereka, kita doakan mereka. Tentunya tindakan ketaatan kita kepada orangtua tetaplah fokusnya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
Otoritas di atas kita (Efesus 6:5-9)
Melakukan ketaatan kita kepada otoritas di atas kita dengan tulus hati, bukan karena takut. Kita taat dan melakukan dengan sukacita, bukan karena terpaksa. Mari melakukannya bukan untuk menyenangkan manusia, tetapi kita lakukan seperti untuk Tuhan.
Pemimpin (Ibrani 13:17)
Kita perlu taat pada pemimpin-pemimpin kita di dalam Tuhan, sebab mereka berjaga-jaga atas hidup kita. Ketaatan kita kepada pemimpin tentunya harus sesuai dengan koridor Firman Tuhan.
Pemerintah (Roma 13:1-3)
Belajar taat pada hal-hal kecil, misalnya taat akan lalu lintas, membuang sampah, dsb. Dan juga di saat masa pandemi ini, kita belajar taat akan peraturan pemerintah untuk mengikuti protokol yang ada.
Ketaatan kita adalah bukti kita mengasihi Tuhan (Yoh 14:15,21). Sebab itu, mari kita taat sepenuhnya kepada Tuhan.
Biarlah ketaatan menjadi gaya hidup Kita. Kita melakukan dengan sungguh-sungguh, dengan sukacita Karena Kita mengasihi Tuhan. Jangan menjadi seperti Saul; Saul tidak taat kepada Tuhan, sehingga Tuhan tidak lagi berkenan kepada-Nya (1 Sam 13 ; 1 Sam 15).
Ketaatan adalah kunci kehidupan kita hidup dalam kebenaran, Ketaatan adalah bukti kita mengasihi Tuhan. Mari senantiasa belajar taat, sehingga kehidupan kita berkenan di hadapan Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Berubah
Di akhir pada kesudahannya, Yesus akan datang kedua kalinya sebagai hakim yang adil. Dia datang untuk memeriksa dan menilai hidup kita. Banyak orang ingin dinilai sempurna oleh manusia, tetapi penilaian Tuhan tidak pernah salah, penilaian Tuhan adalah yang terpenting dari semuanya.
Ada banyak orang punya rasa berharga dari apa yang mereka miliki, tetapi Tuhan tidak menilai kita dari seberapa hebat diri kita, atau apa yang kita bisa berikan, tetapi Dia menilai setiap hal kecil dalam hidup kita. Dia menilai kita dengan cinta. Tidak melihat seberapa buruk diri kita, Dia memandang kita berharga.
Tuhan mengingat semua yang kita lakukan, bahkan dosa-dosa kita. Tetapi Tuhan tidak mau lagi mengingat dosa kita, jika kita mau mengakui dan sungguh-sungguh minta ampun di hadapanNya
Amsal 19:17
Tuhan tidak pernah berhutang.Jika kita melakukan semuanya untuk Tuhan, Tuhan pasti akan membalaskannya, bahkan memberikan lebih. Oleh sebab itu, mari kita melakukan yang terbaik bagi Tuhan.
Seperti kata Daud dalam Mazmur 17:3-5, Kita bukan tidak bisa berdosa, tetapi kita harus menjaga diri; kita bukan tidak bisa, tetapi tidak mau lagi berbuat dosa. Tuhan sedang menguji hidup kita.
Di akhir zaman ini akan semakin nampak pemisahan antara orang yang berakar dan tidak berakar dalam Kristus. Akan terjadi pemisahan antara orang benar dan orang fasik (Maleakhi 3:18). Mari perhatikan saudara-saudara kita, kita perhatikan kawanan domba yang ada, sebab hari penghakiman sudah tiba.
Satu point penting bagi kita sebagai anak Tuhan : BERUBAH.
Berubah bukan hal yang mudah. Ada orang yang memiliki sifat karena bawaan dari lahir, ada juga yang memiliki sifat karena kebiasaan.
Kita perlu hati-hati, karena kita semua bisa mengalami kemunduran rohani karena kebiasaan yang buruk (Yeremia 2:21, Ratapan 4:1). Karena itu, setiap kita butuh alat kontrol, untuk menilai dan menegur kita, baik dari Tuhan maupun pemimpin kita. Mari memeriksa diri, jika ada yang salah dari dalam diri kita, mari belajar untuk berubah.
Ketika Yesus datang ke dunia, Dia tidak datang untuk mencari murid saja, tetapi mengajar mereka untuk menjadi pemimpin dan pemurid jiwa. Tuhan menghendaki kita menjadi pemimpin, minimal memimpin diri sendiri dan orang terdekat kita.
Kriteria pemimpin ( 1 Tim 3:1-7) :
1. Setia
2. Bisa menguasai diri (Punya wibawa Kristus, tahu menempatkan diri)
3. Bijaksana, sopan (Dalam perkataan dan tindakan)
4. Murah hati, cakap mengajar orang lain
5. Bukan peminum
6. Bukan pemarah, tetapi peramah
7. Pendamai, bukan hamba uang
Yusuf adalah seorang pemimpin yang dibentuk Tuhan. Dia dulunya tertolak, kesepian, disingkirkan, tetapi dia disertai dan dikenan oleh Tuhan (Kejadian 39: 1-6). Sehingga orang disekitarnya pun diberkati. Dia pemimpin yang bertanggungjawab, bisa dipercaya, dan punya loyalitas.
Orang yang masa lalunya hancur bukan berarti dia tidak bisa dicintai dan dipakai Tuhan. Demikian juga dengan kita, jika kita dikenan oleh Tuhan, maka dimanapun kita berada, sekitar kita pun juga akan diberkati; hidup kita dipakai Tuhan luar biasa.
Jika hari ini kita belum melihat hasilnya, tetaplah setia. Jadilah pemimpin yang bertanggungjawab dan bisa dipercaya seperti Yusuf. Miliki loyalitas dalam pekerjaan/pelayananmu, maka pekerjaan yang baik akan dipercayakan kepadamu. Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh dan selesaikan dengan baik.
Jika kamu mau jadi dipercaya lebih, milikilah mental yang teruji dan mau berubah. Lepaskan semua ego, pemberontakan dan dosa kita di hadapan Tuhan. Biarlah Tuhan membentuk kita menjadi seorang pemimpin yang berkenan bagiNya.
- Published in Sermons
Khotbah Ps. Daniel Hadi Shane : Kekristenan adalah Hubungan
Bacaan : Kis 10:1-33
Kuasa Tuhan sanggup bekerja pada siapapun dan dimanapun. Kita tidak bisa mengkotak-kotakkan cara kerja Tuhan dengan pemikiran pribadi Kita.
Kekristenan yang sejati bukanlah agama atau sekedar pelajaran Kristen. kekristenan yang sejati adalah perjumpaan dengan Kristus. Kita bukan hanya ‘”tahu” tentang Kristus, tetapi mengalami Kristus; punya pengalaman bersama dengan Kristus.
Kerinduan Tuhan yang terbesar adalah mendirikan gerejaNya. Gereja bukan hanya sekedar gedung, tetapi kumpulan orang percaya yang dipanggil keluar untuk memberitakan Firman Tuhan.
Yoh. 21:1-14
Mari hidup dalam pengharapan dan penyertaan Tuhan Yesus. Mari berdoa, Dia sanggup memberkati hidup kita dan mencukupkan kebutuhan kita menurut kekayaan dan kemuliaanNya. Dia tak menjanjikan hidup kaya raya, namun Dia berjanji akan memelihara hidup kita. Mari kita berfokus dan bersiap untuk kedatangan Tuhan yang sudah semakin mendekat.
- Published in The Shepherd's Voice









