Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Peristiwa Perjamuan Malam Terakhir
Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Yesus berkata kepada mereka: “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.
Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.
Lukas 22 : 23-27
Sebelum peristiwa Jumat Agung, ada suatu obrolan menarik, yaitu ketika perjamuan makan malam. Pada malam terakhir bersama Yesus, murid-murid justru memperdebatkan siapa yang paling dekat dengan Yesus. Seringkali kita pun berbuat seperti murid-murid, sibuk untuk memperdebatkan siapa yang paling hebat pelayanannya, siapa yang paling hebat isi khotbahnya, atau bahkan siapa yang paling tidak bisa berkhotbah, siapa yang paling buruk pelayanannya. Yesus tahu isi hati mereka dan kata-kata “tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” menunjukkan bahwa semakin besar kita, semakin kita harus melayani. Dalam keluarga, ketika kita bayi, kita dilayani oleh orang tua kita. Tapi semakin kita dewasa, kita mulai melayani diri kita sendiri lebih dahulu, kemudian kita melayani adik-adik kita yang lain, melayani orang tua kita dan melayani anak-anak kelak.
Petrus adalah seorang rasul yang besar dan salah satu rasul yang paling dikenal, tetapi Petrus pernah mengalami suatu kejatuhan. Kejatuhan Petrus tersebut dicatat dalam semua kitab Injil. Kesalahannya diingat dan diceritakan terus menerus. Jika Petrus masih hidup hingga saat ini, ia pasti malu dan marah melihat kegagalannya dicatat dan diceritakan turun temurun. Dari kakek nenek hingga anak-anak Sekolah Minggu tahu bahwa Petrus menyangkal Yesus tiga kali.
Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”
Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”
Lukas 22:31-34
Yesus telah memperingatkan Petrus sebelum ia menyangkal Yesus. Tetapi reaksi Petrus tetaplah sama, ia dengan yakin tidak akan jatuh dan menyangkal Yesus. Dari sini kita belajar untuk memperhatikan peringatan-peringatan Tuhan. Petrus merasa bahwa “ah, itu untuk murid-murid yang lain. Tidak mungkin aku melakukannya.” Dan sebenarnya tidak hanya Petrus yang melakukannya, tetapi murid-murid yang lain juga melakukannya. Tapi ujian yang sebenarnya adalah ketika kita sendirian. Saat kita sedang kuat, kita merasa yakin dan dapat berkata bahwa kita tidak akan jatuh. Tapi ketika kita berpikir demikian, iblis memburu kita.
Setelah Petrus menyangkal Yesus, Yesus memandang Petrus dengan tatapan yang tidak dijelaskan, tapi pasti bahwa tatapan itu bukanlah tatapan penuh amarah. Petrus kemudian menyesali perbuatanNya dan pergi menyendiri memohon pengampunan Tuhan. Seandainya Yudas tidak memilih untuk bunuh diri dan bertobat meminta ampun kepada Tuhan, ia pasti diampuni Tuhan.
Kitapun sebenarnya mungkin pernah, bahkan sering, menyangkal Yesus. Ketika kita menolak kasihNya, kita menyangkali kebaikanNya, kita sudah menyangkal Tuhan.
Tuhan kita bukanlah Tuhan yang berhutang. Ia mengingat setiap momen, setiap pemberian kita, setiap kesedihan kita. Tuhan mengingat hal-hal itu menjadi sesuatu yang berharga untuk dibalasNya. Tuhan kembalikan semuanya bahkan lebih besar.
Ketidakpercayaan membunuh banyak mujizat.
Petrus tidak bisa menghapus kitab yang menuliskan kejatuhannya. Tetapi Petrus membuat sejarah baru yang dapat kita baca dalam Kisah Para Rasul. Dari seorang penyangkal Yesus, ia berubah menjadi rasul yang berani mati untuk Kristus. Ia membuat kegagalannya menjadi suatu pelajaran, baik dirinya sendiri maupun bagi orang lain yang membaca kisahNya.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Hiduplah sebagai Anak-anak Terang
Dari zaman dulu, selalu disampaikan bahwa kedatangan Yesus sudah dekat. Banyak orang menunggu tetapi tidak ada kedatangan Yesus. Banyak orang menubuatkan tentang akhir jaman. Ramalan terpopuler adalah 2012 akhir adalah akhir jaman, sampai ada film 2012. Tapi pada kenyataannya, 2012 hanya menjadi sebuah film. Alkitab mencatat bahwa kedatangan Tuhan seperti pencuri. Tidak ada yang tahu kapan datangnya dan tiba-tiba, sehingga kita tidak sadar jika hari itu adalah hari kedatangan Tuhan.
Dalam kita menanti-nantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali, kita belajar untuk hidup sebagai anak-anak terang dan membawa dampak bagi dunia. Menjadi terang dan berdampak adalah salah satu cara kita untuk menyambut kedatangan Tuhan.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Datang pada Tuhan
Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,
namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
Yohanes 5:39-40
Kita semua percaya bahwa Yesus adalah juruselamat kita dan sanggup memulihkan kita. Banyak orang yang percaya dengan Yesus, percaya akan Firman Tuhan, tetapi mereka hanya sekadar percaya. Mereka datang ke gereja, membicarakan Firman, tetapi mereka tidak benar-benar datang kepada Yesus. Banyak orang pergi ke gereja setiap Minggu, mereka berdoa dan pelayanan, tetapi tidak mendapatkan apa-apa, karena yang mereka lakukan hanya membicarakan tentang Yesus tanpa sungguh-sungguh datang kepada Yesus.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Batu Penyusun
“Ah ini sudah hari Minggu, waktunya ke gereja“
Seringkali kita ke gereja hanya sebatas rutinitas. Ada beberapa orang yg tidak ke gereja dengan alasan tidak bisa bangun pagi, capek dan lain sebagainya. Sebenarnya apa makna kita ke gereja dan berjemaat?
Efesus 2:19-22 mengingatkan kepada lagu lama dengan lirik “gereja bukanlah gedungnya…”
Benar, gereja bukanlah tentang gedung, gereja adalah kita semua. Tetapi gereja bukanlah diri kita pribadi sehingga kita bisa berkata “saya adalah gereja, saya tidak perlu ke gereja karena saya adalah gereja itu“.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jeddidah : Berjaga-jagalah!
Bacaan : Efesus 6:10-18
Untuk mendapat janji Tuhan, kita harus berjuang. Peperangan yang kita lakukan bukanlah melawan manusia, tetapi melawan penguasa-penguasa di udara. Penguasa-penguasa di udara tidak dapat kita lihat, kecuali beberapa orang yang memiliki karunia. Peperangan kita bukanlah kepada apa yang tampak. Karena itu kita harus mengenakan selengkap senjata Allah. Jangan hanya saat-saat retreat Spirit Of Warrior, kita bersikap seperti seorang pahlawan, mengingat jati diri kita. Tetapi setelah selesai retreat, kita lupa jati diri kita sebagai seorang pahlawan. Seorang pahlawan harus selalu berjaga-jaga, tidak boleh lengah karena musuh dapat menyerang kapan saja.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Evie Mehita : Sekalipun Yesus Hadir
Ada harga yang harus dibayar dalam panggilan Tuhan dan kita belajar untuk tetap memilih kehendak Tuhan.
“Aku tidak bisa mendengar suara Tuhan”
Seringkah kita berkata demikian? Kalau iya, berarti kita bukan anak Tuhan. Atau mungkin kitalah yang menutup telinga terhadap suaraNya. Kita adalah anak Tuhan, sudah pasti kita dapat mendengar apa yang menjadi kehendak dan kerinduanNya.
Alasan akan selalu ada untuk pergi dari panggilanNya. Untuk itu dibutuhkan hati yang kaut dan teguh. Tidak banyak orang yang benar-benar membulatkan hatinya untuk tetap berjalan dalam panggilanNya.
- Published in Sermons
Khotbah Ev. Christin Jedidah : Menerima Janji Tuhan
Apa yang dimaksud dengan janji Tuhan? Apakah kita sudah memiliki janji Tuhan?
Janji Tuhan bisa berarti firman Tuhan yang telah kita terima. Sifatnya umum, bisa diterima oleh semua orang yang membaca alkitab melalui rema. Ada janji Tuhan yang secara spesifik Tuhan nyatakan, berupa visi, mimpi, panggilan Tuhan. Mungkin kita tidak dapat mendengarnya secara audible, tetapi itu jelas dan kia dapat dengan yakin bahwa itu dari Tuhan.
Perjanjian membutuhkan kepercayaan. Ketika Tuhan berjanji kepada kita, itu berarti Tuhan percaya kepada kita. Perjanjian terjadi di antara 2 pihak atau lebih dan di dalamnya terdapat kepercayaan dan kesetiaan. Sudahkah kita mempercayai Tuhan sungguh-sungguh ataukah kita masih meragukan dan curiga akan kasih Tuhan dalam hidup kita?
- Published in Sermons












